Babies: Jujur dan Apa Adanya

1 Jun

Judul film: Babies

Tahun: 2010

Durasi: 120 menit

Sutradara: Thomas Balmes

Genre: Dokumenter

Aktor: Ponijao (Namibia), Mari (Jepang), Bayar (Mongolia), Hattie (Amerika Serikat)

 

Selama ini kita selalu melihat banyak film dengan para pemain dan cerita-ceritanya yang biasa. Namun kali ini kita disuguhi sensasi berbeda. Thomas Balmes, sutradara asal Prancis, mencoba menyajikan sebuah film dengan kemasan yang tidak biasa. Film produksi Focus Features, label yang berada di bawah Universal Pictures ini, menjadikan para bayi yang menggemaskan sebagai aktor utamanya, dan aktivitas dari bayi itu sendiri sebagai jalan ceritanya.

Babies adalah sebuah film yang mengisahkan empat bayi dari berbagai belahan dunia. Di Namibia, ada Ponijao, yang dibesarkan di lingkungan suku pedalaman,  di daerah bernama Opuwo. Lalu Bayar, adalah bayi Mongolia yang tinggal di suatu kawasan pertanian dekat Bayanchandmani. Kemudian Mari, adalah putri pasangan suami istri yang berlokasi di Tokyo, Jepang. Selanjutnya, bayi lucu terakhir berasal dari San Fransisco, Amerika Serikat, yang diberi nama Hattie. Mereka tidak saling mengenal. Keempat bayi tersebut memiliki kehidupannya masing-masing.

Babies, tergolong sebuah film dokumenter. Namun, sama sekali tidak ada narasi di dalamnya. Balmes sengaja membuat komunikasi non verbal di setiap adegan. Para bayi tersebut hanya memerankan diri mereka sendiri dengan alami, tanpa adanya skenario dan alur cerita yang harus mereka jalani. Semua mengalir murni, mulai dari mereka masih di dalam kandungan, hingga berangsur-angsur tumbuh dan berkembang menuju usia satu tahun. Melalui film ini kita bisa melihat pola pengasuhan dari keempat bayi tersebut yang memiliki perbedaan satu sama lain, tergantung dari latar belakang adat dan sosial budaya yang mereka miliki.

Banyak sekali kelucuan yang terekam dalam film ini. Terutama yang berasal dari tingkah polah para bayi tersebut. Seperti Ponijao, yang hampir selalu tidak akur dengan saudaranya. Lalu Bayar, yang senang bermain dengan kambing dan hewan-hewan lain, karena ia memang tinggal di daerah peternakan. Kemudian Mari, yang dilanda kebosanan hebat saat ditinggal oleh orang tuanya. Ia menangis dan berguling-guling ke sana kemari karena tak tahu apa yang harus diperbuat. Sementara Hattie, tiba-tiba terjelungkup ke dalam pasir setelah meluncur dari perosotan. Semuanya digambarkan apa adanya dan tanpa rekayasa yang dibuat-buat.

Balmes menghabiskan waktu sekitar dua tahun untuk membuat film ini. Rata-rata ia akan berada dua minggu di tiap-tiap keluarga untuk merekam momen-momen berharga yang sekiranya unik dan lucu. Ia mengambil gambar sebanyak 45 menit per harinya, membuatnya memiliki video mentah selama 400 jam yang akhirnya diedit menjadi satu kemasan film yang unik. Proses pembuatannya tentu tak mudah, karena yang beraksi di sini adalah para bayi. Mereka bisa jadi belum sadar kamera, dan mustahil untuk dapat diarahkan sesuai keinginan sutradara.

Film ini menggambarkan kegiatan para bayi secara apik. Pemilihan adegan-adegannya sungguh kocak. Terlebih tingkah laku mereka itu merupakan hal sepele dan kadang kala terlewatkan oleh orang tua. Kepolosan mereka yang belum bisa berbuat apa-apa serta belum mengerti mana yang baik mana dan mana yang buruk itu adalah sebuah kelucuan tersendiri. Ini merupakan sebuah film dengan kisah yang benar-benar nyata dan alami, namun tetap tidak meninggalkan sisi-sisi menarik dari sebuah tontonan.

Bila diperhatikan ada dua kutub besar dalam film ini. Ponijao dan Bayar adalah bayi yang dibesarkan di daerah pedesaan terpencil. Sedangkan Mari dan Hattie hidup di tengah kawasan perkotaan yang maju. Dari situ terlihat jelas kontras kehidupan yang bertolak belakang. Ketika Mari dan Hattie sedang berinteraksi dengan dua peliharaan mereka, kucing dan anjing yang begitu terawat, Bayar malah sedang berkutat dengan kambing atau sapi. Demikian halnya dengan Ponijao yang nampak memperhatikan kerumunan lalat sebagai binatang yang menarik perhatiannya. Kedua hal tersebut mengindikasikan sesuatu yang berlawanan. Mengapa bayi di Jepang dan Amerika digambarkan dari keluarga mapan, sementara di Namibia dan Mongolia dipilih bayi yang berasal dari keluarga di pelosok desa? Itu pula yang menjadi unsur kelemahan dalam film ini.

Meskipun begitu, Balmes mengatakan bahwa visualisasi keluarga yang ditampilkan sama sekali tidak bermaksud untuk merepresentasikan kebudayaan negara yang bersangkutan. Seperti yang dilansir Reuters, ia mengungkapkan mereka hanya menampilkan kehidupan diri sendiri dan tidak perlu ada anggapan atau pun penilaian berlebihan mengenai hal itu.

Selain itu alur cerita yang berjalan terasa agak sedikit lamban. Mungkin karena tidak ada narasi dan hanya menggambarkan kehidupan sehari-hari dari si bayi. Bagi sebagian orang akan menganggap film ini membosankan. Namun sebenarnya itu semua tertutup dengan kejenakaan dari para bayi yang menjadi pemandangan menarik dalam film berdurasi sekitar 120 menit ini.

Film ini sebenarnya bergenre universal, namun lebih tepat apabila ditonton oleh orang dewasa, terutama para orang tua. Mengingat ada pula adegan yang terlalu vulgar, seperti bayi yang baru dilahirkan dan ibu yang tengah menyusui. Di samping itu ironi-ironi yang disajikan akan lebih pas bila ada orang tua yang mendampingi anaknya untuk memberikan penjelasan. Sekilas film ini hanya menampilkan sosok bayi dan ibunya sejak dalam kandungan hingga lahir dan dapat berjalan. Akan tetapi film ini sarat akan pesan moral berupa kejujuran dan kasih sayang. Babies adalah film yang sarat akan nilai dan makna bagi mereka yang menginginkan sudut pandang berbeda akan kehidupan dunia anak-anak, terutama para bayi. Film ini tentunya sayang untuk dilewatkan.

2 Responses to “Babies: Jujur dan Apa Adanya”

  1. Abdul Djoni 14/07/2011 at 21:00 #

    kind..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: