Media Yang Tak Ramah Anak

16 Apr

Hasinadara P. (10321024)

Anak-anak merupakan individu yang masih dalam tahap meniru. Tentu yang diharapkan para orangtua anak-anak dapat meniru hal-hal yang baik. Selain melalui lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, anak-anak juga meniru apa yang mereka konsumsi melalui media. Katakanlah televisi merupakan media yang paling mudah dijangkau dan dimiliki oleh setiap rumah.

Tetapi dapat kita lihat sekarang apa yang terjadi pada tayangan televisi di Indonesia. Hampir sebagian besar segmentasi tayangan yang mendidik untuk anak terasa kurang bila dibandingkan tayangan untuk remaja atau pun dewasa. Sebut saja tayangan kartun seperti Spongebob, Larva, Doraemon, dan lainnya masih merajai pasar untuk tayangan bagi anak. Tetapi cerita yang terkandung dalam kartun tersebut belum tentu mendidik anak Tetapi masih ada.tayangan seperti Dolphino, Laptop Si Unyil, TV-E-tayangan pendidikan yang disiarkan oleh TVRI-dan lain lain menjadi alternatif tayangan yang mendidik bagi anak dapat dihitung dengan jari.

Bila dibandingkan dengan era 90-an, tayangan untuk anak saat ini jauh berbeda dari sebelumnya. Ketika era 90-an masih banyak acara anak yang muncul, seperti Tralala Trilili, Cilukba, Si Unyil, dan tayangan kartun anak-anak masih banyak, sehingga anak-anak pun mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapat. Berbeda dengan justru televisi sebagian besar menyajikan sinetron, infotainment, acara music, reality show yang berdampak anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya.

Belum lagi acara anak pun dirasa kurang mendidik seperti acara di ANTV. Acara “Suka-Suka Nizam” mendapatkan peringatan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada 14 Januari 2013, terkait isi acara yang tidak pantas, tidak baik, dan tidak mendidik dalam konteks perlindungan terhadap anak-anak. Dapat terlihat bahkan dalam acara tersebut Nizam dirasa kurang mencerminkan sebagaimana seharusnya anak-anak dan hanya mengikuti apa yang orang dewasa lakukan, contohnya seperti mem-bully asistennya sebagai bahan lelucon merupakan contoh yang buruk bagi anak-anak lain

Tidak hanya ANTV, televisi lainnya pun mendapat peringatan dari KPI terkait akumulasi kesalahan tayangan mereka. Televisi tersebut antara lain, SCTV, RCTI, PT Cipta TPI, Global TV, TV One, Trans7, Trans TV, Indosiar, Metro TV dan TVRI. Televisi tersebut melakukan pelanggaran terkait dengan perlindungan terhadap anak dan remaja, anak sebagai narasumber, penggolongan program siaran, serta penyamaran dalam program siaran jurnalistik seperti yang diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) Komisi Penyiaran Indonesia tahun 2012. Pelanggaran tersebut antara lain, tidak memperhatikan kepentingan anak dalam setiap aspek produksi siaran, penayangan materi program yang tidak sesuai dengan penggolongan program siaran yang diperuntukkan bagi anak-anak dan/atau remaja, mewawancarai anak-anak dan/atau remaja berusia di bawah umur mengenai hal-hal di luar kapasitas mereka untuk menjawabnya, tidak menyamarkan wajah dan identitas anak-anak dan/atau remaja dalam peristiwa dan/atau penegakan hukum, baik sebagai pelaku maupun korban dan tidak menyamarkan wajah dan identitas anak-anak dan/atau remaja yang diduga menjadi pelaku maupun korban tindak pidana asusila dan/atau kejahatan seksual.

Dengan adanya berbagai fakta tersebut dapat dikatakan, televisi tersebut lebih mementingkan kepentingan pasar daripada memerhatikan apa dampak tayangan bagi khalayak khususnya anak-anak. Awak media dan pemilik media memiliki peran sangat besar dalam tercetusnya hal-hal tersebut. Mereka melihat apa yang lebih banyak masyarakat sukai, ketimbang apa yang bisa mendidik masyarakat. Karena terkadang tayangan yang mendidik justru membutuhkan biaya yang besar dan belum tentu menjamin tayangan tersebut laku keras dalam perspektif mereka. Sebenarnya tidak terlalu sulit dalam menciptakannya hanya dibutuhkan kreativitas yang matang untuk menciptakan program yang mendidik namun menghibur. Sedangkan yang mau dan yang mampu menciptakan program mendidik pun hanya segelintir orang saja. Belum lagi harus berketat dengan yang namanya rating. Bila rating rendah, dalam kurun waktu tak lama maka acara tersebut akan segera dihentikan.

Bahaya media bagi anak tidak hanya dari televisi saja. internet sebagai new media yang kini begitu mudah diakses bahkan melalui telepon genggam menjadi ancaman bagi anak-anak. Akses informasi yang tidak disaring tentu dapat memberi pengaruh buruk pada anak-anak. Kekerasan, pornografi, dan konten yang tak sesuai usia tidak bisa dibatasi dalam dunia internet. Konten-konten tersebut bisa ditemukan di berbagai website dan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube, dan lain-lain. Meskipun beberapa situs telah di-block dan diberi peringatan untuk konten dewasa, namun hal tersebut tidak menjamin anak-anak terhindar dari konten tak aman. Karena anak-anak adalah pribadi yang ingin tahu, hingga terkadang konten tersebut bisa saja terkonsumsi. Maka dari itu yang dibutuhkan adalah peran orangtua untuk mampu membatasi dan memberikan pengertian konten mana yang seharusnya anak-anak konsumsi. Karena kita tidak bisa mengandalkan media yang semakin liberal saja sekarang ini. Bisa dilihat bagaimana anak-anak sekarang sudah mengenal kata pacaran, merokok, dan hal yang lain yang seharusnya mereka lakukan saat usia remaja atau pun dewasa.

Aturan telah dibuat, disosialisasikan dan dilaksanakan. Namun pelanggaran tetap saja ada. Sebenarnya apa yang salah? Saya pikir media sekarang menganut aliran kapitalisme, demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya apa pun dilakukan meskipun itu merugikan pihak tertentu, khususnya anak-anak. Pemilik media akan melihat apa yang disenangi oleh pasar itulah yang akan diproduksi terus-menerus, tanpa terlalu memerhatikan kualitas konten acara itu baik bagi anak-anak atau pun tidak. Dalam hal ini negara tak lagi bisa berkuasa seperti zaman orde baru. Negara yang ingin membebaskan media justru malah jadi membablaskannya. Untuk menggambarkan media sekarang, mengutip Haryatmoko, SJ bahwa dalam cara berpikir industri, informasi pertama-tama dianggap sebagai barang dagangan. Maka yang dibutuhkan sekarang adalah para awak media dan pemilik modal yang peduli apa tayangan yang mendidik. Maukah mereka, harapan bangsa ini, menjadi orang yang tak beradab? Begitu juga negara harus mampu menegakan peraturan yang telah mereka buat dengan biaya yang tak murah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: