Di Balik Kehidupan Seorang Penulis

2 Jul

 

Hasinadara P (10321024)

IMG

Judul: My Life as a Writer

Penulis: Haqi Ahmad dan Ribka Anastasia Setyawan

Penerbit: Plotpoint

Tahun terbit: Maret 2013

Tebal: iv+192 halaman

Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Begitulah sebuah kutipan  dari Umar Kayam yang tertulis pada awal bab buku ini. My Life as a Writer bercerita tentang 5 penulis yang sukses dan terkenal lewat tulisan mereka. Para penulis ini pun memiliki pekerjaan selain menulis. Namun menulis tetap menjadi bagian dari hidup mereka. Buku ini mencoba mengorek bagaimana lika-liku perjalanan dalam menulis buku hingga berhasil.

Penulis pertama yang dikupas dalam buku ini adalah Alanda Kariza. Ia adalah seorang mahasiswa, aktivis, sekaligus penulis. Namanya mungkin tidak terdengar asing bila anda sering mengunjungi dunia maya. Alanda merupakan inisiator dari Indonesian Youth Conference yang dilaksanakan setiap setahun sekali. Ia mulai menulis buku ketika usia belia, 14 tahun. Sebuah buku teenlit berjudul Mint Cocolate Chips menjadi awal karier kepenulisannya. Selain itu ia juga menjadi kontributor di beberapa media seperti The Jakarta Post, Jakarta Globe, Gogirl! dan lain-lain. Buku kedua yang ia terbitkan pada tahun 2010 adalah kumpulan cerita pendek dengan judul Vice Versa. ia juga turut menyumbangkan tulisannya pada buku kumpulan cerpen Pertama Kalinya serta The Journey 2. Ia mempunyai alasan sederhana kenapa terus menulis yaitu kesenangan.

Clara Regina Juana atau lebih dikenal dengan Clara Ng menjadi penulis yang diceritakan selanjutnya. Clara mulai mengawali karier menulisnya pada tahun 2002 dengan buku Tujuh Musim Setahun. Buku ini terlahir karena mengalami kecelakaan saat ia sedang hamil tujuh bulan dan sayang bayi dalam kandungannya meninggal. Ia menjadikan menulis sebagai terapi atas dukanya yang mendalam. Beberapa teman yang membaca karya terbut merasa naskah ini perlu dimasukkan ke penerbitan. Namun pada awalnya ia merasa takut apakah masyarakat bisa menerima karyanya. Berkat dukungan sang editor, naskah tersebut akhirnya terbit sebagai buku pertama Clara. Tujuh Musim Setahun berhasil diterima di masyarakat. Tidak hanya itu novel ini pun kemudian dilirik oleh Gramedia Pustaka Utama untuk pencetakan ulang dengan kemasan baru dan rebranding.

Dewi Lestari merupakan nama yang tidak asing di jagad hiburan sebagai seorang penyanyi. Dewi yang tergabung dalam kelompok Rida Sita Dewi (RSD) memulai karier menulisnya pada tahun 2001. Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh merupakan novel pertamanya. Novel ini pun berlanjut dengan judul Supernova: Akar dan Petir. Dewi memang menyukai menulis sejak kelas 5 SD. Dewi kecil adalah seorang pendiam yang hobi mengkhayal. Dari khayalan itu kemudian ia wujudkan dalam bentuk tulisan. Pembaca pertama kali karyanya adalah keluarga. Ibunya pun kemudian menyadari betul bakat sang buah hatinya dan mendorong Dewi untuk terus menulis. Baginya bila ingin menjadi penulis bukanlah factor bakat melainkan kerja keras, itulah yang membuat Dewi sukses menjadi penulis hingga saat ini.

Dan Hujan pun Berhenti mungkin masih bisa anda temui di berbagai toko buku. Novel ini adalah hasil karya seorang gadis bernama Farida Susanty. Sebuah teenlit yang lahir karena lelah dengan teenlit yang begitu-begitu melulu. Farida bosan dengan teenlit yang menjual cerita seorang cowok yang digandrungi cewek Karena dia ketua OSIS dan jago main basket. Bahkan novel ini membawa Farida meraih penghargaan sebagai Best Young Writer di Literary Award 2006-2007. Kebiasaan menulis Farida merupakan hasil dari kebiasaannya membaca sejak kecil. Ia pun mempunyai kebiasaan yang unik, setelah membaca buku ia senang mengulangi cerita tersebut bahkan kepada teman-teman sebayanya. Ia mulai menulis sejak kelas 3 SD sebenarnya ia lebih senang menyimpan karyanya sendiri dibandingkan menunjukan kepada orang lain. Alasannya adalah karena Farida malu apabila ada yang membaca tulisannya. Melalui berbagai tulisannya ia hanya murni berniat untuk berbagi cerita tidak untuk mengejar penghargaan atau ppun sejenisnya.

Bila mendengar Valiant Budi Yogi mungkin belum banyak yang tahu. Namun bila disebutkan nama akun di jejaring social twitter @vabyo mungkin banyak yang tahu. Ia bukan penulis yang mengawalinya sejak kecil Vabyo adalah seorang penyiar radio  yang sering menulis skrip siaran. Namun sejak kecil ia pernah menulis cerita pendek saat kelas 4 SD. Cerpen tersebut kemudian ia kirimkan ke majalah anak-anak dan berhasil dimuat. Betapa bangganya Vabyo saat itu. Namun stereotip cowok suka menulis-terutama buku harian- membuatnya vakum dari kegiatan menulis. Sampai pada suatu hari ia akhirnya menerbitkan buku pertama berjudul “Joker: Ada Lelucon di Setiap Duka”. Buku ini merupakan pengembangan dari cerpen yang pernah dibuatnya. Namun sayang bukunya ini tidak cukup laris di pasaran. Namun Vabyo percaya bahwa setiap kegagalan yang terjadi adalah proses ketika kita disiapkan untuk sebuah keberhasilan di masa depan. Itulah yang membuat Vabyo terus berkarya meski sering mengalami penolakan.

Dari berbagai penulis yang dihadirkan oleh Haqi dan Ribka tampak sekali buku ini ingin memotivasi para calon penulis bila ingin sukses. Bahasa yang digunakan kedua penulis ini pun terasa mudah dipahami. Bukunya pun dipenuhi dengan foto dan lembar yang berwarna-warni hingga tak membuat pembaca merasa bosan. Penonjolan pada kutipan tertentu menjadi point penting seperti apa karakter penulis yang sedang dibahas. Buku ini menunjukan bahwa menjadi penulis sama dengan pekerjaan yang lainnya, butuh kerja keras dan pantang menyerah.

Namun ada yang terasa janggal dalam penggunaan bahasanya. Pada bab penulisan Alanda Kariza bahasa yang digunakan terasa “sangat remaja” dan didominasi kata-kata tak baku lebih persis ketika mengobrol sehari-hari. Hal tersebut bila dibandingkan dengan bab berikutnya menjadi terasa berbeda dalam penggunaan bahasanya. Meski buku ini ditulis oleh dua orang yang berbeda mestinya ada penyamaan penyampaian dalam buku agar terasa enak dibaca. Selain itu dibeberapa bab Haqi dan Ribka seolah terlalu banyak  mengutip perkataan sang penulis yang dibahas tanpa deskripsi yang cukup mendukung. Seolah hanya membaca sebuah transkrip wawancara. Seperti peribahasa tiada gading yang tak retak buku ini pun memiliki kekurangan seperti yang telah disampaikan di atas. Buku ini bisa dibaca oleh siapa saja, terutama bagi mereka yang ingin menjadi penulis.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: