Jatuh Bangun TVRI: TV Nasional VS TV Swasta

25 May

Anggie Septa Sebastian (08321085)

Judul Buku : Televisi Jakarta Di Atas Indonesia
Tebal             : 298 hlm
Pengarang   : Ade Armando
Penerbit       : Bentang, April 2011

TVRI pernah berjaya di masa pemerintahan Orde Baru. TVRI juga pernah menaikkan gengsi Indonesia saat ajang olahraga akbar Asian Games tahun 1962. Sebagai proyek yang dibangun untuk menunjukan citra Indonesia yang berwibawa dimata dunia, TVRI mampu menjalankan peran itu.

Sebagai stasiun televisi yang mengemban pesan-pesan perintahan, TVRI muncul sebagai pemain tunggal di industri pertelevisian indonesia saat itu. Saat seperti ini berlangsung lama, bahkan saat Soekarno jatuh dari kekuasaan. Peran TVRI sebagai media propaganda pemerintah tetap dilanjutkan oleh Soeharto.

Menjadi media propaganda/penerangan untuk masyakat, tidak menjadikan TVRI sebagai stasiun televisi yang kering dan membosankan. 15 tahun pertama, TVRI tampil sebagai media hiburan yang diberikan kelonggaran sebagai stasiun televisi yang mandiri dengan pemasukan dana utama dari iklan. Baru sekitar 17 tahun berikutnya TVRI tampil sebagai media propaganda kental yang diarahkan untuk mendukung rezim yang berkuasa. Serta untuk mempromosikan program-rogam pembangunan yang saat itu hendak dijalankan.

Di masa-masa seperti itu TVRI tampil sebagai stasiun televisi yang populer di mata masyarakat. Banyak siaran impor serta menggunakan bahasa asing yang mengisi program acara di sini. Ada “Jungle Jim”, “Popeye”, “Batman”, dan sebagainya untuk mengisi program hiburan anak-anak. Untuk dewasa ada “The Untouchables”, “Bonanza”, “Mission Imposible” dan masih banyak lagi.

Namun apa yang terjadi sekarang? TVRI bagai macan ompong. Kehilangan taring dan tak memiliki gading. Tak ada lagi yang menarik dari TVRI. Kejayaan TVRI hilang bersamaan dengan instruksi Soeharto agar TVRI tak lagi menerima iklan.

Pesaing-pesaing baru yang kemudian muncul semakin menambah penderitaan TVRI. Ditambah lagi dana yang terbatas serta tuntutan dari pemerintah untuk terus membuat program acara propanda semakin membuat TVRI kalang kabut. Pada nantinya TVRI tak lagi punya kuasa untuk menarik perhatian penonton dan secara perlahan ditinggalkan. TVRI meredup justru di saat hampir semua stasiun televisi di Indonesia menampilkan tayangan-tayangan yang tidak bermutu.

Penulis secara lengkap menunjukan bagaimana pergolakan TVRI saat itu. Buku ini juga kaya akan data yang akurat mengenai sistem pertelevisian di Indonesia. Hal ini didukung oleh latar belakang penulis yang juga Anggota Komisi Penyiaran Indonesia (2004-2007). Dia juga menjadi pengajar tetap di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UI.

Dalam buku ini penulis menawarkan solusi agar tayangan televisi saat ini kembali bermutu seperti saat TVRI berjaya. Saat dimana peran televisi sebagai media pendidikan sangat diutamakan.  Mengingat saat ini televisi kita hanya menampilkan acara yang hampir keseluruhannya adalah hiburan.

Melihat televisi yang Jakartasentris, penulis menawarkan sistem televisi berjaringan yang hampir mirip dengan sistem yang digunakan radio. Jadi televisi kita tidak hanya menerima siaran yang keseluruhannya berasal dari Jakarta, yang beberapa di antaranya tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya yang beragam. Tapi juga bisa menampilkan program-program acara mandiri yang dikerjakan sesuai dengan nilai-nilai budaya setempat. Bisa dikatakan, dengan televisi jaringan setiap daerah bisa memandang peristiwa melalui sudut pandang daerahnya. Keuntungan yang yang diperolehpun tidak semuanya mengalir ke-Jakarta. Iklan, yang menghidupi televisi, juga bisa mengalir ke daerah-daerah tempat televisi berjaringan ini berada.

Buku ini cocok untuk para aktivis yang konsen terhadap isu pendidikan televisi karena buku ini juga menunjukan bahwa televisi saat ini hanya ditujukan untuk kepentingan pemodal. Bahkan Undang-Undang yang mengaturpun juga terkesan menguntungkan pemodal. Penonton yang sebagian masyarakat menengah bawah hanya dipandang sebagai pasar yang tidak mempnyai hak atas frekuensi yang digunakan.

Buku ini juga cocok untuk mahasiswa yang tertarik dengan penelitian tentang regulasi pertelevisian. Hal ini karena buku ini banjir akan data-data yang dapat digunakan mahasiswa sebagai rujukan referensi.

Secara fisik buku ini cukup tebal, namun tidak seberat yang dibayangkan. Kertas yang digunakan juga baik karena tidak menyilaukan jika dibaca di tempat yang terlalu terang. Data-data yang bertebaran di buku ini juga tidak ditampilkan mentah begitu saja, namun diolah kembali dan dirangkai menjadi kalimat sehingga enak untuk dibaca. Nampaknya editor juga orang yang ahli di bidangnya. Terbukti dengan hampir tidak ada kesalahan dalam penulisan.

Namun sayang, cover buku ini kurang menarik untuk buku sebagus ini. Cover-nya terlalu sederhana dan kurang menarik perhatian, bahkan bisa dibilang kurang menggambarkan isi buku ini sendiri. Bisa jadi akibatnya adalah hanya orang-orang yang konsen di bidang ini yang tertarik dengan buku ini.

Akhirnya, kehadiran buku ini dapat menjawab pertanyaan “Mengapa pertelevisian di Indonesia menjadi seperti sekarang ini”?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: