Sepetak Surga dalam Penjara

25 May

Yoi Agastra

Dari dulu aku tidak pernah percaya apa itu surga maupun neraka, tidak ada yang kutakuti, aku cuma percaya pada diriku sendiri. Yang penting aku senang, tujuanku tercapai, persetan sama kesusahan orang lain atas kelakuanku. Umurku masih 19 tahun, aku sangat suka dengan yang namanya chiu, asoka, topi miring, mau yang murni maupun oplosan sama saja. Bahkan aku sudah mencicipi yang sering disebut orang dengan nama cimeng.

Mungkin barang-barang yang kusukai itulah yang membuatku menjadi dibenci orang, bahkan dikeluarkan dari SMK, walaupun aku tidak tamat sekolah aku bukanlah orang yang semata-mata diam dirumah, menggangur, berbuat tidak karuan. Berhubung ayahku seorang pedagang kelapa dipasar satelit. Karena itulah ayah memberikan aku pekerjaan sebagai tukang mengupas batok kelapa. Sedangkan ibu yang bertugas sebagai penjual kelapa yang sudah diparut.

Aku termasuk orang yang mudah tersinggung dan bertemperamen tinggi, padahal hanya dengan masalah yang sepele aku sering sekali berkelahi dengan orang lain, walaupun orang lain yang salah duluan ayahlah yang meminta maaf terlebih dahulu dan mengganti kerugian serta menanggung semua biaya pengobatan. Ayah juga tidak pernah marah ketika aku berbuat yang tidak seharusnya, seperti ketahuan mencuri, berbuat onar, minum minuman keras, bahkan ketika aku memaksa ibu untuk meminta uang untuk berjudi dengan cara kasar, ayah hanya diam saja. Raut mukanya datar, tidak berekspresi apa-apa. Mengapa?

Saat aku bertanya mengapa ayah selalu berbuat susah payah demi membelaku, padahal aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri, ayah hanya menjawab ”itu karena kau bodoh, yang penting masalah sudah terselesaikan” ah, apa itu? Walapun aku jungkir balik jawaban seperti itu aku tidak pernah mengerti.

Ibu juga sama, selalu menurut kata-kataku walaupun tidak punya uang, ia rela mengutang kepada tetangga untuk memenuhi permintaanku, padahal uang itu hanya buat beli miras dan untuk berjudi. Ia juga selalu tersenyum sambil mengangguk minta maaf ketika para tetangga bicara jelek dibelakangku.

Ada pepatah ”jika engkau bermain dengan penjual minyak wangi maka engkau akan ikut berbau wangi” mungkin pepatah ini cocok buat diriku, semenjak aku sering bergaul dan bermain dengan para preman dipasar. Aku ikut-ikutan menjadi seperti ini, menjadi lebih berani terhadap orang tua, bahkan aku ikut-ikutan menindik serta mentato beberapa bagian tubuhku supaya kelihatan lebih sangar.

****

Pada suatu saat mimpi buruk itu datang, puluhan orang berpakaian dinas lengkap berwarna biru kehitam-hitaman, memakai topi baret serta sepatu pantofel hitam, dengan linggis berada ditangan kanan, ditambah mereka membawa mobil besar berlapis baja berwarna kuning dengan satu tangan pengeruk besar berada sebelah kanan tempat untuk mengemudi, hanya sekali garukan beberapa lapak langsung rata dengan tanah. Berekspresi beringas mereka berusaha membongkar lapak-lapak lain disekitarnya, ”ini mengganggu ketertiban umum” kata salah seorang, yang mungkin pimpinan mereka, orang-orang itu juga memaksa teman-temanku untuk ikut diangkut dalam mobil truk mereka.

Para pedagang berusaha keras menghalau kekuatan penghancur mereka dengan berbagai cara yang ada, namun apa daya kekuatan para pedagang kecil apa lagi hanya rakyat biasa memang tidak sebanding dengan para aparat penegak ketertiban kota yang biasa disebut ”SatPolPP”.

Jeritan serta tangisan para pedagang tidak dihiraukan oleh mereka, suasana memang benar-benar sedang ricuh, saling dorong mendorong, bahkan ada yang saling baku hantam antara pedagang dengan petugas, kata mereka peringatan penggusuran sudah diberitahu seminggu yang lalu, tapi akan pindah kemana? Toh, kerugian juga ditanggung sendiri.

Yang aku tidak mengerti, lapak yang digusur seharusnya berada di sisi kanan dan kiri jalan, mungkin karena sering menyebabkan kemacetan pada jalan utama. Tapi mengapa lapak dalam pasar juga ikutan akan digusur? Ini namanya penggusuran pasar, bukan penggusuran lapak liar. Padahal lapak kami sudah berdiri di pasar sudah turun-temurun sejak mendiang kakek dulu. Ditambah berjualan kelapa juga menjadi tonggak kehidupan dalam keluarga kami.

Jalan pikiranku memang sederhana, tapi saat mereka mendorong ibuku hingga terjerembab ke tanah, pandanganku dan pikiranku menjadi gelap gulita, ”orang itu harus mati” itulah yang terpikirkan dibenakku saat ini, dengan pikiran yang lepas kontrol, aku terburu-buru mengambil sebilah kapak kecil yang biasa aku gunakan untuk mengupas batok kelapa.

”Dengan ini aku akan menghentikan mereka.”

Lalu dengan kecepatan lari yang ku punya serta sekuat tenaga, aku melayangkan kapak kecil milik ku ke petugas yang telah mendorong ibuku tadi, satu kali tebasan dengan sekuat tenaga. ”Crass!” kapak kecilku memutuskan tangan kanan salah satu petugas. Ia melindungi temannya yang sudah aku incar tadi dengan mengorbankan tangan kanannya sendiri.

Ia mengerang kesakitan, berguling-guling diatas tanah sambil memegang tangan nya yang putus berkucuran darah. Beberapa temannya langsung mengevakuasi dia dengan membawanya memakai mobil dinas. Namun memang nasibku, para petugas yang lain menjadi tambah marah dan langsung mengeroyokku, memukuliku dengan apa yang ada ditangan mereka, entah itu dengan pentungan karet, kayu, bahkan linggis menjadi senjata untuk memukuliku. Pukulan, tendangan, rasa sakit, benar-benar membuatku babak belur. Kupikir aku akan mati dan bakalan pergi ke neraka.

Disaat kesadaran mulai menipis, aku mendengar banyak sekali suara teriakan, kebanyakan hujatan kata-kata kotor dari para petugas yang menginjakki tubuhku tapi aku cukup jelas mendengar suara teriakan ayahku untuk menghentikan mereka. Sehabis dari itu aku tidak mendengar dan melihat apa-apa lagi.

****

Rasanya sungguh bahagia ketika aku dapat membuka mataku kembali, ”aku masih hidup!” ucapku perlahan. Tapi saat terbangun aku sudah berada diatas tempat tidur rumah sakit dengan tangan kiri diborgol pada besi ranjang. Tubuhku masih terasa nyeri, terutama dibagian dada dan perut, mungkin banyak tulang rusukku yang retak.

Ketika aku terbangun, terdengar suara haru ibuku. ”kau sudah sadar nak”, rupanya ibu datang menjengukku. ”kau tidak sadarkan diri selama 2 hari” ujar ibu, Sudah selama itukah aku tertidur sehabis dipukuli?Tapi kenapa tanganku harus diborgol? Oh iya, mungkin ini akibat perbuatanku karena aku yang salah duluan. Aku masih dalam pengawasan polisi.

Setelah menjalani satu minggu rawat inap dan satu bulan rawat jalan, sambil dibawah pengawasan polisi. Aku langsung menjalani persidangan. Dan hasilnya aku dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara atas penganiayaan terhadap salah seorang petugas SatPolPP, akh sial sekali badan masih sakit semua ditambah harus masuk ”kandang anjing” pula.

Anehnya saat aku digelandang untuk masuk kedalam mobil polisi, ayah menangis sambil meminta maaf, ”maafkan bapak nak, bapak tidak punya cukup uang untuk meringankan masa tahananmu”, hah? Ini adalah hasil perbuatanku sendiri dan harus kutanggung sendiri. Tidak perlu meminta maaf sambil menangis seperti itu, orang sepertiku mungkin tempatnya memang di kandang anjing.

Aku dimasukkan kedalam sebuah LP campuran, dalam artian tidak peduli umur dan tingkat kejahatan dimasukkan kedalam satu sel, aku mendapat sel nomor B16, selnya cukup sempit hanya berukuran empat kali empat meter, didalam situ hanya terdapat satu orang termasuk aku menjadi dua. Penghuni lamanya langsung menghampiriku, tubuhnya tinggi besar, kepalanya botak, mungkin seluruh tulangku langsung patah jika kena tinju darinya, ditangan kanan dan kirinya penuh dengan luka bakar, dilihat dari mukanya memang mengerikan untuk ukuran manusia, baru kali ini aku benar-benar merasa takut pada seseorang ”aku berada didalam neraka”, kataku dalam hati.

”Tubuhmu masih sakitkan? Tidurlah disana kamu dibagian atas” suaranya serak parau. Mendengar suaranya saja membuatku berkeringat dingin, bergegas aku pergi ketempat tidur bertingkat bagian atas yang hanya beralaskan tikar. Mudah-mudahan aku tidak diapa-apakan oleh dia, harapku dalam hati. Berhubung tubuhku masih sakit ditambah lelahnya perjalanan ke LP, tidur memang cocok buatku sekarang.

Tidak tahu seberapa lama aku terlelap, dia membangunkan ku dengan mengetuk tempat tidurku, ”hei waktunya makan malam, aku duluan ya kau harus menyusul nanti”. Oh sudah waktunya makan malam rupanya, segera aku bergegas keruangan makan yang tidak terlalu jauh dari selku, sesampainya disana aku langsung dipanggil oleh si napi seram, ”woi orang baru, sini jaga kursinya nanti diserobot orang. Biar aku yang ambilkan bagianmu.” Baiklah, aku turuti apa maumu mending aku cari aman saja, ternyata penghuni LP sini banyak juga. Tempat ini ternyata tidak berbeda dengan pasar, ramai juga ribut tetapi lebih bersih, para sipir juga terlihat berbaur bersama para napi. Mereka saling mengobrol dan tertawa, membuatku sedikit heran dari bayanganku selama ini. Walaupun penjagaannya longgar seperti ini aku tidak mempunyai niat untuk kabur.

Tidak beberapa lama aku duduk, dia mendatangiku dengan wajah tersenyum sambil membawa dua piring penuh berisi nasi dengan sayur serta lauk, ”menu hari ini sop sama telur, nih bagianmu”, tanpa basa-basi aku langsung melahap bagianku seperti orang yang telah berpuasa dua hari. ”hei santai saja, waktu makan malam masih banyak tersisa” kata orang itu sambil tertawa kecil.

Ternyata penjara ini tidak terlalu buruk, rasa makanannya juga sama dengan di rumah. Setelah kami berdua makan malam, beberapa rombongan napi bergegas pergi ke mushola ”kita sholat isya berjamaah di mushola dulu yo, mumpung masih ada waktu sedikit. Eh tapi tubuhmu masih ada tatonya, lain kali aja deh” oh iya, tubuhku ada tatonya, tidak sah buat wudhu. Ya sudah, lebih baik aku langsung saja balik ke dalam sel.

Bunyi bel terdengar nyaring pada jam delapan malam, mungkin jam makan malam sudah berakhir. Tapi orang itu belum balik juga, apa yang dia lakukan? Beberapa sipir juga terlihat berjaga-jaga di posisinya masing-masing. Sudah setengah jam berlalu sejak bel berbunyi akhir makan malam, akhirnya dia pulang juga dengan canda tawa sambil dikawal oleh seorang sipir, mereka berdua kelihatannya sudah saling akrab. Seperti teman biasa saja.

”Hei, kau belum tidurkan? Ini aku bawakan beberapa buah rambutan buat pencuci mulut. Sekalian kita ngobrol sebentar.” ah, terima kasih, orang ini ternyata lebih baik dari penampilannya. Tapi kok bisa dia bawa makanan kedalam sel? Bukankah jam makan sudah lewat? Sudahlah buat apa dipikirkan, lebih baik cari aman saja. Selagi makan buah rambutan yang sangat manis ini bersama, kami juga saling sharing masalah bersama. Pelan-pelan aku mulai memahami orang ini, yang ternyata masa lalu dan tindak pidana orang ini jauh lebih kelam dariku. Kedua tangannya yang penuh dengan luka bakar adalah hasil dari mencuci tato dengan asam sulfat. Dipenjara selama 17 tahun karena tidak sengaja menghilangkan nyawa orang lain, dan mendapatkan remisi 2 tahun karena berkelakuan baik selama masa tahanan. Dibandingkan dengan diriku memang tidak ada apa-apanya. Sehabis mengobrol dengan orang ini entah mengapa aku merasa menjadi ingin berubah. Tidak terasa air mata tumpah ke lantai, entah sudah berapa lama aku tidak menangis. Selama satu malam diatas ranjangku aku gunakan hanya untuk menangis dan menyesal. ”Jika engkau ingin berubah, datanglah kekebun penjara besok pagi di sebelah utara penjara.” ujarnya.

Pagi harinya saat waktu bebas, aku pergi ke kebun penjara untuk melihat-lihat, kulihat orang itu sedang berbicara pada pohon rambutan, dia berbicara dengan pohon sambil mencium daunnya seperti pembicaraan pasangan yang baru saja jadian. Dan itu sudah menjadi pemandangan biasa disini. Para napi lain juga, terlihat tersenyum berseri-seri saat bercengkrama dengan tanaman, walaupun tanaman itu hanya ubi jalar.

Karena merasa aneh, aku hampiri orang itu dan menegur apa yang dilakukannya itu adalah hal yang tidak wajar, lalu dia berbalik menegurku dengan tersenyum, ”Jika kau melakukannya, maka kau akan mengerti. Tanaman tidak pernah berbohong, entah apa yang kau perlakukan kepadanya, dia tidak pernah mengeluh walaupun kau memotongnya dia akan terus tumbuh. Tetapi jika engkau rawat selayaknya manusia, dia akan membalas budi baikmu dengan segala apa yang dia punya. Kau lihat saja pohon rambutan ini berbuah sangat lebat melebihi daunnya sendiri, dan rasanya sangat manis bukan? Ini karena aku selalu menyayanginya seperti istriku sendiri walaupun aku belum punya istri. Bergabunglah disini, aku yakin kau akan berubah seperti aku yang dulu dan kau harus menggantikan aku merawat pohon ini karena besok lusa aku akan bebas.”

Ternyata pohon inilah yang mengubah dirinya, lagipula memang benar tanaman disini terlihat sangat sehat karena perawatan dari para napi anggota klub berkebun, mereka menggangap tanaman selayaknya manusia. Dan itu terbukti bagi pemelihara serta yang dipelihara menjadi berbeda dari sebelumnya. Mungkin itu karena cinta, ayah dan ibu tidak pernah marah kepada ku itu karena mereka cinta. Aku tidak pernah memikirkan seperti itu sebelumnya, aku memang anak yang kurang ajar. Kini aku sadar apa yang telah kuperbuat dan aku tak ingin berada disini untuk kedua kalinya.

Tidak terasa aku sudah empat tahun mengelola kebun disini, berkat teman-teman napi yang saling peduli dan mendukung, semakin membuatku belajar tentang kehidupan dari balik jeruji besi ini. Tidak lupa aku mengucapkan banyak terima kasih kepada teman satu selku yang kini telah menghirup udara bebas diluar sana. Semoga kita bertemu kembali di lain waktu dan di tempat yang berbeda tentunya, lihatlah teman, pohon rambutan kita buahnya terlalu lebat. Mungkin bisa membuat kenyang seluruh napi disini.

Lalu ada tiga orang mendatangiku yang kelihatannya napi baru, ”permisi, apakah ini klub berkebun?” tanya salah seorang dari mereka. Dengan penuh senyuman kujawab, ”Ya selamat datang di sepetak surga dalam penjara!”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: