Kine Klub Kampus Harus Punya Power untuk Perkembangan Film Pendek

9 Apr

M. Iman Ramadhan (09321110)

 

“Biar bagaimanapun, film adalah cerminan suatu bangsa, film atau video adalah suatu cabang kesenian yang lahir karena perkembangan teknologi” ujar Bela Balazs, seorang kritikus film kenamaan yang banyak menulis artikel sejak tahun ‘60an. Ketika perkembangan teknologi telah mencapai titik kemapanan maka sebuah medium pun semakin meluas, film adalah salah satunya. Film memiliki ruang-ruang misteri yang memerlukan energi untuk lebih jauh mengantarkan visi, pesan dan kesan di dalamnya.

Biasanya kine klub lebih sering bermain ke dalam film-film pendek. Film pendek merupakan lahan bermain yang menyenangkan untuk sineas, baik dalam eksperimen penuturan sinematik maupun pengangkatan isu-isu yang tak lazim dibicarakan di ruang publik. Bebasnya film pendek dari kepentingan pasar dan gunting sensor memungkinkan pembuat film, seperti kata Gotot Prakosa, untuk “mencoba menyusuri jalur lain dari yang sudah ada”.[1]Kine Klub kampus yang juga berperan dalam dunia film kini telah kehilangan power, beberapa film hasil karya kine klub akhir-akhir ini dirasa sangat ‘monolist’. Dalam arti, karya kine klub kini terkesan memiliki karya yang begitu monoton, dan hanya melihat sumber pengetahuan filmnya melalui film-film pendek sebelumnya. Celakanya film-film sebelumnya itu berasal dari anggota kine klub sebelumnya. Permasalahan ini sebenarnya harus diamati dengan serius. Mungkin bisa dihitung dengan jari, hasil karya kine klub kampus yang bisa dikatakan keren. Basis kampus yang seharusnya bisa dimanfaatkan dalam menebarkan propaganda melalui media film itu. Hilangnya titik fokus di dalam pergerakan kine klub kampus juga menjadi persoalan pokok.

Kali ini persoalan kine klub bukan lagi dari mana ia mencoba keluar dari jalurnya, melainkan dari apa hasil karya yang ia hasilkan dapat memberikan proses output yang jujur. Celakanya proses output ini jarang sekali ditemui oleh kine klub berbasis kampus, justru malah kita temui di kine klub non kampus. Limaenam Films, merupakan salah satu denyut nadi kine klub non kampus di Yogyakarta yang berhasil mencetak sineas-sineas muda berbakat. Film-film hasil karya kine klub ini telah berhasil merambahi dunia. Semisal, film “Bermula dari A” sutradara Bw Purba Negara sudah mendapat beberapa pengahargaan di beberapa negara. Film garapan Bw ini telah berhasil menempatkan sisi film pendek dari banyak layer. Mas Popo, panggilan akrab sutradara film Bermula dari A merupakan salah satu pentolan kine klub Limaenam Films. Filmnya telah diputar di beberapa negara, seperti Hongkong International Film Festival 2012, Finlandia Tampere Film Festival 2012, Clermont Ferrand International Short Film Festival 2012 Perancis, Indonesia Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2011, Film Pendek Terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2011 Indonesia,  Busan International Film Festival (BIFF) 2011 Korea dan Pemenang Ladrang Award Festival Film Solo (FFS) 2011 Indonesia.

Pesatnya kemajuan kine klub non kampus ini menjadi gesekan besar bagi kemajuan kine klub berbasis kampus. Maka, kita akan dihadapkan pada pertanyaan mengapa kine klub berbasis kampus masih seperti gajah di pelupuk mata tidak terlihat? Apa sebabnya? Lalu bagaimana kita mengatasinya? Alhasil, perkembangan kine klub saat ini mengalami perkembangan yang lamban. Saya juga sebagai pengurus aktif salah satu kine klub kampus di Yogyakarta memandang persoalan perkembangan kine klub ini tidak jauh-jauh dari hal sumber daya manusia, komitmen, ego dan pendanaannya. Empat persoalan itu sering kali  saya temui di semua kine klub berbasis kampus meski demikian ada beberapa anggota kine klub kampus yang mampu mengatasi hal itu.

Kehadiran kine klub non kampus memberikan angin segar bagi kualitas berkarya para sineas muda untuk perkembangan film pendek. Tak hanya itu, kine klub non kampus selayaknya sudah menjadi kiblat bagi kine klub kampus. Tidak hanya Limaenam Films, ada banyak kine klub non kampus yang juga mampu menempatkan film pendek ke lingkup yang lebih luas seperti, Story Lab, Four Colour Film, Satu Atap Production, Kinekuma dan masih banyak lagi.

Menariknya salah satu kine klub non kampus ada yang memilih memproduksi film panjang. Kinekuma lebih memilih jalan ini ketimbang membuat film-film pendek, Paul Agusta yang merupakan pentolan kine klub ini memilih film panjang melalui memproduksi film-film pendek terdahulu. Gabungan antar film-film pendek yang diproduksi memberikan benang merah untuk memproduksi film panjangnya. Film Part of The Heart misalnya, adalah hasil karya kine klub ini dari personal Paul yang memakan durasi sekitar 90 menit. Film ini mengambil latar belakang perjalanan hidup personal Paul, sebelumnya ia membuat film pendek dahulu kemudian film-film pendeknya memiliki continue yang berujung pada durasi itu. Gagasan menarik ini jarang sekali ada di kine klub basis kampus. Hal ini memberikan pekerjaan rumah bagi kine klub kampus.

Ego, Karya, dan Kebutuhan Ekonomi

Setelah saya perhatikan, kine klub kampus maupun kine klub non kampus tampak memiliki persoalan yang sama. Pada kesempatan diskusi panjang yang diadakan KomunitasFilm.Org, salah satu web yang menyajikan berita tentang komunitas-komunitas film, saya mendapatkan hasil pembahasan tentang persoalan ego sampai duit. Diskusi yang dihadiri sekitar 30 orang dari berbagai komunitas film di Yogyakarta ini membahas berbagai permasalahan yang dihadapi komunitas mulai dari kebersamaan dalam komunitas, karya yang dihasilkan, ego masing-masing anggota, sampai ke permasalahan yang bermotifkan ekonomi. Permasalahan ego di antara masing-masing anggota komunitas film. Giras Basuwondo mengatakan, kalau tidak diatur secara baik permasalahan ego dapat merusak keberlangsungan hidup komunitas film dan tidak sedikit komunitas film yang bubar karena permasalahan ego para anggotanya.

“Kebersamaan merupakan hal yang paling penting dalam berkomunitas,” ujar mas Popo, salah satu pentolan Limaenam Films. Hal tersebut menjadi salah satu poin penting langgengnya Limaenam Films yang telah menginjak usia sembilan tahun. Dengan berbagai karya yang telah dihasilkan dan penghargaan yang telah diraih, saya mengganggap Limaenam Films merupakan salah satu komunitas film terdepan di Yogyakarta.

Dalam hal karya, di dalam kine klub seharusnya memungkinkan para anggotanya dapat berkreasi sesuai dengan keinginan masing-masing. Dalam arti, semua anggota kine klub sebaiknya dapat menyajikan karya film berdasarkan passion individualnya. “Hendaknya karya-karya komunitas film itu beraneka ragam jenisnya mulai dari fiksi hingga dokumenter sehingga timbul keanekaragaman karya yang dihasilkan,” kata Seno Aji dari Four Colours Films.

Permasalahan ekonomi muncul ketika anggota sebuah komunitas film diharuskan berpikir untuk memenuhi kebutuhan hidup baik pribadi maupun komunitas. Beberapa komunitas maupun individu yang berkegiatan dalam bidang film di Yogyakarta saya lihat telah mencapai titik focus, mereka dapat hidup dari kegiatan yang berhubungan dengan media film. Bahkan ada beberapa yang membuat badan usaha di bidang dokumentasi video. Hal ini merupakan solusi mereka untuk mengatasi persoalan ekonomi. Alhasil, munculnya permasalahan itu memberikan pekerjaan rumah bagi kine klub masing-masing untuk selalu menciptakan atmosfir yang lebih bijak, mulai dari kebersamaan, ego, karya, dan kebutuhan ekonomi.


[1] Gotot Prakosa. 1982. Investasi Besar untuk Film Pendek, dalam Kamera Subyektif Rekaan Perjalanan Dari Sinema Ngamen ke Art Cinema, disunting oleh Gotot Prakosa. Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Seni Visual Indonesia, 2006, halaman 47.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: