Fenomena Kekejaman Babe alias Baekuni

10 Mar

Alan Kusumo Nugroho

Sadis, kejam, dan tidak berperikemanusiaan. Barangkali itulah komentar kita ketika membaca kasus mutilasi yang dilakukan Baekuni alias Babe. Namanya segera mengingatkan kita kepada Ryan beberapa tahun silam yang tak kalah sadisnya. Babe setidaknya mengaku telah membunuh 14 anak jalanan dan enam lainnya di mutilasi.

Membaca rekam jejaknya, daftar korban masih mungkin bertambah, mengingat ia telah memulai perburuannya sekitar tahun 1997. Begitu rapinya aksi kriminal Babe, kekejiannya selama lebih dari sepuluh tahun. Masyarakat tidak sedikit pun menaruh curiga pada perilaku Babe yang sesungguhnya menyimpan sesuatu di balik semua itu. Selama itu pula, pedagang kaki lima dan orang yang peduli anak jalanan ini dikenal sebagai sosok penyayang anak sehingga masyarakat memanggilnya Babe.

Paedofil sesungguhnya adalah kelainan yang menghendaki pemuasan seksual dengan objek anak pra-pubertas Babe tak sekadar paedofil dia diindikasikan mengidap ”komplikasi” dengan homoseksual dan nekrofilia yang menyukai hubungan seksual dengan mayat. Dia hanya memilih anak laki-laki yang menurutnya ”berkelas”, mengeksekusi, menyodomi, memutilasinya. Para pengidap paedofil ini biasanya sangat telaten dan selektif mencari mangsa sesuai seleranya. Mereka juga obsesif dan posesif terhadap korbannya. Lazimnya, mereka akan membangun persona dengan bertindak sebagai penyayang anak. Kaum paedofil biasanya juga mendokumentasikan perilaku dan korbannya secara sistematis.

Pertanyaan yang lazim mengemuka, mengapa seseorang menjadi homoseksual paedofil? Faktor genetika, pengalaman, dan lingkungan serta interaksi antarfaktor tersebut bertanggung jawab atas munculnya paedofil. Dalam kasus Babe, tampaknya pengalaman yang dialami Babe pada masa lalu yang membuat jadi seperti sekarang dan pengalaman yang sungguh membekas di hati Babe.

Awalnya Babe adalah korban di masa lau, tetapi selanjutnya, bisa jadi karena menikmati atau faktor balas dendam, dia aktif mencari korban. Anak, terutama anak jalanan, dipilih sebagai korban pengidap kelainan seksual, selain karena faktor selera ketertarikan, juga karena mudah didapat, dimanipulasi, dan paling lemah dalam pertahanan diri.

Tanpa sekali-kali bermaksud menyetujui segenap kekejian yang dilakukan Babe. Babe sesungguhnya bukan sekadar seorang pelaku. Babe adalah korban dari cacat peradaban di masa lalu yang kita bangun dalam masyarakat kita yang cenderung menyimpang. Dunia yang dia ciptakan sendiri, dari sesamanya, dari benda-benda, dari pemerintah, bahkan dari dirinya sendiri.

Kerasnya kehidupan membuat kita jadi makhluk yang individualis, cuek, dan abai terhadap lingkungan sekitar itu juga yang dialami babe. Masyarakat dipaksa menghadapi perasaan sulit yang akut dalam kehidupan yang kian keras, berat, melelahkan.

Sayang kita tidak bisa memutar mundur jarum jam sejarah. Babe tidak akan mengalami trauma pelecehan seksual oleh sesama jenisnya apabila tidak menggelandang di waktu itu. Babe menggelandang karena miskin dan sering mendapat kekerasan dari orangtuanya. Anak-anak juga tidak perlu menjadi korban Babe, seandainya mereka bukan anak jalanan. Mengapa mereka turun ke jalan? Faktor ekonomilah umumnya yang melatarbelakangi itu semua.

Kasus mutilasi Babe setidaknya adalah pelajaran bagi individu, keluarga, masyarakat, dan negara untuk senantiasa bijak dalam menjaga amanat kehidupan. Fakir miskin dan anak terlantar seharusnya dipelihara oleh negara. Mereka tidak saja harus dilindungi, tetapi juga diberdayakan dan disejahterakan dengan fasilitas memanusiakan atau memadai.

Kasus yang terbesar daripada kasus fenomenal lainnya, seperti Robot Gedhek dan Ryan, yang sudah juga dikenal oleh masyarakat kita, mereka termasuk pembunuh berdarah dingin yang tanpa belas kasih membunuh korbannya.

Tetapi akhir-akhir ini justru muncul Babe yang justru membunuh korbannya sampai 14 anak untuk saat ini dan masih diselidiki lagi apakah korban akan bertambah lagi atau tidak, dan korban tersebut justru anak-anak di bawah umur dan mereka juga dimutilasi untuk menghilangkan jejak dan tidak menimbulkan kecurigaan, benar-benar orang yang tidak mempunyai hati. Akan tetapi hal ini terjadi juga karena pengalaman Babe di masa lalu yang sungguh keras dan oleh orang tuanya dibilang anak bodoh dan tak berguna.

Babe memilih anak jalanan yang menjadi korban dikarenakan Babe itu Paedofil, homoseks dan juga karena anak jalanan lebih bisa diperalat dan dibodohi karena tidak berpendidikan, oleh karena itu Babe mencari korban anak jalanan sebagai targetnya. Dan bukan hanya itu saja setelah itu anak jalanan yang menjadi korban dibunuh tetapi dengan cara memutilasi korbannya hal itu dilakukan karena dia diindikasikan mengalami gangguan jiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: