Pencitraan Pemilik Media di Televisi

14 May

Image

 

Judul: Kepentingan pribadi nggak seharusnya ngalihin kepentingan publik

Penulis: Fachri Pribowo

 

Dalam industri media di Indonesia, persaingan politik yang saat ini terjadi didalamnya begitu terang-terangan dan terlihat sangat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap publik. Sebelum pemilu, para pemilik media yang sekaligus kandidat salah satu partai politik sudah menyiasati persaingan dengan pemilik media lainnya yang memiliki profesi sama. Cara melakukan pencitraan secara terbuka melalui media yang mereka miliki. Kondisi media massa di Indonesia yang lebih berpihak pada kekuatan modal dan kekuatan politik tertentu memang menjadi masalah bagi bangsa ini. Sementara di sisi lain, pemerintah tak mampu memberikan perlindungan bagi publik lewat regulasi yang baik, tapi justru mendukung industri media. Ini adalah sebabnya mengapa pencitraan pemilik media di Indonesia semakin haris emakin jelas menampakkan kakinya di permukaan.

Hal inilah kerap kali sering terjadi di media televisi Indonesia.Sehingga pro dan kontra dalam masyarakat bermunculan akibat pencitraan yang hampir setiap waktu muncul menghiasi layar kaca indonesia dengan durasi iklan yang lumayan lama dan membosankan. Hal inilah yang kerap kali menjadi alat pemicu agar mendapatkan simpati rakyat demi memenuhi target yang mereka inginkan dari rakyat. Sebaliknya, akibat dari pencitraan yang dilakukan pemilik media di televisi, masyarakat mempunyai dua kemuungkinan terhadap hal ini. Munculnya pro dan kontra di masyarakat menjadi salah satu pengaruh yang bisa menguntungkan bagi pemilik media bahkan bisa sebaliknya.Akan tetapi, masyarakat tidak bisa berbuat apa-apa dalam mengapresiasikan hal yang patut untuk diperbincangkan.Masyarakat pro maupun yang kontra mungkin bisa dikatakan dominan dan konstan dijalannya masing.-masing. Mengapa demikian, karena masyarakat tidak mempunyai hak dalam menyampaikan kepentingan umum mereka. Berbicara mengenai hak, inilah yang masyarakat tidak mampu berbuat apa-apa untuk menindak lanjuti hal ini. Masyarakat hanya bisat erpaku dan tersudut dalam sebuah kotak yang sudah ada, dan tidak bisa keluar dari kotak tersebut. Kotak yang dimana hanya bisa ikuti goncangan yang besar dari luar. Sehingga mereka yang berada di dalam kotak hanya bisa mengikuti gerakan-gerakan dari si pemegang kotak tersebut (pemilik media). 

Jika kita melihat dari sudut komunikasi politiknya, dalam sistem demokrasi mempunyai peran yang fundamental. Dalam sistem demokrasi, media melalui informasi yang mereka sampaikan kepada publik, bertindak sebagai penjamin bagi akuntabilitas elite dan kontrol rakyat terhadap jalannnya pemerintah. Ini karena masyarakat yang tercerahkan melalui informasi secara luas dan merata akan membuat demokrasi berjalan dengan baik. Suatu demokrasi yang responsif dan bertangung jawab.Dari sudut kebijakan publik, informasi politik dan kebijakan akaan menentukan seberapa jauh masyarakat mempunyai pengetahuan dan kesadaran akan berbagai peristiwa politik. Pengetahuan ini akan menjadi dasar bagi keterlibatan mereka dalam banyak proses politik dan kebijakan publik. Disini, derajat kualitas informasi akan akan menentukan kualitas partisipasi warga negara. Oleh karena itu, jika informasi yang disiarkan media mengalami banyak distorsi sebagai akibat, misalnya, intervasi pemilik, komersialisasi yang berlebihan atau karena kualitas jurnalis yang buruk maka partisipasi wara kurang bermakna.

Persaingan politik dalam media televisi mungkin sudah menjadi senjata utama bagi para pemiik media. Pencitraan dimana-mana, setiap hari dan hampir bahkan setiap waktu selalu disisipkan iklan mereka. Dalam komunikasi politik, media ternyata tidak hanya merepresentasikan diri sebagai ‘saluran’ netral yang mengalirkan informasi dari satu titik ke titik lainnya. Sebaliknya, dalam banyak kasus, ia menjadi aktor yang lebih kuat dibandingkan dengan massa rakyat dan parlemen. Kadang kala, media berpihak kepada kepentingan masyarakat, melayani sistem demokrasi dengan sangat baik, tapi tidak jarang ia hanya mengabdi untukkepentingan ekonomi ataupun membangun ‘aliansi’ jahat dengan penguasa demi keuntungan mereka sendiri.

Kesadaran kritis khalayak atas realitas media inilah yang menjadi tujuan utama literasi media. Ini karena media bukanlah entitas yang netral. Selain sistem yang bergerak dibalik sebuah media, khalayak juga mesti memahami bagaimana hubungan antara media dengan pihak-pihak yang bekerja di dalamnya dan bagaimana hubungannya dengan media itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: