Antisipasi ‘Mogol Pemberitaan’ Pascabencana Ciwidey

10 Mar

Noveri Faikar Urfan

Bencana longsor Ciwidey sudah memasuki pekan ketiga, agenda evakuasi korban bencana juga sudah dihentikan, kini yang penting adalah agenda rekonstruksi Ciwidey agar kembali ke keadaan yang lebih baik. Selama tiga minggu ini, pemberitaan media massa sudah mengetengahkan kepada publik, tentang bagaimana kronologi kejadian bencana dan proses penanganan bencana. Hampir memasuki minggu keempat ini, media massa seharusnya menjalankan satu tugasnya lagi yang belum selesai, yakni mengawal proses recovery dan rehabilitasi pasca gempa hingga selesai, agar pemulihan Ciwidey bisa diketahui dan dikontrol dengan baik oleh masyarakat luas.

Apakah dalam kasus bencana Ciwidey, media massa bisa menyajikan pemberitaan sampai selesai, yakni sampai pada tahap recovery dan rehabilitasi pasca bencana. Tampaknya kita tak perlu banyak berharap, pasalnya media massa di Indonesia punya kecenderungan mogol dalam tugasnya untuk mengontrol proses penanganan bencana.

Kecenderungan media seperti ini, identik dengan yang diungkap oleh Hermawan (Bernas Jogja, 22 Februari, 2007), di mana dia menganologikan bahwa praktik pemberitaan media untuk bencana, seperti ‘kutu loncat’ yang melompat dari satu kasus ke kasus lain, akibatnya pemberitaan soal bencana tidak pernah tuntas, dan tidak mampu mendorong terciptanya konsepsi penanggulangan bencana secara tepat dan terpadu.

Selama ini, corak pemberitaan media untuk fenomena bencana memang terkesan setengah-setengah, yakni media hanya gencar memberitakan kejadian pada saat bencana, untuk memperoleh efek dramatis dan bombastis, setelah memasuki masa pasca bencana, media sering malas-malasan (mogol) untuk mengontrol agenda pemulihan wilayah bencana.

Hasil penelitian dari Muzayyin Nazaruddin (2008) yang mengambil kasus pemberitaan bencana erupsi Merapi dan gempa Jogja misalnya, menunjukkan pola bahwa pemberitaan media massa pasca bencana memang mengalami penurunan yang cukup drastis. Artinya, bentuk pengawalan media lewat pemberitaan pasca gempa mulai menurun, hal ini menurut penulis, akan menghasilkan resiko yang besar terhadap penyalahgunaan agenda penanganan gempa. Seperti kasus penyelewengan dana korban tsunami di Aceh tahun 2004, yang salah satunya juga disebabkan oleh tidak intensnya kontrol media terhadap proses agenda pemulihan pascabencana.

Agenda pemberitaan media untuk mengawal proses pemulihan pascabencana, sepertinya memang tidak cukup menarik bagi media massa untuk mereka angkat, hal ini mungkin sejalan dengan salah satu prinsip dalam pemberitaan yang sering kita dengar, yakni ‘bad news is a good news’, karena itulah media -terutama televisi- lebih suka memberitakan kejadian pada saat bencana, untuk dapat menunjukkan eforia kisah satir bencana, agar penonton terpikat, terbuai, kemudian menangis, persis misi tayangan sinetron. Setelah itu, media massa akan mogol dari tugasnya untuk mengontrol proses pemulihan pascabencana.

Sikap mogol media, juga sangat mungkin akan terulang dalam kasus bencana Ciwidey kali ini. Indikasinya mudah dilihat, seperti pemberitaan bencana yang biasanya mengisi headline media, secara perlahan mulai hilang, hari demi hari pemberitaan soal bencana mulai surut, kemudian tergantikan oleh pemberitaan lain yang lebih aktual, seksi, dan bombastis, jelang satu atau dua bulan kemudian, pemberitaan pascabencana Ciwidey bisa dipastikan akan lenyap dari peredaran.

Kalaupun media memberitakan kembali, itupun menunggu adanya kejadian luar biasa pada proses pemulihan bencana, seperti kasus korupsi dana pemulihan bencana, atau ada orang meninggal akibat dana tidak tersalurkan. Hal ini mencerminkan kesan, bahwa media tidak menjalankan fungsi kontrolnya dengan baik pada proses pemulihan pascabencana, agar penanganannya bisa berjalan dengan baik dan benar.

Bagi kita yang tertarik untuk mengamati perilaku media, penulis rasa ini adalah saat yang cukup tepat untuk meninjau atau menegaskan kembali pola dan sikap pemberitaan media di Indonesia dewasa ini, khususnya soal pemberitaan mereka terhadap kasus bencana. Sekarang kita tinggal menunggu, dalam rentang waktu tertentu, apakah media massa kita akan bersikap seperti biasanya, ‘selalu mogol dalam memberitakan proses pemulihan pasca bencana’, ataukah ada kecenderungan lain.

Sampai saat ini, penulis masih meyakini bahwa sikap pemberitaan media massa terhadap kasus bencana tidak akan mengalami perubahan signifikan, karena hal ini terkait soal kecenderungan akumulasi kapital yang masih menjadi dasar keimanan media massa di Indonesia. Penulis menilai, bahwa pertimbangan soal pentingnya kontrol media atas proses penanganan pemulihan pascabencana, akan menjadi pertimbangan nomor ke sekian, karena akumulasi modal lebih menarik daripada harus menjalankan tugas-tugas profetik yang seharusnya dijalankan oleh media massa.

Jika nanti kita sudah bisa memastikan, bahwa pemberitaan media massa di Indonesia terhdap kasus penanganan bencana memang tidak berubah, maka hal ini semakin menegaskan bahwa kondisi dunia media massa di Indonesia memang sedang bermasalah, dan sangat mungkin bahwa bencana Ciwedey akan menjadi korban berikutnya dari adanya lose control pemberitaan media pascabencana.

Tidak perlu kaget, jika proses penanganan bencana di Indonesia sangat rawan terhadap pelanggaran dan penyalahgunaan, akibat tidak adanya dukungan dari media massa untuk memperbaiki kinerja penanggulangan bencana. Jika kecenderungan media tidak berubah, maka harapan kita untuk menuju kinerja penanggulangan bencana yang efektif dan tepat sasaran, semakin jauh dari kenyataan.

Realitas yang menunjukkan, bahwa media massa di Indonesia memang suka mogol untuk mengontrol proses penangangan bencana sampai selesai, memang kondisi yang memprihatinkan, sampai kapan kecenderungan ini akan berakhir, sulit untuk diperkirakan. Akankah Ciwedey benar-benar menjadi korban ‘mogol pemberitaan’ media massa berikutnya, waallhualam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: