Bunda, Secercah Harapan di Negeri Sebrang

21 May

Aan Mei Handoko

Malam dinihari menjelang pagi, kuterbangun setengah sadar merasakan ciuman hangat dan tetesan air mata yang jatuh di pipiku. Ya, dia adalah Ibuku yang mengucapkan salam perpisahan kepadaku untuk pergi dari rumah. Pada waktu itu, aku sedang dibangku kelas 2 SD. Jadi belum mengerti alasan mengapa Ibu pergi meninggalkanku.

Sejak itu baru kutahu alasan Ibu meninggalkanku, ternyata Ibuku bercerai dengan Ayahku. Sejak kejadian tersebut aku hanya tinggal dengan Ayah dan Kakak laki-lakiku. Kisah keluarga pilu ini terjadi di pelosok sebelah barat kota Palembang.

Rasa kangen dan ingin berjumpa dengan Ibu terus muncul, namun apalah daya keberadaan Ibu, akupun tidak tahu dimana sekarang. Sering aku mencari-cari tahu ketetangga dan sanak keluarga untuk menanyakan keberadaan Ibuku, tapi hasilnya nihil dan tidak mendapatkan hasil apa-apa.

Pencarian mulai membuatku bosan dan berhenti mencari. Ayahku kemudiam menikah kembali dengan wanita lain. Aku masih sangat sulit menerima keadaan itu sampai sekarang, aku hanya mampu memanggil Mbak kepada istri baru Ayahku. Setelah menikah Ayahku terlilit banyak hutang, tidak tahu kenapa bisa terjadi, karena setahuku ketika dengan Ibu kandungku keluarga ini aman tentram, memiliki rumah besar, rumah makan dan kebun rambutan yang luas.

Kenaikan kelas, bapakku berkata kepadaku “nak mulai besok kita pindah ke tempat eyang ya, dan kamu mulai sekolah disana”. Ketika itu aku di iming-imingi akan dibelikan sepeda balap wimcycle keinginanku sejak dulu, jika mau pindah ketempat eyang. Akupun hanya bisa mengamini perkataan ayahku karena pada saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan orangtua. Ternyata rumah yang selama ini aku tempati dan menyimpan banyak kenangan dijual oleh Ayahku.

Tempat eyangku hanya empat jam dari rumah lamaku. Hari-hariku kuhabiskan bersama eyangku, karena Ayah dan istri barunya tidak ikut tinggal bersama di tempat eyangku. Ayahku membeli rumah baru dan menetap disana dan memiliki seorang anak. Perhatian dan kasih sayangpun sudah mulai berkurang terhadapku, mereka sudah sangat jarang mengunjungiku. Mereka sudah sangat sibuk dengan dunia mereka sendiri. Akupun harus ketempat mereka jika ingin bertemu, namun aku sudah tidak mempedulikan itu, aku menjalani kehidupan seperti halnya anak-anak lain hanya saja aku tidak berada didekat Ayah dan Ibuku saja.

Enam tahun kemudian, saat itu saya sudah kelas  3 SMP. Ketika hari raya lebaran, aku mendapatkan kejutan besar.  Oom dari keluarga Ibuku mengajakku untuk liburan, akupun bergegas dan menyiapkan semua barang-barang yang akan kubawa, tetapi ada yang aneh aku bukanya diajak jalan-jalan. Aku malah diajak kerumahnya, ternyata disana sudah ada Ibuku yang menungguku dengan tangis dan air mata, dia segera memelukku. Akupun terdiam seribu bahasa.

Aku masih sulit menerima keadaan ini, Ibu yang selama ini pergi meninggalkanku bertahun tahun. Sekarang sudah dihadapanku dan bersamaku. Baru kutahu ternyata Ibuku setelah meninggalkan rumah saat itu, beliau langsung pergi ke negeri sebrang Malaysia. Ibuku mengadu nasib bekerja disana.

Ibuku tidak bisa tinggal denganku saat ini, dengan alasan membiyai kehidupan sehari-hari dan untuk sekolah. Ibuku tetap bekerja di Malaysia sampai saat ini. Sebenarnya, aku tidak tega melihat Ibuku harus bekerja susah payah bekerja disana, tapi inilah hidup karena keadaanku pada saat itu juga tidak bisa banyak menuntut.

Komunikasi pada saat itu juga tidak begitu baik, aku hanya ditelpon oleh Ibuku satu bulan sekali itupun masih lewat warung telepon (wartel) langganan dekat rumah eyang. Ketika ada telepon dari Ibuku, penjaga wartel itu datang dan memberitahukan kepadaku, itupun kalau sinyalnya bagus dan tidak terputus putus.

Setidaknya kehidupaku  saat ini, tidak lagi seperti dulu, kehidupan yang benar benar hampa tidak memiliki apa-apa. Berkat Ibuku lagi kehidupaku mulai berkecukupan dan mulai memperlihatkan senyum. Ibuku mulai mempelihatkan kemajuanya di sana, setidaknya bisa membuat bangga keluarga dan diriku.

Setelah lulus SMP, Ibuku pernah mengajak tinggal di Malaysia dan sekolah disana. Operasi usus pecah yang menimpaku pada saat itu membuatku mengurungkan niat itu, dan akhirnya Ibuku memutuskan untuk menyekolahkanku di kota Palembang. Kota metropolitan yang selama ini aku impikan yang penuh keramaian.

Tiga tahun kemudian aku lulus sekolah menengah atas (SMA), ajakan Ibuku kembali datang, agar aku bisa kuliah bersama Ibuku di Malaysia. Akupun meneria tawaran itu dan aku berangkat kesana dan mendaftar di salah satu Universitas disana. Ternyata aku banyak mengalami kendala disana dan Ibuku sangat kecewa dengan itu. Bukan saja karena nilai atau masalah pendidikan itu yang dipermasalahkan. Ibuku hanya ingin aku selalu didekatnya sebagai temannya, maklum Ibuku tinggal sendirian disana. Karena sampai saat ini Ibuku tidak lagi menikah.

Banyak pengorbanan, yang dilakukan Ibu terhadapku, tangis dan perjuangan yang tidak pernah habis. Sampai sekarangpun aku masih sering mendengar tangisan itu, rasa kangen selalu menyelimuti dalam benak ini. Ibuku memberikan apa yang kumau selalu mengerti keadaanku. Sekarang keadaan berbalik. Ayahku yang sekarang jauh dariku. Namun aku selalu percaya kebersamaan dan kasih sayang keluarga ini tetap utuh sampai kapanpun.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: