Mata Sehat Berkat Buah Merah

24 Mar

Yoi Agastra

Sewaktu masih kecil seringkali orangtua menasehati kita untuk banyak mengkonsumsi wortel seperti kelinci agar mata kita terhindar dari rabun senja dan memakai kacamata. Untuk kenyataannya nasehat mereka terbukti, karena wortel memang kaya zat Karotenoid yang terbukti sangat baik untuk menyehatkan mata.

Karotenoid adalah suatu pigmen (zat warna pada kulit) alami yang lebih dari 600 pigmen (kuning, oranye, merah) mempunyai sifat yang larut dalam lemak atau pelarut organik tetapi tidak larut dalam air. Karotenoid biasanya bisa ditemukan pada cangkang luar hewan air tawar maupun laut seperti udang-udangan, kerang, ikan laut atau bisa juga disintesiskan dari tanaman alga maupun bakteri yang berfotosintetik. (http://nakedfisher.blogspot.com/2009/05/pigmen-karotenoid-1.html tanggal akses 23-03-2010). Zat-zat yang senyawa dengan Alfa karoten, Beta karoten, hingga Likopen merupakan sejenis Karotenoid yang paling banyak dijumpai pada menu makanan sehari-hari seperti buah dan sayuran.

Jenis Karotenoid yang paling berhubungan erat dengan kesehatan mata adalah Beta Karoten (Pro-vitamin A), Lutein dan Zeasanthin. Kekurangan vitamin A dapat menyebabkan mata kering, katarak, hingga rabun senja yang dapat menyebabkan kebutaan. Sedangkan lutein dan zeasanthin merupakan suatu zat yang membantu memperlambat berkembangnya regenerasi katarak.

Para ahli gizi menganjurkan kebutuhan asupan manusia akan vitamin A sehari sekitar 750 mikrogram retinol equivalen, setara dengan 4500 mikrogram beta karoten atau 9.000 orang mengkonsumsi vitamin A yang terkandung dalam buah dan sayuran (Trubus 451, Juni 2007).

Vitamin A bisa didapat dengan cara mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan. Di Indonesia, buah buahan yang kaya vitamin A adalah pepaya, mangga, buah merah dan jeruk, sedangkan sayuran seperti wortel, sawi, dan ubi jalar merah. Senyawa pro vitamin A yang dikandungnya akan dikonversi menjadi vitamin A jika diperlukan dalam tubuh. Namun apabila tubuh sudah memiliki cadangan vitamin A dengan kadar yang tinggi, pro vitamin A yang tadi tidak jadi dikonversikan menjadi vitamin A dan akan dibuang sendirinya oleh tubuh sehingga tidak menimbulkan toksisitas. Kebutuhan vitamin A bisa juga dipenuhi dengan mengkonsumsi suplemen vitamin A yang banyak tersedia di toko-toko obat. Namun perlu diwaspadai karena suplemen vitamin A pada umumnya mengandung vitamin A yang sudah aktif sehingga akan bersifat toksik apabila dikonsumsi hingga overdosis.

Gejala toksisitas vitamin A ini disebut Hipervitaminosis yang akan muncul jika mengkonsumsi vitamin A 10 kali lipat dari dosis yang dianjurkan. Biasanya gejala ini akan menimbulkan hilangnya nafsu makan, pusing, mual, sakit otot dan tulang, kebotakan hingga kerusakan hati. Sedangkan kelebihan pro vitamin A hanya akan mengakibatkan bercak berwarna kuning pada kulit yang akan hilang dengan sendirinya apabila konsumsinya dikurangi atau dihentikan.

Untuk diserap oleh tubuh, karotenoid harus terlepas dari berbagai unsur makanan yang lain dan bercampur dengan misel (campuran garam dan beberapa jenis lipida). (Trubus 451, Juni 2007). Tidak hanya itu saja, untuk penyerapan zat ini juga dibutuhkan lemak dalam makanan sekitar 3-5 gram. Akibatnya karotenoid yang diserap oleh tubuh hanya sedikit. Misal, beta karoten pada wortel hanya 46% dan pepaya 33% (dari 100%), sehingga karotenoid dalam bentuk minyaklah lebih mudah untuk diserap oleh tubuh.

Untuk mendapatkan vitamin A alami lebih cepat daripada mengonsumsi sayuran dan buah yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang berasal dari hewan, ikan, maupun bahan makanan yang sudah diolah, seperti daging, susu, keju, ikan laut. Disamping mengandung beta karoten juga mengandung banyak lemak yang berfungsi sebagai pelarut karotenoid sehingga lebih cepat diserap oleh tubuh akan tetapi perlu diperhatikan makanan yang berlemak juga mengandung kolesterol yang tidak baik jika dikonsumsi berlebihan.

Buah Merah yang kaya manfaat

Buah Merah merupakan sejenis buah tradisional dari daerah Papua, masyarakat Wamena biasa menyebutnya Kuansu atau Tawi. Buah merah juga memiliki nama latin yaitu Pandanus Conoideus Lam, karena buah ini termasuk tanaman pandan – pandanan memiliki tinggi hingga 16 meter. Buahnya sendiri berbentuk lonjong dengan kuncup tertutup daun buah, panjang buah sekitar 55 cm, berdiameter kurang lebih 10 – 15 cm, dan berbobot sekitar 2 kg jika sudah masak, buah ini berwarna merah marun terang.

Tanaman ini merupakan tanaman endemik yang biasa tumbuh di dataran tinggi sekitar 1000-3000 meter di atas permukaan laut, buah merah banyak terdapat di hutan – hutan daerah Papua, namun sekarang tanaman ini banyak yang sudah dibudidayakan oleh warga sekitar.

Secara turun-temurun masyarakat di Wamena Papua, buah merah biasa digunakan dalam upacara adat bakar batu, namun banyak juga yang menggunakan buah merah sebagai obat-obatan tradisional untuk mengobati penyakit mata, cacingan, penyakit kulit, dan sebagainya.

Zat Karotenoid merupakan zat yang paling dominan pada buah merah, kandungan karotenoid berkisar antara 4.000-12.000 ppm (karotenoid) dan 60-700 ppm (beta karoten). Tingginya variasi kandungan dikarenakan perbedaan umur panen, lokasi tumbuh dan varietas. (Trubus 451, Juni 2007). Untuk memudahkan perbandingan dengan sayuran dan buah yang lain seperti wortel dan pepaya yang paling dikenal sebagai penghasil beta karoten, anggap saja diambil kadar buah merah rata-ratanya menjadi karotenoid 8000 ppm dan beta karoten 380 ppm, sedangkan wortel hanya memiliki kadar beta karoten sebanyak 120 ppm. Dan pepaya hanya memiliki 8 ppm. Bisa dilihat bahwa buah merah merupakan tanaman sumber terbaik beta karoten dibanding dengan sayur dan buah lain.

Untuk memenuhi kebutuhan vitamin A per hari dibutuhkan sekitar 4.500 mikrogram, jika diasumsikan dalam bentuk makanan menjadi setara dengan 80 gram wortel namun kebutuhan tersebut dapat ditutupi dengan mengkonsumsi 1 sendok makan minyak buah merah. Di samping itu buah merah juga kaya akan vitamin E dan C sebagai zat pembantu dalam pengkonversian beta karoten menjadi vitamin A, vitamin E dan C juga dibutuhkan oleh tubuh sebagai antioksidan kuat sebagai penangkal radikal bebas.

Walaupun potensi buah merah dalam mengobati penyakit mata belum digali lebih dalam, secara tradisional khasiat buah merah dalam pengobatan penyakit mata telah dibuktikan oleh warga lokal Papua, untuk penderita mata minus (miopia) dan silinder (astigmatis), mereka mengkonsumsi minyak buah merah dengan dosis 2 kali sehari dengan takaran 1 sendok makan. Alhasil penglihatan mereka menjadi lebih jernih hanya dalam kurun waktu 2 bulan saja.

Dari pembuktian oleh warga lokal tersebut, tidak ada salahnya perlu dilakukan pembuktian-pembuktian secara empiris, dengan cara dilakukannya penelitian dan studi klinis lebih lanjut. Seperti halnya mencari khasiat lain dari buah merah, serta kandungan lain yang terkandung dalam buah yang dipercaya kaya akan manfaat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: