Ketika Perempuan Mengkretek

18 Jun

Dira Elita (09321015)

 

Buku “Perempuan Berbicara Kretek”

 

Judul               : Perempuan berbicara kretek

Penulis             : Abmi Handayani, dkk

Penerbit           : Indonesia Berdikari

Cetakan           : Januari 2012

Tebal buku      : 320

 

Merokok bukan merupakan hal baru di kalangan masyarakat. Baik itu tua muda dapat dengan mudah ditemui sedang menghisap gulungan kertas putih berisi tembakau dan cengkeh tersebut. Namun di masyarakat Indonesia sendiri merokok lebih didominasi oleh kalangan laki-laki. Tidak banyak ditemui wanita sedang merokok di tempat-tempat umum. Padahal rokok sendiri bukan simbol untuk menunjukkan identitas laki-laki. Tetapi anggapan yang berkembang di masyarakat Indonesia adalah merokok identik dengan laki-laki, dan perempuan tidak sepantasnya merokok.

Perempuan yang kedapatan merokok sering dianggap sebagai wanita nakal dan tak tahu sopan santun. Masyarakat sering memandang sebelah mata atau memberikan citra negatif bagi perempuan yang merokok. Apakah dengan merokok lantas perempuan tersebut benar-benar perempuan nakal? Buku ini mencoba menjawab semua penilaian masyarakat mengenai wanita yang mengkretek. Abmi Handayani, dkk berhasil menyalurkan suara-suara dari kalangan wanita mengenai diskriminasi merokok yang terbentuk di masyarakat Indonesia.

Buku ini juga menyinggung bagaimana sejarah rokok di Indonesia serta pandangan para wanita mengenai tradisi merokok pada jaman dulu hingga saat ini. Bagian menarik adalah saat menyinggung tentang sejarah Rara Mendut, wanita Indonesia yang merokok pada sekitar abad-17 demi membayar pajak kepada panglima Wiraguna karena Rara Mendut menolak untuk dijadikan selir. Dari sejarah tersebut penulis berusaha menunjukkan bahwa perempuan merokok tidak identik dengan perempuan nakal melainkan sebagai bentuk pemberontakan atas dirinya. Buku ini bagus untuk membuka pikiran masyarakat terutama yang masih menganggap bahwa perempuan merokok merupakan hal tabu. Karena dalam buku ini dipaparkan bagaimana keseharian perempuan-perempuan yang merokok menurut pengalaman maupun kisah hidup para penulisnya.

Buku ini berisi 40 tulisan yang berasal dari 21 penulis perempuan yang terbagi dalam empat bab. Masing-masing bab tersebut adalah Ritus Keseharian, Perempuan di Simpang Stigma, Dalam Pusaran Arus Zaman, dan Kretek, Budaya, Keindonesiaan. Setiap penulis memiliki gaya penulisan berbeda namun tetap berani dan lugas dalam menyampaikan suatu tema dalam tulisannya. Terlihat dalam tulisan “Candu Jawa” karya Abmi Handayani. Abmi memaparkan tentang sejarah dan perkembangan tembakau di Indonesia dengan bahasa yang ringan dan santai. Dalam tulisan tersebut Abmi memaparkan bahwa tembakau dan cengkeh ada seiring dengan perkembangan sejarah Indonesia. Jika tembakau dan cengkeh tersebut dihilangkan, maka hilang pula sejarah Indonesia. Abmi berpendapat, Jangan mengaku beragama dan berbudaya jika memahami sejarah sendiri saja enggan. Karena agama dan pluralitas tidak akan serta merta memuluskan jalan ke surga (hal. 6).

Selain kental dengan sejarah dan kebudayaannya, rokok bagi sebagian orang juga dijadikan sebagai “obat ajaib”. Seperti yang tertuang dalam tulisan Desy Ardianti yang berjudul “Asap Tembakau dalam Tiga Narasi Kebersahajaan”. Desy tidak menjelaskan tentang bahaya merokok yang sering digembor-gemborkan pemerintah dan para aktivis, tetapi malah mengungkap rahasia di balik rokok tersebut. Seperti Panut, seorang tukang becak yang pelanggannya akan bertambah jika membeli rokok seharga sebelas ribu rupiah. Kemudian Endah yang memanfaatkan rokok sebagai obat percaya diri. Perempuan berusia 19 yang tidak lulus sarjana ini sering merokok diam-diam di kamarnya sebelum beraktivitas. Menurutnya, jika sehari saja tidak merokok maka rasa percaya dirinya hilang, apalagi jika berhadapan dengan lawan jenis.

Cerita lain juga diungkapkan oleh Des Christy dalam tulisannya yang berjudul “Rokok dan Jilbab”. Des mencoba menelaah mengapa perempuan berjilbab yang merokok sering dipandang sinis oleh masyarakat. Des lalu membandingkan perempuan berjilbab tersebut dengan laki-laki yang memakai peci, dan berbaju koko yang sama-sama menunjukkan simbol keagamaan. Des menyinggung mengapa masyarakat menilai wajar laki-laki yang merokok namun tetap menunjukkan simbol keagamaan daripada perempuan yang berjilbab.

Secara keseluruhan, sistematika penulisan di buku “Perempuan Berbicara Kretek” ini sudah bagus walaupun masih terdapat berbagai salah ketik. Keberagaman tulisan yang berasal dari gabungan para penulis menambah variasi cara penyampaian dalam buku ini. Ada penulis yang menulis santai dan ringan, namun ada pula yang menggunakan bahasa sastra serta memperhatikan keindahan bahasa. Untuk cover bukunya sendiri cukup menarik karena menggunakan tangan lentik perempuan yang mengapit rokok dengan background berwarna coklat serta gambar daun. Kemudian untuk kualitas kertas cukup bagus, artinya tidak terlalu tipis. Desain bukunya sendiri cukup menarik karena setiap bagian awal dan akhir tulisan selalu terdapat gambar dedaunan di pinggiran kertas maupun di atas judul tulisan.

Buku ini menelaah secara dalam bagaimana arti rokok bagi para perempuan yang gemar merokok. Serta banyak memaparkan ideologi-ideologi wanita tentang rokok berdasarkan pengalaman pribadi atau pengamatan mereka. Para penulis berusaha membuka pandangan dan pikiran masyarakat melalui tulisan mereka bahwa perempuan yang merokok tidak melulu nakal atau jalang. Mereka berpendapat bahwa stereotipe tersebut dibentuk oleh media dan pihak-pihak berkepentingan yang merugikan dan menyudutkan perempuan merokok. Beberapa penulis bahkan percaya jika ancaman berupa gangguan kesehatan akibat mengkonsumsi rokok tidak berpengaruh pada mereka. Para penulis juga memaparkan prestasi-prestasi yang berhasil dicapai oleh perempuan perokok dalam masyarakat. Walaupun masih dipandang sinis oleh masyarakat sekitarnya. Mereka percaya bahwa merokok merupakan salah satu simbol pemberontakan kaum perempuan atas penjajahan dan diskriminasi yang sering dilakukan oleh kaum pria. Buku ini cocok untuk dimiliki bagi mereka yang masih memandang sebelah mata perempuan yang merokok.

Namun di balik kelebihan tersebut, terselip beberapa kekurangan yaitu berupa analisis yang kurang mendalam. Analisis beberapa penulis yang tidak percaya tentang ancaman merokok. Hanya berdasarkan dari pengalaman dan pengamatan pribadi saja tanpa memaparkan bukti-bukti ilmiah. Kemudian dalam salah satu tulisan pada bab pertama yang berjudul “Bibir Seorang Dara”. Menjelaskan panjang lebar tentang persepsi, pelaku bisnis, teknologi komunikasi, hingga hegemoni makna kecantikan tanpa mengaitkan penjelasannya tersebut dengan wanita merokok. Dari penjelasan penulis hingga lima halaman tersebut, rokok dan wanita hanya disinggung di bagian akhir saja.

One Response to “Ketika Perempuan Mengkretek”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: