Menyoal Media Komunitas,Jalan Alternatif?

24 Mar

Ahmad Alwajih

Menarik ketika membaca artikel ilmiah yang ditulis oleh Budhi Hermanto di Jurnal Komunikasi Universitas Islam Indonesia, Volume 2, Nomor 1, Oktober 2007. Artikel ilmiah ini berjudul Televisi Komunitas : Media Pemberdayaan Masyarakat.

Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa pada masa orde baru, masyarakat hanya bisa menjadi konsumen informasi yang menanamkan ideologi otoriterianisme sehingga jauh dari iklim keberagaman dan demokrasi. Beranjak ke masa reformasi, masyarakat menjadi objek bisnis yang mendorong perilaku konsumtif oleh media mainstream.

Fungsi media sebagai kontrol sosial akhirnya tidak bisa berjalan sebagaimana mestinya. Alih-alih berfungsi sebagai kontrol sosial dan wahana pendidikan masyarakat, media malah melayani kehendak penguasa pada orde baru serta menuruti keinginan para pemilik modal di era reformasi.

Monopolistik kepemilikan media (baik penguasa maupun pemilik modal) menyebabkan masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam memproduksi informasi yang mereka butuhkan. Maka, di era keterbukaan informasi seperti saat ini, masyarakat sudah saatnya berperan serta sebagai subjek yang memilih, memilah, dan mengontrol informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kebutuhan informasi masyarakat di satu daerah dengan daerah lain tentu berbeda. Oleh karenanya, haruslah dibentuk media komunitas guna melayani kepentingan yang berbeda-beda tersebut. Media komunitas sendiri adalah media dari, oleh, dan untuk masyarakat setempat.

Hal ini berarti media komunitas berperan sebagai alternatif yang mengusung keberagaman kepemilikan (diversity of ownership), menggantikan monopolisasi kepemilikan media (baik penguasa maupun pemilik modal). Implikasinya, mendorong serta adanya keberagaman isi informasi (diversity of content). Dengan demikian, media komunitas bisa dikontrol sendiri oleh masyarakat tanpa kesewenangan pihak-pihak tertentu.

Televisi Komunitas : Upaya Solutif?

Ketika melihat kerumitan persoalan yang tengah melanda media mainstream (cetak maupun elektronik) : kepentingan pemilik modal, selera pasar, dan yang terpenting kelemahannya dalam mengakomodasi kepentingan masyarakat, perlu tindakan serius untuk meng-counter kesemuanya. Tindakan counter yang dimaksudkan tidaklah berupa perlawanan anarkis dan frontal, melainkan lebih solutif dan konstruktif. Dan tentunya beragam cara menuju ke sana.

Tidak ingin terlalu terjebak dalam refleksi etis dan utopis semata, televisi komunitas sengaja dipilih sebagai “salah satu jalan menuju Roma”. Mengapa harus televisi komunitas? Dijawab melalui artikel ini bahwa televisi komunitas memiliki kapasitas untuk meng-cover informasi-informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Di samping itu, televisi komunitas lahir sebagai media alternatif yang mengusung keberagaman kepemilikan (diversity of ownership) dan keberagaman isi (diversity of content). Hal ini memudahkan masyarakat melakukan kontrol sendiri terhadap isi siaran.

Lebih dari itu, ternyata televisi komunitas ini juga mampu memfungsikan dirinya menjadi media pemberdayaan komunitas. Grabag TV, misalnya. Media komunitas yang merupakan inisiatif dari sejumlah tokoh dan warga Grabag, Kabupaten Magelang, mampu menghadirkan beragam acara yang tidak pernah tersentuh oleh media-media mainstream. Mulai dari apresiasi seni tradisi lokal, media pembelajaran sekolah, akses-akses menuju nilai-nilai kearifan lokal, hingga pada hal-hal yang prinsipil, mendidik masyarakat setempat untuk menyuarakan aspirasinya guna menunjang proses demokratisasi.

Namun televisi komunitas tidak bisa melepaskan diri dari berbagai kendala. Pertama, tentang paradigma. Frame berpikir masyarakat harus satu channel terlebih dahulu mengenai pemanfaatan televisi komunitas demi menjaga keberlanjutan televisi komunitas tersebut. Ini berarti harus diupayakan peletakan pondasi ideologis yang kuat agar praktik pemberdayaan televisi komunitas di lapangan tidak terjadi penyimpangan dari khittah-nya. Dua, masalah kemampuan dan pengetahuan masyarakat yang kurang memadai seputar dasar-dasar dunia penyiaran. Di samping persoalan dana, permasalahan ke tiga adalah regulasi pemerintah. Peraturan pemerintah yang mengatur keberadaan televisi komunitas (PP No.51 Tahun 2005) belum cukup akomodatif. Alasannya, keterbatasan daya pancar relevan jika diterapkan di wilayah padat penduduk, tapi tidak tepat untuk wilayah yang jarang penduduknya. Papua, misalnya.

“Jawaban” Lewat Dunia Maya

Kemajuan dalam teknologi internet berimplikasi pada tersebarnya ruang-ruang untuk berekspresi. Termasuk di antaranya adalah weblog, yang lebih populer dengan nama blog. Dalam blog, seseorang bebas untuk unjuk dirinya. Terserah apakah ia ingin menulis catatan harian, kumpulan artikel, kumpulan foto, dan sebagainya. Kebebasan dalam blogging ini memicu lahirnya praktek-praktek jurnalisme warga. Seiring berjalannya waktu, pemuasan-pemuasan yang sifatnya pribadi bergeser pada fungsi sosial. Blog pun beralih fungsi menjadi ruang tukar-menukar informasi. Kini, setiap orang bisa mem-­posting informasi yang berguna bagi para blogger lainnya. blogger lain yang membaca informasi tersebut bisa langsung memberikan respon (timbal balik), entah dengan menambah informasi atau mengklarifikasi kebenaran informasi tersebut. Informasi pun menjadi milik bersama, tak lagi bersifat elitis dan menjadi hak milik media massa.

Sulang online adalah salah satu weblog yang banyak mendapat tanggapan positif warga Rembang. Dinamakan Sulang karena memang penciptanya adalah warga Sulang, sebuah desa di Kabupaten Rembang. Informasi yang tersebar di Sulang Online tidak jauh-jauh dari kondisi masyarakat setempat. Keberadaan Sulang online menjadi penting bagi masyarakat karena menyajikan informasi yang dekat dengan lokasi mereka dan sesuai dengan kebutuhan.

Meskipun tidak mengklaim diri sebagai blog yang berprinsip jurnalisme warga, tetapi jika dilihat dari isi maupun formatnya, sudah berciri-cirikan jurnalisme warga yakni : kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh bukan jurnalis profesional, tetapi oleh masyarakat umum, dipublikasikan secara online, serta dapat saling diberi-memberi komentar oleh pengguna lainnya. Pendek kata, dalam Sulang online yang diutamakan adalah interaksi dan interkoneksitas (Habibi, 2007:116).

Penulis melihat adanya sebuah gerakan baru dalam dunia jurnalistik untuk menggoyahkan posisi media mainstream sebagai informan tunggal. Selain itu, jurnalisme warga yang berprinsip memberi kemanfaatan bersama dinilai banyak pihak mampu menjadi semacam media alternatif untuk mencegah ekses-ekses negatif dari media mainstream, serta memiliki kemampuan untuk mendukung proses demokratisasi dalam negeri. Seperti yang terjadi di Korea Selatan, sebuah situs web berbasis jurnalisme warga bertajuk Ohmynews.com dengan slogannya “every citizen is journalism” konon menjungkirbalikkan logika lama tentang dunia jurnalistik dan menjadi kekuatan baru di era informasi saat ini (ibid, hal. 119).

Kini, situs pertemanan pun bisa menjadi alternatif baru. Misalnya, facebook,twitter, dan sejenisnya. Informasi bisa langsung diterima dan direspon seketika. Untuk yang satu ini, perlu pengkajian lebih lanjut agar situs-situs pertemanan menjadi teknologi komunikasi tepat guna. Hal ini terkait dengan merebaknya kasus-kasus tidak mengenakkan seputar penyalahgunaan situs jejaring sosial yang meresahkan masyarakat. Di sisi lain, jika bisa disalahgunakan, tentu ‘lebih bisa’ dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai sarana informasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: