Ayah adalah Pahlawanku

21 May

Oleh  : Nur Istifani Rahayu (10321093)

Saya mempunyai orangtua yang sangat istimewa. Dari dulu hingga detik ini saya sangat menyayangi Ayah, bukan berarti saya tidak menyayangi Ibu. Rasa sayang kepada kedua orangtua saya ini sangat-sangat besar. Ayah dan Ibu adalah penyemangat hidup selama 21 tahun ini. Beliaulah yang membuat saya tidak akan menyerah terhadap kejamnya dunia. Kasih sayang yang beliau berikan tiada henti dan tak putus-putus. Baik moral, materil, dan agama.

Walau sudah lebih dari tiga tahun Ayah dan Ibu terpisah pulau karena Ayah harus pindah tugas. Namun Ayah tetap sabar. Ibu yang merupakan seorang guru terjebak oleh susahnya perizinan mutasi di Yogya. Berbagai upaya sudah Ayah dan Ibu lakukan agar keduanya dapat berkumpul bersama. Namun hingga saat ini keputusan kepindahan Ibu belum dipastikan. Pekerjaan Ayah seringkali membuat kami pindah untuk beberapa kali karena pertukaran pegawai di kantornya. Dari Surabaya, Sumbawa Besar, Mataram dan Yogyakarta. Tidak menentu dan tidak terduga kapan kami akan pindah, dan kota Yogyakarta adalah kota terakhir yang saya harapkan sebagai kepindahan ini. Mengingat dua tahun lagi Ayah akan pensiun.

Sudah lebih dari dua tahun saya menemani Ayah di Yogyakarta dengan atau tanpa Ibu di sini. Karena ibu hanya dapat kembali ke Jogja pada saat libur sekolah saja. Keadaan ini menuntut saya harus menjadi anak rumah tangga, yang juga berkewajiban mengurus rumah dan kuliah. Selama itu pula saya menjadi lebih dekat dengan Ayah, mengingat komunikasi langsung kepada Ibu sangat jarang, hanya menggunakan sarana telekomunikasi. Saya mulai memahami Ayah sedikit demi sedikit. Saya pun mulai mengamati Ayah yang mulai tua dan beruban. Jalannya mulai membungkuk dan gemetar. Saya masih mengingat saat dulu Ayah masih muda, Ayah sering menggunakan sarung, saya pun duduk di antara kakinya. Sehingga saya bisa bergantungan sambil didongengi oleh Ayah.

Lalu saat Ayah sedang tidur, saya juga sering kali duduk di kedua kakinya. Ayah perlahan-lahan mengangkat dan mengayun-ayun. Bila mengingat masa itu timbul kerinduan masa kecil. Karena saya sangat yakin Ayah sudah tidak mampu melakukan hal tersebut, bahkan dengan adikku yang paling kecil sekalipun. Terkadang kasihan dengan Ayah yang sekarang, badannya lebih kurus. Mungkin karena pola makan yang tidak teratur apalagi selama Ibu tidak ada. Kegiatan kuliah yang padat seringkali membuat saya melewatkan beberapa tugas rumah tangga. Ayah tidak marah bila saya tidak melakukan kewajiban saya. Alasannya karena memang seharusnya bukan saya yang melakukan pekerjaan rumah tangga itu. Ayah juga tidak pernah menyalahkan saya, jika saya gagal. Karena Ayah ingin memupuk pengalaman dalam diri saya dari setiap kegagalan yang saya buat. Ayah selalu berpikir positif atas segala hambatan, termasuk kepindahan Ibu. Ayah selalu mengaitkan semua ituadalah rencana Allah, dan pasti Allah mempunyai maksud lebih baik yang tidak pernah kita duga.

Itu yang terkadang  membuat saya sangat kagum terhadap Ayah. Beliau tidak pernah berpikiran negatif terhadap apa yang terjadi, dan saya belum bisa mewarisi sifat itu. Ayah bisa menjadi segalanya untuk saya. Ayah bisa menjadi tempat curahan hati (curhat) yang baik, bahkan Ayah mampu memberikan solusi dari pengalaman pribadinya. Ayah mampu menjadi koki terbaik di dapur untuk memasak telur mata sapi setengah matang kesukaan saya. Namun setelah itu, dapur pasti akan berantakan. Ayah mampu menjadi pelawak paling lucu sejagad raya, namun saya juga harus berpura-pura tertawa saat lelucon yang diberikan jayus (tidak lucu). Ayah itu bodyguard paling kuat di seluruh Nusantara, karena Ayah tidak akan pernah menyerah untuk melindungi dan membela anaknya. Tapi di balik itu semua, Ayah tetap menusia biasa. Saya tahu betapa beratnya beban Ayah mengurus kami anak-anaknya. Tiga orang anak perempuan dan satu orang anak laki-laki dari darah dagingnya mempunyai karakter yang berbeda. Ayah sebagai kepala keluarga tidak pernah membedakan kami. Ketika ada peraturan, maka semua anak-anak Ayah harus melaksanakannya.

Seorang Ayah sering kali digambarkan sebagai figur yang keras dan disiplin dibandingkan ibu. Seperti itu pula Ayah. Beliau bukan Angkatan bersenjata yang disiplin, namun beliau mampu menerapkan kedisiplinan. Beliau juga bukan pejabat, namun beliau memiliki jabatan yang tinggi di mata kami. Beliau bukan keturunan ningrat yang memiliki segalanya, namun beliau adalah segalanya yang kami miliki. Beliau bukan ustad yang kaya akan pengetahuan agama, namun beliau mampu menerapkan agama dalam pengetahuan yang ia beri. Ayah selalu ramah terhadap teman-teman saya, baik laki-laki maupun perempuan. Ayah juga selalu menolong orang yang butuh bantuan di mana saja dan kapan saja, selama ia mampu. Maka dari itu saya sering menyebut bahwa Ayah adalah pahlawan.

Akhir tahun lalu, Ayah masuk Rumah Sakit. Itu adalah pertama kali dalam hidup Ayah, di rawat di Rumah Sakit karena infeksi paru-paru. Saat itu, terlihat betapa lemahnya Ayah yang biasanya selalu bersemangat. Tidak ada lelucon yang sering kali Ayah berikan pada kami. Selama 3 minggu di rawat kondisi Ayah tidak stabil. Selama itu pula, rumah sepi tanpa Ayah. Tidak ada suara yang memanggil-manggil nama saya setiap hari. Pakaian kerja yang biasa Ayah gunakan masih tersusun rapi di lemari. Kegiatan rutin Ayah menyiram tanaman pun digantikan oleh adik laki-laki saya. Kamar Ayah rapi, dengan seprai dan bantal-bantal yang masih tersusun cantik. Di tengah perawatan, Ayah tidak berhenti membaca asma-asma Allah. Berkat doa dan semangat Ayah, satu minggu kemudian kondisi Ayah lebih baik dan diperbolehkan pulang.

Ayah ya tetap Ayah. Di samping sikap bijaksana yang selalu ia berikan kepada kami. Beliau lebih lemah dari yang nampak di luar. Beberapa kali saya melihat Ayah menangis saat sedang menceritakan kami anak-anaknya kepada Ibu. Ketika ia bangga atas kerja keras kami pun ia tidak dapat menahan air mata harunya. Di balik sikap tegas yang ia punya, saya sangat tahu betapa lemahnya Ayah. Terlebih jika kami tidak menuruti perintahnya, rasa kecewa seringkali ia tutupi namun raut wajah Ayah dapat kami mengerti. Saya pernah keluar malam tanpa ijin dari Ayah. Sepulang ke rumah, Ayah masih menonton televisi. Itu adalah kebiasaan yang Ayah selalu lakukan ketika satu orang anggota keluarganya belum pulang ke rumah. Ia tidak menunjukkan kekhawatirannya secara langsung. Tetapi dari perilaku yang ia lakukan, saya tahu betapa khawatirnya ia kepada kami.

Ketika saya pulang, Ayah tidak berkata apa-apa dan langsung pergi. Saya pikir pasti Ayah marah sekali, saya pun memutuskan untuk meminta maaf di keesokan pagi. Karena mungkin saja Ayah ingin istirahat. Betapa kagetnya saya saat masuk kamar. Di atas meja belajar ada secarik kertas khas tulisan pria yang memiliki rambut putih ini. “Ayah cuma mau menjaga anak perempuan Ayah sekuat tenaga yang Ayah punya. Karena di masa depanmu kelak, ada yang akan menggantikan posisi Ayah untuk menjagamu.” Kini saya menyadari, segala hal yang Ayah lakukan untuk saya adalah untuk kebaikan saya juga nantinya. Hingga saat ini kebiasaan itu masih sering Ayah lakukan, melawan rasa kantuknya hanya untuk menunggu saya pulang. Ayah memang Superhero sejatiku, tidak ada duanya dan tiada tandingannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: