Ada Kartini yang Lain

21 May

Hasinadara P. (10321024)

 

Siapa yang tidak mengenal Kartini? Seorang wanita asal Jepara putri dari Bupati Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat. Seorang pejuang emansipasi wanita; hak dan kesetaraan gender  wanita. Seorang penerang jalan gelap bagi para wanita, sehingga kini semua wanita dapat memiliki kebebasannya. Namun ada Kartini lain dalam kehidupan saya.

Dia adalah seorang wanita asal Wonosobo yang lahir pada 24 September tepat 53 tahun yang lalu. Anak kedua dari dua bersaudara dari dari keluarga penjahit.  Namanya Yayuk Marliana. Ia memiliki seorang kakak perempuan yang terpaut usia 3 tahun bernama Rosliana. Dari kecil hingga bangku SMA ia habiskan di Wonosobo.

Kehidupannya sebagai seorang anak penjahit membuatnya menjadi pribadi yang suka bekerja keras. Saat ia duduk di bangku SMP, Yayuk seringkali menjual berbagai macam jajanan yang telah dibuat oleh sang ibu untuk kemudian dititipkan ke warung-warung atau pun di pasar. Itulah jalan yang harus ia tempuh bila sesekali perekonomian keluarga sedang berada dalam titik terendah.

Yayuk adalah seorang wanita yang memerhatikan pendidikannya. Ia selalu belajar rajin agar meraih kehidupan yang lebih baik dan tentu bisa membahagiakan orang tua. Terbukti saat masa sekolah ia tak pernah tak mendapatkan peringkat yang bagus.

Pendidikannya tak berhenti di bangku SMA, ia kembali melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi ke kota pendidikan di Yogyakarta. Di Akademi Manajemen Perusahaan Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (AMP YKPN) ia menuntut ilmu hingga lulus dan bergelar seorang sarjana muda.

Setelah lulus perguruan tinggi ia memutuskan untuk merantau ke Jakarta mencari mata pencaharian. Setelah melamar pekerjaan sana-sini ia diterima di perusahaan air mineral AQUA sebagai seorang akuntan yang mengurusi keuangan. Selama kurang lebih tiga tahun ia bekerja kemudian ia memutuskan untuk cuti sementara karena telah menemukan pasangan hidupnya. Lelaki itu bernama Lalu Ma’ruf, yang ia temui di Yogyakarta merupakan tetangga saat ia tinggal di Kepuh, Gondokusuman, Yogyakarta. Pada tahun 1987 sejoli ini memutuskan untuk mengikat cintanya di pelaminan.

Setelah menikah ia kembali bekerja di Jakarta saat itu ia tak memiliki kendaraan sehingga sehari-harinya ia menggunakan angkutan umum. Ini tak berkebalikan dengan kepribadiannya yang suka berjalan-jalan. Biasanya sepulang kerja kantor ia tak langsung pulang sesekali ia mampir ke berbagai pasar untuk membeli kebutuhan sehari-hari atau pun membeli pakaian yang ia suka.

Pada 1988, Yayuk dan suaminya mendapatkan buah hatinya yang pertama. Meski dalam keadaan hamil ia tetap bekerja di Jakarta. Lari-lari untuk mendapatkan angkutan umum pun sanggup ia jalani walaupun di rahimnya terdapat buah hati yang kian membesar. Sampai pada suatu hari, pada saat hari raya natal, sang buah hati yang dinantikannya lahir. Seorang anak lelaki yang sehat melengkapi kehidupan sejoli mereka.

Setelah melahirkan putra pertama, ia memutuskan berhenti bekerja juga atas saran suaminya dan fokus membesarkan bayi kecil mereka. Di Yogyakartalah ia kembali meniti hidupnya bersama sang suami. Pindah kontrakan sana-sini sudah menjadi kebiasaan karena pada saat itu penghasilan belum cukup untuk membeli sebuah rumah yang layak huni.

Kemudian pada Maret 1992, Yayuk kembali dikaruniai seorang bayi perempuan mungil, itu adalah saya, yang juga lahir di Yogyakarta. “Dulu ketika dilahirkan kamu tidak menangis meski dicubit atau pun dipukul, hingga kemudian harus diberi suntikan beberapa dosis barulah menangis,” kisahnya pada suatu hari kepadaku. Ia adalah seorang pencerita yang baik, ia seringkali juga menceritakan masa kecil putra-putrinya.

Tiga tahun kemudian ia harus berpindah domisili ke kota Paris van Java, Bandung, karena mengikuti sang suami yang melanjutkan pendidikan S2-nya. Saat itu anak lelakinya masih sekolah pada bangku TK. Setiap paginya ia selalu mendandani anak lelakinya dengan rapi dan mengantarkannya ke TK yang tak jauh dari rumah.

Dua tahun berada di Bandung, kemudian Yayuk harus kembali ke Wonosobo menemani sang ibu yang tinggal sendirian dan mulai sakit-sakitan. Bersama kedua buah hatinya ia berpindah ke Wonosobo, kembali ke rumah di mana ia dibesarkan. Sedangkan sang suami masih melanjutkan pendidikannya. Namun tak lama setelah itu, sang ibu harus dipanggil ke Rahmatullah. Dan yang tinggal hanya, ia dan kedua buah hatinya yang masih kecil.

Pada tahun 1997, Ia bersama suaminya yang telah selesai masa pendidikannya kembali memutuskan untuk menetap di Yogyakarta. Mereka tinggal di sebuah kontrakan sederhana di daerah Minomartani. Saat itu saya masih ingat, saya sedang akan memasuki bangku TK. Saya pun tak lupa setiap pagi ia mengantarkan saya dengan sepeda menuju TK ABBA dan menunggui saya seharian hingga sekolah usai.

Waktu terus berlalu karena kerja keras dan kesabaran, kehidupan Yayuk bersama keluarga semakin baik. Meskipun tak bekerja ia rajin menjahit. Seperti yang dulu ibunya lakukan, ia juga senang menjahit untuk dirinya sendiri mau pun untuk anak-anaknya. Sesekali ia mendapat pesanan dari teman-temannya untuk sekadar membuat seprai, celemek, dan lain-lain. Penghasilan dari menjahit bisa ia simpan untuk ditabung. Karena kebutuhan sehari-hari telah cukup ditanggung sang suami.

Bagi saya ia adalah seorang pribadi yang tegas kepada anak-anaknya. Ia selalu ingin menjadikan kedua buah hatinya pribadi yang lebih baik. Ia juga mengajarkan agar kedua buah hatinya ini menjadi seorang yang mampu menghargai orang lain. Selain itu ia adalah seorang yang rajin dan tak kenal lelah hidupnya. Dalam sehari tak ada yang tak bisa dikerjakannya, ia selalu ingin menyibukkan diri. Hal tersebut menjadi contoh bagi kedua anaknya agar tak bermalas-malasan dalam menjalani hidup.

Dia adalah Kartini lain dalam kehidupan saya. Seseorang yang selalu membawa cahaya terang dan pelindung untuk buah hatinya. Meskipun anak-anaknya telah beranjak dewasa ia seringkali masih khawatir bila anak-anaknya belum pulang menjelang malam tiba. Itulah ibu yang tak kenal waktu menyayangi buah hatinya selalu. Bahwa setiap ibu adalah kartini bagi buah hati mereka sekecil apapun itu. Karena jasa seorang ibu tak dapat dihitung oleh apa pun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: