Aku dalam Balutan Kesunyian

25 May

Riki Choyrol Huda

Hembusan angin tak lagi terasa dalam indra perasaku, malam ini sunyi dan gelap dalam penglihatanku, entah kenapa aku sadar ini nikmat dan tentram yang pernahku rasakan seumur hidup ku, emmm…nikmat rasanya. Seperti ini yang selalu ku dambakan, kapan lagi aku bisa merasakannya. Semua yang pernah terjadi dalam hidupku takkan bisa ku resapi indahnya menjadi seorang anak yang seharusnya menikmati indahnya masa bermain dan mendapatkan belaian kasih sayang.

Indra saputra, biasa di panggil indra itulah namaku. Lahir dari sebuah keluarga yang sangat, bahkan sangat sekali miskin akan materi, dan moral. Huft…selama ini aku masih mempertanyakan kenapa semua ini terjadi padaku dan keluarga ku. Anak ke tiga dari tiga bersaudara, bisa dikatakan anak yang paling bungsu dan yang paling tidak memahami keadaan yang terjadi pada keluargaku. Tinggal di sudut kota besar yang kondisinya sangat tidak melambangkan kemewahan kota, dengan rumah reok yang memiliki hembusan angin yang sangat alami seakan selalu kurasa. Sehingga aku dan keluarga tak perlu kipas angin atau ac seperti rumah-rumah yang ada di komplek perumahan mewah tepat disebelah perkampungan yang aku tinggal yang hanya dipisahkan oleh tembok setinggi 4 meter, namun aku bangga bisa tinggal di tempat yang kumuh seperti ini setidaknya rasa solidaritas masih cukup tinggi dibandingkan mereka yang tinggal disana secara individual, yah walaupun kebebasan juga dijunjung tinggi di sini, dari kebebasan berjudu tiap malam sampai kebebasan berhubungan intim di tempat yang terbuka. Ayahku adalah sosok seorang pahlawan yang selalu membuat Ibuku menderita apalagi ketika ayah sering pulang dengan keadaan bau alkohol di sekujur tubuhnya, Ibu juga begitu ia adalah sosok yang sangat mencintai aku sehingga membuat aku selalu kelaparan dan berusaha untuk masa bodoh dengan ku. Belum lagi Ardi kakak tertua di keluargaku, tawuran adalah sebuah seni katanya, apalagi palakin anak-anak SMU, adalah sebuah ritual khusus yang wajib baginya, kerjanya hanya mengerjakan apa yang membuatnya ditakuti di sana-sini, dan ia yang duduk di sudut rumah sambil mengusap-usap rambutnya yang indah adalah kak Putri seorang kakak perempuan yang sangat mengerti akan keluarga dan  adiknya ini, aku.

Putri memiliki paras yang lumayan cantik, berkulit kuning langsat dan berbody yaa…selayaknya perempuan seksi. Namun bagiku itu bukan seperti apa yang harus dilakukannya selama ini menjadi penjajak seks dipinggiran rel dengan bayaran yang sangat murah, menurutnya uang baginya bukan yang utama tapi kepuasan yang membuatnya hidup dan bersinar hingga saat ini. Aneh dan memang aneh bagiku, hidup didalam kondisi keluarga seperti ini, dari aku lahir sampai umur 14 tahun aku tidak mengenal akan agama, dan tuhan. Entah apa yang keluargaku berikan kepadaku sampai aku sebesar ini.

Sejak dulu aku tak mengenal kasih sayang, sejak dulu aku tak mengenal baik dan buruk dan sejak dulu aku tak mengenal apa itu tuhan. Semua kabur dalam kacamataku, hingga aku pun tak punya arah untuk tertuju. Hingga aku pun berusaha hidup dengan apa yang ku punya.

Hari ini adalah hari senin, semua sama tiap hari seperti itu. Dengan langkah kosong aku beranjak untuk ke perempatan lampu merah dan mencari sesuap nasi untuk diriku sendiri, tak peduli Ibu, Ayah dan kakak-kakakku. Biarkan mereka melakuan seperti biasa, dan aku akan menjalani hari seperti apa kalanya. Dari kejauhan kulihat celia sudah melantunkan lagu sumbang di perempatan itu sambil menepuk-nepukan tangan mengiringi nada-nada indah dari mulutnya, tak lupa sesekali tangan menadahkan dengan berharap diberi receh dari orang-orang yang mengendarai mobil-mobil mewah di sana. Aku pun lekas bergabung untuk suara dua dari vokal Celia, ”hei…”sahut Celia. Akupun terus bernyanyi tanpa memberi respon tegurannya, tanpa banyak tanya, Celia pun kembali berkonser selayaknya di atas panggung kemewahan dengan tambahan backing vokalnya yaitu aku.

Waktu semakin berlalu matahari persis di atas kepalaku seakan menusuk ubun-ubunku yang lembut ini, tetesan keringat keluar dengan kecepatan tinggi. ”Udah yuuk…”Celia menyapaku..”capek nih, istirahat dulu nanti baru kita ngamen lagi”. Aku pun penuhi permintaannya, Indra begitu dia memanggilku sehari-hari. ”Kemarin kamu kemana ko gak ngamen, padahal aku tungguin ampe siang gak datang-datang juga, kemaren lumayan loh aku dapat duit”. Sambil duduk di trotoar yang di teduhi pohon yang rindang Celia memberiku uang. ”Untuk apa ini” tanya ku, ”ini uang mu kemarin ndra”. ”Loh bukannya kemarin aku gak ngamen”. ”Emmm…kita kan udah janji ndra, hasil yang kita dapat harus dibagi dua, walaupun kamu gak ada kemarin tetep harus di bagi dua ndra ini hak mu”. Aku pun terdiam dan berfikir apakah ini hakku atau memang Celia terlalu adil dan baik untuk membagikannya kepadaku. ”Udahlah Ndra kamu juga butuh uang kan, di tabung aja ndra” Celia berkata kepadaku. ”Tapi ini bukan hakku Cel, aku tidak berhak menerimanya, karna bukan dari hasil kerja kerasku”. ”Udah kamu pegang aja duit ini yaaa…anggap aja ini hadiah dari tuhan untukmu”. Sebentar aku berfikir, ”TUHAN” hadiah darinya, apakah aku memiliki tuhan. Seketika Celia berkata ” ndra semua manusia berhak memiliki tuhan, aku, dan kamu juga, walaupun keluargamu tidak pernah mengajarkan mu tentang agama, tapi kamu harus mengerti apa itu sebuah agama bagi manusia. Setidaknya kamu harus mempunyai landasan yang jelas tentang tuhan dan agamamu, kelak akan kamu butuhkan di akhirat nanti. Berusaha dan berdoalah kamu kepada tuhanmu ndra, aku yakin hidupmu akan lebih baik kelak”.

Hari sudah larut menjelang magrib, tanpa terasa aku dan Celia tertidur di pinggiran kios klontongan deket perempatan. Seperti biasa, Celia bergegas ke masjid yang tak jauh dari situ, ”hei…mau kemana” sahut ku. ”Shalat jawab Celia”, ”aku ikut Cel, Celia terhentak dan menatapku tajam. ”Kenapa menatapku seperti itu”, ”oh..gak ayuuu…”dan kami bergegas ke masjid. Sesampai di sana kulihat Celia sungguh khusuknya menghadap tuhannya, katanya klu di masjid dia lagi mengahadap tuhannya untuk berdoa dan menjalankan apa perintah tuhannya.

Memang aku tak pernah tahu apa itu agama, sejak kecil yang kulihat hanya dunia yang membuatku mual dan ingin muntah ke muka meraka. Ayah, Ibu, ka” Ardi dan ka”Putri tak pernah membuatku kagum. Mereka bagiku adalah sampah dan aku merasa lahir dari keluarga sampah yang baunya sangat busuk.

Celia selesai dengan tuhannya, dan kami pun pulang kerumah masing-masing, dengan luntai melangkah aku pun tiba di rumah. Sama, sama dan sama seperti biasa. Rumah ini bagaikan neraka bagiku muak aku melihatnya, disambut dengan nada mabuk ka”ardi di depan rumah, tak ku hiraukan dia dan terus masuk ke dalam rumah, Ibu yang duduk di sofa sambil menikmati acara sinetron di televisi begitu khusyuknya tanpa sadar kehadiranku. ”Bu”, tanyaku, hanya diam tanggapannya, ”Bu”, sekali lagi, ”ya”, jawab singkat darinya. ”Tuhan kita siapa bu”, tanya ku lagi, ”tak ada Tuhan untuk kita nak” jawabnya, ”kenapa tidak ada Bu”, tanya ku. Ibu berkata,  ”kamu tahu kenapa kita seperti ini, karna Tuhan tidak sayang kepada orang-orang seperti kita, kita ini hanya sampah ndra kamu tahu itu, kita tidak butuh Tuhan, yang kita butuhkan adalah uang ndra untuk bertahan hidup, tak ada halal atau haram di dunia ini semua sama dan kejam ndra”. Aku membantah, ”tidak Bu, Tuhan itu sayang dengan semua ciptaannya, termasuk kita Bu, Cuma kita tak pernah bersyukur dan bekerja keras, karna itu semua cobaan ini diberikan kepada kita”. Dengan cepat tangan ibu menyentuh pipi halusku dengan kecepatan tinggi, membuat pipiku berubah warna menjadi kemerahan.

”Kamu jangan sekali-kali menggurui Ibumu ini”, dan dia pergi begitu saja. Akupun hanya terdiam di sudut sofa lusuh itu, tak lama kemudian Ayah pulang dengan terguntai setengah sadar, yaaa..jelas sekali bau alkohol di tubuhnya. Ayah mendekati aku dan duduk di sofa. Aku beranikan diri untuk bertanya kepadanya, ”Ayah, apakah ayah mengakui adanya tuhan bagi kita”, ”iya tuhan kita adalah Allah ndra, emangnya kenapa ndra.?” Tanya ayah kepada ku. ”Lalu kalau memang dia tuhan kita kenapa ayah tidak pernah mengajari ku tentang agama dan bagaimana aku harus menyembah Tuhan ku Yah”, terdiam ayah menatapku tajam, ”kau tidak tahu apa-apa tentang tuhan nak”, ”justru Karna aku tidak tahu aku harus diberi tahu oleh ayah dan ibu, tapi selama ini aku tidak pernah mendapatkan itu”, lantang aku menjawab.

Lalu Ayah meninggalkanku tanpa jawab atas keraguanku pada mereka. Sama dan sama, selalu aku tidak pernah mendapatkan apa yang ingin ku ketahui dari semua ini. Kemudian aku keluar rumah dan berlari tanpa tujuan, entah kemana kakiku akan membawaku, tiba-tiba aku berpapasan dengan Putri kakak perempuanku yang sedang bercumbu ria dengan lelaki tak jelas wajahnya dalam ingatanku,tanpa ragu aku langsung mempertanyakan dengan lantang dan keras, ”Ka, aku hanya mau jawaban yang jelas tentang siapa tuhan kita dan apa agama kita, dan kenapa kita tidak pernah beribadah terhadap tuhan kita, kenapa ka..?”

Senyum manisnya menyapu wajahku yang penuh dengan emosi. Lalu ditinggalinya lelaki itu dan membawaku pergi dari situ, entah kemana kakak akan membawaku. Sambil berjalan memengang erat tanganku ia berkata, ”ndra kamu tau, apa yang kamu lakukan tadi sangat-sangat membuat aku pengen muntah….!!!” dan dia melepaskan tangan ku, dengan nada tinggi, ”tau apa kamu tentang tuhan..!!! sekarang lebih baik kamu pulang dan tidur, jangan pernah bertanya tentang tuhan dengan aku, dan jangan pernah berbicara seperti itu ketika aku sedang kerja sahutnya, sudah pergi sana..!!!”

Langkah ku ayunkan untuk meninggalkannya dan aku rasa untuk meninggalkan semua yang ada di hidupku, dari kejauhan aku berteriak, ”Ka”, kau akan hanya jadi seorang pelacur seumur hidupmu, dan kau takkan bertemu dengan Tuhanmu sampai kapanpun”. Putri hanya diam dan tersenyum meninggalkan aku, entah apa yang ada dipikiranku sehingga terlontar kalimat seperti itu, tidak tahu apa dia tersinggung atau malah bangga menjadi apa yang aku camkan kepadanya.

Aku mencoba berlari dari semua ini dan dari pikiran-pikiran ku yang tak menentu ini, pertanyaan yang tak kunjung usai sampai kapanpun. Aku terus berlari entah kemana, tak terasa tubuhku mulai basah dengan air keringan yang tak ada maknanya dalam hidupku, kakiku mulai gemetar dan taksanggup untuk melangkah. Terhenti di sebuah rel kereta yang sunyi tanpa gesekan besi lokomotif, terbaring menghadap ke atas seakan ingin kugapai bulan yang bersinar untuk menyinari perasaan ku yang selamaini luka atas batin dan takdir ku, seandainya hidupku seperti kereta, mempunyai jalan yang jelas pada tujuannya tanpa ada ada siapapun yang menghambat jalannya.

Indah sungguh indah cahaya itu bersinar terang tepat di atas ku, tuhan kalau memang kau tuhanku berikan aku sebuah cahaya bulan untuk menerangi hidup ini. Terdiam menutup mata aku dalam selimut kegelapan ini. Aku merasakannya, cahaya itu datang kepadaku, semakin dekat dan terus mendekat, oh…indahnya cahaya itu. Kemari aku ingin kau menerangi hidupku. Dalam halusinasiku semua terjadi, semua berubah menjadi gelap, dimana cahaya itu, dimana..???. nafasku pun tak terasa, angin pun tak menyentuh tubuhku lagi, keringatku pun tak terasa dingin di tubuh ini, semua gelap dan tenang, inikah ketenangan itu, ketenangan yang ku impikan selama ini,  yang ku dambakan selama ini, gelapppp dan hilang, titik.

***

Lambaian tangan Ibu memanggilku, ya mungkin sudah waktunya untuk sholat magrib bersama keluarga, dan tulisanku ini akhirnya selesai juga.  Aku memang tidak bisa mendengar suara adzan memanggil umatnya untuk beribadah, aku memang tuli dan bisu, hanya bisa melihat keindahan tanpa suara berisik duniawi, aku dan kesunyian dalam hidupku, tak mengapa, aku masih mempunyai keluarga yang sangat menyayangi ku dan ”TUHAN”, yang selalu ada di dalam hidupku ini.

Aku hanya bisa bercerita lewat goresan tinta di atas kertas, dan aku bangga atas semua karyaku. Terimakasih Ibu, terimakasih Ayah dan terimakasih Tuhanku, aku akan terus bercerita tentang apa yang ingin ku ceritakan, untuk menghibur hati dan orang yang selalu cinta akan sebuah karya tulis.

One Response to “Aku dalam Balutan Kesunyian”

  1. maria 06/08/2010 at 14:26 #

    jadi terharu nih…. kisah hidup yang menyentuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: