Menapak Jejak Amien Rais, Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta

25 May

Kamil Alfi Arifin

Judul               : Menapak Jejak Amien Rais, Persembahan Seorang Putri  untuk Ayah Tercinta
Penulis            : Hanum Salsabiela Rais
Penerbit         : Esensi Group Erlangga
Tahun              : 2010

Kini sewindu lebih usia reformasi. Tapi melihat persoalan-persoalan bangsa hari ini, rasa-rasanya cita-cita reformasi makin menggelayut kabur dari pandangan kita. Ibarat panggang jauh dari api. Toh, tokoh-tokoh reformasi garda depan tetap dipuja, dikagumi. Meski tak jarang pula dihujat dan dipertanyakan konsistensi perjuangannya.

Pada titik kontradiksi penilaian di atas, gerakan reformasi seperti padang Kurusetra dalam epos Mahabrata. Kurawa mewakili motivasi jahat dan pragmatis-individualistik dari tokoh reformasi, sedang Pandawa mewakili motivasi idealis, keikhlasan dan kejujuran untuk melihat bangsa ini sejahtera. Kira-kira begitu.

Tokoh reformasi dipuja lantaran keberaniannya, loyalitasnya terhadap reformasi dan pengorbanannya. Tapi mereka juga dihujat karena dituduh menumpang kesuksesan secara instan pada kerja-kerja pergerakan yang jauh sebelum gerakan reformasi telah “memasang kuda-kuda” untuk merubah keadaan Indonesia dari ambang kehancuran di bawah rezim diktator. Bagi mereka yang menuduh itu, gerakan reformasi dalam sisi yang lain hanya menguntungkan para elit yang bermuka dua. De facto, kita memang tak bisa menampik tuduhan ini. Tokoh-tokoh reformasi banyak yang bertindak opurtunis!

Oportunisme para tokoh reformasi bisa dilihat dari kentalnya “relasi” Soeharto-Orde Baru, namun terpaksa mematuhi tuntutan hak sipil-politik demokratis. Hal itu tercermin dari kebijakan-kebijakan yang diambil oleh tokoh-tokoh reformasi yang bukan kebetulan setelah reformasi banyak menduduki “post-post” kekuasaan. Ditangan mereka, tindakan-tindakan yang diambil sama sekali tak mencerminkan semangat reformasi melainkan merefleksikan bahwa spirit Orde Baru masih berkelanjutan dan terus hidup dalam bentuknya yang nyaris baru: pertama, masih belum tuntasnya kejahatan HAM dari 1965-1998 sampai Munir, hingga hari ini. Kedua, secara ekonomi masih meneruskan kebijakan pembangunisme Orba serta neoliberalisme yang melahirkan kemiskinan, ketimpangan sosial dan ketergantungan utang masif (Fajroel Rahman, Kompas 16 Mei 2009).

Diantara para tokoh reformasi garda depan yang kita singgung di atas, Amien Rais salah satunya. Bahkan mungkin, ia adalah tokoh reformasi yang paling banyak menenggak hujatan, celaan dan tekanan. Hanum Salsabiela Rais, anak kedua Amien Rais, lewat bukunya Menapak Jejak Amien Rais Persembahan Seorang Putri Untuk Ayah Tercinta merekam dari “jarak dekat” semua kisah-kisah perjuangan Amien Rais sebelum dan sesudah reformasi itu.

Amien Rais Di balik Panggung
Penulis menceritakan kisah-kisah di balik panggung seorang Amien Rais. Terlebih alasan-alasan mengenai segala tindakan dan sikapnya yang mungkin selama ini belum diketahui publik. Atau sudah diketahui publik, tapi mungkin berbeda dalam hal cara penyampaian: ia sebagai tokoh reformasi dan ia sebagai bapak dari seorang anak dalam suatu keluarga. Ini yang menarik. Sebab cara penyampaian setiap alasan seorang bapak atas segala tindakan-tindakannya terhadap anaknya yang sudah cukup dewasa dan kritis, umumnya lebih jujur dan bertanggung jawab serta juga penuh kearifan.

Hal itu yang tercermin dalam buku setebal 284 halaman ini. Hanum begitu ia disapa, telaten menguntai kesan dari serpihan ingatan akan kenangan perjalanan bersama bapaknya terlebih dalam mengawal reformasi. Mulai dari kesan perjuangan selama reformasi: saat keluarganya mendapat tekanan yang luar biasa dari orang suruhan rezim; ketabahan dan ketegaran ibunya dalam men-support perjuangan bapaknya; kesalehan bapaknya yang menjadikannya “berani”, maupun pasca reformasi: saat Amien mendirikan partai PAN dan bertarung dalam pemilu demokratis pertama setelah reformasi, yang juga menuai kontroversi (lihat polemik antara Sukidi dan Hajriyanto B. Tohari di Kompas, yang kemudian dikompilasi dalam buku “Teologi Inklusif Cak Nur”).

Dalam buku ini, Hanum memang tidak hanya merekam kesan atas kenangan bersama bapaknya selama mengawal reformasi, tetapi Hanum juga bercerita soal bagaimana Pak Amien mendidik anak-anaknya; memberikan teladan yang baik; tentang “suka-duka” sebagai anak Amien Rais; bahkan tentang pernikahan dirinya. Meski porsi penceritaan hal ini sangat minimal dibanding cerita selama masa-masa reformasi.

Pengalamannya dalam bidang jurnalistik –ia pernah menjadi reporter TRANS TV–membuat tulisan dalam bukunya mengalir dan ringan, layaknya feature atau bahkan buku harian. Sehingga mudah dicerna oleh semua kalangan. Meski bagi mereka yang sudah membaca buku-buku tentang Amien Rais, seperti misal buku biografi “Amien Rais: Putra Nusantara” karya Irwan Omar, atau buku Amien Rais sendiri, “Melangkah Karena Dipaksa Sejarah” seakan-akan tak mendapat informasi baru terkait Amien Rais, kecuali pengulangan-pengulangan (tautologi) dalam bahasa yang berbeda. Langkah-langkah politik Amien Rais yang terbaru pun (niatnya kembali mengurus Muhammadiyah dan “kecenderungannya” menyokong Drajat Wibowo dalam pemilihan ketua umum PAN periode tahun 2010-2014 – yang juga sempat ramai ditanggapi publik), luput dari perhatian Hanum.

Tapi dalam konteks, semakin mengerasnya kerumitan persoalan-persoalan bangsa yang secara vulgar mencederai cita-cita reformasi belakangan ini, terbitnya buku-buku yang mengupas seputar reformasi beserta tokoh-tokohnya memang dirasa penting dan perlu sebagai alarm (atau meminjam bahasa Hanum sendiri sebagai wake up call) atas lupanya (?) masyarakat Indonesia terlebih elit-elit politik terhadap cita-cita luhur reformasi.

Kelebihan (yang mungkin juga akan menjadi kekurangan) buku ini adalah ditulis oleh anak Amien Rais sendiri. Seperti halnya dalam penelitian, paradigma kualitatif dengan seperangkat metode pengambilan datanya yang menuntut peneliti live in dengan yang diteliti memang akan lebih banyak memberikan informasi lebih mendalam, meski selalu takkan luput dari tuduhan “tak objektif”. Begitu halnya buku ini, yang sudah diwanti-wanti tak objektif sejak draf awal penulisan oleh Professor Hanum sendiri di Vienna University of Economic.
Beberapa Kritik atas Buku ini
Selain itu, beberapa hal yang menjadi kritik buku ini adalah pertama, karena pendekatan penulisan buku ini lebih menyerupai dairy writing. Kita sesekali akan menemukan rupa-rupa narsisme yang mungkin kurang perlu. Kedua, secara teknis penulisan, masih banyak ditemukan salah ketik termasuk besar kecilnya huruf di sana-sini. Ketiga, karena secara keseluruhan penulisnya lebih banyak memberikan porsi penceritaan terkait kesan-kesan atas kenangan bersama bapaknya selama mengawal reformasi, judul buku ini dirasa kurang tepat. Jejak Amien Rais tentu sangat luas dan panjang, akan terkesan tereduksi jika membaca keseluruhan isi dan judul buku. Tapi apapun itu, buku ini layak untuk diapresiasi. Selamat membaca

One Response to “Menapak Jejak Amien Rais, Persembahan Seorang Putri untuk Ayah Tercinta”

  1. moh. ghufrron cholid 01/10/2010 at 09:36 #

    terus berkarya sahabatku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: