Cara Unik Pencucian Uang Versi Istri Muda

9 Apr

Image

 

Teuku M Rizal Palevi (10321052)

 

Korupsi, sebuah kata yang saat ini tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Memang jika diperhatikan dengan seksama, budaya korupsi sudah mengakar di negara ini khususnya para pejabat negara. Kegiatan tersebut dianggap sebagai salah satu cara mendapatkan uang atau kekayaan dengan cara yang instan. Padahal sesuatu yang instan itu akan mengakibatkan efek yang tidak baik. Memang menguntungkan bagi orang yang melakukannya, namun hasil akhir tak selalu indah.

            Banyak akibat yang ditimbulkan dari kegiatan korupsi, mulai dari ruginya negara, merosotnya moral orang yang melakukannya hingga kasus yang sekarang sedang marak dibicarakan publik yaitu pencucian uang. Menurut Wikipedia, pencucian uang adalah suatu upaya perbuatan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal usul uang/dana atau Harta Kekayaan hasil tindak pidana melalui berbagai transaksi keuangan agar uang atau Harta Kekayaan tersebut tampak seolah-olah berasal dari kegiatan yang sah/legal. Pencucian uang bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya mengansurasikan uang, membuat rekening baru, menanam saham di suatu perusahaan hingga cara yang saat ini sedang dilakukan oleh Irjen Djoko Susilo (DS) tersangka kasus korupsi simulator SIM.

            Irjen Djoko Susilo ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti melakukan penyalahgunaan uang simulator SIM. Total jumlah kekayaannya diduga mencapai lebih dari 100 miliar. Untuk membuat kekayaannya lepas atau bebas dari penyelidikan KPK mantan kakorlantas Polri ini menginvestasikan harta kekayaan kedalam bentuk aset seperti rumah, sawah, apartemen dan lain–lain. Uniknya ia mengatasnamakan beberapa aset menggunakan nama dua istri mudanya yaitu, Dipta Anindita dan Mahdiana. Aset tersebut berupa rumah mewah di Jalan Samratulangi, rumah mewah di Jalan Prapanca Raya, apartemen The Peak serta rumah dan sawah di Bali. Memang investasi uang ke dalam bentuk rumah atau sawah sangatlah menguntungkan karena semakin melambungnya harga jual kembali, namun jika uang itu merupakan hasil dari tindak pidana, maka sampai kapanpun ia tidak akan tenang menikmatinya.

            Sebenarnya dengan melakukan pencucian uang seperti itu belum menjamin uang akan aman dari penyelidikan KPK. Dengan memiliki dua orang istri muda, dari mana DS bisa menghidupi mereka. Pertanyaan itu mungkin yang ada dalam pikiran KPK dalam melakukan penyelidikan terhadap beberapa harta Irjen Djoko Susilo. Dengan adanya kasus ini bukan tidak mungkin ke depannya beberapa pejabat akan memiliki beberapa istri untuk mengamankan hasil tindak korupsinya. Jika sudah seperti itu istri hanya akan dianggap sebagai alat pengamanan harta, hal itu tentu saja bukan perbuatan yang baik dan benar.

            Perempuan–perempuan yang tidak mengetahui permasalahan inipun akan dirugikan karena mereka terpaksa harus dilibatkan. Sebenarnya ada apa dengan moral pejabat di Indonesia saat ini. Belum lagi citra polisi yang menjadi tidak baik dimata publik. Polisi tidak hanya terkenal akan tindakan buruknya melakukan korupsi, namun juga karena banyaknya perempuan yang ada di samping mereka. Belum lagi pandangan publik terhadap perempuan–perempuan yang menjadi istri muda dari seorang pejabat, tentu akan negatif. Mereka dianggap menikmati fasilitas yang berasal dari uang negara yang seharusnya juga diperuntukkan bagi masyarakat luas.

Sampai kapanpun tindak pidana korupsi mungkin akan susah untuk hilang. Rasa tidak cepat puas yang dimiliki manusia membuat mereka terus ingin merasa lebih dan lebih selama mereka masih mampu untuk melakukannya. Namun dengan jalur atau cara yang melenceng jauh dari Pancasila, bahkan harus mengorbankan peran perempuan sebagai makhluk yang lembut dan penuh akan kasih sayang.

Hidup normal merupakan hal yang paling nyaman. Mengikuti semua peraturan yang telah ada, memperbaiki peraturan yang belum benar bahkan membuat peraturan untuk melengkapi peraturan yang telah ada, seharusnya hal tersebut yang dilakukan oleh masyarakat kita saat ini. Bukan dengan memperkaya diri sendiri, namun dengan cara yang salah. Orang yang melakukan hal tersebut tidak memikirkan akibat dari perbuatan yang dilakukan. Masih banyak kesejahteraan rakyat kecil yang belum mampu diatasi di negara ini, namun penderitaan mereka semakin ditambah dengan korupsi yang seharusnya uang negara diperuntukkan juga bagi seluruh masyarakat Indonesia walaupun tidak dalam bentuk uang secara langsung.

            Bekerjalah dari rakyat dan untuk rakyat, bukan tidak mungkin Indonesia bisa bersih dari korupsi. Sifat egoisme yang dimiliki oleh beberapa pejabat negara memang membuat korupsi semakin menjamur di Indonesia, Satu–satunya cara untuk mengatasinya dengan mencabut masalah tersebut hingga ke akarnya, namun yang menjadi permasalahan banyak akar–akar yang bercabang hingga penegak hukum susah untuk menyelesaikannya. Oleh karena itu kita sebagai generasi penerus bangsa mari ikut membantu dengan cara tidak melakukan korupsi sekecil apapun. Karena semua yang besar itu berawal dari yang kecil. Lakukan kewajiban yang seharusnya kita lakukan sekarang yaitu belajar untuk memperbaiki tatanan negara ini baik moral, sistem pemerintahan, ideologi ke arah yang lebih baik. Jangan jadikan korupsi sebagai salah satu cirri khas kebudayaan Indonesia, karena kita sudah memiliki ciri khas yang mendunia yaitu gotong royong atau saling membantu satu sama lain dalam hal kebenaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: