Penimbunan Solar = Tindakan Korupsi

9 Apr

Anindita Damayanti (10321066)

Beberapa hari terakhir santer terdengar kelangkaan BBM jenis solar di beberapa daerah Indonesia, banyak terjadi antrian di beberapa pom bensin yang melayani pembelian solar bersubsidi. Bahkan di Yogyakarta, kelangkaan membuat truk dan mobil diesel harus mencari solar di beberapa SPBU karena banyak yang sudah kehabisan stok solar. Dugaan awal langkanya solar di pasar adalah karena pemerintah ingin mengurangi subsidi. Harga solar saat ini Rp 4.500,- per liter untuk yang bersubsidi dan Rp 9.000,- per liter untuk solar non subsidi atau untuk kebutuhan industri.

Penyebab lain kelangkaan solar terjadi karena jumlah pasokan di pemerintah sudah menipis. Seringkali terjadi jika pemerintah sudah menganggarkan sekian ribu kiloliter untuk setahun dalam setengah tahun jumlah tersebut sudah dipakai lebih dari setengahnya, sedangkan pemerintah tidak bisa lagi menambahkan kekurangan tersebut. Karena alasan itulah akhirnya pemerintah mengurangi jumlah pasokan pada bulan-bulan berikutnya untuk menjaga kebutuhan solar hingga akhir tahun.

Dengan isu akan dikuranginya subsidi solar dan keterbatasan jumlah pasokan solar, sering ada beberapa oknum nakal yang berusaha menggunakan kesempatan ini dengan menimbunnya. Oknum itu bisa saja pihak distributor yang bertugas menjualkan solar-solar pada retail atau industri yang terikat kontrak tetapi jumlah distribusi tersebut malah dikurangi untuk disimpannya sendiri. Beragam alasan akan digunakan oknum supaya orang-orang tersebut percaya jika jumlah produksi sedang sedikit. Oknum menggunakan kesempatan ini untuk menjual solar timbunannya pada pihak lain dengan harga yang jauh lebih mahal untuk keuntungannya sendiri.

Pihak Pertamina tidak bisa disalahkan jika terjadi kelangkaan karena Pertamina akan menyediakan jumlah pasokan sesuai dengan yang dianggarkan pemerintah. Sebagai distributor, agen harus membuat delivery order (DO) untuk mengangkut solar tapi jika mereka tidak punya uang maka delivery order tersebut dijualnya pada perusahaan lain untuk menutupi kekurangan uang. Sebenarnya DO tidak boleh dibeli pada pihak lain yang tidak terikat kontrak, jadi kasus jual-beli DO ini termasuk tindakan penyelewengan. Perusahaan yang membeli DO berarti dapat membeli solar tersebut, dan perusahaan tersebut dapat dengan bebas menjual solar diluar harga yang ditetapkan.

Solar bukan bahan bakar yang biasa dijual di eceran di pinggir jalan, tetapi ada saja penjual kecil yang menjual solar. Hal ini bisa terjadi karena oknum agen tersebut menjual lagi pada penjual eceran tersebut. Jelas penjualan di luar agen dan retail resmi tidak diperbolehkan karena akan mengurangi jumlah pasokan di SPBU. Oknum yang sering menimbun biasanya akan menunggu hingga beberapa hari atau beberapa bulan untuk kemudian menjual lagi solar tersebut tanpa sepengetahuan pihak Pertamina tentunya. Tepat ketika solar benar-benar tidak ada, barulah agen tersebut akan menjual solar dengan eceran pada pelanggan dan harganya jauh lebih mahal. Permainan bisnis ini sudah biasa terjadi, karena bisnis BBM sangat menggiurkan dengan untung yang cukup besar.

Kelangkaan solar bukan pertama kali ini terjadi, karena seringnya terjadi akhirnya banyak orang yang menyangka jika solar langka bukan karena pemerintah tetapi karena ulah oknum yang mengambil kesempatan demi keuntungannya sendiri. Pemerintah sendiri belum bisa bertindak menangani oknum nakal seperti ini. Tindakan korupsi tidak hanya terjadi di tingkat pemerintahan saja, tetapi dengan menimbun solar demi keuntungan juga termasuk dalam tindakan korupsi dan hal ini perlu dihindari. Solar adalah hak bagi masyarakat luas, jadi tidak seharusnya berhenti di pihak agen saja untuk dapat dijual ke pihak-pihak tertentu.

Bahan bakar seperti solar merupakan bahan dasar untuk melakukan produksi maupun kegiatan perekonomian lainnya. Jika terjadi sedikit saja penyimbunan, efeknya akan cukup besar karena dapat memutus mata rantai perekonomian. Sulitnya mencari solar membuat distribusi bahan makanan terhambat untuk sampai di masyarakat, dan mengakibatkan melonjaknya harga pokok di pasaran. Selain itu, industri juga tidak dapat melakukan kegiatan produksi secara efektif, karena keterbatasan solar akan membuat jumlah produksi menurun.

Bagi masyarakat pesisir, dengan kurangnya jumlah solar maka nelayan tidak dapat berlayar untuk mencari ikan sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Penimbun akan menggunakan kesempatan ini untuk menjual solar subsidi dengan harga sama dengan non subsidi yang akan menguntungkan oknum tetapi mencekik pihak konsumen yang sangat bergantung pada keberadaan solar. Tindakan yang menguntungkan diri sendiri ini sama saja dengan korupsi karena jelas akan merugikan banyak pihak bahkan masyarakat luas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: