Anak Janda yang Sukses

25 May

Alan Kusumo Nugroho

Sukma Riyani, 20 tahun, anak bungsu dari empat bersaudara, seorang perempuan desa yang jelita parasnya, energik, dan ceria. Sepasang mata yang selalu penuh dengan antusiasme, hidung mancung yang tak semua orang desa miliki, bibir sedikit tebal yang cocok sekali dengan lipstik warna merah, dan gigi gingsul depannya yang membuat ia tersenyum manis. Aku tinggal di kampung , di daerah Yogyakarta . Saat ini aku mengenakan kebaya merah cerah dengan motif bunga- bunga putih, dan jarik coklat yang membuat kombinasinya semakin cantik dipakai. Rambut yang digelung dengan konde sederhana, dipadu dengan senyum yang terlihat bahagia, meskipun tetap tak bisa membohongi orang-orang di sekitar jika aku sedang dilanda cemas lantaran pemuda di sebelahku agak terbata-bata mengucapkan sebuah kalimat Ijab Qobul kepada penghulu yang belum mencapai titik. Ya, Sodiqin, pemuda pendiam yang santun, calon suamiku. Ia adalah pemuda dari desa sebelah yang telah tertarik padaku sejak lama. Namun aku baru menerima lamarannya setelah aku menyelesaikan sekolahku di bangku SMA. Setelah saksi-saksi menyatakan kata “sah”, aku dan dia saling melirik dan terlihat empat mata yang dipenuhi air mata sebagai wujud kebahagiaan hari itu. Orang-orang yang diundang dalam acara penting itu sampai iri melihat kemesraan dan kebahagiaan kedua mempelai. Setiap orang yang datang menyalami dan menyampaikan beberapa doa untuk kami. Pesta pernikahan yang terlihat sangat sederhana itu dibanjiri ratusan orang yang turut berbahagia. Kami pun menjadi seorang raja dan ratu dalam semalam.

Janur kuning yang dipasang di ujung jalan, nyiur dan melambai bak pohon kelapa yang diterpa angin di pantai-pantai. Meja-meja yang dihias dengan taplak bermotif batik, sebuah vas yang diisi bunga sedap malam di setiap mejanya, dan dipenuhi toples-toples berjajar berisi makanan khas desa setempat. Suara musik dangdut dan keroncongan pun turut memeriahkan pesta pernikahan. Bungkusan-bungkusan kado yang warna-warni sudah menumpuk dan tak sabar ingin ku buka. Sebuah selimut, seperangkat alat makan, cangkir-cangkir unik, dan seprei merah muda, warna kesukaanku. Suasana itu bertahan sampai matahari bersembunyi di balik bukit digantikan sinar-sinar lampu yang mulai menerangi setiap sudut jalan desa.

Setelah merasakan indahnya pesta pernikahan, kami melewati hari-hari selanjutnya dengan kehidupan sederhana ala orang desa, tetapi itu justru membuatku lebih mengerti akan kebersamaan dalam suka dan duka. Perutku yang semakin membesar, menandakan kesuksesan pernikahan kami. Penantian akan lahirnya seorang bayi mungil dalam perutku seakan telah memenuhi memori otakku. Namun perasaanku mulai resah melihat tingkah suamiku yang terlihat cemas dengan kebahagiaan ini. Sejak anakku dalam kandungan, Sodiqin telah meninggalkanku ke Malaysia, negeri Jiran, tempat orang-orang desa mencari pekerjaan apa saja untuk mencukupi kebutuhan hidup. Berat hati aku melepaskannya demi anakku. Ia akan kembali membawa berlembar-lembar uang untuk anakku sekolah dan meniti karir menuju kesuksesan. Dengan guyuran air mata, aku melambaikan tangan selamat tinggal kepada suamiku.

Suatu hari, suamiku kembali dari perantauannya dari negeri Jiran. Benar, ia memang membawa sedikit uang, tapi sungguh tak kusangka uang itu akan digunakannya untuk menikahi perempuan lain yang tengah dicintainya. Keganjilan yang kurasakan sejak dulu telah terbukti. Banyak berita miring tentangnya. Selama ini aku hanya berdiam diri mendengarkan kabar-kabar buruk yang disampaikan para tetangga. Ia telah mendekati seorang perempuan yang berjualan di sebuah pasar kecil di kecamatan.

Bahkan saat aku mencoba menanyakan berita itu, Sodiqin justru marah dan mengobrak-abrik barang-barang yang ada di rumah. Sempat ia akan memukulku, memukul seorang istri yang tengah mengandung darah dagingnya sendiri. Tapi aku dapat menghindarinya karena aku terlebih dulu lari ke rumah Sibu, panggilan untuk seorang ibu bagi orang desa, sebelah rumahku yang ku huni sekarang dengan suamiku yang tak punya hati itu. Sibu yang mendengar jeritanku dan seluruh ceritaku langsung menarik jarik nya ke atas dan berjalan cepat dengan wajah emosionalnya. Ia mendekati Sodiqin dan mengusirnya dari rumah karena telah membahayakan istri dan anaknya. Dengan suara keras dan tak sopan kata-kata kasar keluar dari mulut Sibu. Sodiqin pun tak kuasa harus meninggalkan rumah itu dan pergi kembali ke tempat orang tuanya.

Ia tak sedikitpun memikirkan anak emasku. Suami yang selama ini kucintai dan kunantikan kepulangannya, ternyata tak sebaik dari prasangkaku sebelumnya. Hati yang terluka dalam akhirnya membuatku memutuskan untuk bercerai dari Sodiqin dan memulai hidup baru bersama putra tercintaku. aku bertekad memendam kenangan bersama suami yang tak bertanggung jawab itu dalam-dalam. Kini, hanya buah hatiku yang ada dalam perutku ini lah harapan hidupku.

Minggu pon, 24 Februari 1992, 00.00 WIB. Tangisan seorang bayi mungil terdengar keras memekakkan kedua telingaku di sebuah ruangan bersalin di klinik kecil desa setempat. Tangis bahagia seakan meredam kecemasan yang kurasakan selama mengandung 9 bulan. Berbagai pantangan dan larangan sudah kuhindari untuk melahirkan bayi yang sempurna. Berbaga cobaan berat telah kutempuh sendiri. Kelegaan hati muncul saat bayi yang dinanti-nantikan lahir ke dunia. Lucu, mungil, putih, dan gemuk, itulah keadaan bayi yang kulahirkan, buah cintaku dengan seorang laki-laki, Sodiqin, mantan suamiku yang tak punya perasaan.

Supri Sumantri, nama yang kuberikan kepada putra pertamaku. Segala kebutuhan Supri dari sandang, papan, dan pangan telah kucukupi dengan bekerja keras setiap harinya. Aku bekerja banting tulang untuk putra semata wayangku itu. Setiap pagi, aku harus rela meninggalkan putraku bersama Sibu yang wajah dan tubuhnya semakin dimakan oleh waktu. Di pagi dan siang hari, Sibu lah yang menggantikan peranku mengurus Supri. Terkadang aku merasa kasihan pada Sibu yang telah ditinggalkan bapak beberapa tahun silam akibat penyakit yang dideritanya. Namun kehadiran Supri dalam keluarga ini seakan memberikan kebahagiaan bagi setiap anggotanya. Di sore dan malam hari, aku menjadi seorang perempuan yang sangat bahagia dengan pekerjaan baruku menjadi seorang ibu. Kini, aku hanya tinggal bersama Sibu dan putraku. Namun, saudaraku yang masih berada dalam satu desa pun masih banyak yang membantuku.

17 tahun kemudian, ketika Supri sudah beranjak dewasa dan sudah masuk bangku SMA. Aku sudah memikirkan pertanyaan apa yang akan keluar dari mulutnya. Mungkin tidak jauh dari keberadaan bapaknya dan siapa bapaknya, karena memang sejak dari lahir putraku belum mengetahui siapa bapaknya, hingga akhirnya sepulang dia sekolah pun pertanyaan itu keluar juga. Dengan sedikit kecewa karena harus membuka luka lama kuceritakan semuanya pada putraku yang kuanggap sudah besar ini. Kata demi kata aku rangkai dengan penuh hati-hati, takut ada kesalahpahaman nantinya. Karena aku tidak mau ketika aku menyelesaikan ceritaku ini saat itu juga putraku membenci bapaknya. Bagaimanapun juga bapaknya adalah bapak kandungnya. Bukan semata-mata karena itu,  tapi karena bapaknya sudah pernah mengisi dalam hati ini. Mekipun sakit harus tertoreh, lega rasanya ketika aku sudah menyelesaikan cerita ini. Akupun tersenyum, namun senyum itu hampir sirna ketika mendapati putraku terdiam untuk waktu yang lama. Matanya terlihat kosong menahan kekecewaan yang amat dalam, dan sebagai seorang ibu, aku tahu bagaimana perasaannya sekarang. Sesegera mungkin aku memohon agar dia tidak membenci bapaknya. Tapi apa yang kupikir adalah salah besar ketika saat itu juga dipeluk oleh Supri. Dengan sedikit terisak samar-samar kudengar suaranya bahwa dia tidak membenci bapaknya, semakin lega rasanya hati ini.

Hari-hari yang akan datang sepertinya akan terlewati hanya kami berdua, aku dan putraku, Supri. Sebab saat ini Sibu dipanggil Yang Kuasa. Kanker otak yang menggerogotinya membuat Sibu tak mampu bertahan lebih lama lagi. Berbagai obat tradisional pun seakan tidak berguna. Karena keterbatasan biaya pula, aku tidak pernah mengajak Sibu ke Rumah Sakit. Jangankan rumah sakit, Puskesmas pun aku tak mampu. Surat miskin yang gratis dari kantor kecamatan juga sulit didapat, lagi-lagi karena uang. Pegawai kecamatan memonopoli semuanya demi uang, sungguh ironis. Saat ini uangku hanya cukup untuk biaya pemakaman Sibu siang nanti. Lagi-lagi uang, tetangga-tetangga saling berdatangan. Tetangga-tetangga yang sama nasibnya seperti aku. Bukan tetangga-tetangga yang notabene orang berada. Mereka sudah seperti orang kota yang individualis, tapi aku tak menggubrisnya. Karena masih banyak orang yang mau membantuku. Hari menjelang siang, ketika jenazah Sibu selesai disholatkan. Sesegera mungkin kami membawa jenazah Sibu ke makam untuk langsung dikebumikan, tepat setelah adzan dzuhur jenazah Sibu telah dikebumikan. Sedih harus kehilangan sosok ibu lagi dihidupku. Meskipun aku pun sekarang telah menjadi ibu.

Rasanya tidak etis harus mengungkit-ungkit masalah Sibu ini. Sibu sudah tiada, alangkah baiknya jika aku dan putraku mengenang dan mendoakan Sibu. Hari ini tepat dimana putraku semata wayang melaksanakan ujian akhirnya. Meskipun aku tergolong orang yang tidak mampu tapi kalau masalah pendidikan putraku itu nomor satu, jadi aku bekerja keras untuk menyekolahkannya. Tidak terasa saat ini dia hampir lulus, aku sengaja menyekolahkannya di SMK, agar ketika putraku lulus nanti dia sudah memiliki keahlian sendiri. Tujuh hari telah berlalu, ketika ujian akhir putraku selesai .

Tiga minggu kemudian adalah hari yang sangat aku dan putraku nantikan. Pengumuman hasil ujian, lulus atau tidaknya putraku, tapi aku percaya Supri pasti lulus dan mendapat nilai yang sangat bagus. Ya, memang seperti itu kenyataanya, ketika amplop putih berada di tanganku. Pelan-pelan ku buka dan sungguh sudah kuduga putraku lulus dengan nilai terbaik, Alhamdulillah. Sujud syukur aku panjatkan dan aku pun segera pulang kerumah, tidak sabar rasanya untuk memberi tahu Supri bahwa aku bangga dengan prestasinya. Hal yang sangat tidak terduga sama sekali adalah ketika aku diberitahu oleh Kepala Sekolah Supri bahwa minggu depan Supri sudah direkrut oleh perusahaan besar di Jakarta. Bagaimana bangganya sebagai orang tua ketika mengetahui anaknya seperti itu. Tapi ketika terbesit rasa khawatir dan sedih karena harus ditinggal putraku, ketika itu pula bapak Kepala Sekolah juga mengatakan bahwa aku juga boleh mengikuti dimana anakku ditempatkan nanti. Alhamdulillah lagi-lagi terucap kata syukur itu, tidak ada bedanya senangnya putraku ketika aku pulang membawa kabar tersebut.

Hari ini hari yang telah dinanti oleh putraku tidak lain juga olehku, karena hari ini aku dan Supri berangkat ke Jakarta seperti yang dikatakan oleh bapak kepala sekolah. Kami berdua diantar oleh beliau sampai bandara. segala sesuatunya sudah ditanggung oleh pihak yang merekrut Supri, jadi kami hanya membawa barang-barang seperlunya saja. Lima tahun kemudian setelah keberangkatan aku dan putraku, Supri.

Kebahagiaan tiada tara menyelimuti hidupku sekarang. Memiliki anak yang berbakti, sayang sama orang tua dan sudah memiliki pekerjaan tetap yang bisa dibilang sukses. tapi selayaknya ibu-ibu lainnya aku menginginkan putraku agar segera menikah, sudah lama aku menginginkan putraku memiliki pendamping hidup. Paling tidak kalau nantinya aku sudah tidak bisa ada di sampingnya, masih ada seorang istri dan cucu-cucuku untuk selalu ada untuknya. Tanpa diduga sebelumnya, ternyata putraku minta izin kepadaku untuk meminang kekasihnya, panggil dia Rini. Wanita sholehah berjilbab, berhidung mancung, berkulit putih, sopan, pintar, berpendidikan dan rupanya sudah lama mereka menjalin hubungan itu tanpa kuketahui. Ya, wanita ini pantas menjadi pendamping Supri, batinku. Langsung kusetujui saja niat Supri untuk meminang gadis pujaanya tersebut. Hanya doa agar ini jalan yang terbaik untuk putraku yang selalu aku panjatkan. Amin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: