PNS vs Facebook, Salah Siapa?

9 Apr

Ira Pratica Dewi. S. (09321019)

 

Social network atau yang lebih dengan jejaring sosial memang sudah menjadi kebutuhan masyarakat pada saat ini. Bisa dikatakan menjadi kebutuhan primer untuk seseorang mempunyai sebuah akun di salah satu jejaring sosial tersebut. Sebut saja Facebook yang sejak beberapa tahun lalu menjadi fenomena di kalangan masyarakat Indonesia. Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada tahun itu saja, tapi masih menjadi idola masyarakat yang terlebih di kalangan remaja di tahun ini. Twitter yang berformat mini blog pun hadir untuk menyaingi Facebook, tapi pada kenyataannya Twitter belum bisa menyaingi fenomena seniornya. Bagi kalangan remaja, tidak mempunyai akun sama saja tidak gaul dan bisa dibilang kampungan. Remaja yang mempunyai akun dengan teman melebihi angka 1000, dirinya akan merasa lebih terkenal daripada teman-temannya yang hanya mempunyai teman sedikit.

Berbagai kegiatan dapat dilakukan dalam jejaring tersebut. Menurut penelitian di situs onlineschools.org yang dilakukan pada 2011, ada sembilan kegiatan yang dilakukan seseorang pada saat mengakses akun Facebook. Kegiatan itu adalah membagi link, membagi foto, membuat undangan acara, wall posting, update status, menerima permintaan teman, unggah foto, mengirim pesan, dan komentar pada status dan foto. Tidak hanya itu, ternyata sekitar 28% orang yang mempunyai akun Facebook akan mengaksesnya ketika bangun tidur. Hal yang pertama dilakukan setelah bangun tidur bukan mencuci muka atau merapikan tempat tidur, melainkan membuka akunnya lewat laptop atau ponsel.

Jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg ini tidak hanya merambah kalangan remaja Indonesia, tetapi juga melanda orang dewasa atau bahkan sudah dibilang orang tua. Tidak sedikit ibu-ibu rumah tangga hingga penjual sayuran pun memiliki akun di sana dan tidak terkecuali para PNS yang bekerja di pemerintahan. Mereka membuat akun dengan berbagai alasan, seperti ingin mencari teman banyak, berjualan, dan bahkan ada yang mencari jodoh di dalam dunia maya dengan perantara Facebook. Penggunaan jejaring sosial memang tidak bisa dipungkiri memiliki dua sisi mata uang, positif dan negatif.

Sisi positifnya adalah masyarakat yang dulunya tidak mengerti apa itu dunia maya sekarang menjadi “melek” pada media internet ini. Mungkin mempunyai akun di Facebook hanya sepeti hal yang kecil, tetapi mulai dari sinilah keinginannya seseorang untuk menjelajah lebih di dunia maya menjadi lebih besar. Kenapa seperti itu? Karena di dalam Facebook, kita bisa berbagi foto ataupun link alamat website kepada orang yang sudah menjadi teman kita. Ketika kita mendapat kiriman link, pasti pertanyaan yang ada di pikiran kita adalah apa itu? Apa yang ada di dalam sana? Penasaran pastinya. Selain menambah pengetahuan, manfaat lainnya yaitu menjalin tali silaturahmi dengan orang-orang yang sudah lama tidak kita jumpai ataupun yang tidak kenal.

Kalau tadi berbicara dari segi positif, sekarang berbicara tentang sisi negatifnya. Berbicara tentang sisi negatif penggunaan Facebook pasti banyak sekali macamnya. Tidak sedikit juga yang menilai jejaring sosial ini sangat mengganggu kegiatan sehari-hari. Sebut saja menyebabkan suatu tindak kriminal, pengeluaran menjadi banyak, lupa dengan sekitar, bahkan bisa menganggu produktivitas seseorang dalam bekerja. Tindak kriminal lewat jejaring sosial memang marak setelah Facebook mulai dikenal di Indonesia. Banyak remaja yang hilang atau diculik oleh seorang teman yang dikenalnya dari jejaring sosial ini. Tidak hanya penculikan saja pada remaja, tetapi praktik penipuan juga dilaksanakan dalam jejaring ini. Selain kriminalitas yang naik, pengeluaran seseorang akan lebih meningkat ketika dia selalu mengakses akunnya. Pengeluaran ini meliputi pembelian pulsa untuk ponsel atau modem yang digunakan untuk mengakses.

Baru-baru ini ada wacana tentang penggunaan Facebook di kalangan para PNS di provinsi Yogyakarta. Beberapa kantor Pemkab DIY, masih ditemukan beberapa pegawai yang menggunakan fasilitas kantor untuk mengakses akun Facebook ataupun mengunduh file-file yang tidak perlu. Parahnya lagi hal tersebut mereka lakukan pada saat jam kerja. Sambil menyelam minum air, itulah ungkapan yang tepat untuk disandang para PNS tersebut. Walaupun pada kenyataan pekerjaan utama di kantor pemerintah malah menjadi seperti sekunder dan akses dunia maya menjadi primer. Mungkin pekerjaan mengakses dunia maya ini bukan lagi untuk mengisi kekosongan waktu, tapi merupakan kebutuhan hidup saat ini.

Perubahan dari sekunder ke primer inilah yang membuat para pegawai menomor duakan  pekerjaan. Kantor Kabupaten Sleman melakukan pemblokiran terhadap jejaring ini agar pegawainya serius dalam pekerjaan, tapi berbeda dengan Kulonprogo yang tidak memblokir situs Facebook pada jaringan komputer kantor. Pemkab Kulonprogo beranggapan ini tidak akan menyelesaikan masalah yang ada karena walaupun sudah diblokir, pegawai bisa mengaksesnya lagi lewat ponsel mereka. Berbeda lagi dengan Pemkab Gunung Kidul yang sudah berkali-kali memblokir situs tersebut, namun berkali-kali juga pegawainya dapat menerobos pertahanan blokir tersebut dan mulai mengakses lagi.

Sikap dari pemerintah Pemkab sendiri dirasa sudah bagus karena adanya usaha untuk mengawasi dan memblokir situs jejaring sosial tersebut, walaupun masih minim hasilnya. Kalau kita sudah mempunyai sebuah akun dalam Facebook dan mempunyai beberapa teman yang cocok dengan kita, memang setiap hari rasanya ingin mengakses jejaring ini. Entah untuk melihat pemberitahuan yang tidak penting ataupun hanya bentuk dari kebiasaan. Facebook menjadikan penggunanya kecanduan, seperti kecanduan obat. Kecanduan inilah yang menjadikan kita untuk mementingkan mengakses jejaring daripada bekerja dan apapun.

Menyikapi para PNS tersebut tentunya sedikit membuat masyarakat menjadi prihatin. Mereka menyayangkan sikap para PNS yang menggunakan fasilitas kantor untuk bermain di dunia maya, tetapi menyampingkan pekerjaannya. Mungkin masyarakat akan memaklumi atau bahkan tidak mempedulikannya apabila mereka sendiri berani konsekuen pada pekerjaan. Konsekuen di sini artinya mereka tetap dengan kebiasaan bermain Facebook di dalam kantor, namun mereka juga meningkatkan kinerja di dalam pemerintahan. Jadi sederhananya bermain, tapi pekerjaan juga harus berjalan lebih baik.

Solusi yang baik untuk menyikapi hal ini yang terpenting adalah kesadaran di dalam diri para PNS tersebut. Walaupun pemerintah memblokir atau yang lainnya, tapi di dalam diri mereka belum adanya kesadaran bahwa pekerjaan itu nomor satu maka sia-sia saja pemerintah melakukan itu. Tidak ada jaringan untuk akses lewat komputer, mereka masih dapat lewat ponsel. Jadi solusi tepatnya adalah menanamkan kesadaran pada diri sendiri bahwa boleh bermain asal pekerjaan berjalan dengan baik dan tidak merugikan orang lain. Mulai dari kesadaran tersebut, maka perlahan diri menjadi lebih imbang dalam masalah pekerjaan yang menjadi tugas dan akses Facebook yang menjadi kebutuhan. Jangan sampai membuat image pemerintahan menjadi turun lagi akibat ulah pegawainya yang selalu mengakses jejaring sosial pada waktu jam kerja dengan menggunakan fasilitas kantor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: