Eksistensi Musik Jazz di Indonesia

24 Mar

M. Rizal Paripurna

Musik jazz pertama kali muncul di Amerika pada akhir abad ke-18, berawal dari tangan kreatifitas  orang-orang kulit hitam yang mengalami penindasan dan perbudakan . Ekspreasi yang timbul karena menentang sistem politik yang rasis dan menindas yang di wujudkan dengan cara bermusik dan gaya permainan orang-orang kulit hitam Amerika. Perbudakan dan diskriminasi rasial di Amerika justru melahirkan musik-musik perlawanan seperti Spiritual, gospel dan blues yang hingga kini tercatat dalam sejarah.( http://www.rootsonastring.com/?p=126 )

Gejala ini bisa diinterpretasikan sebagai sebuah resistensi budaya orang hitam terhadap Westernisasi, baik dari segi agama, kultur politik hingga cara bermusik, karena sebelum dibawa ke Amerika orang-orang hitam telah memiliki kebudayaan khas Afrika.( http://www.rootsonastring.com/?p=126)

Awal munculnya spirit musik atau ideologi dibalik jazz adalah pembebasan diri orang Afro-Amerika dari belenggu struktur sosial-politik represif yang dituangkan dalam ekspresi nada, harmoni, dan gaya permainan bermusik. Sebagai contoh, ragtime yang menjadi titik awal perkembangan jazz klasik (march, waltz dan polka), swing merupakan modifikasi dari ragtime, free jazz merupakan reinterpretasi dari bebop dan world music merupakan dekonstruksi jazz mainstream.

Dalam perkembangan lebih lanjut spirit jazz diinterpretasikan tidak hanya sebatas perlawanan politis, tetapi menjadi gerakan liberalisasi atau dekonstruksi bermusik dalam rangka mencari ruang gerak, alternatif cara, dan gaya permainan lain.

Akibat dari spirit Jazz yang dialektis, liberal dan dekonstruktif itu maka sebuah gaya permainan lama akan dinegasi oleh ide-ide bermusik yang baru sehingga timbul gaya-gaya permainan baru. Dalam hal ini Berend (1992) menggambarkan kronologi perkembangan jazz dalam tiga periode waktu dimana masing-masing periode melahirkan gaya-gaya permainan spesifik. Pertama, periode jazz tradisional (1890-1940) melahirkan gaya-gaya permainan Ragtime, New Orleans, Dixieland, New Orleans in Chicago, Kansas City, Chicago, Swing. Periode jazz modern (1940-1980) memunculkan New Orleans and Dixieland Revival, Bebop, Cool, Hardbop, Free, Mainstream, Fusion. Periode jazz postmodern (1980-saat ini) memproduksi gaya-gaya Neobop, free Funk, Classicism, Neo-Classicism, No Wave dan World Music.( http://www.rootsonastring.com/?p=126)

Puncak dari dekonstruksi dalam jazz terjadi pada tahun 1965-an yang ditandai denagn hadirnya free jazz. Gaya ini merupakan tonggak perkembangan jazz postmodern dengan karakter utama tonalitas bebas (free tonality); disintegrasi pada meter, beat dan simetri; masuknya musik etnis (world music); pemujaan terhadap intensitas; dan masuknya suara-suara alam khususnya dari hutan belantara (jungle sound). Pada dekade 80 dan 90, free jazz menjadi pondasi dari perkembangan fusion dan neo-Classicism, sedang mainstream dari jazz menjelma kedalam gaya permainan Classicism. Oleh karena itu jazz tidak lagi dapat didefinisikan semata-mata sebagai gaya perminan swing, bebop atau mainstream, tetapi sebagai sebuah kebudayaan bermusik yang lebih canggih dan plural.(Berend,1992)

Musik Jazz di indonesia

Belum mampunya musik jazz menjangkai seluruh lapisan masyarakat, dan hanya terjangkau oleh lapisan elit dan eksklusif merupakan salah satu kendala yang menghambat perkembangan musik jazz di indonesia Padahal kalau bersandar pada spirit yang dikandungnya jelas bahwa menjadi elit bukan merupakan tujuan penciptaan musik jazz, sebab jazz selalu berdimensi pembebasan.

Ideologi jazz yang bersifat pembebasan, liberal, demokratis dan dekonstruktif terhadap kebekuan gaya-gaya permainan sebelumnya adalah merupakan sifat kritis yang perlu juga dipahami dan diinternalisasi oleh penggemar jazz kalau mereka ingin mengerti apa itu jazz. Tanpa sosialisasi dari sifat kritis musik jazz maka para penggemar jazz justru dapat terjebak dalam cara sosialisasi yang dikembangakan saat ini oleh rezim industri musik sehingga jazz menjadi elit dan eksklusif.

Musik jazz dianggap elit karena memang tidak banyak penggemarnya. Untuk benar-benar memahami musik jazz juga diperlukan waktu untuk belajar yang cukup lama. Maka cenderung yang menyukai musik jazz adalah orang-orang dari latar belakang pendidikan, seperti mahasiswa dan kalangan akademis lainnya. Tetapi bukan berarti musik selain jazz hanya dinikmati oleh kaum yang tidak terpelajar. Setiap orang dapat menikmati musik jazz.

Salah satu sebab mengapa musik pop atau rick lebih banyak disukai orang adalah karena jenis musik tersebut dapat dengan mudah dihapal. Berbeda dengan musik jazz yang sangat universal. Musik jazz juga bagaikan puisi yang harus diapresiasikan terlebih dahulu untuk dapat dinikmati. Dengan mudah dihapal, orang tidak sulit lagi untuk menikmati musik rock atau pop.

Menjadikan musik jazz bukan sebagai musik yang elit terutamanya adalah melalui sosialisasi. Sosialisasi adalah proses untuk membiasakan orang mendengar dan lebih mengenal musik jazz. Sosialisasi tersebut dapat melalui berbagai bentuk seperti kaset, CD, LD, VCD, majalah, buku dan berbagai macam literatur lain. Sosialisasi harus dilakukan secara rutin dan terus menerus, jangan sampai berhenti ditengah jalan. Sebab sosialisasi juga merupakan proses belajar yang tidak dapat dilakukan sepotong demi sepotong.

Dilema yang terjadi di Indonesia bahwa menikmati musik jazz dijadikan sebagai gaya hidup atau pola hidup seseorang. Ada kalangan tertentu yang terpaksa mendengar musik jazz hanya agar dipandang sebagai kaum borjuis. Hal inilah yang sering terjadi pada kafe-kafe atau pub. Di satu pihak mereka memang melakukan sosialisasi jazz, tetapi di sisi lain mereka menjual gengsi dengan musik jazz sebagai perantaranya. Sosialisasi semacam itu justru merusak citra jazz sebagai musik yang berdimensi pembebasan dan jauh dari kesan glamour.

Demikian pula dengan media sosialisasi yang lain seperti kaset, CD dan VCD. Banyak orang yang sebenarnya ingin tahu lebih jauh tentang musik jazz melalui kaset. Tetapi dilemanya, musik-musik jazz banyak yang hanya terdapat dalam CD yang tentu saja lebih mahal harganya. Hal-hal semacam inilah yang menjadikan musik jazz dianggap sebagai musik yang membutuhkan biaya mahal.

Untuk dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat seluas-luasnya, maka sosialisasi yang dilakukan juga harus merakyat. Artinya sosialisasi dilakukan dengan melihat komposisi, keadaan dan perilaku masyarakat itu sendiri. Untuk keadaan di Indonesia saat ini, musik jazz-lah yang seharusnya mendekati masyarakat terlebih dahulu. Bila sosialisasi berhasil, maka keadaan di atas akan berbalik dengan sendirinya (masyarakat akan mencari jazz).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: