Nuklir, Menguntungkan Sekaligus Mematikan

27 Apr

Mimin Ambarwati

NIM: 08321103

Pada 11 Maret 2011, dunia dikagetkan dengan bencana gempa dan tsunami yang melanda Jepang. Tidak sekadar meluluhlantahkan sebagian Negara Sakura ini hingga mengalami kerugian yang fantastis, tapi Jepang juga dihadapkan pada permasalahan baru yakni kebocoran reaktor nuklir.

Sepanjang sejarah, kebocoran reaktor nuklir terburuk terjadi di Chernobyl, Ukraina pada April 1986. Selain mengharuskan evakuasi terhadap ribuan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian, dampak kesehatan masih dirasakan para korban hingga bertahun-tahun kemudian. Sebut saja kanker, gangguan kardiovaskular yang tak sedikit berujung pada kematian. Kejadian ini jelas membayangi dan menyebabkan kekhawatiran warga Jepang akan mengulang sejarah yang pernah terjadi di Ukraina 15 tahun silam ini.

Dalam fisika nuklir, sebuah reaksi nuklir adalah sebuah proses di mana dua nuklei atau partikel nuklir bertubrukan, untuk memproduksi hasil yang berbeda dari produk awal. Pada prinsipnya sebuah reaksi dapat melibatkan lebih dari dua partikel yang bertubrukan, tetapi kejadian tersebut sangat jarang. Bila partikel-partikel tersebut bertabrakan dan berpisah tanpa berubah (kecuali mungkin dalam level energi), proses ini disebut tabrakan dan bukan sebuah reaksi.

Dikenal dua reaksi nuklir, yaitu reaksi fusi nuklir dan reaksi fisi nuklir. Reaksi fusi nuklir adalah reaksi peleburan dua atau lebih inti atom menjadi atom baru dan menghasilkan energi, juga dikenal sebagai reaksi yang bersih. Reaksi fisi nuklir adalah reaksi pembelahan inti atom akibat tubrukan inti atom lainnya, dan menghasilkan energi dan atom baru yang bermassa lebih kecil, serta radiasi elektromagnetik. Reaksi fusi juga menghasilkan radiasi sinar alfa, beta dan gamma yang sangat berbahaya bagi manusia (http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_nuklir, diakses tanggal 15 April 2011).

Contoh reaksi fusi nuklir adalah reaksi yang terjadi di hampir semua inti bintang di alam semesta. Senjata bom hidrogen juga memanfaatkan prinsip reaksi fusi tak terkendali. Contoh reaksi fisi adalah ledakan senjata nuklir dan pembangkit listrik tenaga nuklir, juga termasuk kerja reaktor yang bocor yang terjadi di Jepang.

Namun, bagai dua buah sisi mata uang, dalam dunia kesehatan maupun teknologi, nuklir tidak hanya berefek negatif saja tapi juga selalu diikuti efek positif. Nuklir dalam dunia kesehatan misalnya dapat digunakan sebagai alat untuk mendiagnosa penyakit sekaligus dapat pula memberikan terapi. Henry Bacquerel penemu radioaktivitas telah membuka cakrawala nuklir untuk kesehatan. Sedangkan Wilhelm Rontgen, menemukan sinar rontgen ketika gambar jari dan cincin istrinya ada pada film. Sedangkan Marie Currie mendapatkan hadiah Nobel atas penemuannya, radium dan polonium. Dari awal penemuan sampai dengan 1960-an radium telah digunakan untuk kesehatan (http://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_nuklir, diakses tanggal 15 April 2011).

Masyarakat kedokteran biasanya menggunakan radioisotop radium ini untuk pengobatan kanker, atau yang lebih dikenal dengan nama brakiterapi. Meskipun kemudian banyak ditemukan radiosiotop yang lebih menjanjikan untuk brakiterapi, sehingga radium sudah tidak direkomendasikan lagi untuk digunakan, namun radioisotop tetap bisa diandalkan untuk diagnosa penyakit yang juga memanfaatkan instrumen yang disebut dengan pesawat gamma kamera atau SPECT (Single Photon Emission Computed Thomography). Sedangkan aplikasi untuk terapi sumber radioisotop terbuka ini seringkali para pakar menyebutnya sebagai endoradioterapi.

Selain itu ternyata nuklir juga dapat digunakan di bidang pertanian, seperti pemuliaan tanaman sorgum dan gandum dengan melalui metode induksi mutasi dengan sinar gamma. Sedangkan dalam bidang energi, nuklir dapat berperan sebagai penghasil energi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). PLTN dapat menghasilkan energi yang lebih besar dibandingkan pembangkit lainnya, dengan limbah dan biaya operasi yang lebih rendah.

Seperti yang telah saya singgung di awal tadi, nuklir juga dapat memberikan efek negatif terhadap perkembangan kesehatan manusia, jika digunakan secara berlebihan dan tidak pada tempatnya. Secara alami, tubuh manusia memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari kerusakan sel akibat radiasi maupun zat kimia berbahaya lainnya. Radiasi yang terlalu tinggi dapat mengalahkan mekanisme perlindungan ini, sehingga menimbulkan efek yang tidak baik bagi kesehatan manusia.

Dr Manny Alvarez mengatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi dampak radiasi nuklir. Ketiganya meliputi total radiasi yang dipejankan, seberapa dekat dengan sumber radiasi dan yang terakhir adalah seberapa lama korban terkena oleh radiasi (http://www.artikelkedokteran.com/2011/%E2%80%9Cdampak-positif-dan-negatif-dari-nuklir%E2%80%9D, diakses tanggal 15 April 2011)

Ketiga faktor tersebut sangat berperan penting terhadap dampak yang akan diterima oleh orang-orang yang terkena reaktor nuklir. Radiasi yang terlalu tinggi dapat menimbulkan gejala akut. Walaupun tidak terdapat gejala bukan berarti tidak menimbulkan bahaya karena radiasi dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang lebih berbahaya.

Dampak sesaat atau jangka pendek akibat radiasi tinggi di sekitar reaktor nuklir antara lain mual hingga muntah, diare, sakit kepala, dan demam. Sementara itu, dampak yang baru muncul setelah terpapar radiasi nuklir selama beberapa hari di antaranya pusing, mata berkunang-kunang, disorientasi atau bingung menentukan arah, lemah, letih dan tampak lesu, kerontokan rambut dan kebotakan, muntah darah atau berak darah, tekanan darah rendah, dan luka susah sembuh.

Sedangkan dampak kronis alias jangka panjang dari radiasi nuklir umumnya justru dipicu oleh tingkat radiasi yang rendah namun secara rutin terpejan sehingga tidak disadari dan tidak diantisipasi hingga bertahun-tahun. Beberapa dampak mematikan akibat paparan radiasi nuklir jangka panjang adalah kanker, penuaan dini, gangguan sistem saraf dan reproduksi, serta mutasi genetik.

Dalam bencana yang menimpa Negara Matahari Terbit itu, Mensesneg Jepang Yukio Edano memberikan keterangan, level radiasi di PLTN Fukushima yang bermasalah mencapai 400 millisieverts (mSv) per jam atau ribuan kali lebih tinggi ketimbang sebelum terjadi ledakan. Level itu merupakan 20 kali lebih banyak ketimbang level tahunan yang biasa dialami pekerja industri nuklir atau penambang uranium. Sehingga jika penanggulangan kebocoran reaktor nuklir ini tidak segera diatasi maka besar kemungkinan masyarakat yang terkena radiasi akan berpotensi mengalami gejala akut akibat radiasi dalam jangka waktu yang panjang.

Berdasarkan data World Nuclear Association, eksposur terhadap 350 mSv, merupakan kriteria untuk merelokasi penduduk pasca tragedi Chernobyl di Ukraina pada 1986, angka tersebut 100 mSv lebih rendah dibanding dengan level radiasi di PLTN Fukushima. Eksposur terhadap 100 mSv atau lebih per tahun merupakan level terendah di mana risiko munculnya sel kanker mulai terlihat. Paparan kumulatif 1.000 mSv kemungkinan akan menyebabkan kanker fatal yang akan keluar beberapa tahun kemudian, pada lima banding 100 orang yang terpapar. Dosis paparan sebesar 1.000 mSv akan menyebabkan penyakit radiasi seperti mual, namun tidak berpotensi pada kematian. Dosis tunggal 5.000 mSv akan menewaskan setengah dari yang terekspos dalam waktu satu bulan.

Melihat paparan dosis radiasi dengan angka-angka fantastis di atas, maka tidak mengherankan jika dampak kebocoran reaktor nuklir Jepang diisukan akan melanda sampai Indonesia. Meskipun hal itu tidak sampai terjadi namun kabar barung tersebut cukup menghebohkan dan membuat kekhawatiran masyarakat di tanah air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: