Sepak Bola Indonesia : Keluar dari Mulut Buaya, Masuk Mulut Harimau

9 Apr

Faiz Syauqy (09321062)

 

Kompetisi Kacau,Prestasi Nol

Sejarah kelam untuk Tim Nasional Sepak Bola Indonesia tercatat pada hari Rabu 29 Februari 2012. Saat itu, Timnas Garuda melawat ke Bahrain untuk melakoni pertandingan pamungkas dari rangkaian kualifikasi Piala Dunia Brazil. Sebenarnya pertandingan tersebut tidak ada pengaruhnya sama sekali untuk Timnas, sebab kesebelasan merah putih sudah terjerembab di dasar group E di bawah Bahrain, Qatar, dan Iran karena belum pernah meraih satu poin pun dari lima laga yang sudah dihelat sebelumnya.

Timnas Garuda bertolak ke Bahrain dengan berbagai macam masalah yang ada. Mulai permasalahan transisi pelatih dari Rahmad Darmawan ke tangan Aji Santoso. Kemudian, kisruh PSSI yang akhirnya melahirkan dualisme kompetisi sepakbola tanah air. Secara tidak langsung, dua permasalahan tersebut saling berkaitan. Terbukti oleh pengunduran diri pelatih Rahmad Darmawan didasari kegusaran dirinya atas apa yang terjadi di PSSI dan tidak leluasanya memilih pemain untuk memperkuat Timnas Indonesia karena dualisme kompetisi.

PSSI mengakui Indonesia Primer League (IPL) sebagai kompetisi yang sah di bawah naungan PSSI dan menganggap Indonesia Super League (ISL) sebagai kompetisi yang ilegal. Sehingga semua pemain yang memperkuat klub di kompetisi ISL tidak diperbolehkan untuk menjadi pemain Timnas Indonesia. Padahal, secara kualitas ISL jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan IPL yang mayoritas pesertanya adalah klub-klub anyar atau amatir yang baru saja dibentuk. Sedangkan peserta ISL adalah klub-klub yang sudah lama malang melintang di kompetisi tanah air mulai dari Perserikatan dan kompetisi Galatama. Secara otomatis pemain yang sudah memiliki jam terbang tinggi, kemampuan dan skill di atas rata-rata mayoritas merumput di kompetisi ISL. Alhasil, mereka tidak dipanggil untuk memperkuat Timnas ketika melawat ke Bahrain.

Kesalahan PSSI bukan hanya dalam tataran mekanisme, dalam pengambilan langkahpun federasi yang menaungi persepakbolaan di Indonesia ini sering melakukan blunder ketika memilih dan memecat pelatih. Secara logika sepakbola, sebuah tim harus dibangun mulai dari nol, perlu konsistensi dan penyatuan chemistry antar semua elemen tim. Jadi merupakan hal yang tidak ideal ketika sebuah tim mengganti pelatih sampai beberapa kali. Inilah yang dilakukan PSSI, blunder yang paling fatal adalah ketika Alferd Ridel dipecat oleh PSSI yang kemudian digantikan oleh coach Rahmad Darmawan. Walaupun penampilan Timnas di bawah asuhan RD cukup mengesankan, tapi tetap nihil dari prestasi.

Pasca kemunduran coach RD, Aji Santoso ditunjuk sebagai pengganti khususnya untuk mempersiapkan tim guna melawan Bahrain. Namun sangat tidak logis dalam logika sepakbola ketika seorang pelatih hanya diberi waktu yang sangat minim untuk menyiapkan tim yang akan dibawa ke ajang internasional. Komposisi pemain kelas teri mengisi daftar pemain yang diturunkan dalam laga itu. Pemain-pemain minim pengalaman yang menurut saya dipaksa untuk mengenakan lambang garuda di dada. Mereka dipaksa untuk mempertaruhkan martabat sepakbola negara ini di mata dunia. Alhasil, permainan sepenuhnya milik Timnas Bahrain. Mereka tampak nyaman mengobok-obok Timnas Garuda yang saat itu bermain seperti anak kecil di tengah-tengah permainan sepakbola orang dewasa.

Belum selesai sampai di situ, 10 hari setelah kekalahan memalukan tersebut Indonesia kembali kecewa. Timnas U-21 yang mengikuti turnamen Piala Sultan Hassanal Bolkiyah di Brunei Darusalam gagal membawa pulang piala tersebut karena kalah 2-0 dari tuan rumah di partai final. Ironisnya, Asosiasi Sepakbola Brunei Darusalam baru saja selesai menjalani hukuman larangan main di level internasional dari FIFA selama 2 tahun.

 

Ancaman Sanksi FIFA

 Karut-marut persepakbolaan tanah air mengundang respon masyarakat luas. Ekspektasi masyarakat yang sangat besar tidak bisa dijawab dengan prestasi membanggakan oleh Timnas. Malah yang terjadi adalah semakin tidak jelasnya kepengurusan dan perpecahan di internal tubuh PSSI.

Tak pelak FIFA pun memberikan peringatan atas apa yang terjadi di PSSI. FIFA memberikan himbauan tertanggal 21 Desember 2011 kepada PSSI dengan batas waktu sampai tanggal 20 Maret 2012 kemarin agar segera menyelesaikan konflik internal. Rekonsiliasi dilakukan oleh PSSI dengan klub-klub ISL guna menanggapi himbauan FIFA, tapi hasilnya nihil. Klub-klub yang berkompetisi di ISL menolak rekonsiliasi tersebut.

Menanggapi hal itu, sekelompok pemerhati sepakbola membentuk Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia yang diketuai oleh Toni Aprilia. Misi KPSI adalah menyelamatkan persepakbolaan Indonesia dari perpecahan (dualisme) dan dari sanksi yang dijatuhkan oleh FIFA. KPSI menilai PSSI di bawah pimpinan Djohar Arifin Husin sangat kacau, terbukti adanya dualisme kompetisi di satu Negara. Untuk itu, kemarin tanggal 18 Maret 2012, KPSI mengadakan Kongres Luar Biasa di Hotel Mercure, Ancol Jakarta. Salah satu hasil dari KLB yang digelar Komite Penyelamat Sepakbola Indonesia adalah terpilihnya La Nyalla Mattalatitti dan Rahim Soekasah sebagai ketua dan wakil PSSI.

Selain itu, KLB yang didukung 2/3 persen anggota PSSI menyatakan mosi tidak percaya atas PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin. KLB KPSI juga menghasilkan KPSI juga menghasilkan sebuah manifesto yang terdiri dari tujuh butir, yang isinya sebagai berikut:

  1. Mengajukan mosi tidak percaya akan kepemimpinan Djohar Arifin karena melanggar Statuta PSSI dan Kongres Bali II.
  2. Mencabut dukungan kepada Djohar Arifin dan membekukan kepemimpinannya serta membubarkan semua Anggota Exco yang masih aktif di PSSI dan mengangkat kembali anggota Exco yang dipecat oleh Djohar Arifin, yakni La Nyalla M Mattalitti, Erwin Dwi Budiman, Roberto Rouw dan Tony Apriliani.
  3. Melaporkan bahwa 2/3 anggota PSSI telah siapkan menjalankan Ekstra Ordinary Congress atau Kongres Luar Biasa (KLB).
  4. Tetap menolak sanksi apapun yang dijatuhkan oleh PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin.
  5. Tidak menghadiri dan menganggap tidak sah Kongres Tahunan PSSI di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, pada 18 Maret 2012.
  6. Membawa masalah pembelotan KPSI ke Badan Arbritase Olahraga Internasional.
  7. Menolak untuk melakukan rekonsiliasi, dan lebih memilih menerima sanksi FIFA. Karena sanksi bukan hanya dijatuhkan klub pendukung KPSI namun juga seluruh anggota PSSI.

(Hasil Kongres Luar Biasa KPSI, 18 Maret Jakarta.)

 

Namun KLB yang digelar KPSI bukan tanpa cacat, seperti yang dilansir Harian Bernas Edisi 21 Maret 2012, FX Hadi Rudyatmo menyatakan bahwa ada beberapa klub yang sebenarnya tidak mempunyai suara, akan tetapi diundang dalam KLB. Ia mengatakan bahwa Persis Solo sebenarnya tidak mempunyai hak suara, tapi kenyataanya Persis juga diundang ke Jakarta untuk menghadiri KLB.

Apabila melihat kesimpang-siuran yang terjadi di atas, agaknya sanksi FIFA memang pantas dijatuhkan untuk federasi sepakbola Indonesia. Karena masing-masing kubu yang terlibat konflik sama-sama ngotot dengan pendirian mereka. Namun tidak menutup kemungkinan, sanksi yang dijatuhkan FIFA menjadi titik balik untuk membangun sepakbola tanah air lebih maju. Harapannya, pihak-pihak yang berkonflik akan belajar atas sanksi yang dijatuhkan dan menyadari bahwa apa yang selama ini mereka pertahankan dan diperdebatkan tidak berdampak positif terhadap persepakbolaan nasional, tapi malah sebaliknya.

PSSI yang baru hampir tidak ada bedanya dengan PSSI pimpinan Nurdin Halid. Malah, PSSI era Nurdin Halid sedikit lebih unggul karena kompetisi domestik berjalan dengan satu liga. Walaupun indikasi terjadinya pengaturan skor dan pemilihan wasit sangat besar pada era tersebut. Jadi, bisa dikatakan sepakbola nasional kita telah keluar dari mulut buaya, akan tetapi masuk ke mulut harimau.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: