Masa Depan Lansia Jepang

9 Apr

Renata Pertiwi Isadi (09321077)

 

 

Jepang merupakan salah satu negara maju di dunia. Selain terkenal sebagai negara berteknologi mutakhir, Jepang juga dikenal sebagai negara yang berbudaya. Di tengah pembangunan infrastruktur yang sangat maju, Jepang tetap kental dengan tradisi aslinya. Terbukti dengan masih terjaganya peninggalan budaya berupa kesenian-kesenian khas dari beberapa abad silam. Hingga kini kebudayaan tersebut masih terus ditanamkan secara turun temurun pada generasi muda Jepang.

Pola hidup masyarakat Jepang diimbangi dengan kecerdasan. Saat Hiroshima dan Nagasaki dibom atom oleh Amerika 66 tahun yang lalu, Jepang mengalami keterpurukan. Kemiskinan dan gangguan kesehatan menjadi kendala utama saat itu. Namun, hanya dalam waktu beberapa tahun saja Jepang dapat kembali bersinar. Pola kehidupan masyarakat Jepang yang saling bahu-membahu dalam mengembalikan kejayaan negaranya didukung dengan kecerdasan dan semangat yang tinggi. Tidak hanya itu, negeri sakura ini juga memiliki masyarakat yang pantang menyerah dalam menimba ilmu. Tidak heran negara dengan jumlah penduduk sekitar 120 juta orang ini memiliki banyak penemu kelas dunia.  Fakta yang dapat dilihat sekarang, masa keterpurukan Jepang dan kemerdekaan Indonesia jatuh pada tahun yang sama, namun Jepang dapat lebih berjaya dibandingkan Indonesia saat ini.

Kesuksesan ini tentu dicapai dengan semangat juang yang tinggi. Pantas saja bila Jepang menjadi salah satu negara percontohan bagi negara-negara berkembang di Asia. Kedisiplinan dan keteraturan masyarakat negara ini juga patut diacungi jempol. Ini yang menjadi salah satu jembatan keberhasilan Jepang.

Di sisi lain Jepang merupakan salah satu negara dengan usia harapan hidup tertinggi di dunia. Bisa diartikan juga masyarakat Jepang memiliki umur yang panjang. Masalah umur ini didukung dengan pola hidup dan kesehatan mereka. Hal tersebut terkait pula dengan taraf hidup dan jaminan hari tua juga bagi masyarakat Jepang. Negara empat musim ini menempati urutan teratas dengan jumlah lanjut usia (lansia) lebih banyak dibandingkan dengan angka kelahiran bayi di sana. Menurut penelitian U.S. Census Bureau, Internasional Data Base, diperkirakan pada tahun 2050 jumlah kelahiran di Jepang mencapai titik terendah.

Bila Anda pernah menonton film atau drama Jepang di televisi maupun DVD, Anda mungkin akan sering menemui pekerja paruh waktu di tempat umum adalah para lansia. Hal tersebut sudah biasa. Justru bila menemukan pekerja paruh waktu yang masih berusia muda membuat orang Jepang berpikir bahwa ada maksud tertentu di balik itu semua. Misalnya untuk menambah uang saku (biasanya dilakukan oleh pelajar asing), mengisi waktu liburan, atau memang berasal dari keluarga miskin. Tapi pada umumnya akan sering ditemui para pekerja paruh waktu ini adalah para lansia.

Lansia di Jepang dikenal sangat mandiri. Semua pekerjaan dapat mereka lakukan sendiri walau dengan usia yang cukup senja. Kebiasaan berpikir positif membuat para lansia di Jepang nampak lebih awet muda dibandingkan dengan lansia di negara lain. Bahkan dengan usia yang tua seperti itu mereka masih dapat bekerja dengan produktif. Bangsa Jepang menanamkan kemandirian ini pada masyarakatnya secara umum. Tujuannya agar seluruh waktu dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna. Pada usia muda mereka bekerja di kantor, dan saat sudah tua mereka mengisi waktu dengan bekerja paruh waktu. Walau sebenarnya rata-rata para lansia di Jepang telah memiliki tabungan hari tua yang dapat mencukupi hidup, namun mereka sangat percaya pada keteraturan yang sudah turun-temurun ini. Mereka telah merasakan sendiri gunanya memanfaatkan waktu luang dalam usia yang sudah cukup tua. Mereka tidak akan merasa kesepian walau hidup sendiri.

Kemandirian lansia di Jepang memang patut diacungi jempol. Budaya tidak bergantung pada orang lain memang selalu ditanamkan dalam masyarakat Jepang. Berbeda dengan lansia di Indonesia yang tinggal bersama keluarga besarnya dan menikmati hari tua dengan bersantai di rumah atau jalan-jalan. Di Jepang ada lansia yang memilih hidup sendiri karena tidak ingin merepotkan anaknya. Ia bisa memilih tinggal di panti jompo atau tinggal di rumah sendiri, karena memang pada budaya Jepang, setelah anak menikah (terutama anak perempuan), anak tersebut akan mengikuti kemana suaminya pergi. Namun di beberapa keluarga juga masih ada yang hidup bersama para kakek dan nenek ini (lansia). Walau tinggal bersama keluarga besar, para lansia ini tidak lantas memangkukan tangan dan mengharapkan segala sesuatu dari anak-anak mereka. Mereka justru lebih kreatif dan tetap bergaul. Mereka membuka usaha bahkan menjadikan usaha mereka turun-temurun pada anak-anaknya.

Baik dari keluarga kaya maupun miskin, kehidupan masyarakat Jepang relatif makmur. Pemerintah Jepang juga tidak memberikan batasan usia bagi para lansia ini untuk terus berkarya. Membuka usaha sendiri atau bekerja paruh waktu pada perusahaan tidak menjadikan mereka dibeda-bedakan. Baik menjadi petugas kebersihan, supir angkutan, maupun pelayan restoran, sejauh mereka dapat bekerja dengan baik tidak akan menjadi permasalahan bagi pemerintah maupun pemilik usaha.

Setelah pensiun biasanya para lansia di Jepang tidak akan berlama-lama untuk menganggur. Walau mereka tidak bekerja paruh waktu sekalipun, mereka akan tetap mencari kegiatan. Contohnya saja dengan bermain arkade atau yang lebih popular dengan sebutan mesin ding dong. Beberapa tahun terakhir diketahui banyak lansia menghabiskan waktu mereka di pusat perbelanjaan dan mal yang menyediakan mesin ding dong. Para lansia Jepang bermain ding dong untuk memperoleh kesenangan dan menambah teman. Alasan lainnya karena permainan ding dong sangat menarik dan membuat para lansia ini merasa tertantang. Permainan yang menantang akan membuat otak berpikir strasegis. Kerja otak semacam ini dapat mencegah kepikunan dini.

Kelihatannya para lansia penggemar ding dong hanya menghabiskan waktu mereka untuk bermain game. Padahal sebenarnya dari mesin ding dong yang mereka mainkan, terdapat berbagai manfaat. Manfaat tersebut diantaranya adalah pengasahan otak dan daya ingat, peregangan tubuh/jari saat sedang mengoprasikan mesin ding dong, dan menambah teman di lingkungan bermain tersebut. Tidak hanya anak muda yang bisa mencari teman, para lansia ini juga bisa menemukan teman dan pengalaman baru bersama para penggemar ding dong yang mereka temui. Hal demikian sangat bermanfaat dan menyenangkan, sehingga membuat aktivitas bermain ding dong pada lansia ini terus berlanjut hingga sekarang.

Pola hidup semacam ini memang nyata terjadi di Jepang. Itu pula yang tercermin dan dapat dilihat pada layar kaca kita mengenai masyarakat Jepang. Jadi tidak salah bila Jepang memang menjadi penutan bagi negara lainnya dalam berbagai aspek kehidupan. Baik dalam teknologi, pembangunan infrastruktur, kebudayaan, sampai pola hidup dan kebiasaan lansia dapat berjalan dengan baik di negara ini. Bisa diibaratkan walau sudah tua para lansia Jepang masih memiliki masa depan yang cerah. Semua itu karena dukungan dari keluarga, pemerintah, dan budaya masyarakat Jepang yang tertata dengan baik.

One Response to “Masa Depan Lansia Jepang”

  1. Asagi Hikari 11/04/2012 at 06:23 #

    SETUJUUUU!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: