Malam Kanaya

25 May

Kamil Alfi Arifin

Usianya sudah tak muda lagi. Bulan April ini genap sudah ia berusia 43 tahun.  Usia yang seharusnya cukup menjadikan setiap orang matang dan bijaksana. Tapi ia berbeda. Hari-harinya masih dihiasi oleh keresahan yang tak habis-habis, kesunyian, bahkan sejumlah kekecewaan abstrak. Seperti gejala anak muda yang gamang saat berjumpalitan mencari jati diri…

Kanaya namanya. Kanaya Bening Aprilia. Meski mungkin lebih tepat dipanggil ibu Kanaya. Ia sudah berkepala tiga. Sudah tak seperti dua puluhan tahun silam, saat menjadi primadona setiap lelaki di desanya. Meski kini pun ia tetap saja menawan dengan keriput-keriput tipis di tepi-tepi wajahnya. Tapi kemenawanannya sudah tak sesempurna dulu. Ia persis bulan sabit yang separoh memancarkan cahaya, separoh lagi memendarkan duka dan kekelaman yang gelap.

***

Seperti malam-malam lain, malam ini ia habiskan waktunya melamun dan menulis. Semenjak menikah, ia memang kerap melakoni dua kebiasaan itu. Melamun dan menulis baginya adalah dua anak tangga yang mampu melarikan dirinya melompat dari kenyataan yang dihadapinya, dari kesunyian yang menderanya. Apalagi setelah ketiga anaknya memilih melanjutkan studinya ke luar kota.

Maklum, pernikahannya yang tak lagi seumur jagung bukan buah dari cinta. Melainkan kesepakatan orangtua yang diterimanya dengan airmata dan kerelaan yang dipaksakan. Buktinya sampai hari ini, ia tak jua merasakan kebahagiaan sejati yang dicarinya. Rumah dan segala  fasilitas mewah, status sosial yang cukup membanggakan sebagai istri            jenderal angkatan udara, sama sekali tak menumbuhkan benih cinta dan bahagia di hatinya. Apalagi ia kerap ditinggal-tinggal suaminya bertugas. Lengkap sudah seolah-olah kesunyiannya, kesepiannya, penderitaannya. Semua yang terjadi di matanya tampak sebagai rekayasa yang semu. Ia tak mampu melihat dunia sebagai apa adanya. Sebab itu kini ia milik sendu. Milik keabadian luka yang ia harapkan retak.

“Hidup hanya seperti perangkap jaring laba-laba. Dan aku adalah renik yang terperangkap itu,” tulisnya di lembaran kesekian catatan hariannya.

“Saat kita terperangkap, apa yang mampu dilakukan selain menyentak-nyentak dan berontak? Tapi sayang, hal ini pun malah dianggap tak pantas untuk seorang perempuan. Dunia yang aneh,” lanjutnya penuh kesal dan marah.

Begitu cara ia menghabiskan waktunya. Setiap malam. Selama bertahun-tahun. Menyelami kesunyian sepenuh-penuhnya, ke dasar-dasarnya. Meski mungkin malam ini sedikit berbeda dari malam-malam di masa lalunya. Kesunyiannya kini  memang tidak lebih mencekam dibanding dulu. Kebiasaan menulisnya menghantarkannya menjadi penulis ternama, yang sedikit memberikan semacam kehangatan bagi jiwanya yang koyak moyak. Itu yang menjadi alasan mengapa kesunyiannya kini dirasakan tak lebih mencekam dibanding riuh kepentingan yang pelan-pelan datang mendekati kesuksesannya. Tak lama ia merasakan jengah dengan dirinya yang sudah populer dan menjadi milik publik.

“Keberhasilan buku pertama barangkali malah merusak dan menghancurkan kehidupan pengarangnya”. Setidaknya seperti ini yang ingin ia katakan pada semua orang.

Mengikuti kesuksesan bukunya, ia merasa diserang oleh media, oleh sentimen banyak orang, termasuk sentimen pembaca. Semua ini menyerangnya dalam arti mengganggu kedamaian dan kedalaman jiwanya, pribadinya, sehingga ia merasa perlu melindungi diri, tetap bertahan dalam keheningan dan kedamaian hidup[i].

***

Tapi di tengah-tengah kejengahannya, ada hal lain yang melambungkannya. Seiring keberhasilannya menjadi penulis itu, membuat daftar koleganya bertambah. Setiap hari pun ia pasti memiliki jadwal untuk launching, bedah buku dan acara ini.. itu…Kalau tidak keluar rumah, selalu ada saja orang yang mengunjunginya di rumahnya. Dalam pertemuan-pertemuan itulah, ia bertemu dengan seorang laki-laki bujang yang baru saja menyelesaikan sarjana Sastranya. Seorang lelaki muda yang mampu melupakan semua masa lalunya dan membuatnya melambung ke angkasa asmara.

Ardi, lelaki itu. Awalnya ia hanya teman baru dalam buku pertemanan ibu Kanaya. Bahkan, Kanaya sendiri memanggilnya Nak..suatu pertanda bahwa usia mereka tak lagi satu tarikan nafas. Ardi dan Kanaya adalah dua generasi yang jauh. Bahkan sangat jauh. Tapi lama-lama, pertemanan mereka menjadi semakin dekat. Mereka tampak cocok satu sama lain. Mereka kerap berbicara dan berdiskusi tentang semua hal…mulai dari filsafat, politik, pendidikan hingga hal-hal yang berbau kearifan lokal.

Kedekatan mereka membuat mereka paham betul kepribadian satu sama lain. Kanaya yang kesepian dan Ardi yang ternyata tak setangguh penampilan luarnya. Membuat keduanya merasakan kenyamanan dan keterhubungan dari pertemanannya. Ardi ternyata adalah seorang anak muda yang besar di tengah-tengah keluarga broken-home. Keluasan pengetahuan, kecerdasan, dan penampilannya yang biasa-biasa saja dimata Kanaya seperti awan yang padat dan kokoh, tapi sebenarnya rapuh[ii]. Rapuh, karena sebenarnya ia haus kasih sayang. Namun begitulah Kanaya dan Ardi saling mengisi. Saling berbagi.

Tapi mereka sadar diri. Lebih-lebih Kanaya. Sekalipun mereka percaya cinta tak mengenal batas usia. Bagaimana pun mereka tak hidup sendirian di dunia ini.

“Bagaimana dengan keluarga Ardi?” pertanyaan ini selalu menghantui Kanaya.

Karena itu, Kanaya maupun Ardi sepintar mungkin menyembunyikan perasaan mereka. Meski disadari, ada sebuah kehangatan yang menari-nari di tengah kedekatan mereka seperti Tarian Darwis.

Ardi tahu betul perasaannya pada ibu Kanaya. Entah perasaan kagum atau sekedar ketergantungannya untuk mendapatkan kasih dan perhatian yang kerap diberikan Kanaya padanya. Setiap kali Ardi ingin menyatakan kejujuran hatinya. Ia kerap ragu. Khawatir juga sedikit malu. Malu dan ragu jangan-jangan Kanaya hanya sekedar menganggapnya sekedar teman dekat atau mungkin lebih banter sebagai anak.

“Aku tahu, cinta tak cukup dipahami seberapapun besarnya makna yang ada. Cinta perlu berbicara,” kata Ardi bicara pada dirinya sendiri serius. “Tapi perasaan ini tak lazim…ibu Kanaya pasti akan menertawakanku, ia tak akan percaya,” lanjut Ardi dengan sedikit tertawa sinis.

Hubungan mereka memang tak lazim. Zaman kita memang bukan zaman Siti Nurbaya lagi. Sekarang semua orang punya kebebasan dan keleluasaan memilih pasangannya tanpa paksaan dari orangtua. Tapi tetap saja, setiap periode zaman punya kelaziman-kelaziman yang bila dilanggar akan membuat kita seperti burung onta yang terbang ke lembah mati.

Sadar ada jurang lebar yang menganga di depan mereka. Ardi dan Kanaya memilih menjadi manusia fatalis dalam urusan perasaan mereka. Meski mereka tetap tak bisa membohongi diri mereka sendiri. Tak ada dusta dalam hati.

***

Malam semakin tua, tapi Kanaya masih menulis cacatan harian di notebooknya :

“…malam-malam sunyi milik wanita adalah rindu yang gusar, sebuah rindu yang tak mampu menegaskan kebimbangannya sendiri. Di dalamnya, ia keras bergulat mencari pangkalnya: ada gelisah yang mencerai-berai, ada airmata yang tertahan, ada hati yang berdegup kencang, ada apapun tentang misteri itu…hingga ia kadang menjadi semacam kengerian yang tak pernah terjelaskan.

Kehadiranmu menambah kegusaran yang tak selesai-selesai dalam diriku. Mendadak, seolah-olah kau pun menjadi sebentuk kesadaran baru yang menyemesta dalam pikiranku. Mengalirkan pertanyaan-pertanyaan yang kerap membuatku sendiri takut untuk menjawabnya. Menghadirkan harapan-harapan lama yang dulu sempat mengering karena keegoan masalalu

Yang jelas, saat ini aku hanya bisa berharap, jika kau memang sungguh-sungguh, aku akan membawamu ke dalam keutuhan waktu. Waktu adalah rumah kehidupan, kata Heidegger. Dan di dalamnya kuingin kita memilih ‘satu kamar kecil kesetiaan’ yang akan kita jadikan tempat dimana kita bersama-sama akan memahami kerumitan-kerumitan cinta. Sebab cinta butuh diperjuangkan.

Selebihnya, aku hanya punya ketakutan dan kecemasan yang besar untuk memilikimu.

Atau inikah takdirku: akulah kesunyian itu…”

***

Sementara di ujung ruang yang jauh, kedua anaknya hangat dalam dekapan laki-laki diantara lampu-lampu dan musik diskotik yang gemuruh. Suaminya pun juga lelap dalam selimut tebal bahkan sangat tebal dengan kehangatan tubuh perempuan lain.


[i] Kalimat ini adalah pernyataan Susanna Tamaro dalam suatu wawancara. Dikutip dari pengantar A. Sudiarja untuk novel “Va Dove Ti Porta Il Cuore” karya Susanna Tamaro

[ii] Disadur dari cerpen “Lilin-lilin Merah” Dewi Lestari

One Response to “Malam Kanaya”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Malam Kanaya « efferblog - 10/08/2012

    […] Mengikuti kesuksesan bukunya, ia merasa diserang oleh media, oleh  sentimen banyak orang, termasuk sentimen pembaca. Semua ini menyerangnya  dalam arti mengganggu kedamaian dan kedalaman jiwanya, pribadinya,  sehingga ia merasa perlu melindungi diri, tetap bertahan dalam  keheningan dan kedamaian hidup[i]. […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: