Ahmadiyah Terancam, Pemerintah Plin-Plan

27 Apr

Ahmadiyah Terancam, Pemerintah Plin-Plan

Oleh Taufik Akbar,  07331078*

 

Sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia tentang sepak terjang Ahmadiyah, jemaat Islam yang telah menjadi buah bibir dan permasalahan kronis yang tidak kunjung selesai sampai sekarang. Ahmadiyah merupakan salah satu jemaat yang memadukan nama Islam dan tokohnya Mirza Ghulam Ahmad, yang menurut beberapa sumber sempat mengaku menjadi rasul dan membelokkan akidah Islam. Terlepas dari itu, Ahmadiyah di Indonesia terpecah menjadi dua golongan, Qadian dan Lahore. Akan tetapi Ahmadiyah Qadian-lah yang banyak disoroti dan kritik. Sedangkan Lahore masih dalam batas wajar, karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujaddid (pembaharu), bukan sebagai nabi.

Tuduhan bertubi-tubi bahwa Ahmadiyah Qadian itu sesat dan menyesatkan, pengikutnya dibantai, rumah mereka dirusak, disebabkan mereka mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi mereka. Penganiayaan oleh umat Islam banyak yang membabi buta, terlihat beringas dan kejam. Dalam ajaran Islampun memerangi kemungkaran memang sudah menjadi kewajiban, namun menyikapi hal ini tidak cukup dengan kekerasan semata, kekerasan tidak menyelesaikan masalah.

Permasalahan inilah yang kemudian menjadi batu sandungan bagi keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Satu sisi negara tidak dibenarkan secara yuridis untuk memberikan predikat “absah” atau “tidak absah” bagi ajaran Ahmadiyah. Namun di sisi lain terdapat potensi konflik antara Ahmadiyah dengan kelompok muslim lain yang menganggap ajaran Ahmadiyah menyimpang dari doktrin keyakinan Islam secara umum.

Media memberitakan beberapa adegan kekerasan, perusakan tempat ibadah, kendaraan, pengeroyokan massal, dan pemerintah cukup telat untuk turun tangan. Orang-orang banyak membicarakan Ahmadiyah dan saling menebar benci, sebagai golongan yang mengatasnamakan Islam namun membelokkan akidah yang sudah ada. Beberapa hal yang dianggap sesat oleh umat Islam lain pada umumnya terhadap Ahmadiyah adalah sebagai berikut:

  • Meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Al-Masih yang dijanjikan.
  • Meyakini bahwa Allah berpuasa dan melaksanakan shalat, tidur dan mendengkur, menulis dan menyetempel, melakukan kesalahan, dan berjimak. Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari apa yang mereka yakini.
  • Keyakinan Ahmadiyah bahwa Tuhan mereka adalah orang Inggris, karena dia berbicara dengannya menggunakan bahasa Inggris.
  • Berkeyakinan bahwa Malaikat Jibril datang kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan memberikan wahyu dengan diilhamkan sebagaimana Al-Qur’an.
  • Menghilangkan aqidah/syariat jihad dan memerintahkan untuk menaati pemerintah Inggris, karena menurut mereka pemerintah Inggris adalah waliyul amri (pemerintah Islam) sebagaimana tuntunan Al-Qur’an.
  • Dan lain sebagainya.

Sebuah kutipan dari http://www.Ahmadiyah.org/, Mirza Ghulam Ahmad berpendapat bahwa: (1) Masih Mau’ud itu betul-betul Nabi, (2) beliau itu ialah Ahmad yang diramalkan dalam Qur’an Suci 61:6, dan (3) semua orang Islam yang tidak berbai’at kepadanya, sekalipun tidak mendengar nama beliau, hukumnya tetap kafir dan keluar dari Islam (Ainai Sadaqat, hal. 35).

Akidah dan keyakinan Ahmadiyah membuat umat Islam di tanah air geram, pasalnya apa yang Ahmadiyah yakini sangat berbelok dan keluar dari syariat Islam. Islam meyakini nabi terakhir adalah Muhammad SAW, bukan Ghulam Ahmad. Berbagai tuntutan kepada pemerintah agar Ahmadiyah segera dibubarkan. Namun, akibat berpikir berbelit-belit yang kata pemerintah tidak sesuai dengan Hak Asasi Manusia (HAM) dan mencari solusi lain, korban berjatuhan. Sekelompok golongan yang mengatasnamakan Islam datang menyerbu posko-posko dan pusat dakwah Ahmadiyah, merusak apa yang ada. Tidak hanya itu, kalau Ahmadiyah melakukan perlawanan, mereka tidak segan-segan untuk menghajar sampai babak belur.

Setelah tindak kekerasan usai, polisi baru datang mengamankan situasi saat semua sudah terlanjur terjadi. Beberapa menit kemudian pemerintah baru beraksi dengan mencari solusi, namun masih saja kekerasan terjadi di berbagai daerah yang terdapat golongan Ahmadiyahnya. Kalau dilihat dengan seksama oleh pemerintah, dengan membubarkan Ahmadiyah, pasti masalah akan surut, tapi lihat yang terjadi, sudah jelas tuntutan warga Islam di mana-mana mendesak agar Ahmadiyah sesegera mungkin dibubarkan. Bukan karena melanggar hak asasi manusia, namun fatal akibatnya kalau masih mempertahankan eksistensi Ahmadiyah sebagai pengakuan organisasi resmi oleh pemerintah.

Ahmadiyah diakui sebagai sebuah Badan Hukum melalui Surat Keputusan Menteri Kehakiman No.J.A./5/23/13 tanggal 13 Maret 1953. Dengan surat negara tersebut, maka secara organisasional Ahmadiyah telah sah dan diakui oleh Indonesia. Ahmadiyah juga berhak mendapatkan perlakuan yang sama di hadapan pemerintah sejajar dengan organisasi sosial keagamaan lainnya.

Namun pada sisi lain, doktrin dan aktivitas ibadah Ahmadiyah tersebut dinilai meresahkan oleh sebagian masyarakat, terutama oleh kelompok yang merasa dasar keyakinanya dipertanyakan oleh Ahmadiyah. Kelompok ini biasanya berasal dari kalangan Islam formal atau Islam radikal.

Potensi yang muncul adalah adanya benturan fisik antara Ahmadiyah dengan kelompok Islam lain di beberapa tempat dan waktu yang berbeda. Potensi ini tidak dapat dilokalisir dalam satu kawasan semata-mata karena dipengaruhi oleh penyebaran jamaah Ahmadiyah di Indonesia. Artinya, peluang terjadinya konflik antara warga Ahmadiyah dengan kelompok Islam radikal masih akan terbuka di beberapa tempat dan kesempatan.

Permasalahan utamanya adalah membawa-bawa nama Islam, bukan tidak mungkin warga geram karena beberapa hal di atas, memicu pertentangan secara emosional. Kebencian merambat di dada umat muslim, dan Ahmadiyah semakin terkikis dengan penganiayaan. Mungkin pemerintah hanya mengenal Ahmadiyah sebagai sebuah organisasi dalam agama tanpa menelaah seluk beluk Ahmadiyah. Ahmadiyah bisa dibubarkan dengan misalnya dengan menerapkan pasal penistaan agama sesuai UU No 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Instannya, hak-hak warga masih bisa diselamatkan walau organisasinya sudah runtuh dan ada perlindungan bagi pengikut Ahmadiyah biar tidak menjadi bulan-bulanan amuk massa seperti di Cikeusik, Pandeglang, Banten, atau di tempat lain.

Kurangnya komunikasi dan koordinasi pemerintah dengan warga Islam umumnya dan Ahmadiyah mengakibatkan kekerasan sebagai jalan tengah untuk menyelesaikan masalah. Meskipun nantinya keputusan sudah dimufakatkan, harus ada pernyataan resmi dari pemerintah mengenai eksistensi Ahmadiyah, menimbang keberadaan ajarannya mengancam kedamaian umat Islam lainnya.

Seandainya Ahmadiyah menjadi agama baru yang tersendiri dan terpisah dari agama Islam, yakni mereka harus menanggalkan atribut-atribut yang ada dalam ajaran Islam seperti kitab suci Al-Quran, masjid, dan tidak menganggap ada nabi Muhammad SAW bukan sebagai nabi terakhir semua konflik bisa minimal bisa dihindari. Atau Ahmadiyah masuk kembali ke ajaran agama Islam sesuai yang dituntunkan oleh  al-Quran dan Sunnah. Cukuplah darah terbuang sia-sia, keringat menguap saja, dan tenggorokan mengering, korban sudah banyak berjatuhan. Islam sekalipun bukan agama kekerasan dan bukan penumpah darah dengan sia-sia.

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi Jurnalistik Universitas Islam Indonesia angkatan 2007. Tugas Penulisan Kreatif yang di ampu oleh dosen Iwan Awaludin Yusuf.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: