Invasi Ulat Bulu Menggila dan Berbahaya

27 Apr

Invasi Ulat Bulu Menggila dan Berbahaya

Oleh Taufik Akbar 07331078*

Ulat bulu merupakan bagian larva yang termasuk ordo Lepidoptera. Sebagian besar hewan ini mengonsumsi tumbuhan (herbivora) dan serangga. Ulat bulu merupakan hama yang rakus mengonsumsi daun sehingga banyak merugikan petani. Ulat bulu juga merupakan bentuk metamorphosis yang nantinya akan berubah menjadi kepompong kemudian kupu-kupu.

Asal-usul etimologi ulat bulu berasal dari awal abad 16. Nama ulat bulu atau caterpillars berasal dari bahasa Prancis lama yaitu catepelose yang berarti kucing (cattus: bahasa Latin) dan pelose yang artinya bulu. Ulat bulu juga memiliki nama sebutan yaitu geometrids atau inchworms karena cara hewan ini bergerak seolah mengukur bumi. Ulat bulu memiliki tubuh lunak yang bisa menumbuhkan bulu dengan cepat.

Bagian tubuh ulat, hanya bagian kepala yang keras. Ulat bulu memiliki rahang kuat dan tajam untuk mengunyah daun. Namun, bagi ulat bulu dewasa, rahang mereka cenderung lebih lembut. Di balik rahang, ulat bulu memiliki fitur pemintal yang bisa memproduksi sutra. Secara rata-rata, siklus hidup telur, larva (bentuk ulat) hingga menjadi kupu-kupu malam (ngengat) adalah sekitar 30 hari. Namun peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengindikasikan siklus hidup ulat bulu sekarang lebih cepat 3-4 hari.

Siklus ulat bulu lebih pendek dibanding hewan lainnya, terjadi manakala terpenuhinya host plant atau inang sehingga menyediakan suplai makanan bagi makhluk tersebut. Berdasar teori fisiologi serangga, kurangnya makanan bagi serangga akan membuat siklus hidupnya lambat. Sebaliknya, jika tanaman yang menjadi makanan baginya sedikit maka siklus hidupnya lama.

Ketidak seimbangan ekosistem ulat bulu dan predator akhir-akhir ini, menyebabkan puluhan ulat bulu menginvasi di berbagai daerah. Diantaranya di Probolinggo, Jombang, Malang, Yogyakarta dan Bali, sebagian besar di pohon cemara, dan beberapa di antaranya berada di pohon mangga. Serangan ulat bulu di Probolinggo, Jawatimur, merupakan kejadian aneh. Pasalnya ribuan ulat bulu bukan hanya menyerang pepohonan namun ulat bulu juga menyerang rumah-rumah warga. Ulat bulu yang menyerang warga diketahui berjenis desgiria inclusa.

Racun Berbahaya

Ulat bulu mempertahankan diri dengan bulu atau tanduk yang berhubungan dengan racun, sering disebut urticating hairs. Di setiap bulu maupun tanduknya tersimpan racun yang mematikan dan berbahaya bagi manusia. Akibatnya dari gatal-gatal, alergi, sampai kepada kematian.

Racun pada ulat bulu yang paling menakutkan ditemukan pada genus Lonomia yang hidup di Amerika Selatan. Racun ini merupakan antikoagulan yang sangat kuat sehingga menyebabkan pendarahan pada manusia, bahkan hingga meninggal. Bahan kimia itu kini sedang diselidiki oleh ahli medis. Meskipun begitu, sebagian besar bulu itu hanya menyebabkan iritasi ringan atau penyakit kulit.

Saat kulit korban melakukan kontak dengan toksin dari ulat ini beberapa hal yang terjadi adalah racun dari Lonomia menyebabkan reaksi kulit yang sederhana, infeksi kulit, luka bakar, alergi, dan pendarahan umum, hingga gagal ginjal, dan dapat menyebabkan kematian dalam kasus-kasus terburuk (Duarte, 1990).  Dalam sejarahnya, bulu ulat bulu terkadang membawa venom di dalam tubuhnya yang bisa menimbulkan cedera serius pada manusia, mulai dari urticarial dermatitis, atopic asthma, osteochondritis, consumption coagulopathy, gagal ginjal dan pendarahan intraserebral. Meskipun, gatal-gatal kulit adalah dampak yang paling umum bila manusia menyentuh ulat bulu. Bulu ulat bulu juga bisa menyebabkan infeksi kerato-konjungtivis. Duri tajam pada ujung bulu ulat bulu bisa bersarang di jaringan lunak dan selaput lendir di tubuh manusia, selaput mata misalnya. Jika masuk ke jaringan tubuh dan sulit diekstrak, dikhawatirkan duri masuk ke membran tubuh.

Menurut berita di Kompas.com dan Tempo interaktif, ulat bulu yang menyerah belahan daerah di Indonesia tidak sampai menyebabkan kematian. Korban akan mengalami gangguan gatal-gatal dan kalau susah hilang, korban bisa ke Puskesmas dengan gratis biaya. (Kompas.com)

Antisipasi dan Pencegahan

Kepanikan warga dan semakin banyaknya serangan ulat bulu menuntut Pemda dan warga segera mengatasi kasus ini. Berikut beberapa antisipasi terhadap serangan ulat bulu dan pencegahan agar ulat bulu tidak berkembang biak:

Intektisida, merupakan bahan kimia atau non kimia yang digunakan untuk mengendalikan serangga, termasuk ulat bulu. Insektisida dapat membunuh serangga dengan dua mekanisme, yaitu dengan meracuni makanannya (tanaman) dan dengan langsung meracuni si serangga tersebut. Intektisida sudah banyak tersedia di pasaran. Intektisida merupakan salah satu jalan keluar untuk mencegah hama ulat bulu meluas. (http://www.scribd.com/doc/3116460/Pengenalan-Insektisida)

Sanitasi, kalau ada pohon-pohon, jangan sampai serasah atau daun-daun keringnya menumpuk karena bisa menjadikan tempat lebih lembap dan mempercepat ulat berkembang biak. Tempat tempat yang lembab yang berada di bawah pepohononan memungkinkannya telur dan larva tumbuh dengan cepat. Segera dibersihkan dikumpulkan serta dibakar. Selain itu pemusnahan telur dan pupa atau kepompong bisa dilakukan. Cara ini akan memutuskan siklus metamorfosis menjadi ulat bulu. Apabila sudah menjadi kupu-kupu maka kumpulkan lalu dibakar.

Ekosistem, tidak seimbangnya ekosistem merupakan salah satu penyebab membludaknya kawanan ulat. Lagi-lagi burung sebagai pemangsa dominan banyak diburu manusia, akhirnya ulat sekarang yang memburu manusia. Tidak sedikit petani mengalami kerugian karena wabah ini, sehingga kesadaran manusia itu sendiri sangat dibutuhkan mengatasi masalah ini.

Jaga jarak, jika di dahan atau di pohon atau dimanapun terdapat ulat bulu maupun ulat bertanduk, jangan sekali-kali mendekat. Karena kalau sampai terkena bulu atau tanduk beracunnya bisa mengakibatkan iritasi dan alergi berupa gatal-gatal dan bengkak.

Referensi

A.C.D. van Enter, J. Adler and J.A.M.S. Duarte (1990), Finite-Size Effects for some Bootstrap Per-colation Models, Journal of Statistical Physics Vol 60

http://regional.kompas.com/read/2011/04/08/13411553/Diserang.Ulat.Bulu.Mangga.Makin.Lebat 26 April 2011. 15.00WIB

http://www.scribd.com/doc/3116460/Pengenalan-Insektisida. 26 April 2011. 15.00WIB

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Indonesia angkatan 2007. Tugas Penulisan Kreatif yang di ampu oleh dosen Iwan Awaludin Yusuf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: