Hargailah Produk Dalam Negeri

26 Mar

M. Iman Ramadhan (09321110)

 

Belakangan ini kita telah dihadapkan dengan kemajuan jaman yang semakin terbuka, Pasar bebas merupakan embrio dari efek globalisasi ekonomi itu. Indonesia dikatakan banyak orang adalah negeri yang memiliki kekayaan cukup besar. Mulai dari sumber daya alam, dan sumber daya manusianya. Sayangnya Indonesia masih minim dengan sumber daya teknologinya. Apa boleh buat, mestinya semua aspek itu bisa ter-rumus menjadi satu demi kemajuan negara ini.

Terkait hal tersebut, muncullah pertanyaan besar akan produk yang dihasilkan dari negeri ini; “mungkinkah produk dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri?”, adalah terkait sumber daya manusia, kualitas pendidikan, contoh kongkrit hasil yang diciptakan, dan kemajuan negara ini. Untuk lebih luasnya, mari kita jabarkan secara terstruktur.

Sumber Daya Manusia

Pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia telah menciptakan struktur baru yaitu struktur global. Struktur itu memberikan keterlibatan bagi seluruh bangsa dunia termasuk negeri ini, Indonesia mau tidak mau juga harus ikut andil bagi perkembangan struktur baru itu. Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam persaingan global, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi persaingan antarnegara. Indonesia dalam kancah persaingan global menurut World Competitiveness Report tahun 2009,  menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40).

Terkait dengan faktor sumber daya manusia. Indonesia juga tidak terlepas dari kualitas pendidikannya. Tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di berbagai sektor ekonomi. Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.

Kualitas Pendidikan

Kualitas pendidikan Indonesia saat ini masih rendah dan bisa dibilang memprihatinkan. Masih sering dijumpai bangunan sekolah yang buruk kondisinya. Bahkan sekolah-sekolah yang beratapkan langit pun masih banyak. Siswa tidak mendapatkan pasokan buku yang memadai dan yang fatal lagi adalah mahalnya biaya sekolah. Padahal kita semua tahu bahwa pendidikan merupakan hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Inilah realita yang dialami dunia pendidikan di Indonesia.

Kondisi di ataslah yang menghambat Indonesia untuk bisa bangkit mengatasi masalah rendahnya kualitas sumber daya manusia serta tingginya angka pengangguran. Minimnya kualitas dan fasilitas pendidikan tentunya berdampak secara signifikan terhadap kualitas manusia itu sendiri. Begitu banyaknya masalah yang dihadapi pemerintah tentunya tidak bisa kita selesaikan secara cepat.

Akan tetapi sebagian besar agen pendidikan di Indonesia sepertinya sudah menyadari tentang hal ini. Oleh karena itu banyak agen pendidikan di Indonesia lebih menekankan kualitas pembelajarannya kepada praktik kerja lapangan. Hal ini menghindari permasalahan tingkat pengangguran di Indonesia. Ada beberapa agen pendidikan Indonesia yang telah berhasil menghasilkan produk dalam negri untuk mengentaskan pengangguran itu.

Produk

Baru-baru ini saya melihat berita di TV tentang Mobil ESEMKA yang dibuat oleh siswa-siswa SMK di indonesia, perasaan haru dan bangga meliputi saya. Bagaimana tidak, masih menyandang siswa saja mereka sudah bisa membuat mobil, apalagi ketika pendidikan mereka sudah tinggi, diharapkan jangan hanya membuat mobil tapi bisa membuat perusahaan mobil sendiri yang bisa bersaing di tingkat Internasional. Kalau saja pemerintah mau untuk mendukung perihal bahan dasar yang dibeli dari luar negeri, tahun berikutnya mungkin kita akan membuat bahan dasar sendiri, tanpa harus membeli di negara luar.

Potensi yang dimiliki oleh siswa-siswa SMK Indonesia sebenarnya sangat besar. Jika tokoh-tokoh berpengaruh mau mendukung perkembangannya, tidak ada yang tidak mungkin, Indonesia akan memimpin teknologi di masa mendatang.

Karya anak bangsa khususnya SMK tidak hanya mobil saja tetapi berbagai macam barang elektronik & gadget, laptop, notebook, Mp3 Player, proyektor juga bisa mereka rancang. Mungkin dari pembaca semua ada yang pernah mendengar nama produk seperti zyrex. Zyrex ini adalah merek produk teknologi Indonesia yang dirakit oleh siswa-siswi SMKN di Mataram.

Tidak hanya itu, ada juga laptop yang mereknya bernama Funtop, laptop ini rakitan siswa-siswi SMK Banjar Jawa Barat. Produk Funtop ini ternyata berhasil menembus pasar jawa barat, Funtop juga tidak kalah dengan produk-produk luar negeri.

Kemajuan Negeri

Kondisi di atas kiranya telah memberi sebagian gambar besar bagi perkembangan bangsa ini. Sebuah bangsa tidak akan terus berkembang tanpa ditopang dari aspek sumber daya manusia, kualitas pendidikan, dan hasil produknya. Untuk lebih lanjut, kondisi itu mestinya kita sikapi dengan arif guna menciptakan siklus sosial dan kemajuan teknologi yang sehat.

Hal itu juga tidak terlepas dari pangsa pasar dalam negeri di Indonesia, banyak sekali produk Indonesia yang diekspor ke luar negeri. Kalau saja hasil produk yang diciptakan oleh anak bangsa di negeri ini bisa banyak dikonsumsi di negeri sendiri, mestinya akan menciptakan satu pangsa pasar yang lebih maju.

Sayang seribu sayang, sepertinya masyarakat kita masih tertutup matanya dari produk dalam negeri. Urusan gengsi yang menggerogoti konsumen di Indonesia adalah titik utamanya, tapi bukan hanya itu. Penghegemonian produk luar negeri yang sudah membentuk budaya populer dan menciptakan sub-sub kultur yang menghasilkan ‘anggapan umum’ (common sense). Hal itu juga tidak jauh ketika kita lebih memilih produk luar negeri ketimbang dalam negeri, padahal produk yang dihasilkan sama kualitasnya dan bangsa Indonesia masih memiliki kesadaran palsu (false consciousness) akan mengkonsumsi produk. Jadi, mungkinkah produk dalam negeri dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: