Apa Peran Kita? (Peran Kritis Masyarakat Menghadapi Media)

23 Mar

Anggi Septa Sebastian

 

Apa yang Anda pikirkan jika sedang menonton tayangan televisi? Isi tayangannya-kah? Tidak perlu, karena hal itu memang tidak penting untuk dipikirkan atau lebih-lebih direnungkan, terutama sinetron. Tayangan yang hanya menyajikan air mata tersebut memang selalu menjadi favorit ibu-ibu. Namun tahukah kita dampak dari tayangan  yang demikian?

Tidak hanya sinetron, tayangan berita-pun, yang hampir setiap orang mempercayainya juga menayangkan hal-hal yang itu-itu saja. Jika punya waktu luang, cobalah menengok televisi yang “terdepan mengabarkan”. Mungkin saja setelah itu, dalam beberapa hari Anda akan selalu bersikap paranoid, sampai Anda tersadar bahwa sebenarnya semuanya berjalan baik-baik saja.

Tayangan berita di televisi kita suka sekali menampilkan gambar-gambar yang penuh dengan penderitaan. Berhari-hari kita disuguhi dengan gambar tentang bencana dan kehancuran. Di lain waktu TV menunjukkan kebobrokan negeri ini.

Televisi memang sudah begini adanya. Terlebih seperti saat ini, dimana konglomerasi media mulai menggila. Acara yang ditayangkan semata-mata untuk menarik keuntungan saja, bukan untuk mendidik atau setidaknya memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Budaya konsumtif masyarakat terus dipacu dengan beragam iklan yang senantiasa memberikan harapan.

Jika sudah demikian, masihkah kita mau duduk bersantai di depan TV, sambil menikmati cemilan yang kita beli setelah menonton iklannya di tabung kaca tersebut?

Jangan terburu-buru mengambil sikap. Pertimbangkan sisi positif dari televisi, setidaknya televisi bisa digunakan untuk referensi mode. Misalnya saja, tetangga saya yang kebetulan seorang penjahit selalu rajin menonton tayangan Opera Van Java yang cenderung menampilkan komedi-komedi yang tidak berbobot. Untuk hiburan? Jelas dia terhibur dengan tayangan ini. Tapi yang mengejutkan adalah dia mendapatkan referensi mode kebaya yang sedang ngetrend saat ini dari yang dipakai para sinden. Bahkan seorang tenaga pendidik PAUD pernah bercerita bahwa anak didiknya mengenal jumlah kosakata lebih banyak karena menonton televisi.

Televisi tidak selamanya buruk, tergantung bagaimana kita menyikapi apa yang disajikan olehnya. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana peran masyarakat dalam menyikapi berbagai sajian televisi?

Masih banyak sekali orang yang menganggap televisi sebagai media hiburan. Mereka percaya dan menerima mentah-mentah dari apa yang ditontonnya, bahkan ada beberapa terlarut dengan tayangan televisi. Para ibu yang sedemikian sibuk rela anak-anak mereka diasuh oleh ­TV. Entah mereka tahu atau tidak dampak dari perbuatan tersebut.

Ada dua kemungkinan yang menyebabkan hal ini bisa terjadi. Pertama, masyarakat benar-benar tidak tahu mereka berbuat bagaimana untuk menyikapi beragam tayangan televisi. Untuk kasus yang seperti ini, diperlukan peran pemerintah dan LSM untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang Literasi Media. Agar masyarakat bisa mengontrol dan tidak lagi dibodoh-bodohi oleh media saat ini.

Kedua dan yang paling parah adalah masyarakat tidak tahu dan tidak mau tahu dengan apa yang akan mereka perbuat dalam menyikapi beragam sajian televisi. Mereka menganggap yang penting mereka terhibur dan terpenuhi keinginannya.

Sikap apatis seperti ini justru akan semakin memperparah keadaan. Karena masyarakat yang seharusnya menjadi kontrol untuk memantau media justru membiarkan media bebas sebebas-bebasnya. Dengan sikap seperti ini (apatis) tak heran jika banyak aksi-aksi demonstrasi yang berujung anarkis, hal ini disebabkan karena mereka (pendemo) meyakini apa yang tidak mereka ketahui.

Solusinya kemudian adalah mencoba memberikan pemahaman tentang dampak yang akan terjadi jika mereka terus-terusan bersikap apatis seperti ini. Buat mereka sadar betapa pentingnya televisi-televisi pendidikan. Jika sudah demikian,  tidak perlu ada aksi-aksi turun ke jalan. Cukup dengan perisai filter diri maka tayangan yang menjerumuskan bisa teratasi.

Literasi media atau lebih dikenal dengan melek media sendiri adalah sebuah keterampilan yang diperlukan oleh warga negara guna berinteraksi secara layak dengan media. Konsep ini ditujukan untuk membuat audiens kebal terhadap isi media yang kerap kali terdistorsi oleh gelora kapitalisme yang tidak masuk akal seperti politik kepentingan, “keinginan” pasar dan lain sebagainya (Hayu, 2009 : 51).

Dengan literasi media masyarakat akan lebih paham dan bisa membedakan tayangan. Dari yang fiksi (rekaan) hingga non-fiksi (nyata). Atau tayangan yang fiksi (rekaan) yang disajikan secara non-fiksi (nyata), sehingga ketika menonton masyarakat tidak membawa alur cerita ke dalam kehidupan sehari-hari.

Pemicu Rendahnya Sikap Kritis Masyarakat

Tingkat pendidikan serta kultur permisif masyarakat kita sekarang yang menyebabkan media semakin bertingkah. Media bebas memainkan opini-opini kita melalui tayangan dan program-programnya. Yang parah lagi, kitapun terlarut dengan semua itu dan mengiyakan apa yang diungkapkan oleh media.

Ditambah lagi dengan budaya instan. Masyarakat sekarang cenderung lebih senang dengan segala sesuatu yang hampir tanpa proses. Hal ini disebabkan oleh pola hidup mereka yang menuntut segala sesuatu dengan cepat. Masyarakat tidak mau lagi mengurusi masalah remeh-temeh mengenai media. Mereka hanya tahu bahwa mereka terhibur dan masalah-masalah mereka sedikit terlupakan jika menonton televisi.

Jika ditelusuri lebih jauh, pola yang seperti ini memang sengaja dibentuk oleh media. Media (televisi) memang menginginkan agar kita terhibur, bukan terdidik. Ingat, televisi hanya ingin mencari keuntungan dan kita-lah objek bisnis tersebut. Dengan semakin seringnya kita menonton acara yang tidak bermutu (yang kita merasa terhibur dengannya), maka rating acara tersebut akan terus menanjak. Jika demikian, para pengiklan akan berbondong-bondong menyusup ke acara tersebut. Tidak main-main, keuntungan dari para pengiklan ini bisa menutupi semua biaya produksi film/tayangan tersebut. Sedangkan kita, hanya bisa duduk tertawa-tawa menikmati sajian tak bermutu yang jika tayangan tersebut selesai kita kembali mengingat masalah yang sedang dihadapi. Tak berkesan dan tak berpesan, mungkin kalimat itu yang bisa sedikit menggambarkan realita televisi  saat ini.

Hampir bersamaan dengan itu, anak-anak dibiarkan menonton televisi sendirian tanpa ada orang dewasa yang mendampinginya. Ibu merasa lega bila si anak anteng di depan televisi. Dengan begitu dia bisa melakukan pekerjaan rumah tangganya yang lain. Bahkan TV menjadi pendongeng yang mengantar tidur si anak. Secara tidak langsung si anak akan merekam dongeng yang dia tonton. Maka tidak heran jika ketika dia tumbuh dewasa maka dia akan mewarisi sifat-sifat televisi.

Mengapa hal ini masih tetap dibiarkan? Mengapa masyarakat kita tidak mencoba kembali ke masa sebelum televisi seperti ini? Masa ketika budaya mendongeng masih menjadi senjata ampuh untuk me-nina bobo-kan anak. Dengan dongeng pengantar tidur orang tua bisa menitipkan pesan moral pada si anak. Daya imajinasi anak pun juga berkembang.

Mengapa budaya-budaya lama yang mendidik berangsur meredup? Dimana peran masyarakat? Di mana peran kita semua?

Kejenuhan akan televisi sebaiknya tidak justru membuat masyarakat semakin apatis. Banyak alternatif yang bisa dilakukan masyarakat untuk melawan kultur yang dibentuk televisi. Menghidupkan kembali budaya-budaya lama yang mendidik misalnya, atau menyebarluaskan anti-toxin agar masyarakat kebal terhadap racun-racun televisi yang bertebaran di mana-mana. Para ibu atau ayah bisa mengenalkan kembali permainan masa kecil mereka kepada anak-anak mereka. Misalnya, gobak sodor, petak umpet, jamuran dan lain sebagainya. Permainan-permainan seperti itu akan meningkatkan jiwa sosial anak, karena dibutuhkan lebih dari satu anak untuk memainkannya. Permainan tersebut juga tidak membutuhkan uang yang banyak. Berbeda dengan permainan jaman sekarang yang hanya bisa mendorong perilaku komsumtif.

Penting untuk dipahami, jangan menunggu hingga media (televisi) sadar dan mengubah seluruh isi tayangannya. Tapi bergeraklah lebih cepat untuk menangkal apa-apa yang bakal disajikan oleh media (televisi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: