Ketika Iklan Menguasai Media

16 Apr

Aan Mei Handoko (10321071)

Indonesia merupakan negara yang majemuk dengan berbagai latar belakang budaya, agama dan bahasa. Demikian juga dengan media yang ada di Indonesia saat ini sangat beragam dan memiliki ciri khas masing-masing. Televisi, radio, media cetak dan online merupakan beberapa contoh media yang ada pada saat ini. Media dan masyarakat sudah sangat sulit dipisahkan, karena keduanya saling membutuhkan satu sama lain.

Sebagai salah satu penyampai informasi, media memiliki fungsi, di antaranya sebagai kontrol sosial, pendidikan, hiburan, dan yang pasti menyampaikan informasi/berita bagi masyarakat. Keadaan sekarang ini seolah berbalik drastis, karena media cenderung tidak menjalankan fungsinya dengan baik sebagaimana mestinya. Media saat ini lebih cenderung mengikuti alur bisnis yang menggiurkan, tanpa sadar bahwa mereka menggunakan ruang publik yang semestinya berpihak dengan apa yang dibutuhkan masyarakat.

Banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut di antaranya adalah konglomerasi media/ kepentingan pemilik media, kedua pekerja media baik wartawan ataupun reporter, serta yang terakhir adalah iIklan. Iklan menurut KBBI adalah berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan serta pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di media massa seperti surat kabar dan majalah serta biasanya dipasang di tempat umum berbentuk baliho dan sejenisnya.

Iklan dewasa ini menjadi salah sumber pemasukan media-media besar yang ada di Indonesia terutama media swasta. Karena media swasta hidup dari iklan/sponsor. Tanpa iklan, dapat dipastikan media tersebut cepat atau lambat pasti akan gulung tikar nantinya. Jadi, tidak aneh kalau iklan disebut sebagai raja penguasa media.
Kemudian, pertanyaan yang sering muncul dalam masyarakat adalah apakah iklan bisa mempengaruhi pemberitaan/ideologi sebuah media? Jawabnya, sangat mungkin bisa. Sebenarnya iklan dan konglomerasi media berjalan berdampingan dan saling bersinergi dalam hal bisnis maupun politik.

Logikanya ketika suatu perusahaan memasang sebuah iklan yang menjadi salah satu sponsor dalam sebuah media, pastinya media akan memberikan kredit lebih terhadap sang pengiklan tersebut. Media lebih cenderung akan berbuat sangat baik bahkan seolah akan mencari muka, serta jika itu terjadi pada sebuah media cetak dapat dipastikan media cetak tersebut akan memberitakan yang baik-baik. Meskipun mungkin dalam sebuah iklan tersebut banyak sekali kekurangan baik dalam isi iklan, maupun produknya sendiri.

Pengaruh iklan-iklan tersebut akan sangat terasa terhadap pemberitaan atau dalam sebuah program acara tersebut. Bagaimana tidak berbahaya, media yang sejatinya berpihak kepada masyarakat sekarang berbalik seolah akan merusak masyarakat itu sendiri.

Unsur-unsur lain yang memengaruhi yakni pemilik media. Campur tangan pemilik media sangat terasa sekali. Media di Indonesia hanya dikuasai oleh beberapa orang saja. sebut saja Chairul Tanjung (Transcorp), Harry Tanoesoedibjo (MNC Group), Aburizal Bakrie (BakrieTelekom), serta Surya Paloh (MetroTv), yang mengkhawatirkan lagi adalah bos-bos besar tersebut terlibat dalam partai politik. Bisa dibayangkan bagaimana media menjadi salah satu sarana untuk memperlancar kepentingannya dalam politik.

Tekanan dari iklan dan pemilik modal terhadap pekerja media/wartawan juga berimbas pada ideologi dan objektivitas sebuah berita yang dikeluarkan. Para wartawan ini tidak bisa berbuat banyak, karena wartawan tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan hal tersebut. Serikat para pekerja media tidak bisa terealisasi dengan baik. Karena para pemilik media tidak menyetujui hal tersebut. Kita juga tidak bisa menyalahkan sepenuhnya kepada para pekerja media. Karena mereka hanya menjalankan sesuai perintah. Jika tidak bisa menuruti dipastikan adanya pemecatan. Dari sana sudah terlihat menjadi salah satu bukti bagimana media dipelintir sedemikian untuk kepentingan pemilik media.

Media di Indonesia sudah sarat dengan budaya politik, kita ambil salah satu contoh pada media televisi. MetroTV yang merupakan salah satu televisi nasional yang menggunakan frekuensi dari sabang hingga merauke. Menayangkan iklan tentang partai Nasdem (Nasional Demokrat) berkali-kali. Ironisnya lagi MetroTV juga menayangkan semua kegiatan baik rapat, kegiatan sosial, yang dilakukan oleh partai maupun Surya Paloh.

Masyarakat tidak meliliki pilihan lagi, karena semua dikendalikan pemilik modal. Sejatinya masyarakat tidak membutuhkan informasi tersebut, karena apa pentingnya berita tersebut bagi masyarakat karena tidak menimbulkan rasa kepuasan dalam hal informasi, bahkan masyarakat mulai bosan dengan tayangan seperti itu, karena masyarakat juga sudah mulai pintar menyikapi itu semua.

Kita ambil salah satu contoh lain di Amerika Serikat. Abigail Evans, bocah perempuan berusia empat tahun, menangis lantaran kampanye presiden Amerika tak kunjung usai ditayangkan di media televisi dan media lainya. Ketika, Ibunya sempat bertanya pada Abigail kenapa dia menangis, dia berkata “Saya sudah lelah dengan Bronco Bamma (Obama) dan Mitt Romney.

Bisa terlihat bagaimana menakutkannya kampanye politik yang ditayangkan berkali-kali dan menimbulkan rasa bosan kepda anak-anak. Terkadang media tidak pernah berpikir apa dampak yang ditimbulkan akan hal tersebut. media hanya menginginkan keuntungannya saja, tanpa memikirkan sisi pendidikan bagi masyarakat, informasipun sudah terkontaminasi oleh campur tangan pemilik media.

Regulasi media juga patut disoroti, karena mereka belum bekerja dengan baik sebagaimana mestiknya. UU Pers dan Penyiaran yang kurang tegas juga berperan serta atas buruknya media di negeri ini. Lantas, kemana lagi masyarakat bisa mendapat informasi yang baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan? baik dalam segala aspek dan fungsi media tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: