Jadi Kurir

25 May

Tommy Satriadi Nur Arifin Erawan

“Paket biasa aja ada nggak, Ri?” tanyanya dengan agak tergesa-gesa.

“Wah, gak ada nih bang, belum ada kabar dari lagi dari B.B.” jawabku.

Namaku Ari, kini menginjak 22 tahun. Kini aku tinggal di sebuah ibukota yang sebenarnya karena urusan pendidikan, apalagi kalau bukan kuliah. Aku mengambil jurusan Ekonomi Pembangunan di sebuah universitas swasta yang terbilang cukup elit.

Mungkin di antara kalian ada yang tahu apa yang sedang aku lakukan. Hanya ini yang dapat aku kerjakan dalam mencari uang, sebagai kurir obat-obatan terlarang alias narkoba. Pekerjaan ini sudah aku lakukan hampir 3 tahun. Namun asal kalian tahu saja, aku sendiri bukan seorang junkies. Hidupku sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit, kecuali cacar air ketika SD dulu.

Orang yang membeli ini namanya Jaja. tapi kerap disapa dengan ‘Jack’, entah darimana panggilannya, mungkin hanya untuk sebatas keren saja. Dia merupakan pecandu obat-obatan semenjak SMA dulu, kalau dihitung-hitung ia menjadi pecandu sudah 5 tahun. Pekerjaannya sih jadi tukang parkir dan ‘satpam’ pasar.

Ia membeli obat-obatan itu dengan rutin, yaitu seminggu sekali. Sekali beli ia bisa menghabiskan lima ratus ribu lebih hanya untuk setengah kilogram Ganja dan Sabu. Terkadang ia beli dua minggu, itu berarti ia akan mengadakan pesta miras dan obat-obatan dengan teman-temannya, dan biasanya tidak terdengar kabar hingga sebulan.

Ah, B.B yang aku sebut tadi, itu merupakan sapaan untuk Bos Besar atau bahasa inggrisnya Big Boss, walaupun nama sebenarnya adalah Gagil. Ia menguasai jalur distribusi narkoba seantero kota. Yah, tetap saja menurutku ia masih golongan kecil dari budak obat dan uang. Jangan tanya yang golongan besar jika kau tak mau berurusan dengan perkumpulan mafia obat-obatan ini, setahuku sudah menguasai wilayah antar Negara.

Bang Jack sudah sejak siang tadi meneleponku untuk membeli narkoba ini. Namun, ia harus tetap mengetahui jadwal kerja kurir sepertiku ini, yaitu sepuluh menit lewat tengah malam. Tidak jarang juga ia memaksaku untuk menjual lebih cepat dari jadwal, namun jika demikian aku yang kena marah oleh B.B.

Tempatnya jual-beli sudah biasa, yaitu depan toko kelontong milik Yassir yang sudah tutup jam 9 malam tadi. Toko itu terletak di pinggir gang selebar 5 meter, dan dekat dengan jalan raya. Jika kau mau berjalan-jalan sebentar, coba ikuti gang tersebut kira-kira lima ratus meter dan kau akan lihat lokalisasi PSK yang dibalut suasana penginapan murah dan remang-remang.

Kini keluarlah dari gang tersebut menuju jalan raya ke arah utara hingga seratus meter dan akan kau temui pasar tempat bang Jack bekerja. Kira-kira ada sepuluh orang lainnya yang berprofesi sama dengan bang Jack, dan bisa ditebak jika mereka semua pecandu juga.

“Okelah Ri, yang ada aja apa?” tanyanya lagi.

Aku mengeluarkan semua yang aku punya untuk dijual, namun sepertinya mengecewakan bang Jack. Yang aku punya bahkan tidak bisa disebut barang dagangan, terlihat seperti obat-obatan pribadi saja.

“Cuma ini bang, maklumlah tanggal 29 gini, mana ada stok barang, lagian bang Jack juga jarang beli barang tanggal segini, biasanya alasan puasa lah, tobat lah, ini itu,” ujarku setengah bercanda sambil nyengir.

Bang Jack tidak meladeni ucapanku. Ia malah langsung mengeluarkan uang seratus lima puluh ribu dan memberikannya padaku. Sebagai gantinya ia mengambil semua obat-obatan yang aku bawa. “Ada kembaliannya kau ambil aja, makasih ya, inget ya ri, aku ambil waktu biasa.”

Aku mengangguk sambil tersenyum lebar dan melihatnya menghilang di balik pintu lokalisasi tersebut, tak berapa lama disambut oleh jeritan kecil wanita dan tawa berat dari pria. Aku menghitung uang yang aku terima dibandingkan dengan narkoba yang aku bawa tadi.

“Yah, bang Jack, jangankan kembalian, ini aja kurang.” Gumamku lirih.

***

Sontak aku terbangun karena dering handphoneku. Berusaha bangun dan sadar, kuraih telepon itu.

“Ri, persediaan kamu dah habis belum?” Tanya seseorang dengan suara serak.

Ah, ini yang namanya Gagil alias B.B. Hanya akhir bulan dan pertengahan bulan saja ia meneleponku dan sebatas mengecek persediaan barang di kurir-kurirnya.

Walaupun aku bilang sebelumnya Gagil hanyalah kelompok kecil dari budak uang dan obat-obatan, ia mengetuai 20 kurir termasuk diriku yang bertugas mengantarkan pesanan kepada pelanggan. Bisa juga ditebak sebagian besar kurir tesebut juga merupakan pecandu obat-obatan, kecuali aku dan seorang temanku bernama Ardi, atau lebih tepatnya almarhum Ardi. Ia meninggal karena melarikan diri dari polisi yang akan menangkapnya saat ia melakukan jual-beli dengan pelanggannya. Polisi menembakkan peluru timah dua kali di kakinya dan ia meninggal karena kehabisan darah.

Kini dengan jumlah kurir hanya 19 orang, Gagil tetap berani menjualkan obat-obatan itu. Entah apa yang membuatnya berani demikian. Mungkin sekali lagi, karena ia hanyalah budak dari uang dan obat-obatan.

Kira-kira membutuhkan 7 detik untuk bangun sepenuhnya dan menjawab pertanyaan dari Gagil. Aku jelaskan semuanya termasuk pertemuanku dengan bang Jack tadi malam. “Ah, sial, pagi-pagi sudah ditanya stok barang, mau jadi apa hari ini bagiku…..” pikirku.

“Oke sip, lagi-lagi bulan ini kamu berhasil menjualnya semua, padahal bulan-bulan lalu aku khawatir gara-gara banyak pelanggan kita ditangkap oleh para polisi keparat itu. Ok nanti aku kabari lagi soal pengiriman barang lain.”

Telepon diputus dan aku kembali mengantuk, namun sial, mata tidak mampu menutup, pikiran tidak mampu melepaskan bebannya. Tidak ada pilihan lain, aku melangkah ke kamar mandi.

Aku hidup dalam sebuah rumah peninggalan orang tuaku dulu. Kini mereka pindah ke keluarga besar dari ayahku di desa. Alasan mereka karena tidak mau menggangguku dalam kuliah dan biaya hidup yang semakin sulit. Dan mereka memilih untuk mengalah pindah ke desa agar biaya hidup mampu dikurangi.

Alasanku bisa ikut dalam dunia ini adalah seperti yang kalian bisa tebak, masalah ekonomi. Ayahku yang hanya pensiunan guru SD dan ibuku yang hanya ibu rumah tangga begitu sulit untuk bertahan dalam kehidupan ini. Dalam hati ku dan mungkin hati mereka, merasa bersyukur bahwa aku anak tunggal dalam keluarga ini. Setidaknya beban mereka tidak banyak jika anak mereka hanya satu.

Aku sendiri kenal dengan obat-obatan bukan karena pergaulanku yang buruk, namun lebih karena yang aku sebut dengan ‘waktu kosong’, istilahku saja untuk menyebut antara takdir dan kesialan.

Kira-kira dua setengah tahun yang lalu, ketika itu hari hujan lebat. Aku setengah berlari pulang dari sekolah. Hingga kulihat beberapa orang dewasa yang memukuli seorang dewasa lainnya hingga babak belur. Darah menetes dari pelipis dahi, mulut, dan hidung. Bahkan hampir seluruh tubuhnya berwarna biru lebam.

Hingga orang tersebut pingsan, dan kemudian ditinggal sendirian, tergeletak dalam gang kecil pinggir jalan. Kala itu hujan lebat dan daerah tersebut masih sepi oleh penduduk. Panggung yang tepat melakukan pengeroyokan. Tidak terasa takut sedikitpun, aku memilih untuk mendekati orang tersebut.

Aku tidak kenal orang ini. Ketika kusentuh tubuhnya, ia sadar sedikit dan menyerahkan beberapa bungkus kecil yang berisi serbuk putih seperti gula halus. Ia menggumamkan sesuatu yang tak bisa kudengar karena hujan sangat lebat dan kemudian ia pingsan kembali.

Sialnya salah seorang yang memukuli orang ini sadar bahwa ada orang lain yang berada di dekat peristiwa tersebut, siapa lagi jika bukan diriku sendiri. Pikiran buruk mulai menghantuiku dan ternyata aku tidak diapa-apakan. Salah satu dari mereka menyuruhku ikut mereka. Aku menurut saja, dan berfikir aku masih selamat.

“Hai nak, apa yang kamu lihat tadi?” Tanya seseorang yang lain dalam sebuah rumah tempat aku disuruh mengikuti para pelaku pemukulan tadi.

“Hanya kakak-kakak ini saja yang memukuli orang tadi, tidak lebih koq,” Jawabku seadanya sambil mengamati ruangan sekitar. “Tapi ia memberiku ini.” Lanjutku sambil menjulurkan tangan.

Hampir seluruh orang di ruangan tersebut kaget. Namun, orang yang menanyaiku tersenyum dan mengatakan, “anak baik…anak baik.”

Aku tidak suka nadanya yang menilai aku anak kecil, namun ia terus berbicara.

“Nak, apa kamu mau uang, uang banyak?”

Aku diam saja, namun menurutnya itu adalah isyarat untuk terus berbicara.

“Kalau kamu mau jadi tukang antar barang untuk kami, akan kami bayar. Tenang saja tidak ada resiko apapun, pekerjaan ini aman untukmu,” ucapnya disambut tawa oleh yang lain.

“Namun jika kamu menolak tawaran ini, maka kami akan melaporkanmu pada polisi karena telah memegang benda yang kamu pegang itu, mungkin kini kamu gak tahu apa itu, namun jika ke kantor polisi maka semua jelas.” Ucapnya lagi yang kini disambut tawa lebih keras.

Kekuatanku goyah mendengar kata polisi, walau aku tahu bahwa ini pemaksaan, tapi aku tak bisa berbuat banyak selain menurut apa kata mereka, sudah cukup aku mendengar anak-anak sekolah yang bermasalah dengan polisi, dan kesedihan orang tua mereka. Aku tidak mau membuat repot orang tuaku.

Seminggu setelah itu, aku mulai disuruh kerja menjadi kurir obat-obatan terlarang itu. Awalnya hanya sekali antar pada seseorang dan dalam jangka waktu sebulan sekali, bayarannya memang besar dalam ukuran anak SMA sepertiku. Perlahan aku mulai tergiur dengan bayaran yang lebih besar.

Kemudian hari aku mulai mengerti bahwa orang yang mengajakku adalah Roy. Mantan residivis narkoba yang kini dipercaya memegang jalur pengiriman wilayah ibukota dan sekitarnya. Kabar dari media yang kudengar ia berkali-kali lolos dari kejaran polisi, bahkan urusan hilang-menghilang nyawa sangat mudah baginya. Darinya pula aku kenal dengan Gagil yang ternyata adalah adik sepupunya sendiri, usianya sebaya dengaku.

***

Tepat setelah aku keluar dari kamar mandi, handphoneku kembali berbunyi, dan itu dari Gagil.

“Ri, kamu ke tempat biasa ya, barang baru dah ada, cepetan diambil, kita ketemu disana, ok!” Ujarnya cepat.

Telepon kututup dan aku bersiap untuk menuju tempat pertama kali aku bertemu Roy, tempat aku bermula sebagai kurir obat-obatan ini.

“Nih gil, hasil bulan kemarin,” ujarku seraya memberikan uang hasil kerjaku.

Biasanya Gagil selalu sendiri jika ke tempat ini, namun hari ini dia membawa 4 orang yang aku tidak kenal, perawakan mereka yang agak besar dan tegap,bahkan dua diantara mereka memiliki rambut yang kusebut dengan ‘sapu ijuk’ . Aku berusaha untuk tidak berpikir macam-macam.

“Ri, ini temen-temen daerahku. Aku sudah nawarin mereka jadi kurir sepertimu, jelas aja mereka tertarik dengan bayaran besarnya. Nih, dari yang paling sebelah kanan namanya…..”

Belum sempat Gagil mengenalkan diri, ia menjatuhkan uang yang kuberikan tadi ketika mendengar bentakan,

“Jangan bergerak!!! Kami polisi!”

Gagil langsung mengangkat tangannya dan seorang polisi mendorongnya jatuh ke tanah. “Ah, ia tak memiliki nyali jika langsung dengan polisi, cobalah kau tiru kakak sepupumu, Roy itu.” kataku dalam hati.

“Ardi, jika aku berlari, apa aku akan bertemu denganmu lagi?” ujarku tetap dalam hati. Aku memilih untuk tetap berpikir dalam hati hingga hal terakhir yang aku tahu adalah suara tembakan di langit dan perasaan sakit dan panas di kakiku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: