Kriminalitas di Tengah Bencana

10 Mar

Ahmad Alwajih

Apa peribahasa yang tepat untuk menggambarkan derita rakyat Cile? Sudah jatuh tertimpa tangga atau sambil menyelam minum air? Yang jelas, tidak hanya menyisakan duka cita, tetapi juga krisis kemanusiaan lainnya. Aksi penjarahan mulai marak terjadi. Pemanfaatan situasi?

Dunia berduka. Gempa berkekuatan 8,8 skala Richter mengguncang Cile dan merenggut ratusan nyawa. Belum lagi jika menghitung jumlah kerugian materi yang tidak sedikit. Ini adalah gempa terbesar abad ini, melebihi kekuatan gempa Haiti yang berkekuatan 7,0 skala Richter (Kompas, 1/3/2010).

Berbagai wujud simpati mengalir dari berbagai penjuru dunia sebagai kepedulian atas dasar kemanusiaan. Hal ini makin meneguhkan anggapan bahwa dunia makin tidak berbatas. Apa yang terjadi di belahan bumi lainnya, berdampak bagi masyarakat dunia pada umumnya. Boleh dibilang ini “sisi baik” pasca bencana.

Di sisi lainnya, ada catatan-catatan penting untuk diperhatikan. Khusus gempa bumi, memang tidak ada sistem peringatan dini (early warning system) karena datangnya sulit diprediksi. Selain itu, belum ditemukan metode khusus untuk mendeteksi gempa bumi secara akurat. Berbeda jika dibandingkan bencana Tsunami yang sudah ada metode detektornya sehingga mampu menekan total angka kerugian.

Bagi Indonesia yang rawan terhadap bencana gempa, tentunya tragedi Cile adalah pelajaran terbaik. Sebab, secara geografis, Indonesia terletak di atas cincin api, ring of fire, bersama beberapa negara di wilayah pasifik lainnya. Jepang, misalnya, yang diketahui sering dilanda bencana alam seperti Tsunami dan gempa bumi.

Lantas, apa yang bisa dilakukan oleh kita, warga Indonesia, untuk menghadapi gempa yang sulit diprediksi ini? Pengalaman gempa Yogyakarta 2007 silam memberikan banyak pelajaran mengenai metode penanganan gempa kalaupun memang belum ada metode deteksi yang akurat.

Ada dua pengupayaan yang bisa dilakukan. Pertama, persiapan pra-bencana. Bentuk persiapan pra bencana bisa beragam. Bisa dengan memberikan pelatihan pertolongan pertama saat, bentuk-bentuk simulasi di berbagai institusi, sampai merancang bangunan tahan gempa.

Dua, penanganan yang tepat pasca gempa. Seringkali ada kasus bantuan yang datang terlalu lama atau barang bantuan tidak sesuai dengan kebutuhan. Perlu dipikirkan ulang agar jangan sampai kasus-kasus tersebut mencuat lagi sehingga menambah derita korban gempa. Memang ini sudah kewajiban pemerintah, tapi tidak ada salahnya jika masyarakat turut serta berpartisipasi aktif.

Keamanan Pasca Bencana

Ada berita menyedihkan di Cile selain tentang gempa. Masih dirundung suasana duka di kota Santiago, Cile, beberapa orang tampak melakukan aksi penjarahan (Metro TV, 1/3/2010/21:09 WIB). Padahal, pemerintah sudah menyerukan larangan untuk keluar dari rumah masing-masing guna tindakan penanganan gempa lebih lanjut. Ada tanda tanya besar terkait kasus ini, mengapa bisa demikian? Bagaimana mungkin korban musibah bencana mampu melakukannya?

Berbagai media telah mengekspos soal aksi merugikan ini. Namun belum diketahui secara pasti apa penyebabnya. Letak Indonesia terpisah jauh sehingga kita hanya bisa menduga-duga berbagai kemungkinan. Salah satunya, bantuan dari pemerintah setempat belum maksimal karena keterbatasan tenaga dan belum ada suplai dari luar negeri. Sejak dua hari lalu, pemerintah Cile memang belum meminta bantuan negara-negara lain. Dorongan terpaksa pun muncul, dan terjadilah tindakan yang tak perlu terjadi, menjarah barang-barang milik orang lain.

Atau kemungkinan yang lebih dari sekedar motif terpaksa, yakni pemanfaatan situasi oleh golongan tertentu untuk mengeruk keuntungan pribadi. Gempa berkekuatan tinggi mau tidak mau memaksa orang-orang untuk keluar dari ruangan dan mencari tempat yang lebih aman. Wajar jika mengingat rasa trauma di tahun 1960 oleh gempa berkekuatan lebih besar, yaitu 9,5 skala Richter. Bangunan yang tak berpenghuni itulah yang menjadi sasaran empuk para penjarah.

Pasca gempa maupun bencana alam lainnya, situasi dan kondisi cenderung tidak stabil. Prioritas utama para korban adalah keselamatan dirinya. Sedangkan keselamatan harta bendanya tidak dipersoalkan. Oleh karenanya, sangat memungkinkan untuk terjadi tindak kriminal seperti di kota Santiago, Cile. Meskipun tidak marak terjadi, penjarahan bisa menjadi masalah serius jika tidak ditangani sejak awal. Penjarahan, apapun alasannya, tetap saja tidak bisa dibenarkan baik oleh hukum negara maupun tata-susila masyarakat sebab merugikan orang lain. Selain itu, aksi kriminal, sekecil apapun itu, akan melahirkan virus-virus aksi kriminal lainnya yang lebih besar.

Permasalahan mendasar kasus di atas sebenarnya terletak pada sistem keamanan lingkungan setempat. Andaikata sistem keamanan yang melibatkan penegak hukum dan masyarakat telah terjalin dengan baik, maka tidak perlu khawatir terjadi tindak kriminal. Sama halnya dengan analogi tubuh yang sehat, penyakit dari luar akan sulit menyerang.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia yang juga negara rawan bencana? Akankah terjadi kasus serupa? Bagi masyarakat Indonesia yang umumnya bermental guyub (komunal), tanpa perlu himbauan, sebenarnya sudah terbentuk sistem keamanan bersama. Harta benda dijaga bersama-sama. Apabila seseorang melakukan tindakan melawan hukum dan tata-susila, maka akan ditindak secara bersama-sama pula. Dengan bahasa lain, main hakim sendiri. Di mata hukum, main hakim sendiri tidak bisa dibenarkan. Namun cukup efektif untuk mencegah niat para kriminil yang hendak berulah.

Tidak bisa dipungkiri, situasi dan kondisi saat bencana jauh dari kesan stabil. Memperhatikan keselamatan para korban memang prioritas utama. Akan tetapi, bukan berarti membiarkan begitu saja penjarahan “atas nama bencana” merajalela. Di samping menambah kerugian materi, juga mampu menjadi pemicu aksi-aksi yang tak diharapkan lainnya. Diharapkan masalah keamanan ini menjadi bahan pertimbangan saat penanganan pascagempa nantinya. Semoga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: