Tag Archives: produk dalam negeri

Produk Dalam Negeri Mampu Bersaing

26 Mar

Renata Pertiwi Isadi (09321077)

 

Masyarakat Indonesia terkenal dengan budaya konsumtif. Menurut mantan Ketua Biro Pusat Statistik (BPS) Soegito, perilaku konsumtif masyarakat Indonesia tergolong berlebihan bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Mengapa demikian?

Indonesia kini telah menjadi negara yang liberal, walau dengan sistem pemerintahan yang demokratis dan berasas Pancasila. Kehadiran globalisasi di berbagai bidang tampaknya kurang dipersiapkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Bukannya mempersiapkan filtrasi untuk menyaring mana produk dan kebudayaan yang baik, kini justru semua pengaruh dari luar diserap sebebas-bebasnya. Mental masyarakat Indonesia tampaknya masih belum siap menjadi bangsa yang anti gengsi. Tanpa menggunakan produk-produk bermerek dari luar negeri biasanya mereka merasa tidak percaya diri, malu, dan tidak berani tampil di depan umum. Memang tidak semua masyarakat Indonesia seperti ini, tapi Anda bisa buktikan sendiri dari penampilan remaja-remaja di kota besar, atau setidaknya yang bisa dilihat di layar TV pada artis-artis ibukota. Bahkan tidak hanya remaja, tapi para pejabat tinggi negara pun gaya hidupnya sangat hedonis. Mereka lebih cenderung membeli barang daripada membuatnya sendiri. Alih-alih membeli produk dalam negeri, mereka bahkan lebih memilih memborong barang-barang impor.

Banyak barang impor yang beredar di Indonesia. Hal tersebut rupanya turut membangkitkan semangat para pengusaha muda. Mereka yang kreatif dan inovatif mulai menciptakan lapangan kerja sendiri dan menghasilkan produk-produk dalam negeri. Indonesia negara yang kaya dengan hasil alam. Banyak produk yang bisa diolah dari hasil alam tersebut. Mulai dari makanan, pakaian, aksesoris, furniture, obat-obatan, kosmetik, dan masih banyak lagi. Namun persaingan dengan produk luar negeri memang tidak mudah. Pemerintah harusnya dapat memebatasi masuknya barang-barang impor ke Indonesia. Setidaknya untuk mengurangi tingkat konsumtif mastarakat terhadap barang-barang impor yang kian menenggelamkan produk-produk asli Indonesia.

Budaya konsumtif seharusnya dapat dibasmi. Bila negara-negara lain saja bisa, mengapa Indonesia tidak bisa? Namun apa mau dikata, alih-alih membasmi budaya konsumtif, justru pejabat pemerintahlah yang sebagian besar memiliki budaya konsumtif tersebut. Kekayaannya terekspos oleh media, atau bahkan justru malah sengaja dipamerkan. Kekayaan ini yang menjadi tontonan masyarakat. Pemerintah tidak lagi dapat memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya. Walau sebenarnya pemerintahlah salah satu pihak yang dapat menekan budaya konsumtif ini.

Hingga kini efek dari kinerja pemerintah dalam menurunkan tingkat konsumtif masyarakat belum dirasa membuahkan hasil nyata. Walau demikian, setidaknya pemerintah bisa memberikan dukungan pada masyarakat Indonesia yang bersungguh-sungguh ingin maju. Terutama bagi yang ingin mengharumkan nama bangsa. Mencoba menanggalkan kebiasaan membeli produk luar negeri dan beralih pada produk dalam negeri. Pemerintah seharusnya memberikan dukungan, baik bantuan dana untuk biaya penelitian dan produksi. Seperti memberikan dukungan pada yang belakangan dilakukan oleh gabungan siswa SMK Otomotif (SMK Negeri 2 Surakarta).

Menciptakan mobil buatan dalam negeri. Ini tentunya merupakan suatu hal yang baru dan membanggakan bagi generasi muda Indonesia. Walau memang masih belum lulus uji emisi pada 27 Februari lalu dan masih perlu banyak perbaikan lagi, para generasi muda pembuat dua tipe mobil ESEMKA ini pantang menyerah dan akan meneruskan uji coba mereka untuk mendapatkan sertifikat dan lulus uji emisi. Niat baik semacam ini harusnya didukung oleh pemerintah. Tidak hanya dukungan di awal berupa sorak sorai kebanggaan, tapi dukungan secara total mulai dari dukungan moral, dana, hingga nantinya produk dalam negeri ini memperoleh hak paten dan diakui secara nasional maupun internasional.

Untuk mencetak generasi terdidik, lembaga pendidikan memiliki andil yang penting untuk turut merealisasikan tujuan bangsa ini. Negara Indonesia yang menekankan pada pendidikan formal 12 tahun sebaiknya serius dalam memberikan fasilitas penunjangnya. Tidak setengah-setengah bila menginginkan hasil yang optimal. Misalnya dengan memberikan fasilitas pendidikan yang layak, tentunya dengan bantuan dari negara dan tidak membebankan pada orangtua siswa. Selain itu tim pendidik juga harus berkualitas. Setidaknya pendidik pada lembaga pengembangan siswa ini harus memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat membangun motivasi yang tinggi pula pada siswa-siswanya. Tentu ilmu pengetahuan dan pengalaman tidak kalah penting dalam menunjang tujuan utama mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi hal ini harus menjadi pertimbangan yang matang bagi negara.

Selain peran pemerintah dan lembaga pendidikan, masyarakat juga harus turut mendukung berkembangnya Indonesia menjadi negara yang mapan dan mampu bersaing secara nasional maupun internasional. Oleh karena itu berikan generasi muda kebebasan untuk berkarya. Ini merupakan hak dari setiap anak bangsa. Mereka memiliki kewajiban mengharumkan nama bangsa, maka mereka juga memiliki hak untuk berkreasi dan berimajinasi untuk terus dapat berkembang. Berikan kebebasan namun tetap dalam kontrol. Tunjukkan contoh yang baik dan tanamkan motivasi dalam ingatan mereka, sehingga akan terus berbekas dalam benak mereka hingga dewasa nanti. Sampai mereka dapat menunjukkan karya-karyanya pada negeri, bahkan menyaingi produk luar negeri.

Suatu karya atau produk biasanya diminati karena tampilan dan manfaatnya. Produk asal produk bisa diciptakan oleh siapa saja. Namun produk dengan tampilan menarik dan memiliki manfaat hanya bisa diciptakan oleh orang-orang yang cerdas dan inovatif. Banyak masyarakat Indonesia mulai mencoba menciptakan produk buatannya sendiri, mulai dari sabun cuci, makanan, pakaian, dan masih banyak lagi. Namun berapa banyak yang diminati? Bisa Anda buktikan sendiri dengan mengamati produk-produk lokal di kota masing-masing.

Cara menarik pembeli adalah dengan menunjukkan kemanfaatan yang ditimbulkan dari suatu produk. Harus menimbulkan rasa percaya dari konsumen agar mereka yakin pada produk tersebut. Caranya adalah dengan memberikan bukti, tidak harus dimulai secara besar-besaran. Banyak wirausahawan yang memberikan bukti dengan menjadikan dirinya atau keluarganya sebagai model dari produknya. Entah itu untuk produk makan, pakaian, furniture, atau yang lainnya. Menjadi model di sini maksudnya adalah orang-orang pertama yang membuktikan dan dapat menunjukkan bahwa produk tersebut baik dan aman bila dipakai atau dikonsumsi.

Selain produknya yang baik, pengemasannya juga harus baik. Bagaimana orang lain bisa tertarik pada suatu produk bila tampilannya tidak menarik. Rata-rata ketertarikan seseorang yang mempengaruhi daya belinya adalah dari sudut eye-catching. Jadi pengemasan itu juga merupakan hal yang penting. Kesesuaian dengan  tampilan, warna, fungsi dan manfaatnya harus benar-benar diperhitungkan bila ingin dapat bersaing dengan produk-produk lainnya, terutama dengan produk-produk luar negeri. Produk Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Namun dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, serta kreativitas dan mental bangsa menjadi ujung tombak dalam merealisasikan tujuan ini.

Mobil ESEMKA, Masih Adakah Harapan?

26 Mar
Dwi Khairiyah Daud (09321034)
 

Kreativitas anak bangsa patut diacungi jempol, bukan hanya laptop, handphone, televisi yang berhasil dibuat oleh tangan anak bangsa. Baru-baru ini santer terdengar munculnya mobil ESEMKA, mobil buatan tangan anak negeri sebuah SMK di kota Solo. Mobil yang dirakit oleh siswa SMK ini menjadi perbincangan hangat di berbagai media. Hal ini turut memancing perhatian masyarakat Indonesia.

Pemerintah kota Solo pun memberikan apresiasi, sebagai wujudnya Walikota Solo menjadikan mobil ESEMKA menjadi mobil dinasnya. Namun dengan yang dilakukan Joko Wi, sebutan bagi walikota Solo, pemerintah pusat cenderung menutup sebelah mata dalam melihat mobil ESEMKA ini. Cenderung pesimis melihat suatu karya dari dalam negeri ataukah mereka sudah terbiasa menggunakan produk luar negeri? Sehingga merasa janggal jika membandingkan dengan mobil ESEMKA.

Pesimistis pemerintah pusat semakin terlihat saat mobil ESEMKA gagal dalam uji kelayakan di Jakarta, tanpa membeberkan hal-hal apa saja yang harus dibenahi. Padahal dilihat dari peluang ekonomi dan bisnis, produk-produk buatan tangan sendiri dapat menaikkan perekonomian masyarakat Indonesia. Tidak lain yaitu, produk-produk yang dibuat anak bangsa adalah dari Indonesia untuk Indonesia. Semua akan kembali ke kantong Indonesia.

Apabila pemerintah menyediakan fasilitas yang memadai, maka pembuatan mobil ESEMKA dapat mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan anak negeri, yang dapat mengurangi jumlah pengangguran yang semakin hari semakin meningkat. Dan juga dapat menambah pendapatan negara.

Membayangkan mobil ESEMKA dapat dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, maka perekonomian Indonesia dapat melaju naik. Selain itu dengan mendapatkan dukungan dari semua pihak, tidak mustahil mobil ESEMKA dapat diekspor ke luar negeri dengan bermain di pasar bebas. Hal ini dapat terjadi jika percaya pada tanah air sendiri, bentuk perwujudan bahwa kita mencintai dan membela bangsa sendiri, serta menaikan harga diri bangsa di mata dunia, bahwa Indonesia bisa dan meneriakan Impossible is Nothing.

Sesungguhnya Indonesia dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri jika semua pihak termasuk masyarakat dan pemerintah mampu mendukung dan memberi fasilitas serta peluang untuk maju dan berproduksi. Sayangnya, dukungan pemerintah hanya bersifat retorika, padahal dari terbuatnya mobil ESEMKA merupakan pembuktian bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia mumpuni untuk bersaing dengan mobil-mobil asing yang banyak di pasaran, sebut saja Honda, Toyota, Hyundai.

Dengan membudidayakan SDM Indonesia yaitu diberi kesempatan berkarya, maka Indonesia dapat bersaing di kelas internasional. Mengikuti jejak India dan Cina yang sudah membuktikan diri ke persaingan internasional dengan produk-produk negaranya yang sudah membanjiri pasar dunia. Indonesia pun mampu jika pemerintah dan seluruh masyarakat sanggup menaikkan rasa cintanya dan percaya diri terhadap bangsa sendiri. Tidak melulu pesimistis terhadap prestasi Indonesia dan tidak terus-menerus melihat sisi kelam dan gagal Indonesia. Tetapi bangkit, berdiri dan memulai menggunakan produk dalam negeri.

Adapun kunci utamanya yaitu, pemerintah sanggup percaya, beraksi, dan memfasilitasi para pengusaha dalam negeri agar terus produktif. Jangan terus-menerus berpikir hal-hal teknis, bagaimana ini? Bagaimana jika seperti ini? Berpikir semacam ini akan menunda-nunda pekerjaan. Akan lebih baik jika mental baja dipupuk dari sekarang, agar sambil berpikir sambil berbuat, dan teori mengikuti aksi, sehingga pembenahan terus dilakukan untuk mencapai kata sempurna.

Karya Bangsa Dibuang Kemana?

26 Mar

Farah Fuadona (09321038)

 

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan berita di media massa yang memberitakan Jokowi, Walikota Solo yang membeli sebuah unit mobil yang dijadikan mobil dinasnya hasil rakitan sekolah SMK di kotanya. Dengan bangga ia memamerkan kendaraan minibusnya pada awak media untuk diabadikan. Dan masyarakatIndonesiaseolah-olah bangun dari mimpi panjangnya dan terhenyak dengan hasil karya dalam negeri di bidang otomotif.

Kita tentu ingat mobil Timor pada awal tahun 90-an. Indonesia mulai mengembangkan mobil nasional setelah lebih dahulu Malaysia membuat Proton sebagai mobil nasionalnya. Proton yang memang didukung dan disokong oleh pemerintah serta para ahli di bidangnya maju dengan cepat. Bagaimana dengan mobil nasional Indonesia? Mobil Timor tidak mampu bersaing dengan mobil-mobil lain yang memang sudah lama merajai pasar dalam negeri. Selain karena krisis moneter dan polemik politik yang terjadi dalam negeri serta tumbangnya pemerintahan rezim Soeharto. Mobil Timor pun perlahan-lahan mulai hilang.

Bayang-bayang kegagalan Timor bisa saja menghantui Esemka, bukan tak mungkin jika pemerintah sendiri kurang memperhatikan dan seakan tidak peduli. Banyak dari pejabat dalam negeri yang kurang mendukung dan pesimis akan perkembangan mobil Esemka. Bagi mereka penggunaan mobil Esemka sebagai kendaraan dinas walikota dan wakil walikota Solo hanya sebagai tagline saja untuk mendongkrak popularitas ketika kampanye pemilihan Gubernur atau Walikota.

Pandangan beberapa orang terhadap pencitraan diri membuat banyak proyek besar yang nantinya akan membangkitkan devisa negara hanya diam di tempat. Besarnya ego para pemimpin negeri kita terhadap pencitraan dirinya saja tanpa sadar mematikan industri diIndonesia. Seperti yang dilakukan Joko Widodo hanya dianggap sensasi saja untuk membuat decak kagum rakyatnya. Pemikiran itu mungkin benar adanya tetapi lupakan sejenak gengsi-gengsi diri pribadi para pejabat kita. Ambil sisi positifnya bukankah ini promosi yang baik, seorang tokoh figur menjadi ikon produk baru di pasaran. Harusnya kita bisa mengambil keuntungan dari pencitraan diri Jokowi seperti yang digadang-gadangkan rivalnya, untuk menarik lebih banyak lagi konsumen.

Kurangnya kesadaran pemerintah akan kemajuan IPTEK dalam negeri. Membuat lesunya kreatifitas anak bangsa, minimnya penghargaan atas jerih payah mereka membangun ilmu pengetahuan dan perekonomian Indonesia serta anggaran pemerintah yang masih dinilai cukup sedikit untuk pengembangan penelitian membuat banyak ilmuwan Indonesia yang memilih berlari meninggalkan negaranya dan bekerja di perusahaan-perusahaan industri besar seperti Jepang, Eropa dan Amerika.

Ketidakpedulian pemerintah terhadap para ilmuwan kita di luar negeri sungguh disayangkan. Banyak putra bangsa kita yang menimba ilmu di luar negeri tetapi enggan kembali karena tahu ilmunya tidak akan laku di Indonesia. Sehingga lebih memilih untuk bekerja di tempat asal mereka belajar dulu karena ilmu mereka lebih laku dipakai.  Negara bisa maju karena banyak ilmuwan yang bekerja di negerinya, karena dengan adanya mereka banyak inovasi-inovasi baru yang diciptakan, tentunya menambah lapangan pekerjaan dan sudah pasti akan menambah penghasilan negara. Lalu apa gunanya perguruan tinggi di Indonesia jika ilmuwannya malah kabur meninggalkan negaranya atau menjadi pengangguran setelah lulus kuliah.

Selama ini kita hanya mampu mengekspor ilmuwan kita tanpa mendapatkan hasilnya bukan mengekspor barang eletronik maupun otomotif sepertiMalaysiadanThailand. Negara barat semakin maju dan kita bangga menggunakan roduk mereka yang sejatinya anak negeri juga yang membuatnya. Pemerintah dengan mudahnya memberi izin barang impor dengan bebasnya menguasai pasar dalam negeri. Tidak hanya barang baru barang bekas juga dengan mudah diizinkan masuk sehingga barang lokal tak mendapat pasar yang cukup besar di negaranya sendiri. Parahnya bangsa kita sendiri bangga tetapi enggan membuat dan mengembangkannya, justru bangga menjadi diri yang konsumtif.

Mindset orang-orang terhadap produk dalam negeri harus diubah sehingga menciptakan kecintaan produk dalam negerinya. Pemerintah disini sangat berperan penting dalam kelangsungan perekonomian dalam negeri sehingga tidak dikuasai pasar asing. Pemerintah diharuskan memperbaiki fasilitas riset di Indonesia sehingga ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang hebat diluar sana mau kembali dan membangun negaranya sehingga mampu bersaing dengan negara-negara lain di dunia. Hal tentunya akan menarik minat negara lain untuk datang berinvestasi dan meneliti di negara kita.

Jangan sampai produksi Esemka sebagai produk dalam negeri yang mampu bersaing gagal di tengah jalan, hanya karena pro-kontra pencitraan pencalonan Gubernur sehingga pihak asing yang justru tertarik. Karena bagaimanapun bangsa kita yang harus memegang kendali akan perkembangann proyek mobil nasional ini, jika tidak bangsa kita yang akan dirugikan. Jerman sudah tertarik dengan proyek pembuatan mobil Esemka ini. Kita lihat bagaimana kebijakan yang diambil pemerintah dalam menyikapinya. Mau mengelola aset negara di masa depan atau membuangnya ke investor asing seperti yang sudah-sudah?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,543 other followers