Waspadai Koran Kuning

9 Apr

Ika Oktiana (09321097)

 

Di era globalisasi ini banyak sekali persaingan media yang berebut menarik perhatian masyarakat dengan cara memamerkan kelebihan dari teknologi yang mereka ciptakan. Dengan banyaknya keunggulan yang diciptakan tentunya banyak pula masyarakat yang tertarik dan berusaha membeli atau pun memakai teknologi yang canggih itu. Banyak manfaat yang diberikan dari teknologi yang semakin canggih. Walaupun, dampaknya akan membuat kita semakin malas dalam melakukan aktivitas, karena saking canggihnya teknologi membuat kita merasa  nyaman ketika mengakses.

Namun, sayangnya tidak semua kalangan masyarakat merupakan mampu menjangkau kecanggihan teknologi. Uang atau faktor ekonomi dan segi pendidikan pemicu utama teknologi tidak merata bagi semua masyarakat. Dengan harga tinggi dan pengetahuan terbatas tidak memungkinkan masyarakat dari golongan tertentu memahami arti penting teknologi bagi mereka. Kurangnya pengetahuan sering kali membuat masyarakat tidak peduli terhadap media dan menganggap teknologi hanya digunakan oleh kalangan-kalangan tertentu saja. Padahal sesungguhnya, media teknologi itu dapat dinikmati oleh kalangan mana pun.

Mugkin beberapa puluh tahun nanti surat kabar mulai terdengar punah keberadaannya, semua disebabkan oleh tingginya minat masyarakat terhadap teknologi. Kebanyakan masyarakat lebih sering memakai internet sehingga lebih up to date daripada surat kabar yang terbitnya menunggu esok hari tetapi internet selalu terdepan ketika memberikan informasi. Mungkin dua puluh tahun ke depan surat kabar di Indonesia sedikit orang yang mengkonsumsi karena banyaknya teknologi yang semakin canggih.

Penggunaan handphone canggih bisa mengakses internet membuat masyarakat yang sibuk dengan pekerjaannya lebih memilih mencari berita atau informasi melalui media online daripada koran. Dengan mengakses internet kita bisa mendapatkan informasi apa saja yang kita mau dan apa saja dapatkan seperti berita politik, olahraga, bisnis dan ekonomi secara mendunia atau global.

Meski demikian, surat kabar berusaha tetap menjadi prioritas masyarakat dalam mencari dan mengetahui berita karena surat kabar mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh teknologi atau media lain. Contohnya saja koran bisa dibaca kapan pun di kala senggang dan tentunya lebih bisa memaknai isi berita karena bisa dibaca berulang kali. Di dalam surat kabar juga terdapat banyak iklan lowongan kerja dan bisnis yang membahas ekonomi Indonesia sehingga banyak orang yang membutuhkan surat kabar.

Jenis surat kabar

Surat kabar itu termasuk pers. Pandangan awam, jurnalistik dan pers seolah sama namun sesungguhnya tidak. Jurnalistik yaitu proses kegiatan, sedangkan pers berhubungan dengan media. Sedangkan jurnalistik pers yaitu proses kegiatan mencari, menggali, mengumpulkan, mengolah, memuat dan menyebarkan berita melalui media berkala pers yaitu surat kabar, tabloid atau majalah kepada khalayak.

Surat kabar juga terdapat beberapa jenis, contohnya saja Koran kuning yang isinya lebih vulgar dan kata–katanya tidak disaring terlebih dahulu. Namun hebatnya Koran kuning ini banyak diminati oleh masyarakat karena harganya yang sangat terjangkau dan kata–katanya mudah dipahami tanpa berpikir panjang dan lebih mudah dimengerti sehingga peminatnya pun banyak.

Merapi, Lampu Merah, Pos Kota, Memorandum harganya pun hanya seribu rupiah sehingga banyak masyarakat yang lebih memilih untuk membeli dan membaca Koran tersebut. Koran Merapi mempunyai isi yang sangat vulgar dan banyak menyimpang dari etika media jurnailstik dan kode etik jurnalistik. Misalnya saja gambar kecelakaan dengan otak yang hancur berantakan dipasang benar–benar secara utuh tanpa blur dan sebenarnya hal ini menyimpang. Kata–kata yang melanggar misalnya mencuri dengan kata “nyolong”. Kata nyolong termasuk kata yang kasar dan tidak sepantasnya berada dalam koran yang berkualitas.

Segmentasi koran kuning

Koran kuning banyak dikonsumsi oleh kalangan menengah ke bawah karena segmentasinya untuk kalangan tersebut dan menggunakan strategi komunikasi serta penggunaan kata–katanya yang mudah dipahami oleh kalangan tersebut membuat minat baca lebih tinggi daripada koran Republika, Kompas, Suara Merdeka dan yang lainnya. Harganya pun relatif murah karena dengan harga seribu rupiah kita bisa mendapatkan koran dengan rubrik-rubrik informasi yang lengkap. Banyak pelanggaran–pelanggaran yang dilakukan koran kuning ini, entah dari etika maupun kode etik jurnalistik. Masyarakat awam dijejali dengan kalimat–kalimat atau kata yang tidak sepantasnya ada di media, gambar–gambar yang vulgar yang seharusnya diblur sehingga banyak masyarakat yang tidak tahu koran kuning itu sebenarnya tidak baik dalam pengemasannya.

Masyarakat hanya teriming–imingi oleh harga yang terjangkau murahnya dan kata yang asal nyeletuk tanpa mengoreksi isi di dalamnya. Sebaiknya, jangan menelan mentah–mentah dari koran kuning ini, harus dipahami wacana dan isi kandungan dari berita sehingga kita dapat memaknai dengan kata yang lebih halus dan lebih baik arti yang disiratkannya.

Berita di media cetak harus memenuhi kaidah penulisan jurnalistik profesional dengan memperhatikan akurasi dari setiap fakta yang akan ditulis dan tetap memperhatikan ketentuan normatif dengan tidak menyajikan secara sepotong–potong sehingga informasinya menjadi tidak jelas dan juga untuk mendapat berita yang baik harus melalui proses analisis yang panjang. Surat kabar dalam penyampaian fakta, opini, informasi diperlukan penggunaan bahasa yang baik dan tidak manipulasi.

Kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya bisa jeli dan memilah-milah mana koran yang dapat dikonsumsi mana yang tidak karena dengan membaca kita mendapatkan informasi. Namun, jika koran tersebut diberi kemasan gambar yang terlalu vulgar akan memberi kesan yang tidak enak dilihat karena di dalam kode etik pun gambar yang terlalu vulgar seharusnya diblur sehingga gambar-gambarnya tidak terlihat jelas.

Kata-kata atau bahasanya pun juga demikian, banyak yang frontal dan tidak memenuhi standar etika media. Ketika sang korban disebutkan namanya sebaiknya tidak begitu, cukup dengan inisial saja atau dengan nama samaran. Identitas keluarga korban pun dipaparkan secara jelas yang seharusnya tidak perlu sejelas itu. Di dalam koran kuning pengeditannya kurang teliti, menulis naskah dengan bahasa asal nyeletuk tanpa dikoreksi. Ini membuat kita sebaiknya pandai untuk memilih media mana yang seharusnya kita baca atau gunakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: