Tidak Ada Kata “Pacaran” dalam Islam

2 Jul

Anindita Damayanti (10321066)

Judul buku      : Udah Putusin Aja!

Penulis             : Felix A. Siauw

Penerbit           : Mizania (PT Mizan Pustaka)

Cetakan           : Februari 2013

Tebal buku      : 180 halaman

 

“Pacaran ‘kan masa penjajakan. Masa menikah dengan orang yang tidak dikenal?!”

“Kita ‘kan masih muda, masa ‘gak boleh pacaran?”

“Pacaran ‘gak ngapa-ngapain kok, cuma buat penyemangat belajar saja”

Kalimat-kalimat tersebut seringkali terlontar jika anak-anak muda dilarang berpacaran, tapi bagaimana jika anak SD yang mengatakan hal tersebut? Saat ini, banyak sekali fenomena anak SD yang sudah berpacaran, bukan lagi sekedar “cinta monyet”. Cinta memang seringkali tidak mengenal umur, tidak muda tidak tua semua pasti ingin merasakan perasaan itu. Bagi beberapa kalangan sepertinya pacaran dianggap sebagai tren, seperti anak baru gede alias ABG. Bagi mereka jika belum pernah merasakan pacaran pasti akan dianggap cupu oleh teman-teman lainnya.

Banyak alasan yang terlontar ketika ditanyai tentang pacaran. Sebagian bagi yang sudah berumur tentu beralasan jika pacaran merupakan masa penjajakan yang mesti dilakukan sebelum menikah. Sayangnya alasan tersebut tidak ada dalam ajaran agama islam sekalipun. Jika ingin berhubungan maka mantapkanlah dalam sebuah hubungan pernikahan. Tidak ada alasan apapun untuk berpacaran dalam islam. Hal ini secara tegas ditulis dalam buku yang berjudul “Udah Putusin Aja!” oleh Felix A. Siauw, seorang ustadz yang aktif berdakwah dan cukup terkenal di kalangan anak muda. Lalu bagaimana Ustadz Felix berpendapat dan menjelaskan pacaran dalam buku ini?

Buku ini dibuat dengan target pasaran anak muda untuk menjelaskan seperti apa hukumnya pacaran dalam ajaran islam. Selain anak muda, orangtua juga dibolehkan bahkan mungkin diwajibkan membaca untuk memahami dunia anaknya yang beranjak dewasa. Hal ini tentu berguna bagi orangtua untuk melindungi anak-anak mereka dari perbuatan yang tidak diinginkan. Walaupun pada dasarnya kembali ke orang itu sendiri bagaimana mereka menghadapi kehidupannya.

Setiap orang dilahirkan dengan memiliki hati untuk memiliki perasaan, seperti perasaan sayang dan cinta. Perasaan tersebut bisa diberikan dari seseorang kepada orangtua, teman atau bahkan lawan jenis. Di sini dijelaskan bahkan memiliki perasaaan cinta merupakan hal yang fitrah bagi setiap manusia tetapi Allah tidak ingin manusia mengekspresikannya secara bebas. Alasan umum orang menjalin hubungan pacaran karena saling jatuh cinta, tetapi hati-hati, pacaran merupakan satu jalan menuju perzinahan.

Pacaran Awal Menuju Perzinahan

Di dalam buku bahkan ditulis pengalaman seseorang yang menceritakan apa yang ia lakukan ketika berpacaran. Ia mengakui sudah berhubungan intim dengan pacarnya beberapa kali yang berjanji bahwa hubungannya akan serius hingga jenjang pernikahan. Ketika ditanya kapan pacarnya akan menikahinya yang dijawab “nanti” tanpa ada kepastian yang jelas. Seringkali kata “cinta” dan “sayang” dijadikan umpan untuk meminta berhubungan intim. Hal seperti itu bukan lagi rahasia, karena bahkan banyak yang perempuannya sudah hamil baru dinikahi.

Jelas disebutkan bahwa tidak ada yang namanya pacaran dalam islam, jika memang seorang pria cinta dan sayang dengan seorang perempuan maka datangilah orangtua atau walinya, mintalah untuk bisa menikahinya. Sebagai perempuan juga sebaiknya tidak berdandan secara berlebihan yang dapat menimbulkan hasrat pria. Bukan hanya berdandan, bahkan beberapa orang berpendapat bahwa tidak baik jika perempuan berjalan melewati gerombolan laki-laki. Aturan ini diterapkan oleh ajaran islam untuk melindungi perempuan dari nafsu setan-setan jahat.

Siapa yang tidak mengetahui hari kasih sayang atau yang sering disebut sebagai hari Valentine? Semua orang tahu bahkan berharap di hari itu mereka mendapatkan kasih sayang yang spesial dari seseorang. Buku ini juga tidak lupa membahas momen itu, bahkan sedikit dikupas asal usul munculnya budaya Valentine’s Day yang berawal dari kaum kristian. Banyak ulama muslim yang menyerukan umat islam untuk tidak turut serta dalam perayaan ini, walaupun ya bisa ditebak, masih banyak yang merayakan momen ini. Tanpa sadar, mereka yang merayakan Valentine menjadi korban konsumerisme, mereka rela mengeluarkan banyak uang demi orang yang mereka “sayang”.

Lain pacaran lain nikah, buku ini cukup menggambarkan bahwa tidak selamanya pacaran yang berujung pernikahan hidupnya akan indah dan berbahagia. Istilahnya, lain pacaran lain nikah, banyak celetukan yang akhirnya muncul pada pasangan menikah padahal sebelumnya saat pacaran tidak pernah. Penggambaran yang cukup mengena jika dirasa, banyak orang yang merasa jika selamanya keindahan masa pacaran akan terus terbawa hingga pernikahan. Masing-masing orang berbeda.

Tidak ada alasan untuk memulai hubungan sebelum pernikahan, pacaran atau bertunangan. Semua ini ditegaskan oleh penulis dengan mencantumkan berbagai ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa pacaran diharamkan oleh agama. Jika belum siap menikah maka mantapkanlah, tetapi jangan terlalu banyak mengumbar janji. Intinya bagi mereka yang sedang berpacaran dan telah membaca buku ini mungkin ada baiknya memikirkan dua kali manfaat kalian berpacaran. Judul buku juga cukup tegas menjelaskan bahwa tidak ada nilai plus dalam berpacaran.

Buku ini cukup interaktif bagi anak-anak muda, dengan bahasa yang cukup “gaul” sehingga menyentuh semua kalangan tanpa banyak berpikir keras. Penggunaan bahasa sehari-hari terbukti dapat menyampaikan informasi dengan lebih efektif terutama jika melihat targer pembacanya. Penambahan gambar animasi yang lucu serta grafik akan menjadi nilai tambah sendiri, akan menjadikan buku semakin eye catching dan membuat orang penasaran untuk membacanya. Tujuan penulisnya sebagai pendakwah membuat buku ini cukup banyak kutipan-kutipan Al-Qur’an.

Buku yang berwarna merah muda ini tentu cukup mencolok berada di tumpukan buku, mungkin salah satu tujuannya adalah untuk menarik banyak perhatian orang-orang untuk membacanya. Buku ini juga tidak tebal tetapi tidak terlalu tipis juga, penambahan gambarnya juga cukup menarik mata. Selain itu judulnya “Udah Putusin Aja!” pada pandangan pertama akan membuat orang bingung dengan maksudnya, apa isi bukunya. Jika sudah membaca pasti terpikir bahwa judulnya cukup frontal bagi mereka yang sedang menjalin hubungan.

Secara garis besar buku ini memiliki pesan yang sangat positif bagi pembacanya. Buku ini banyak berisi nasihat-nasihat yang menjelaskan tidak perlunya hubungan-hubungan sebelum pernikahan yang disertai ayat-ayat Al-Qur’an, yang membuatnya enak dibaca adalah kesannya yang tidak menggurui. Dengan bahasa yang santai dan ilustrasi yang lucu membuat buku ini lebih mengena untuk menjelaskan segala hal pada anak muda. Bahasanya yang langsung to the point dengan menambahkan kisah nyata bisa membuat pembacanya berpikir dua kali untuk menjalin hubungan.

Dengan warna yang didominasi warna merah muda dan biru, buku ini sebagai perantara dakwah penulisnya. Mungkin bagi sebagian orang akan mengelak dari buku ini karena berpikiran bahwa mereka berpacaran dengan tujuan yang baik dan tidak pernah melakukan apa-apa. Buku ini hanya sebagai perantara penulis untuk mengingatkan bahwa yang namanya pacaran tidak ada untungnya. Penulis bisa memberikan alasan detail dari alasan-alasan yang diajukan untuk berpacaran.

Sebagai contoh, penulis memasukkan satu surat yang berasal dari seseorang yang menyesali sudah berpacaran bahkan hingga berhubungan intim. Bukan tidak boleh, hanya saja bahasanya masih terlalu terbuka. Memang berpacaran dengan gaya semacam itu sudah banyak terjadi, tetapi lebih baik jika bisa mengubah kata-katanya menjadi lebih sopan. Tetapi selain hal itu, buku ini sudah cukup banyak menjawab pertanyaan umum mengapa islam melarang umatnya untuk menjalin hubungan sebelum pernikahan.

Dengan berbagai contoh dan pertanyaan nyata yang biasa terjadi sehari-hari, buku ini dapat menggambarkan tidak ada gunanya berpacaran. Bahkan penulis juga mencantumkan ayan Al-Qur’an untuk memperkuat pernyataannya tersebut. Dari manfaatnya, buku ini banyak memberi masukan bagi pembacanya, baik orangtua maupun kaum muda mudi. Memang secara langsung buku yang ditulis Ustadz Felix A. Siauw tidak dapat melarang, ia hanya memberikan gambaran apa yang terjadi ketika berpacaran. Tetapi buku ini layak dibaca untuk menjadi bahan renungan dan masukan bagi masing-masing. Semuanya dikembalikan kepada orangnya masing-masing. Bagaimana orang tersebut menjalani kehidupannya dan berprinsip.

Mungkin saja ada yang langsung memutuskan pacar masing-masing, lalu jadi adik-kakak deh. “Yah sama saja!” mungkin itu yang akan dikatakan Ustadz Felix.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: