Yang Muda, Yang Berani Korupsi?

9 Apr

Hasinadara P. (10321024)

Pejabat korupsi mungkin sudah terdengar biasa bagi masyarakat. Para pejabat itu identik dengan sebutan tikus, karena gemar menggerogoti uang Negara. Namun apa jadinya bila seorang mahasiswa yang korupsi. Mahasiswa yang dikenal sebagai agent of change (agen perubahan). Mahasiswa seharusnya menjadi intelektual muda yang mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Malah kini mahasiswalah yang membawa perubahan lebih buruk.

Beberapa waktu yang lalu seorang mahasiswa bernama Mario Zuhfri alias Sulaiman telah menorehkan sejarah buruk bagi dunia intelektual khususnya perguruan tinggi. Ia tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi, semester VI, Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Mario berhasil mengajukan 10 proposal fiktif ke pemerintah daerah. Dengan masing-masing proposalnya bernilai Rp 10 juta sehingga ia mendapatkan uang Rp 100 juta.

Mario mengajukan proposal kegiatan fiktif tersebut ke Biro Bina Sosial Provinsi Jateng khususnya pos dana hibah bantuan sosial (bansos) pada badan, lembaga, organisasi dan swasta Pemerintah Jawa Tengah. Kegiatan fiktif tersebut antara lain Kejuaraan Tenis Meja, Pelatihan Kecantikan “Kirana”, Penataran Juri Pencak Silat Gajah Putih, Kejuaraan Garuda Open I, Peningkatan SDM Pelatihan Panahan, dan lain sebagainya. Proposal tersebut tentunya memiliki kepanitian palsu berserta tanda tangannya. Tidak hanya itu dia mampu memalsukan tanda tangan lurah dan camat serta menyertakan stempel palsu guna melancarkan aliran dana tersebut. Tak lupa ia juga membuat Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kegiatan. Sehingga seolah-olah kegiatan yang ia ajukan tersebut benar-benar terjadi. Proposal fiktif yang telah dibuat Mario, dititipkan di sebuah perusahaan Semarang yang disinyalir milik Yoyok Sukawi, Ketua Komisi E DPRD Jateng. Kemudian diajukan ke Gubernur Jateng melalui Harry Triyadi.

Betapa cerdik dan kreatifnya mahasiswa satu ini, Mario. Ia melakukan semua ini dengan alasan untuk kepentingan pribadi semata. Uang Rp 100 juta tersebut ia gunakan untuk jalan-jalan ke Solo. Bahkan ia mengaku tak melibatkan orang lain dalam aksinya tersebut. Tapi tentu saja keterlibatan orang pemerintahan menjadi pelancar jalannya untuk melaksanakan korupsi. Seperti peribahasa sepandai-pandainya tupai meloncat, akhirnya akan jatuh juga terjadi pada seorang Mario. Sepulangnya dari Solo, ia malah langsung dibekuk oleh Kepolisian Semarang.

Korupsi di kalangan mahasiswa mungkin sudah pernah terdengar, seperti penyalahgunaan dana, penimbunan dana, sudah menjadi rahasia umum di dunia perguruan tinggi. Kali ini korupsi tersebut bukan dilakukan oleh lembaga, atau ormas kampus, yaitu seorang mahasiswa berusia 21 tahun.

Korupsi merupakan kegiatan yang begitu merugikan. Karena dana yang seharusnya menjadi milik publik malah dimanfaatkan oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab untuk kepentingan pribadi atau pun kelompok. Mario bisa melakukan perbuatan seperti itu tentu bukan tanpa sebab, ia bisa melakukan korupsi karena mungkin telah terbiasa melakukan hal curang lainnya. Mungkin saja mencontek, mencuri uang, berbohong dan lain sebagainya. Sehingga ketika melakukan korupsi pun ia lakukan dengan cukup rapi. Kecurangan yang membawa kerugian bagi banyak orang.

Akibat perbuatannya,  Mario terjerat dengan Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 KUHP. Ia terancam penjara lebih dari 5 tahun. Maka dengan hal itu tentu saja ia tak dapat lagi melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Artinya Mario telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Padahal dari lulusan SMA setiap tahunnya, hanya 18 % yang mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Tidak heran bila Mario yang seorang mahasiswa ekonomi mengerti seluk-beluk masalah dana pemerintahan, beserta pencairannya. Namun pengetahuan tersebut malah ia manfaatkan untuk memperkaya diri sendiri. Ia pun mengakui dana yang ia dapatkan hanya untuk foya-foya, seperti yang telah disebutkan berbagai media massa di Indonesia.

Korupsi yang dilakukan Mario selain merugikan dirinya sendiri, tentu merugikan orang lain. Nama universitas ditempat ia menempuh pendidikan pun tercoreng. Begitu juga dengan keluarganya akan merasa malu dengan apa yang telah ia lakukan. Namun bagi Mario sendiri rasa malu tersebut tak lagi jadi masalah, karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan.

Nama mahasiswa pun juga tercemar akibat perbuatan Mario ini. Masyarakat mungkin menganggapnya sama dengan para politikus busuk negeri ini. Masyarakat mungkin tak percaya lagi dengan yang namanya mahasiswa. Kini mahasiswa bisa dianggap bukan sebagai penerus bangsa. Namun penerus korupsi bangsa Indonesia

Akar korupsi di Indonesia sendiri sepertinya telah sulit dicabut. Para pejabat negara tersebut memberikan contoh kepada masyarakat bahwa korupsi itu suatu kesalahan yang biasa terjadi. Ketika kasus korupsi terkuak, tersangkanya malah dengan bangga tersenyum atau bahkan melambaikan tangan kepada media yang meliput seolah diri mereka yang paling benar. Hal-hal yang ditampilkan media kemudian terjadi juga di dunia  perguruan tinggi. Tak heran bila Mario melakukan ini karena para intelektual yang berada di kursi tinggi pun melakukannya. Mungkin saja Mario hanya ingin mencoba meniru apa yang telah dilakukan para seniornya, memperkaya diri sendiri dengan cara instan.

Moral bangsa Indonesia kian bobrok karena pemerintahannya yang tidak jujur dan bersih, sehingga menular ke berbagai kalangan. Pelajaran moral yang diberikan ketika bangku sekolah dasar bahkan hingga perguruan tinggi mungkin tak lagi berlaku. Politik mungkin bisa disebut barang yang kotor bila kita tidak bisa mengontrol diri, menjalankan peran yang harus dilakukan politik itu sendiri. Jika sudah terjun di dalamnya, siapa pun yang tak berhati-hati bisa terjebak dalam lubang kotor bernama korupsi. Korupsi memang terus merajalela, namun besar harapan masih ada manusia yang memiliki hati nurani untuk memberantasnya, memiliki kejujuran untuk menerangi bangsa Indonesia tercinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: