Menimbang Heroisme Golkar dalam Lakon Pansus

10 Mar

Kamil Alfi Arifin

Seperti halnya film, cerita panjang kasus Century hampir mendekati titik ending, setelah beberapa hari yang lalu masing-masing fraksi membacakan pandangan akhir terkait kasus itu. Tentu, layaknya setelah menonton film, publik mempunyai kesan-kesan tersendiri baik terhadap tokoh-tokoh yang ‘bermain’ di dalamnya maupun alur atau proses ceritanya. Salah satu kesan yang muncul (atau sengaja dimunculkan) adalah beberapa anggota partai koalisi yang bertindak heroik dengan bersikap kritis dan berseberangan dengan pemerintah seolah-olah mendapat simpati di hati publik. Partai koalisi itu di antaranya partai Golkar. Sikap kritis fraksi Golkar dalam Pansus menarik untuk dicermati. Mengingat beberapa hal. Pertama, Golkar adalah partai yang memiliki pengalaman matang dan kemampuan dalam membangun hubungan yang elegan dengan kekuasaan. Kedua, ortopraksi politik kita dikepung oleh pencitraan-pencitraan yang mengarah pada mengakarnya low-politics.

Pertanyaannya sekarang, mengapa Golkar begitu sengit mengkritisi pemerintah terkait kasus Century sekalipun ia menjadi bagian dari partai koalisi? Terlepas dari alasan altruisme politik seperti argumen pencarian kebenaran harus diutamakan dalam kasus itu, saya rasa, ada beberapa alasan pragmatis yang mendasarinya. Mengingat politik selalu menjadi aktivitas yang diruaki kepentingan-kepentingan yang memang samar-samar. Goenawan Muhamad dengan mengutip Richard Nixon, pernah berujar politik ibarat puisi. Puisi bagi Nixon bukan berarti ekspresi kejujuran, ia adalah sebuah upaya menggetarkan. Dengan politik, pernyataan-pernyataan tak usah cocok seratus persen dengan fakta. Politik – seperti hal puisi – harus bisa mempesona. Golkar telah menyanggupi persyaratan itu, ia tampil dengan begitu pesona dengan kekritisannya dan sekaligus menggetarkan. Lalu, apa implikasinya pada sistem politik kita?

Kegelisahan Politik

Untuk memahami sikap kritis Golkar dalam Pansus Century, kita perlu melihat kembali keadaan objektif Golkar pra-koalisi. Lebih tepat pasca pemilu 2009 dan waktu-waktu menjelang Musyawarah Nasional VIII Golkar di Pekan Baru-Riau setahun silam. Perlu diingat, Golkar dalam pemilu yang lalu kalah telak dibawah Demokrat. Bahkan, dalam tiga pemilu sepanjang reformasi, Golkar dilanda kekalahan beruntun. Dalam konteks itu, evaluasi yang dilakukan baik berdasarkan orang-orang internal (anggota Golkar, khususnya yang muda-muda) dan orang-orang eksternal (pengamat politik) menuntut Golkar untuk bersikap progresif. Eep Saefullah Fatah menggariskan setidaknya ada beberapa aspek penting yang mesti diperhatikan Golkar, yaitu penegasan pemosisian, perbedaan, dan merek dalam mengahadapi pesaing-pesaingnya, lebih khusus Demokrat sebagai partai pemenang (Kompas, 25 Juli 2009). Aspek itulah yang kemudian menjadi wacana hangat dalam waktu berselang pelaksanaan Munas. Golkar yang dalam sejarahnya memiliki tradisi menjadi partai yang selalu mesra dengan kekuasaan (the rulling party) diharapkan menjadi partai oposisi. Sebab tanpa ada yang mampu membawa Golkar ke orbit oposisi, lagi-lagi Golkar akan menjemput kekalahannya di masa-masa yang akan datang. Tapi kenyataannya, Munas Golkar di Pekan Baru-Riau menetapkan Abu Rizal Bakrie sebagai ketua umum dan membawa Golkar tetap berdiam diri di bawah ketiak kekuasaan dengan menjadi mitra-yunior dalam sebuah bangunan koalisi pemerintahan yang gemuk.

Pembacaan para pengamat politik yang meragukan masa depan Golkar ketika masih saja berada di bawah bayang-bayang kekuasaan menjadi masuk akal. Argumentasinya cukup jelas, mengingat bangunan koalisi yang dibangun saat itu cukup gemuk, sehingga menyebabkan tak seimbangnya check and balances sebagai unsur penting dalam berdemokrasi. Akibatnya, akan muncul kesan Golkar sebagai partai besar memiliki pragmatisme mencolok, gila kekuasaan dan hirau pada nasib demokrasi.

Sikap kritis fraksi Golkar dalam Pansus, saya kira, harus dilihat dalam kerangka historis-objektif di atas. Dalam arti, Golkar terlihat kembali mempertimbangkan pembacaan-pembacaan politik yang lalu, yaitu soal penegasan pemosisian dan penekanan perbedaan. Hal itu terbukti, dengan sikapnya yang selalu berbeda dengan pemerintah sekalipun ia sendiri berada dalam bangunan koalisi. Tentu saja, hal itu dilakukan dan diniatkan menghimpun modal politik untuk pemilu 2014.

Sistem Politik Tak Berkelamin

Manuver politik Golkar di atas, bukan tanpa masalah. Selain bisa mendatangkan kerugian terhadap Golkar sendiri, juga kontraproduktif terhadap sistem politik kita. Alih-alih dijadikan strategi membangun citra dan menebar pesona sebagai modal politik untuk pemilu tahun 2014, Golkar malah ditiban rugi. Kerugian itu akan terjadi ketika publik menganggap sikap kritis Golkar terhadap pemerintah bukan pada tempatnya. Sebab, fungsi kontrol dan penyeimbang umumnya mengandaikan posisi politik yang spesifik berada di luar pemerintahan. Pengontrol dan Penyeimbang itu seharusnya berstatus oposisi. Kalau tidak, fungsi kontrol dan penyeimbang itu seolah kedok bagi oportunisme politik (Dodi Ambardi, Tempo, 15-21 Februari 2010).

Sementara untuk sistem politik kita, sikap Golkar di atas menimbulkan kebingungan-kebingungan yang berujung pada refleksi kekaburan sistem politik kita. Sistem politik presidensial namun kental berwatak parlementer. Sebab dalam sistem presidensial murni tak mengenal koalisi. Padahal ketidakjelasan sistem politik potensial digunakan untuk kepentingan-kepentingan hipokrit kekuasaan.

2 Responses to “Menimbang Heroisme Golkar dalam Lakon Pansus”

  1. yurtdisi egitim 17/03/2010 at 20:21 #

    adalah situs web ini availible di English?

    • parapenuliskreatif 28/04/2010 at 14:37 #

      maaf…:) blog dan kontennya hanya tersedia dalam bahasa Indonesia saja.
      terima kasih sudah berkunjung🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: