Kisah di Balik Penjara

25 May

M. Rizal Paripurna

Apa yang kau bayangkan tentang penjara? Pengap? Sempit? Sumpek? Tak bebas ? Mengungkung jiwa ? benar begini? Sesempit itukah perspektifmu tentang penjara?

Akan tetapi pandanganmu bisa jadi benar. Penjara memang seperti itu. Namun harap dicatat, penjara yang demikian hanya diperuntukkan oleh mereka yang rendah nalar seninya. Mereka ini paling-paling preman kampung, pencopet, pemerkosa, dan sejenisnya. Nah, kalau aku?

Maaf-maaf saja, kawan. Aku berbeda dengan orang-orang rendah seperti itu meskipun kini aku satu sel dengan mereka. Aku adalah seniman kelas tinggi nan hebat. Dan seorang seniman hebat akan mengubah kepengapan, kesempitan, kesumpekan, dan ketidakbebasan, menjadi lapang, bebas, dan penuh keasyikan. Itulah aku, si seniman ulung. Tak bosan-bosannya aku tersenyum bangga mengenang-ngenangkan prestasi-prestasiku yang bikin negara merugi miliaran rupiah!

Apakah aku koruptor? Oh bukan. Aku adalah otak di balik semua aksi korup di negeri ini. Akulah yang merancang sebuah desain kriminal tercanggih untuk mereka. Tak hanya tindak korupsi, aku pun melayani mereka yang menginginkan kesuksesan dengan menumbalkan nyawa orang lain terbang ke surgaloka. Uang yang mereka berikan padaku itu cuma imbalan atas cemerlangnya hasil karyaku. Lihatlah di berbagai media, tiba-tiba uang di laci negara lenyap entah ke mana. Orang-orang penting, jaksa, hakim, pengacara, tokoh ulama, tiba-tiba hilang dari peredaran. Sementara pelakunya licin minta ampun seperti belut. Polisi pusing tujuh keliling. Presiden saja pernah merasakan akibat ulahku itu. Ia  langsung dituduh dalang di balik raibnya semua orang dan uang-uang itu. Terpaksa ia turun tahta dengan muka masam ditekuk.

Presiden tak terima dihinakan begitu saja. Melalui jaringan intelijennya, ia berhasil melacak keberadaanku dan meminta bantuanku untuk melenyapkan musuh-musuh yang telah menumbangkannya dari tahta kepresidenan.

Baiklah, aku garap saja permintaannya. Dengan sangat rapi dan teramat rahasia, maka kudesain sebuah konspirasi maha-canggih untuk bapak presiden terhormat kita. “Satu kasus saja, gulingkan mereka!”, kata presiden lewat juru bicaranya. Dingin.

Kau lihat ledakan-ledakan di hotel-hotel mewah di ibukota? Itu bukan teroris biasa seperti pemberitaan media. Wartawan katanya orang yang paling tahu sebelum publik tahu. Bagiku, wartawan media hanya sok tahu. Mereka salah total dengan kesombongannya sendiri. Akhirnya, informasi yang disiarkan salah kaprah. Masyarakat tetap bingung dengan sejuta tanya Aku pun tertawa-tawa sambil duduk di kursi menyaksikan karya otakku ditayangkan berulang-ulang tanpa satupun nilai kebenarannya. Malah, media banyak membantuku untuk meruncingkan tuduhan pada para pengkhianat presiden. Nah, kau lihat lagi? Ia naik tahta dengan mulus untuk kedua kalinya. Ini juga sudah masuk kalkulasi langkah-langkah kudaku.

Sayang sekali aku dikhianati. Bapak presiden yang teduh wajahnya itu menikamku dari belakang. Aku akhirnya dipenjara karena dianggap terlalu membahayakan. Menurutnya, kalau aku bisa menjatuhkan sekutu, tentu suatu saat aku bisa menjatuhkannya pula. Sungguh sial. Bantuanku dibalasnya dengan terali besi. Meski sel tempatku mendekam sangat istimewa dan jauh dari kesan penjara, tetap saja aku merasa dikecewakan. Terlebih lagi, pemenjaraanku melewati prosedur hukum yang berlaku. Aku tak bisa lagi berkelit saat sepasukan intelijen masuk dan menggelandangku langsung ke tempat terkutuk ini.

Ahahaha, aku tertawa lagi. Sebagai pengalaman hidup, cukup mengasyikkan bukan? Hidup itu haruslah penuh tantangan. Kukatakan itu berulangkali pada para tahanan lainnya. Mereka langsung tunduk menghormat-hormat padaku layaknya raja. Aku begitu jumawa. Namaku dikenal meluas di tempat ini. Termasuk kepala sipir dan “anjing-anjing penjaganya”.

Kawan, mungkin kau bertanya-tanya. Kira-kira bagaimanakah cara-cara kerjaku? Sederhana saja. Kalau kau bisa bermain catur, poker, dan mampu menata kartu domino, kujamin kau pun mampu melakukan hal yang sama. Tinggal pion mana yang kau korbankan, satu-dua-tiga langkah pergerakan yang tepat, maka efeknya akan seperti jatuhnya deret domino. Namun, jangan lupakan satu hal: kau harus memiliki sederet kartu As di samping berjaga-jaga terhadap kemungkinan lawanmu memiliki lima kartu bergambar raja. Ini perumpamaan saja, detailnya pelajarilah sendiri dengan gaya dan kapasitas otakmu.

Selain itu, kau pun harus banyak-banyak baca buku. Ini sangat berguna untuk makin mengasah nalar pikirmu, dari yang setajam pena menjadi setajam samurai. Ah, yang seperti ini takkan kau dapatkan di bangku-bangku sekolah atau perguruan tinggi, kawanku. Ini adalah Ilmu lakon, kata orang-orang Jawa.

Belakangan ini, aku sudah agak lama aku tak lagi ber-akrobat ria dengan itu semua. Terutama sejak dipenjara. Kalau sampai aktif lagi, bisa berbahaya. Untuk itulah, mereka berusaha menumpulkan otakku dengan membawakan apapun yang kuinginkan. Komputer, AC, buku-buku bacaan, makanan enak, sampai wanita! Sial, kataku. Tetapi aku tak bisa kau rayu, bapak-bapak!. Daripada tak ada kerjaan lain, kupakai saja semua fasilitas itu karena mumpung bisa dinikmati. Dan hari ini, aku sedang menunggu kedatangan wanitaku.

Dari sekian wanita yang disodorkan pihak penjara padaku, aku hanya menyukai satu orang saja. Namanya Ann. Ia cantik, natural, dan begitu luwes meladeni segala keperluanku. Terutama yang kusukai dari Ann adalah kapasitas otaknya. Meski bukan lulusan manapun, berdiskusi apapun dengannya selalu mendapatkan respon. Tak seperti wanita-wanita cantik lainnya yang hanya bermodal daging terbungkus kulit indah tapi tidak pandai. Ah, bisa-bisa turunlah tensi gairahku.

Pendek kata, Ann adalah wanita yang sesuai dengan parameter hasratku. Entah di mana kepala sipir menemukan wanita seperti Ann. Yang jelas, sedikit demi sedikit aku mulai melupakan masa laluku dan kini berpaling padanya, si cantik penggoda imanku.

*****************

Pintu selku berderak perlahan. Nah, itu dia datang juga. Ann tersenyum menyapaku. Ia nampak makin cantik hari ini dengan balutan busana blus dan rok panjang.

“halo, mas. Bagaimana kabarmu hari ini? Oh ya, aku bawakan oleh-oleh spesial untukmu. Satu bungkus nasi padang lengkap dengan ayam bakar. Kau pasti suka”

“halo, Ann. Terima kasih. Letakkan saja di meja. Ngomong-ngomong aku baik-baik saja seperti yang kau lihat.”

“apakah kita langsung masuk ke permainanmu, atau kau ingin aku yang membuka permainannya, atau apa?”ia mengerling nakal padaku. Benar seperti yang kubilang. Ia pandai menciptakan suasana.

“ehm, sepertinya opsi ke tiga lebih menarik minatku.. Bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu sebelum bermain-main? Apakah kau tertarik?”

“boleh juga. Ngobrol denganmu tidak membosankan. Tak seperti pacar-pacarku yang lain.” selorohnya enteng. Agak cemburu rasanya saat ia mengatakan ‘pacar-pacarku’. Kutahan perasaan itu. Toh, mungkin ia juga menganggapku tak lebih dari sekedar teman kencan saja yang besok sudah bisa dilupakan. “duduklah di situ” ia menyeret sebuah kursi di depanku dan diam menunggu, kira-kira aku akan mengobrol apa.

“apa pandanganmu tentang penjara?”

Sejenak Ann menatap kedua mataku lurus-lurus tak berkedip. Seolah meyakinkan dirinya kalau aku sedang tidak mabuk atau terkena guna-guna. Ia diam cukup lama.

“Hei, aku ini sedang bertanya. Tolong jawablah seperti biasa. jangan melamun begitu.” Lalu kutambahkan, “…dan aku sedang tidak mabuk atau ngelindur. Aku bisa membaca tatapanmu.”

“hahaha…kau ini lucu, mas. Kau tanya apa pandanganku tentang penjara. Jelas saja aku bingung. Aku tak pernah merasakan penjara. Justru seharusnya akulah yang bertanya, apa pandanganmu tentang penjara? Bukankah sungguh salah kalau aku menjawab? Yang paling benar, akulah yang bertanya, kau menjawab. Lagipula pengalamanmu jauh lebih banyak dan luas daripada aku. Kau pernah cerita, orang-orang jajaran nomor satu itu saja kau tipu. Apalagi orang sepertiku? Ya kan?” Panjang lebar Ann menimpali pertanyaanku. Aku tersenyum cukup puas.

“bagaimana dengan cinta? percayakah engkau cinta bisa terlahir dari penjara?”

“hahaha…kau bilang cinta, mas? Aku termasuk salah satu orang yang tak percaya keberadaan cinta. kalau kau bertanya tentang hasrat, aku jawab, aku percaya. Cinta tak ada. Yang ada hanyalah debaran hasrat-hasrat di dada. Itu saja.”ia menertawakanku. Aku pun bertanya lagi.

“apa kau masih punya banyak waktu lama di sini?”

“tentu saja, mas. Waktuku akan selalu ada untukmu. Dan mungkin inilah perjumpaan kita yang terakhir. Aku akan memanfaatkan sebaik-baiknya dengan belajar banyak hal darimu.”

“adakah kau menginginkan ilmu yang baru?”kugoda ia.

“kenapa tidak? Ajari aku, mas. Ajari aku semua yang kau tahu. Biarkan aku menjadi muridmu hari ini” sembari menghampiriku, Ann langsung menerkam dengan sejuta gelora. Aku tak kuasa mengelak. Aku pasrah dalam pusaran badainya. Sembari menelesuri keindahan dan kecantikan Ann, aku pun pasrah menanti sesuatu yang sudah lama kunanti. Terpejam dalam keabadian. Sesaat kulihat tuhan menertawakanku di atas sana. Huh…

*****************

“Mas?”

“ya, Ann?”

“tahukah Mas kalau besok Mas akan di…”

“ssstt…aku tak ingin membahasnya. Aku sudah tahu dan memprediksikan. Mereka, cepat atau lambat pasti akan membungkamku selamanya. Aku tak risau dengan itu. Malah aku bersyukur. Dengan keadaan begini, aku tahu jelas di mana letak kelemahanku.”

“kau tak punya kelemahan, mas. Bukankah rencana-rencanamu selalu berhasil kalau tidak ditikam sekutu sendiri?”

Kulihat Ann yang tengah berbaring di sisiku. Dalam hati aku bergumam. Ada, ann. Ada satu kelemahanku. Yaitu, aku tak mampu merancang, mendesain, merekayasa, atau apapun namanya, untuk menjeratmu lalu jatuh cinta padaku. Justru akulah yang termakan umpanmu. Dengan lugunya, aku menuturkan padamu segenap kisah-kisahku, trik-trik dalam intrik-intrik yang biasa kumainkan, jurus tipu-tipu hingga seni manipulasi dengan tingkatnya yang tertinggi. Semuanya kuceritakan padamu. Tanpa kebohongan dan penuh kejujuran.

“maka, aku tak punya kawan berbagi lagi, Mas…esok pagi, usailah sudah pelajaran yang kau berikan padaku.”

“tak perlu risau, Ann…aku akan selalu ada dalam tiap nafasmu. Kutitipkan anak jiwaku dalam ragamu. Rawatlah ia baik-baik. Semoga ia tak terjerumus sepertiku ini.” Terakhir, kusibakkan rambutnya yang indah. Kukecup habis seluruh madu pada tubuh indah Ann. Lagi-lagi aku melihat tuhan tertawa. Kali ini lebih kencang. Puas-puaskanlah hatimu, hai Tuhan…aku akan datang esok pagi menemuimu. Hati-hatilah tuhan. Posisi kita sama-sama terpenjara. Aku di sini, dan kau di sana. Aku bersumpah, kan kubuat perhitungan denganmu. Dan marilah kita bertanding, konspirasi siapa yang lebih hebat, kau atau aku?

Kenapa kupilih engkau, tuhan? Ya, sebab di dunia manusia tak ada lagi lawan dengan nalar seni tingkat tinggi yang mampu bermain secantik dan se-elegan dirimu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: