Setitik Darah Merah Putih

25 May

Tesa Herowana

Sebuah kisah yang terjadi pada pagi hari disebuah taman yang di penuhi oleh pohon pohon yang rindang, sinar matahari menembus sampai permukaan tanah.

Tak berselang beberapa lama,datanglah satu rombongan yang terdiri dari enam anak yang berseragam putih merah. Mereka adalah Amir, seorang anak laki laki berumur 10 tahun yang berbadan kurus, Doni, anak yang periang, Mira, gadis cilik yang imut dan lucu, Anggi, seorang anak perempuan yang cerdas dan banyak omong, Adi sama seperti Anggi,ia seorang anak laki laki yang cerdas tapi ia selalu bertingkah,tidak bisa diam. Dan yang terakhir adalah Jono, seorang anak petani yang kulit tubuhnya berwarna merah muda karena ia kekurangan pigmen kulit. Sehingga ia dijuluki bule gila.

Mereka  berjalan diantara pohon-pohon besar yang rindang, bunga bunga yang bertebaran di sekitar taman, banyak burung yang berhabitat disini, jadi tidak heran kalau tempat ini di penuhi oleh suara kicauan burung. Beberapa saat berjalan, bertemulah mereka dengan sebuah pohon yang bentuknya unik, yaitu pohon beringin yang ukurannya paling besar di antara pohon pohon yang ada di taman tersebut. Di sana telah berdiri seorang bapak bapak yang sepertinya tengah menunggu kedatangan anak anak ini.setibanya merekapun bersalaman dan mencium tangan bapak ini dan duduk melingkar didepannya.

.“Selamat pagi anak anak” Pak Guru berkata dengan semangatnya

Kemudian anak-anak menyahutnya “Selamat pagi Paaaak….”

“Kali ini bapak akan mengajak kalian semua membuat sebuah puisi, puisi yang bertemakan bangsa. Bapak piker sekarang ini banyak anak-anak seumuran kalian yang masih kurang mengerti mengenai menghargai perjuangan para leluhur kita.” Tutur Pak Guru

“ apakah kalian tahu apa tugas kalian sebagai anak bangsa??

Adi mengangkat tangannya dan berkata, “saya tahu Pak!

“Bermain ps Pak!

“Hahaha” seluruh temannya tertawa…

“Huss kamu ini ngaco,mana ada tugas seperti itu…”

“Nah yang lain ada yang tau?” Pak Guru menambahkan.

Anggi pun menjawab, “saya tahu Pak, sebagai penerus bangsa kita seharusnya melanjutkan apa yang telah di perjuangkan oleh para pahlawan pak”

“Yaa benar anggi tapi apa perjuangan yg kamu maksud?”

“Apakah kita berjuang mnggunakan senjata seperti para pahlawan?”

“Bukan Pak,kita berjuang dengan cara belajar dan membangun negara.”

“Hoho jawaban yang bagus Anggi.”

“Tetapi masih ada yang kurang dari jawaban anggi,yaitu selain seperti yang Anggi katakan, kita pun harus selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada bangsa kita ini dengan ikhlas. Dengan ke iklhasan itu, kita dapat melakukan semua dengan sepenuh hati, dan apapun yang dilakukan dengan sepenuh hati biasanya akan menjadi suatu hal yang berharga.”

“Oke anak anak,sekarang saatnya kalian membuat puisi”

“Baik Paak.” Serentak mereka menjawab.

Anak anak mengambil secarik kertas dari tas mereka masing masing. Merekapun mulai berfikir. Tak jauh dari sana, tepatnya di balik semak ternyata ad seorang anak yang mengintip mereka. Secara kebetulan Pak Guru melihat,kemudian mendatanginya dengan membawa secarik kertas dan pensil.

“Nak saya tahu kamu dari tadi melihat kami.” sang anak pun kaget.

“Tidak usah takut,bapak tidak akan memarahimu.”

“Nama saya pak Roni,nama kamu siapa?”

“Ama aya Ait” (nama saya Adit)

Pak guru kaget,tapi kemudian tersenyum

“Ini saya beri kamu kertas dan pensil,kamu juga boleh membuat puisi.” Pak Guru pun meninggalkan adit dan kembali ke tempat anak anak tadi.

Karena ia sangat bersemangat untuk belajar, Adit pun mulai berfikir,berimajinasi. Tiba-tiba ia berada di sebuah ruangan yang semua berwarna putih,tidak ada warna lain selain warna putih di ruangan itu. Tidak ada sudut, tidak ada bayangan, yang ada hanyalah putih.

Tanpa sadar ia membayangkan seluruh perjuangan para pahlawan, ia melihat darah dan kemudian tersadar dari imajinasinya. Adit menancapkan pensil yang di beri oleh Pak Guru ke telunjuknya, keluarlah darah dari telunjuknya yang kemudian ia oleskan ke permukaan kertas.

Tak lama setelah itu Pak Guru memerintahkan anak anak beserta Adit untuk membacakan apa yang mereka tulis pada kertas yang Pak Guru berikan tadi. Di panggilah Adit oleh Pak Guru dan di perintahkan untuk bergabung dengan anak anak lainya membentuk sebuah lingkaran tadi. Satu persatu membacakan pusi yang mereka tulis. Kemudian tibalah pada giliran Adit.

Dengan nada suara yang tegas Pak Guru bertanya kepada Adit,

“Adit, apa yang kamu tulis pada kertas yang saya berikan tadi?”

Adit diam saja, tidak menjawab pertanyaan Pak Guru.

“Adit,apa apa yang kamu tulis pada kertas itu?” Pak Guru bertanya untuk yang ke dua kalinya.

Adit pun kemudian memperlihatkan apa yang ada di kertasnya. Ternyata kertas itu berisi sebuah gambar, yaitu gambar bendera merah putih yang ia gambar dengan darahnya tadi dan kemudian ia pun berkata,”Aya angga enyadi angsa Inonesia”.  Sontak Pak Guru kaget dan bertepuk tangan diikuti oleh ke enam muridnya.

Sebagai penerus bangsa, sudah seharusnya kita bangga terhadap bangsa kita sendiri, lanjutkan perjuangan para pahlawan dengan menjalani hidup kita dengan sebaik mungkin. Bapak harap kalian semua dapat mencontoh sikap adit yang rela mengucurkan darahnya untuk apa yang ia ingin lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: