Media tidak Ramah Perempuan

16 Apr

Anindita Damayanti (10321066)

Media massa saat ini menjadi kebutuhan utama masyarakat sebagai alat mencari informasi dan hiburan, serta bukan hanya media cetak saja yang dibaca tapi juga media penyiaran baik televisi maupun radio. Tak jarang, media tersebut menggunakan perempuan sebagai objek pemberitaan serta penghibur karena seringkali iklan-iklan berisi model perempuan. Dalam pemberitaan, perempuan terkadang digambarkan sebagai objek penghibur sekaligus penderitaan, sedangkan dalam iklan perempuan digunakan untuk menarik perhatian minat penontonnya karena dianggap lebih “menjual”. Penempatan perempuan dalam media yang tidak sesuai dapat mengakibatkan ketimpangan gender antara laki-laki yang superior dan perempuan yang inferior.

Media cetak seperti koran kuning banyak berisikan berita kriminalitas yang bersangkutan dengan perempuan. Perempuan ditempatkan sebagai seseorang yang tidak berdaya, maka akhirnya dialah yang menjadi korban. Tak jarang perempuan juga disalahkan atas terjadinya tindakan kriminal tersebut. Koran kuning dengan beritanya yang bombastis secara vulgar menggambarkan keadaan yang menimpa korban, bahkan tak jarang menyertakan foto-foto tanpa dilakukan sensor terlebih dahulu.

Disebut sebagai koran kuning karena wartawan yang menulis berita di koran ini tidak menulis berita sesuai dengan etika jurnalistik. Berita sering menggunakan judul yang tidak beraturan dengan huruf besar dan panjang. Koran ini tidak bisa dipercaya karena isinya tercampur antara opini dan fakta, jadi sering terjadi bias berita. Isi berita banyak yang kabur dan faktanya diputarbalikkan. Mengacu pada konten beritanya, kotan kuning banyak berisi sex, crime and conflict. Karena itu segmentasi koran kuning adalah untuk kalangan bawah, dengan adanya berita dan foto tanpa sensor dampaknya tentu dapat meningkatkan tindakan kriminalitas di masyarakat.

Media cetak seperti koran kuning yang masih mengganggap perempuan adalah kaum yang lemah dan objek penderitaan, jika pemberitaan seperti ini masih banyak tentu akan berdampak pada perempuan di masyarakat. Perempuan akhirnya akan menjadi terpinggirkan di masyarakat. Jika pemberitaan tidak seimbang terus terjadi, semakin lama kaum perempuan akhirnya akan termarjinalkan atau terpinggirkan. Media berusaha mengkonstruksi sedemikian rupa berita tentang perempuan ini, mereka hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi segmen masyarakat kelas bawah dan bisnis tapi tanpa sadar media tersebut sudah merusak identitas perempuan. Demi bisnis mereka menyingkirkan unsur-unsur jurnalistik dengan tidak menjaga kerahasiaan baik korban maupun pelaku dan menggunakan bahasa yang terkesan bombastis serta pemilihan kata yang terkesan vulgar.

Media cetak lainnya tampaknya berusaha untuk menyetarakan gender objek pemberitaannya, banyak media masih memberitakan perempuan hanya sesuai di bidang domestik saja. Saat ini sudah banyak bermunculan perempuan mandiri yang dapat bekerja mengerjakan bidang yang sama dengan laki-laki, tapi pemberitaan tentang perempuan seperti ini masih sangat minim. Jika ada maka akan dimasukkan dalam sebuah kolom khusus yang membahas profil perempuan tersebut. Terlihat bahwa perempuan tersebut masih menjadi bagian di luar pemberitaan umum yang didominasi oleh laki-laki. Masih sedikit media yang mengulas apa yang dapat dilakukan perempuan di bidang yang sama dengan lelaki.

Selain koran, media cetak lain seperti majalah juga menggunakan perempuan dalam isinya. Saat ini banyak sekali majalah perempuan remaja maupun dewasa yang terbit setiap bulan. Ada majalah yang mengulas bagaimana menjadi perempuan yang mandiri dan tough serta tidak melupakan sisi femininnya, tapi seringkali majalah masih menulis perempuan masih bergantung pada orang lain terutama laki-laki. Dalam majalah banyak ditulis cara untuk menjadi perempuan yang ideal untuk zaman sekarang, sedangkan tidak banyak perempuan bisa mengikuti cara yang sama. Contohnya, dalam majalah perempuan sedang trend kosmetik atau fashion terbaru yang memang sedang banyak dipakai, tapi kenyataannya tidak semua perempuan bisa berdandan seperti yang ada di dalam majalah tersebut. Isi dari majalah perempuan seringkali hanya berorientasi pada bisnis saja, walaupun tetap diimbangi dengan isi yang berkualitas dengan tips dan trik serta artikel menarik lainnya.

Lain majalah perempuan dengan majalah laki-laki, sekarang sudah banyak pula majalah laki-laki yang terbit untuk memenuhi kebutuhan informasi pria. Sayangnya, di majalah pria banyak digunakan model perempuan untuk menarik perhatian pembaca. Dalam majalah ini perempuan dijadikan objek penghibur sebagai komoditas untuk dieksploitasi, seringkali majalah pria berisikan berita serta gambar tentang perempuan dengan vulgar yang dalam hal ini dapat menimbulkan gairah seks. Sebut saja Playboy, majalah bersegmen pria dewasa dan banyak berisi gambar perempuan yang terkesan buka-bukaan serta menjurus pada pornografi.

Perempuan dalam majalah pria jelas sebagai objek penghibur sekaligus penjual, di majalah sering digambarkan perempuan dengan menonjolkan bagian-bagian tubuhnya. Memang majalah adalah media hiburan, tapi seharusnya juga berisi informasi yang bermanfaat. Majalah jenis ini memang menghibur tetapi belum tentu dapat memenuhi informasi pembacanya. Majalah pria sama dengan majalah wanita, mereka juga berorientasi bisnis dan majalah pria sering mengabaikan unsur informasi dengan lebih banyaknya gambar-gambar sensual yang menuai kontroversi. Karena pasarannya untuk pria dewasa, majalah ini tidak banyak ditemukan di loper koran atau toko buku biasa, hanya di toko-toko tertentu saja dan dibanderol dengan harga yang cukup mahal.

Eksploitasi tubuh perempuan dalam media massa di Indonesia memang sudah cukup lama terjadi. Pornografi dalam media baik cetak maupun penyiaran sudah cukup banyak. Media cetak yang banyak menggunakan perempuan dalam kontennya berusaha menarik minat dan perhatian masyarakat untuk mengikuti agenda setting pemilik media. Mereka yang hanya berorientasi bisnis dan profit tentu akan mengacuhkan segala bentuk pelarangan pornografi terkait bidang jurnalistik. Sebut saja Sarah Azhari atau Sophia Latjuba yang sering menjadi model untuk media-media yang berbau pornografi, dan mereka adalah salah satu bukti eksploitasi tubuh yang dilakukan oleh media terkait.

Setiap media pasti memiliki agenda setting sendiri tergantung dari tujuan pemilik media tersebut. Banyak media cetak yang berusaha mengeksploitasi perempuan untuk bisnis yang lebih menguntungkan. Dalam majalah perempuan islami, media tersebut berusaha untuk membuat agenda setting bahwa perempuan tidak harus bergantung pada laki-laki saja. Dalam ajaran islam, perempuan terletak pada posisi yang mulia, maka pemilik media membuat majalah yang tidak mengeksploitasi perempuan tetapi berusaha memotivasi perempuan.

Selain media massa cetak, perempuan juga digunakan dalam iklan. Tak terhitung berapa banyak iklan yang mnggunakan model perempuan dalam mempromosikan produknya. Produk kecantikan jelas akan menggunakan model perempuan, karena produk tersebut identik dengan perempuan. Tapi banyak iklan otomotif seperti motor yang menggunakan model wanita. Motor besar seperti Kawasaki cenderung identik dengan maskulin, tetapi banyak iklannya dipromosikan perempuan seksi. Penggunaan perempuan dalam promo produk maskulin adalah salah satu bentuk eksploitasi tubuh perempuan, karena secara umum jarang ada perempuan yang mau membeli dan menggunakan motor jenis ini. Penggunaan perempuan dalam iklan seringkali tidak sesuai dengan produk yang dipromosikan.

Media menggunakan perempuan untuk kepentingan bisnis semata, hal ini yang kemudian muncul bias gender. Bukan hanya sebagai objek penghibur tetapi objek penderita juga. Berita yang menyedihkan, sadis, bahkan vulgar dianggap lebih menjual daripada berita tentang perempuan yang biasa-biasa saja. Banyak masyarakat yang belum sadar dengan dengan tujuan dari media ini, karena tanpa sadar mereka sudah terpengaruh dengan agenda setting media tersebut. Dari segi profit, masyarakat sebagai konsumen sudah membuat media untung dengan pembelian produk media tersebut.

Semua tujuan ini adalah untuk mendapatkan keuntungan semata, perempuan dianggap lebih menjual dibandingkan laki-laki. Perempuan digunakan untuk kepentingan media saja yang membuanya menjadi kapitalis dan tidak mempedulikan efek yang diterima oleh perempuan. Akhirnya banyak orang yang berpendapat bahwa media massa belum ramah terhadap perempuan karena pemberitaan dan penempatannya masih belum tepat. Bias gender masih banyak terjadi di berbagai media massa. Kedudukan perempuan harusnya bisa setara atau di atas laki-laki, perempuan bukan hanya makhluk lemah yang terus bergantung pada laki-laki. Apakah mau jika perempuan terus menerus dijajah pria?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: