Sisi Buruk Media

16 Apr

Image

Rizal Palevi (10321052)

 

            Media merupakan kata yang tak dapat dilepaskan peranannya bagi dunia informasi di Indonesia. Melalui media, informasi dapat menyebar dengan cepat ke seluruh masyarakat Indonesia. Informasi-informasi penting memang sudah seharusnya diberitahukan kepada publik jika memang itu untuk kepentingan mereka, namun tetap dalam kapasitas privasi yang ada.

            Di Indonesia sendiri ada beberapa perusahaan media yang telah menjadi bagian dalam dunia informasi dan hiburan. MNC group, SCTV, TV One, Me tro tv adalah beberapa media televisi yang ada. Dalam menjalankan perannya sebagai media informasi dan hiburan, banyak hal-hal yang menurut saya jauh dari etika penyiaran yang ada. Tayangan-tayangan yang ditampilkan saat ini banyak memunculkan adegan kekerasan yang memang tidak layak untuk ditampilkan.

            Ideologi yang hanya memikirkan keuntungan bagi pemilik media itu sendiri, juga membuat media menjadi tidak acuh terhadap dampak yang akan ditimbulkan bagi masyarakat nantinya. Padahal seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat terdiri dari berbagai macam umur dan golongan. Rating menjadi salah satu alasan beberapa media membuat tayangan yang menarik namun belum pasti sesuai dengan etika penyiaran yang ada di Indonesia. Kekerasan dan pornografi menjadi hal yang paling sering dimunculkan di dalam tayangan media saat ini.

            Tayangan-tayangan yang mendidik semakin jarang muncul. Acara-acara edukatif sebenarnya sangat efektif dan efisien sebagai media dalam mendidik anak-anak. Tingkat persuasif dari tayangan-tayangan televisi sangat tinggi sehingga sangat mudah untuk mempengaruhi pola pikir anak-anak. Tayangan yang penuh akan kekerasan tentu saja akan membentuk sikap dan perilaku anak menjadi keras juga. Solusi menggunakan literasi mediapun belum terlalu efektif hasilnya. Tinggal bagaimana orangtua memberikan pengarahan kepada anak-anaknya untuk bisa bijak dalam memilih tayangan televisi. Selain itu mereka juga harus bisa menjadi contoh dengan tidak menonton tayangan konten dewasa bersama anak-anak mereka.

            Dalam hal gender, media juga belum bisa adil. Mereka masih sering menggunakan sosok perempuan sebagai pemikat dalam suatu tayangan ataupun iklan. Perempuan digambarkan sosok yang mampu menarik perhatian masyarakat khususnya kaum laki-laki. Banyak iklan maupun tayangan di media yang memamerkan keindahan bentuk tubuh wanita. Bukan hanya iklan saja, acara tengah malam seperti mata lelaki juga menampilkan bagaimana perempuan dalam pandangan kaum laki-laki. Hal itu membuat martabat perempuan menjadi rendah di kalangan masyarakat.

            New media seperti internet bahkan lebih berbahaya lagi. Dengan akses yang cepat dan siapa saja bisa menggunakannya, filter akan media internet sendiri belum terlalu ketat. Masih ada konten-konten yang tidak sesuai yang ada di dalamnya. Semua akses ke seluruh pelosok dunia pun tersedia dalam internet. Memang sangat membantu dalam hal mencari informasi tanpa terbatas ruang dan waktu, namun jika disalahgunakan akan memberikan dampak yang sangat fatal bagi masyarakat khususnya anak-anak.

            Menurut saya sendiri, media memilik arti kata me yang berarti saya, dan dia. Me bisa diartikan untuk kepentingan saya sebagai pekerja media atau untuk kepentingan dia yang tidak lain adalah pemilik media. Sebagai calon pekerja media, kita pasti memiliki idealisme sendiri dalam bekerja namun tetap harus dilakukan untuk kepentingan masyarakat. Hak masyarakat adalah mendapatkan informasi dan tayangan yang bermanfaat dan kewajiban kita sebagai pekerja media adalah memberikan informasi dan tayangan yang sesuai dengan kepentingan yang dibutuhkan masyarakat. Namun dalam kenyataannya, hal tersebut belum terealisasikan karena kepentingan pemilik media.

            Media-media saat ini banyak digunakan hanya untuk kepentingan pemiliknya semata. Contohnya pemilik-pemilik media yang terjun ke dunia politik. Media yang mereka miliki dimanfaatkan sebagai publikasi partai yang mereka ikuti. Banyak informasi yang lebih penting untuk diberikan kepada masyarakat. Itulah konglomerasi media yang sampai saat ini menjadi bahan yang layak diangkat dan dibahas.

            Berbicara media tidak bisa dilepaskan dari frekuensi. Media-media memanfaatkan frekuensi untuk membuat siaran mereka dapat dinikmati oleh masyarakat. Namun apakah mereka menyadari bahwa frekuensi juga milik masyarakat. Undang-undang Penyiaran yang mengatur tentang frekuensi seolah dianggap sebagai peraturan yang dibuat hanya untuk dilanggar. Mereka memanfaatkan frekuensi tanpa ada batasan-batasan atau kuota yang seharusnya digunakan. Bayangkan jika frekuensi yang ada di Indonesia dimanfaatkan seluruhnya hanya oleh media-media nasional, bagaimana media lokal dapat mengembangkan media mereka sendiri. Ruang gerak mereka akan menjadi terbatas dan tetap seperti itu-itu saja ke depannya.

            Dalam hal internal sendiri pun media memiliki banyak persoalan, seperti belum terlalu diperhatikannya mengenai masalah kesejahteraan karyawan. Banyak media nasional yang belum memiliki serikat pekerja, padahal itu sangat penting keberadaannya untuk para pekerja dalam media tersebut. Media menganggap hal tersebut akan menjatuhkan bukan memajukan, oleh karena itu banyak alasan-alasan yang diberikan ketika para pekerja berniat untuk berorganisasi dalam sebuah institusi tempat mereka bekerja. Dalam beberapa kasus mengenai hal ini, dijelaskan bahwa belum adanya standar penilaian kinerja terhadap karyawan-karyawan yang bekerja dalam sebuah media. Dengan tidak adanya standar penilaian tersebut, tentu tidak dapat dilihat bagaimana kinerja dari para karyawan. Mereka tidak dapat penghargaan ataupun apresiasi terhadap pekerjaan yang mereka lakukan, sedangkan mereka bekerja untuk mendapatkan dan mengejar karir yang lebih baik ke depannya nanti.

            Dalam bekerja seharusnya ruang gerak wartawan media diberi kebebasan, namun hal tersebut menjadi berbeda ketika sudah dimasuki oleh kepentingan-kepentingan pemilik media. Wartawan mau tidak mau harus menuruti perintah atasan karena memang mereka dituntut untuk profesional dalam bekerja. Media sendiri tidak mau peduli mengenai hal tersebut karena mereka memang mempunyai kekuasaan penuh dalam menjalankan medianya sendiri. Seringkali para pekerja menjadi bingung antara profesional terhadap profesi atau terhadap institusi.

            Hal itu membuat informasi yang diberikan oleh media tidak ada kepentingannya bagi masyarakat. Memang mereka mengikuti pasar yang sudah ada, namun harus tetap bermanfaat. Dengan banyaknya informasi-informasi dari berbagai media, tentu informasi-informasi yang disampaikan akan berbeda sesuai dengan versi masing-masing media. Hal tersebut tidak jarang membuat masyarakat bingung antara informasi yang tepat atau yang tidak. Media-media seharusnya saling berkoordinasi satu sama lain, bukannya bersaing demi kepentingan mereka sendiri.

            Media seharusnya menyadari bahwa mereka memiliki peran penting dalam memberikan informasi yang aktual dan faktual. Masyarakat yang modern adalah masyarakat yang mengerti mengenai informasi-informasi yang ada di dunia ini. Media memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pola pikir masyarakat umum, oleh karena itu jika informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan undang-undang dan peraturan yang sudah ada, maka masyarakat bukannya semakin pintar, namun semakin buta akan informasi.

            Oleh karena itu kita sebagai masyarakat yang baik seharusnya bisa lebih bijak dalam memanfaatkan media. Pergunakan media sesuai dengan kebutuhan kita masing-masing. Media bukan merupakan suatu ancaman, namun kesempatan tetapi tetap dalam koridor yang lurus dan baik. Dengan memanfaatkan media sebaik-baiknya maka jarak, ruang, dan waktu bukan menjadi permasalahan dalam mengakses informasi penting yang ada belahan bumi lainnya.

           

            

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: