Eksistensi Tayangan Mistisme di Televisi

16 Apr

Nikita Putri Hutami (10321025)

Bila mendengar kata “mistis” pasti erat kaitannya dengan makhluk gaib, misteri, mitos, dan sesuatu yang menakutkan. Itulah buah hasil konstruksi media pada masyarakat Indonesia. Padahal, mistis tidak selalu menghubungkan manusia menuju alam gaib. Ada beberapa macam tayangan mistisme yang tidak diketahui oleh masyarakat. Seperti yang dilansir oleh wikipedia.com, ada tiga macam tayangan mistis. Pertama adalah mistik semi-sains/ fiksi ilmiah seperti acara The Master di RCTI. Kedua adalah mistik fiksi yang bersifat hiburan atau cerita mistik yang difilmkan seperti Dendam Nyi Pelet. Ketiga adalah misteri horor yang banyak menghubungkan manusia dengan makhluk gaib seperti setan dan jin. Tetapi, tayangan mistisme di televisi lebih condong ke arah mistis horor. Faktanya, tayangan horor lebih menjual daripada mistik semi sains atau mistik fiksi. Masyarakat lebih senang melihat sosok penampakan yang terekam kamera daripada melihat film Dendam Nyi Pelet.

Mistisme adalah salah satu masalah sosial di media massa yang masih bertahan. Keberadaan masalah tersebut masih belum ditemukan solusinya hingga saat ini. Pasalnya, masyarakat jarang memperdebatkan tayangan mistis yang kurang bermanfaat. Sebenarnya tayangan mistis horor merupakan hiburan yang tidak berbobot, tidak ada kesimpulannya, tidak ada jawabannya, tidak ada sisi edukasinya. Menonton tayangan tersebut biasanya didasari oleh rasa ingin tahu dan penasaran yang sangat tinggi. Tapi, dimanakah letak manfaat yang bisa dipetik dalam tayangan tersebut? Atau adakah tujuan dan kesimpulannya. Masyarakat memang diberikan fasilitas untuk bertemu, dan berkenalan dengan sosok mahluk astral. Dari yang tadinya tidak bisa melihat, menjadi terlihat. Tidak tanggung, televisi juga menghadirkan paranormal yang akan menjelaskan mahluk apa yang sedang berada saat itu. Jika dipikir dengan logika, adakah manfaat manusia bertemu dengan makhluk gaib? Jika sudah bertemu, adakah urusannya dengan manusia? Apa yang ingin dicari jika nantinya menemui makhluk gaib? Pesan apa yang ingin disampaikan kepada makhluk halus itu?

Tayangan mistis mulai marak sekitar tahun 2000an. Beberapa stasiun televisi mengangkat fenomena gaib yang dianggap perlu untuk diperbincangkan. Program mistis yang sempat naik daun saat itu adalah Kismis (Kisah-Kisah Misteri), Gentayangan, Pemburu Hantu di Lativi, dan Silet yang sekarang sudah beralih ke acara infotainment. Stasiun televisi seakan ikut berlomba mencari jejak makhluk gaib untuk merebut perhatian masyarakat. Saat itu, masyarakat semakin kental akan budaya mistis yang begitu dasyat. Sampai di tahun 2013, tayangan mistis masih menjaga eksistensinya. Hanya saja, tayangan mistis lebih dibuat variatif agar membuat penonton tidak jenuh. Seperti masih Dunia Lain di Trans 7 yang merancang sebuah uji nyali. Peserta dibekali makanan ringan, minuman, dan sebuah lilin untuk 2 malam. Telah disediakan pula beberapa kamera yang akan merekam semua kejadian di tempat uji nyali. Siapa saja bisa mendaftarkan diri untuk menjadikan peserta. Bentuk partisipasi masyarakat dalam mengkuti uji nyali ini sebagai bukti bahwa program ini diminati masyarakat. Tidak tahu apa tujuannya program ini ditayangkan. Peserta yang kadang ketakutan melihat sosok penampakan malah mengatakan tidak ingin mengganggu sosok tersebut. Jika si peserta tidak ingin mengganggu, mengapa mengikuti uji nyali itu? Bahkan juga ada peserta yang jatuh pingsan karena tidak tahan melihat mahluk astral. Sisi hiburannya di mana? Si peserta sendiri tidak menemukan sisi yang menghibur, dan manfaatnya pun tidak ada.

Trans 7 juga membuat acara mistis Dua Dunia. Tayangan ini berusaha berkomunikasi dengan makhluk astral untuk mengetahui misteri apa yang ada di wilayah tersebut. Masyarakat yang sedang di lokasi shooting dipilih sebagai mediator (mahluk gaib yang akan masuk ke dalam tubuh si mediator). Selanjutnya adalah Mister Tukul Jalan-Jalan. Tukul Arwana sebagai presenter kocak di acara ini mencoba menghadirkan tayangan mistis yang berbeda. Awalnya, tayangan ini mengunjungi tempat bersejarah. Namun, lama kelamaan mengarah ke mistis. Apa yang ada di lokasi diceritakan oleh seorang paranormal. Nantinya, paranormal tersebut akan melukis makhluk halus apa yang sedang ada di sana.

Tanpa disadari, masyarakat akan lebih senang bertemu setan dan jin daripada berkomunikasi dengan Tuhan. Masyarakat yang haus akan informasi gaib akan suka berhalusinasi sendiri. Iman menjadi tidak `kuat. Keyakinan terhadap agama menjadi lemah. Imajinasi berkembang di luar nalar. Tapi, ada daya jika masyarakat sendiri belum sadar bahwa tayangan mistis itu tidak bermanfaat.Cerita turun menurun soal jin yang ber gentayangan tidak ada habisnya. Sosok penampakan tentang orang bertubuh tinggi besar, perempuan rambut panjang yang menangis, suara anak kecil berlarian, adalah bintang yang digemari oleh masyarakat di televisi. Meskipun tidak terlihat, atau terlihat dengan wajah yang seram nyatanya dapat menghibur masyarakat. Karena faktanya, setiap akhir tayangan terdapat tulisan “tayangan bersifat hiburan” dengan latar hitam. Apakah bertemu dengan makhluk gaib dapat disebut sebuah hiburan?

Tidak hanya itu, tayangan mistis horor sering berkaitan dengan agama Islam. Entah mengapa agama Islam dipilih untuk menghubungkan mahluk gaib dengan manusia. Hampir di setiap tayangan mistis selalu mengundang paranormal, dan ustad. Paranormal sering kali memakai sorban, memakai baju gamis, dan kadang membawa tasbih. Ketika mendapat serangan dari mahluk gaib pasti kalimat yang diucapkan adalah “Allahhu Akbar, Astagfirullah, dan membaca doa-doa lainnya”. Sama dengan peserta uji nyali di sebuah tayangan mistis horor. Hampir semua peserta uji nyali beragama Islam karena menyebut nama Allah saat bertemu jin. Tidak pernah terdengar ada nama Tuhan lain selain Allah yang disebut. Anehnya lagi, peserta uji nyalidiberikan pertanyaan tentang motivasi mengikuti acara tersebut. Apakah bertemu dengan mahluk gaib harus ada motivasi?

Jika diperhatikan, sepertinya agama Islam adalah agama yang paling banyak terusik oleh keberadaan jin. Image agama Islam yang sangat percaya dengan adanya Allah menjadi rusak. Di dalam Al-quran pun sudah dijelaskan bahwa Allah SWT menciptakan jin sebagai makhluk yang durhaka kepada-Nya. Mengapa manusia senang melihat mahluk yang durhaka kepada Allah? Jika manusia paham dengan adanya jin, mengapa manusia masih ingin mencari keberadaan jin tersebut? Itu artinya, manusia masih belum percaya bahwa Allah menciptakan jin dalam bentuk yang beraneka ragam.Inilah yang menjadi bahaya bagi umat Islam yang tidak pernah disadari. Ustad di dalam tayangan mistis juga tidak memberikan dakwah seperti ustad pada umumnya. Si ustad tidak mengajarkan untuk menguatkan keyakinan kepada Allah tentang segala makhluk ciptaan-NYA. Contoh lain misalnya mengungkap kejadian masa lalu di tempat bersejarah. Apakah belum cukup referensi buku sejarah yang sudah banyak mengupas peristiwa di masa lalu? Intinya, bukan berusaha mengungkap masa lalu, lebih tepatnya mengungkap makhluk gaib di masa lalu yang ada sampai sekarang.

Eksistensi tayangan mistis di televisi harus dimusnahkan. Solusinya kembali kepada masyarakat sendiri. Literasi media sangat membantu masyarakat untuk melihat bagaimana media bekerja.Masyarakat harus paham bahwa tidak ada fungsi media yang menghibur dengan tayangan gaib. Literasi media ada karena banyaknya masalah yang terjadi pada media massa. Media yang seharusnya difungsikan sebagai tempat pembelajaran, informasi tidak dipergunakan dengan baik. Mengambil banyak keuntungan dari hiburan yang tidak masuk akal kerap dilakukan oleh sejumlah media. Tidak ada yang dapat menghentikan tayangan tak bermanfaat tersebut kecuali masyarakat sendiri. Harapannya dengan literasi media, masyarakat dapat menganalisis atau memilah mana tontonan yang bermanfaat dan yang tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: