Tag Archives: produk dalam negeri

Produk Indonesia, Kecintaan Indonesia

26 Mar

Ika Oktiana (09321097)

 

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alamnya, negara kepulauan yang menghubungkan dari Sabang sampai Merauke. Dari pulau–pulau tersebutlah menghasilkan banyak sumber daya alam karena di setiap pulau berbeda akan kekayaan sumber daya alamnya. Namun, penyebaran penduduk di Indonesia belum merata khususnya di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua, penduduknya tidak sepadat di Jawa. Program transmigrasi pun banyak dilakukan oleh pihak pemerintah untuk masyarakatnya, guna untuk pemerataan penduduk.

Hasil atau produk Indonesia pun sebenarnya kaya dan menghasilkan produk–produk yang berkualitas. Tentu yang seharusnya produk Indonesia itu menjadi tuan rumahnya di negeri sendiri. Namun, banyaknya monopoli dunia, produk luar negeri lebih memegang peranan pasar sehingga menjadikan minat masyarakat cenderung ke produk luar negeri.

Contohnya saja produk kecantikan Indonesia “Bali Ratih” yang tentunya produk ini sangat bagus untuk kulit Indonesia, serta ramuan–ramuan tradisional yang bahannya tidak keras dan berbahaya. Namun, produk ini tidak semenarik seperti “The Body Shop” produk luar negri yang berasal dari Inggris. Macam–macamnya pun sama, ada parfum, bodymist, sabun, body butter, lotion dan lulur atau polish. Namun, kebanyakan masyarakat Indonesia lebih memilih menggunakan The Body Shop karena produknya lebih mendunia dan terjamin daripada Bali Ratih produk lokal.

Contoh lain produk Indonesia yaitu “Sari Ayu”, “Mustika Ratu” dan “Viva” adalah produk kecantikan asli Indonesia yang kandungan di dalamnya tidak berat untuk wajah dan cocok untuk orang yang tinggal di wilayah tropis. Namun, kenyataannya masyarakat Indonesia banyak yang menggunakan produk luar seperti Revlon. Hal ini bisa terjadi karena tingkat kepercayaan konsumen yang tinggi pada produk luar negeri yang sudah mendunia dibanding dengan produk lokal, padahal produk lokal juga tidak kalah hebatnya dengan produk luar negeri.

Indonesia mengalami kendala mengenai produk dalam negeri yang kalah saing dengan luar negeri yang seharusnya bisa menjadi tuan rumah Indonesia yaitu kurangnya kesadaran masyarakat tentang pemakaian produk local karena kebanyakan dari masyarakat Indonesia lebih banyak mengkonsumsi atau menggunakan produk luar daripada dalam. Serta gaya mewah yang terjadi apabila memakai produk luar. Yang terjadi di Indonesia, apabila memakai produk luar itu berkesan elegan dan mewah karena harganya yang cenderung lebih tinggi dan kualitas yang dijanjikan telah bagus dan menyebar di seluruh dunia.

Kendala lain yaitu bahan dasar pembuat produk masih jarang atau bahannya sedikit. Ini juga bisa menimbulkan masyarakat lebih nyaman menggunakan produk luar karena produknya lebih banyak di pasaran daripada produk lokal yang hanya terdapat di gerai–gerai tertentu. Berbeda dengan produk luar yang beredar atau tersedia di hampir semua gerai kecantikan.

Penyebab Indonesia harus mengembangkan produk lokal agar memungkinkan menjadi tuan rumah Indonesia yaitu Indonesia tergerak untuk ikut maju bersama dengan negara maju lainnya. Seharusnya kita harus sebagai warga negara Indonesua harus bangkit dan bangga dengan produk lokal yang berkualitas dan menjadi tuan rumah untuk negerinya sendiri sehingga mempunyai rasa kecintaan tersendiri bagi Indonesia. Selain itu, Indonesia juga memerlukan bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan usaha produk lokalnya agar bias menarik minat masyarakat dan kesadaran cinta tanah air.

Kelebihan yang ditawarkan oleh produk lokal antara lain yaitu harga lebih terjangkau karena secara otomatis harga produk local lebih murah dan cocok untuk semua kalangan, baik menengah ke atas maupun menengah ke bawah. Produknya pun tidak keras di kulit, aman untuk dipakai karena sesuai dengan iklim tropis. Kosmetik yang dibuat Indonesia ringan dan baik karena kosmetik yang baik yaitu dampak atau hasilnya tidak secepat prosesnya, jika hasilnya itu cepat dan instan biasanya produk tersebut tidak baik karena produk yang baik membutuhkan waktu dan jeda jaraknya agak lama karena tidak merusak generasi sel–sel kulit.

Keuntungan dari produk negeri bagi masyarakat Indonesia yaitu menambah kecintaan masyarakat terhadap tanah air Indonesia karena dengan membeli produk lokal atau dalam negeri berarti sama saja dengan bangga memakai produk lokal dan mencintai bangsanya sendiri. Selain itu Indonesia juga bertambah kaya dengan produknya yang laris di pasaran dan dapat mensejahterakan pekerja Indonesia.

Oleh karena itu, kita sebagai anak bangsa Indonesia seharusnya mampu mengembangkan dan mengolah sumber daya alam menjadi lebih berguna untuk bangsa Indonesia agar kita tidak selamanya dijajah oleh negara lain, baik secara langsung maupun tidak. Karena pada kenyataannya negara Indonesia itu kaya akan aneka ragam budaya dan sumber daya yang dapat menghasilkan produk local yang baik sehingga masyarakat seharusnya bisa menggunakan yang seharusnya digunakan.

Jadi, produk dalam negeri sangat memungkinkan untuk menjadi tuan rumah di negerinya sendiri dengan mengadakan penyuluhan-penyuluhan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cinta tanah air.

Hargailah Produk Dalam Negeri

26 Mar

M. Iman Ramadhan (09321110)

 

Belakangan ini kita telah dihadapkan dengan kemajuan jaman yang semakin terbuka, Pasar bebas merupakan embrio dari efek globalisasi ekonomi itu. Indonesia dikatakan banyak orang adalah negeri yang memiliki kekayaan cukup besar. Mulai dari sumber daya alam, dan sumber daya manusianya. Sayangnya Indonesia masih minim dengan sumber daya teknologinya. Apa boleh buat, mestinya semua aspek itu bisa ter-rumus menjadi satu demi kemajuan negara ini.

Terkait hal tersebut, muncullah pertanyaan besar akan produk yang dihasilkan dari negeri ini; “mungkinkah produk dalam negeri menjadi tuan rumah di negeri sendiri?”, adalah terkait sumber daya manusia, kualitas pendidikan, contoh kongkrit hasil yang diciptakan, dan kemajuan negara ini. Untuk lebih luasnya, mari kita jabarkan secara terstruktur.

Sumber Daya Manusia

Pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di dunia telah menciptakan struktur baru yaitu struktur global. Struktur itu memberikan keterlibatan bagi seluruh bangsa dunia termasuk negeri ini, Indonesia mau tidak mau juga harus ikut andil bagi perkembangan struktur baru itu. Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam persaingan global, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi persaingan antarnegara. Indonesia dalam kancah persaingan global menurut World Competitiveness Report tahun 2009,  menempati urutan ke-45 atau terendah dari seluruh negara yang diteliti, di bawah Singapura (8), Malaysia (34), Cina (35), Filipina (38), dan Thailand (40).

Terkait dengan faktor sumber daya manusia. Indonesia juga tidak terlepas dari kualitas pendidikannya. Tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas angkatan kerja secara nasional di berbagai sektor ekonomi. Lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.

Kualitas Pendidikan

Kualitas pendidikan Indonesia saat ini masih rendah dan bisa dibilang memprihatinkan. Masih sering dijumpai bangunan sekolah yang buruk kondisinya. Bahkan sekolah-sekolah yang beratapkan langit pun masih banyak. Siswa tidak mendapatkan pasokan buku yang memadai dan yang fatal lagi adalah mahalnya biaya sekolah. Padahal kita semua tahu bahwa pendidikan merupakan hak bagi seluruh warga negara Indonesia. Inilah realita yang dialami dunia pendidikan di Indonesia.

Kondisi di ataslah yang menghambat Indonesia untuk bisa bangkit mengatasi masalah rendahnya kualitas sumber daya manusia serta tingginya angka pengangguran. Minimnya kualitas dan fasilitas pendidikan tentunya berdampak secara signifikan terhadap kualitas manusia itu sendiri. Begitu banyaknya masalah yang dihadapi pemerintah tentunya tidak bisa kita selesaikan secara cepat.

Akan tetapi sebagian besar agen pendidikan di Indonesia sepertinya sudah menyadari tentang hal ini. Oleh karena itu banyak agen pendidikan di Indonesia lebih menekankan kualitas pembelajarannya kepada praktik kerja lapangan. Hal ini menghindari permasalahan tingkat pengangguran di Indonesia. Ada beberapa agen pendidikan Indonesia yang telah berhasil menghasilkan produk dalam negri untuk mengentaskan pengangguran itu.

Produk

Baru-baru ini saya melihat berita di TV tentang Mobil ESEMKA yang dibuat oleh siswa-siswa SMK di indonesia, perasaan haru dan bangga meliputi saya. Bagaimana tidak, masih menyandang siswa saja mereka sudah bisa membuat mobil, apalagi ketika pendidikan mereka sudah tinggi, diharapkan jangan hanya membuat mobil tapi bisa membuat perusahaan mobil sendiri yang bisa bersaing di tingkat Internasional. Kalau saja pemerintah mau untuk mendukung perihal bahan dasar yang dibeli dari luar negeri, tahun berikutnya mungkin kita akan membuat bahan dasar sendiri, tanpa harus membeli di negara luar.

Potensi yang dimiliki oleh siswa-siswa SMK Indonesia sebenarnya sangat besar. Jika tokoh-tokoh berpengaruh mau mendukung perkembangannya, tidak ada yang tidak mungkin, Indonesia akan memimpin teknologi di masa mendatang.

Karya anak bangsa khususnya SMK tidak hanya mobil saja tetapi berbagai macam barang elektronik & gadget, laptop, notebook, Mp3 Player, proyektor juga bisa mereka rancang. Mungkin dari pembaca semua ada yang pernah mendengar nama produk seperti zyrex. Zyrex ini adalah merek produk teknologi Indonesia yang dirakit oleh siswa-siswi SMKN di Mataram.

Tidak hanya itu, ada juga laptop yang mereknya bernama Funtop, laptop ini rakitan siswa-siswi SMK Banjar Jawa Barat. Produk Funtop ini ternyata berhasil menembus pasar jawa barat, Funtop juga tidak kalah dengan produk-produk luar negeri.

Kemajuan Negeri

Kondisi di atas kiranya telah memberi sebagian gambar besar bagi perkembangan bangsa ini. Sebuah bangsa tidak akan terus berkembang tanpa ditopang dari aspek sumber daya manusia, kualitas pendidikan, dan hasil produknya. Untuk lebih lanjut, kondisi itu mestinya kita sikapi dengan arif guna menciptakan siklus sosial dan kemajuan teknologi yang sehat.

Hal itu juga tidak terlepas dari pangsa pasar dalam negeri di Indonesia, banyak sekali produk Indonesia yang diekspor ke luar negeri. Kalau saja hasil produk yang diciptakan oleh anak bangsa di negeri ini bisa banyak dikonsumsi di negeri sendiri, mestinya akan menciptakan satu pangsa pasar yang lebih maju.

Sayang seribu sayang, sepertinya masyarakat kita masih tertutup matanya dari produk dalam negeri. Urusan gengsi yang menggerogoti konsumen di Indonesia adalah titik utamanya, tapi bukan hanya itu. Penghegemonian produk luar negeri yang sudah membentuk budaya populer dan menciptakan sub-sub kultur yang menghasilkan ‘anggapan umum’ (common sense). Hal itu juga tidak jauh ketika kita lebih memilih produk luar negeri ketimbang dalam negeri, padahal produk yang dihasilkan sama kualitasnya dan bangsa Indonesia masih memiliki kesadaran palsu (false consciousness) akan mengkonsumsi produk. Jadi, mungkinkah produk dalam negeri dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri?

Kebangkitan Karya Anak Negeri

26 Mar

Ira Pratica Dewi. S. (09321019)

 

Beberapa waktu terakhir ini, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh anak-anak sebuah SMK di Solo, Jawa Tengah. Mereka berhasil membuat mobil rakitan mereka sendiri dan sudah dicoba oleh Walikota Solo, Jokowi. Jokowi merasa senang dan cukup puas melihat hasil karya anak SMK ini. Setelah berita itu tersiar beberapa waktu, masyarakat mulai menaruh pandangan positif untuk anak SMK yang dulunya sering dianggap anak SMK itu pasti nakal. Masyarakat juga menaruh harapan besar agar mobil tersebut dapat diproduksi besar-besaran.

Itulah sepenggal cerita dari anak negeri yang mulai berkarya untuk kemajuan negaranya sendiri. Pertanyaannya sekarang adalah apa mungkin produk dalam negeri bisa menjadi “raja” di negaranya sendiri? Masyarakat Indonesia sepertinya lebih mencintai dan mempercayai produk luar negeri. Berbagai alasan terlontar dari masyarakat yang lebih percaya produk luar negeri dari kualitas terjamin, bahan bagus, awet, dan menunjukkan suatu kedudukan jika membeli barang dari luar negeri. Mungkin hal inilah yang menjadi pendorong anak SMK Solo dan beberapa orang lainnya bertekad membuat produk sendiri dan dipasarkan dalam negeri. Jawaban dari pertanyaan atas tadi hanya ada dua, yaitu mungkin dan tidak, yang lalu diikuti faktor-faktor yang mendukung dan penghalang.

Barang buatan Indonesia dapat menjadi “raja” di negara sendiri apabila didukung oleh beberapa faktor, seperti adanya bantuan modal dari pemerintah, fasilitas yang memadai, dan yang terpenting adalah adanya kemauan dari pemerintah dan masyarakat untuk memakai produk dalam negeri. Dalam hal ini kita ambil contoh mobil ESEMKA, pembuatan mobil tersebut merupakan langkah awal dari masyarakat Indonesia untuk mulai menyukai produk dalam negeri. Pembuatan mobil ini dapat berjalan dengan baik dengan adanya bantuan dana dari pemerintah yang disalurkan pada sekolah. Dana tersebut digunakan pihak sekolah untuk memperlengkap fasilitas pembuatan mobil, mulai dari peralatan, bahan baku, dan juga pendidikan tentang perakitan mobil. Dengan adanya hal itu, mobil ESEMKA dapat dibuat untuk yang pertama kalinya.

Kemauan dari masyarakat dan pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri juga berperan penting. Disini perlu adanya kerjasama dari masyarakat dan pemerintah. Apabila masyarakat menginginkan mobil ESEMKA diproduksi massal, tapi pemerintah tidak mau membantu dalam hal-hal fasilitas yang memadai, itu sama saja pemerintah tidak mendukung produk dalam negeri. Bisa juga sebaliknya dengan pemerintah ingin semua masyarakat Indonesia menggunakan mobil ESEMKA, tapi masyarakat belum bisa mempercayai produk sendiri, mungkin dari perakitannya terjamin tidak, keselamatan terjamin tidak, dan berkualitas atau tidak. Maka dari itu, perlu adanya kemauan dari pemerintah dan masyarakat Indonesia sendiri untuk mulai mempercayai produk dalam negeri karena sebenarnya produk dalam negeri kualitasnya tidak jauh berbeda dengan produk luar negeri.

Produk Indonesia kemungkinan juga tidak bisa menjadi “raja” di Indoensia sendiri dengan adanya beberapa faktor. Sudah ada sedikit pembahasan di atas tentang kemauan dari masyarakat dan pemerintah dengan kekurangannya. Selain itu  bisa ditambahkan ini tidak dapat menjadi produk yang merajai negeri sendiri jika produk luar negeri masih terus datang ke Indonesia. Sebaiknya perlu adanya pembatasan produk luar negeri yang datang ke Indonesia, dengan cara ini produk di Indonesisa dapat berkembang. Faktor penghalang lainnya adalah kualitas barang yang kurang terjamin dan ini bisa terjadi apabila pembuatnya kurang terampil ataupun fasilitas yang kurang memadai. Bahan baku yang mahal atau susah didapat sering menjadi penghalang. Banyak masyarakat yang ingin mengembangkan bisnis produk dalam negerinya, tapi terbatas oleh bahan baku yang mahal yang kadang membuat produk tersebut berhenti diproduksi.

Produk dalam negeri kita saat ini sudah mulai banyak, banyak yang ingin memproduksinya, tapi penghalangnya juga banyak. Kesimpulannya adalah  perlu adanya dukungan dana dan pendidikan yang pantas bagi mereka yang ingin mengembangkan produk dalam negeri jika kita ingin Indonesia dapat sama dengan negara maju lainnya yang sudah dapat memproduksi barang sendiri dan dipakai oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Tuan Rumah Bagi Karya Anak Bangsa

26 Mar

Dira Elita (09321015)

 

Banyaknya produk-produk buatan luar negeri yang beredar di Indonesia, membuat masyarakat Indonesia sendiri lebih mempercayai dan lebih bangga menggunakan produk buatan luar negeri ketimbang dalam negeri. Padahal produk-produk buatan dalam negeri ini sebenarnya tidak kalah jika dibandingkan dengan produk luar. Bahkan kualitasnya mungkin di atas produk tiruan buatan Cina yang juga membanjiri Indonesia. Sebenarnya produk dalam negeri sangat mungkin untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena didukung oleh beberapa hal, yang pertama adalah pengetahuan.

Ilmu pengetahuan yang semakin berkembang di Indonesia sangat memungkinkan untuk membuat produk-produk sekelas buatan luar negeri yang telah mendunia. Contohnya saja mobil Esemka, mobil buatan anak-anak SMK di Surakarta ini walaupun masih dibuat secara manual tetapi hasilnya tidak kalah dengan buatan luar negeri. Meskipun mobil ini belum lulus uji emisi, namun seharusnya kita patut berbangga karena tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa Indonesia dapat membuat dan merakit mobil sendiri. Apalagi yang merakit mobil Esemka ini adalah para remaja yang masih duduk di bangku SMK. Itu merupakan salah satu bukti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Di tengah maraknya produk luar yang terus mendominasi pasaran Indonesia, tetapi anak-anak SMKN 2 Surakarta ini bisa membuktikan bahwa Indonesia juga bisa menyaingi produk-produk luar tersebut dengan bekal pengetahuan yang mereka dapat dari bangku sekolahnya.

Kemudian hal yang kedua adalah adanya dukungan media dan teknologi. Perkembangan teknologi internet dan sosial media yang sedang diminati masyarakat saat ini juga turut berperan penting dalam mengenalkan produk-produk buatan Indonesia. Dengan adanya kemudahan untuk mendapatkan informasi dan perkembangan tentang produk-produk tersebut, bukan tidak mungkin jika produk-produk dalam negeri ini nantinya akan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Selain membantu mengenalkan produk-produk buatan dalam negeri, media juga berfungsi untuk membangun kepercayaan masyarakat Indonesia atas produk-produk buatan dalam negeri tersebut. Kepercayaan tersebut dibangun dari informasi, bagaimana kelebihan serta perkembangan produk dalam negeri itu.Serta pandangan dari orang-orang yang menulis pendapat atau pandangannya di forum maupun blog pribadinya berdasarkan informasi yang telah disebarkan melalui media cetak, elektronik maupun internet.

Mungkinkah produk dalam negeri bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Produk-produk dalam negeri ini bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri karena hingga ini saat ini tingkat impor barang-barang ke Indonesia masih tinggi dan Indonesia hampir tidak mempunyai produk-produk buatan dalam negeri sendiri. Dimulai dari hal kecil seperti baju sampai barang elektronik seperti handphone, mobil, dan motor pun masyarakat Indonesia masih mengandalkan produk buatan luar negeri ketimbang buatan dalam negeri sendiri. Padahal, harga dari produk-produk luar tersebut tentunya tidak murah karena sudah terkena biaya masuk Indonesia.

Bahkan barang-barang buatan Cina pun seakan tidak kalah untuk ikut mendominasi pasar Indonesia. Produk-produk buatan Cina yang kebanyakan “kualitas nomor 2” ini nyatanya tetap diminati masyarakat Indonesia. Karena ada sebagian masyarakat yang beranggapan, jika tidak sanggup membeli produk luar bermerk yang harganya selangit, membeli barang “kualitas nomor 2” buatan Cina pun sudah cukup. Padahal produk-produk tiruan Cina ini belum tentu berkualitas sama dengan produk aslinya. Mungkin hanya bisa bertahan selama beberapa bulan saja karena kebanyakan produk-produk tiruan Cina ini lebih mementingkan kemiripan barang dan bentuk daripada kualitas barang itu sendiri.

Dengan adanya produk dalam negeri diharapkan bisa menekan tingkat impor produk-produk luar negeri ke Indonesia. Karena sebenarnya Indonesia sendiri mempunyai potensi untuk membuat produk-produk yang setara dengan produk luar yang telah mendunia. Tetapi karena masyarakat Indonesia terbiasa dimanjakan oleh masuknya produk-produk dari luar berkualitas tinggi yang menyebabkan masyarakat merasa malas untuk menggali potensi yang ada. Karena sudah tersedia produk luar negeri yang bisa tinggal langsung digunakan tanpa harus dipikirkan dan dibuat terlebih dahulu. Padahal dengan memproduksi dan menggunakan produk dalam negeri, harganya bisa lebih murah daripada produk luar.

Kekurangan dari produk dalam negeri untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri adalah kurangnya dana untuk membuat dan mengembangkan produk-produk tersebut. Karena banyaknya masyarakat yang masih memandang sebelah mata produk buatan dalam negeri. Ini yang menyebabkan para investor ragu membantu dana untuk perkembangan produk buatan anak bangsa ini. Hal yang sama juga terlihat dari pemerintah Indonesia yang terkesan acuh tak acuh dengan produk-produk dalam negeri ini. Padahal jika pemerintah mau melihat dan memperhatikan produk-produk karya anak bangsa ini, bukan hal yang mustahil jika nantinya produk karya dalam negeri ini dapat berkualitas internasional dan dapat bersaing dengan produk luar yang telah mendunia.

Kemudian kekurangan lainnya adalah fasilitas yang ada di Indonesia tidak secanggih dan modern seperti produk luar negeri. Tidak sedikit produk dalam negeri yang masih manual dalam proses pengerjaannya sehingga memakan waktu lama. Padahal dengan adanya fasilitas yang memadai serta didukung oleh mesin-mesin yang modern dan canggih, dapat menghemat waktu karena pengerjaan menjadi lebih cepat. Selain itu tidak adanya dukungan pemerintah juga menjadi salah satu kekurangan dari produk dalam negeri tersebut. Sebenarnya salah satu bentuk pengenalan dan promosi terbaik produk-produk dalam negeri ini adalah dari pemerintah itu sendiri. Jika pemerintah sudah menggunakan dan menyatakan bahwa produk dalam negeri ini bagus dan layak pakai, maka masyarakat pun secara tidak langsung akan terpengaruh dan mulai memperhatikan produk tersebut. Sayangnya pemerintah Indonesia yang masih kurang peduli dengan produk karya anak bangsa. Hal inilah yang menghambat perkembangan dan kemajuan dari produk-produk buatan dalam negeri.

Produk-produk dalam negeri yang memungkinkan untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri tentunya mempunyai kelebihan. Di antaranya adalah dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia. Seiring dengan semakin maju produk-produk buatan Indonesia untuk ke depannya, tentu membutuhkan jumlah tenaga kerja yang tidak sedikit pula. Apalagi jika misalnya produk-produk buatan dalam negeri ini benar-benar sukses dan diminati oleh pemerintah maupun masyarakat lain. Mobil Esemka buatan anak-anak SMK ini misalnya, Semenjak para siswa-siswa ini sekolah sudah dibekali pengetahuan tentang ketrampilan otomotif dengan merakit dan membuat mobil sendiri secara manual. Nantinya, setelah para siswa-siswa ini lulus dari bangku SMK, mereka bisa meneruskan kembali usaha perakitan mobil Esemka ini. Atau menciptakan lapangan pekerjaan baru berbekal pengetahuan otomotif yang mereka dapat di sekolah. Jika masih sekolah saja para siswa SMK ini sudah piawai merakit mobil, ketika mereka lulus nanti mereka pasti bisa menghasilkan produk-produk yang tidak kalah canggih dari mobil Esemka ini.

Kemudian kelebihan lainnya dengan menjadi tuan rumah produk-produk dalam negeri adalah dapat mengajak masyarakat untuk mencintai dan memakai produk-produk buatan dalam negeri. Karena Indonesia yang sebenarnya memiliki kekayaan yang melimpah baik itu kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia yang masih kurang digali potensinya. Dengan mencintai dan membeli produk karya anak bangsa sama artinya masyarakat Indonesia mendukung adanya produk-produk buatan dalam negeri. Adanya dukungan tersebut bisa menjadi pemacu para produsen-produsen untuk lebih serius dalam mengembangkan dan mengerjakan produknya. Sehingga nantinya produk-produk Indonesia bisa bertaraf Internasional dan bersaing dengan produk luar yang telah mendunia bukan lagi hanya angan-angan semata.

Meng-Industrikan Karya Anak Negeri, Bukan Proses Instan

26 Mar

Faiz Syauqy (09321062)

 

Belum lama ini, kepulangan Mobil Esemka disambut dengan sangat antusias oleh warga Solo, kendati mobil tersebut dinyatakan tidak lolos dalam uji emisi di Jakarta. Kebanggaan jelas nampak pada setiap warga yang berjajar di jalan raya. Apresiasi terhadap Mobil Esmeka pun meluas hingga level nasional, terbukti, mobil yang masih butuh banyak pembenahan khususnya di sektor mesin tersebut sudah dipesan hingga ratusan unit oleh beberapa kalangan masyarakat, khususnya kantor-kantor dinas berbagai daerah.

 

Antusias masyarakat Indonesia terhadap mobil ini sangat besar. Berita tentang mobil ini pun menjadi berita utama di berbagai media massa. Impian masyarakat untuk mengendarai mobil buatan Indonesia seakan terjawab dengan adanya Mobil Esemka ini. Bukan tanpa alasan, bentuk dan tampilan mobil ini sudah tergolong bagus, gagah, nan elegan sehingga masyarakat pun tertarik untuk memilikinya kelak ketika mobil Esemka diproduksi secara massal.

Tapi ternyata tidak secepat itu, masih butuh proses panjang agar mobil ini bias dikendarai oleh masyarakat Indonesia. Tidak se-instan itu untuk membuat mobil yang layak jual dan layak pakai. Butuh riset dan pengembangan yang matang olehpakar yang ada di Indonesia terkait faktor keselamatan, keramahan lingkunan atau emisi, dan masih banyak hal lain. Tidak cukup dari siswa atau lulusan SMK saja, akan tetapi perlu juga melibatkan orang yang sudah ahli di bidang mesin dan mekanika.

Bukan semata sikap pesimistis akan kemampuan siswa SMK, tapi lebih ke sikap logis dalam menanggapi fenomena ini. Tidak lolosnya Mobil Esemka dalam uji emisi merupakan bukti nyata bahwa karya anak siswa SMK itu masih jauh untuk menuju ruang lingkup Industri. Mobil Esemka masih dalam taraf hasil karya dari penerapan materi yang didapatkan siswa SMK di ruang kelas.

Sebenarnya  Indonesia tidak kekurangan pakar dibidang mesin. Hanya saja mereka lebih memilih untuk bekerja di perusahaan luar negri karena di Indonesia sendiri mereka merasa tidak cukup. baik dari segi apresiasi pemerintah terkait ketersediaan lapangan pekerjaan  atau dari segi ekonomi.

Anak-anak negeri yang sempat mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional melalu ikarya-karya ilmiah pun hanya mendapatkan ucapan selamat dari Presiden. Namun setelah itu semuanya berlalu begitu saja. Tidak ada upaya dari pemerintah untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh mereka, baik dengan memberikan fasilitas laborat untuk mengembangkan riset dan karya ilmiah mereka. Sehingga ketika sudah matang, mereka telah siap untuk mengembangkan industri-industri  di Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri, campurtangan pemerintah menjadi hal terpenting. Seyogyanya, pemerintah memfasilitasi secara penuh dalam riset dan pengembangan karya ilmiah dalam negeri sehingga proses tersebut akan berlanjut dalam ruanglingkup industri. Tidak cukup hanya sebuah apresiasi. Perlu tindakan nyata dari Pemerintah dari awal, bukan hanya ucapan selamat ketika sekelompok siswa SMK mampu membuat sebuah karya ilmiah.

Kita tengok kembali tentang produk dalam negri kita yang pernah ada sebelumnya, seperti sepeda motor pabrikan lokal yang pernah diproduksi masal namun kini sudah tidak kelihatan lagi wujudnya. Itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa tidak semudah itu dalam membuat sebuah produksi berbasis dalam negri. Banyak aspek yang harus dipelajari dan dikaji secara serius, terkait kesiapan prasarana, bahan baku, maupun teknisi ahli yang akan menjadi supervisor dari anak-anak SMK.

Memangbutuh proses yang memakan waktu dan tentu saja persiapan yang matang untuk meng-industrikan produk atau karya anak negri. Agaknya, masyarakat Indonesia masih harus menunggu cukup lama untuk mengendarai mobil atau kendaraan yang murni produksi dalam negeri. Masyarakat harus menunda rasa bangga mereka karena mobil karya anak negeri yang akhir-akhir ini di elu-elukan masih harus melewati proses panjang untuk mencapai kelayakan baik kelayakan pakai maupun kelayakan jual. Kita harus menunggu keseriusan pemerintah untuk mendukung secara penuh karya ilmiah anak bangsa. Dukungan berupa ketersediaan sarana dan prasarana produksi, pengadaan bahan baku, dan faktor pendukung lainnya untuk masuk ke ruang lingkup industrial.

Produk Dalam Negeri Mampu Bersaing

26 Mar

Renata Pertiwi Isadi (09321077)

 

Masyarakat Indonesia terkenal dengan budaya konsumtif. Menurut mantan Ketua Biro Pusat Statistik (BPS) Soegito, perilaku konsumtif masyarakat Indonesia tergolong berlebihan bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Mengapa demikian?

Indonesia kini telah menjadi negara yang liberal, walau dengan sistem pemerintahan yang demokratis dan berasas Pancasila. Kehadiran globalisasi di berbagai bidang tampaknya kurang dipersiapkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia. Bukannya mempersiapkan filtrasi untuk menyaring mana produk dan kebudayaan yang baik, kini justru semua pengaruh dari luar diserap sebebas-bebasnya. Mental masyarakat Indonesia tampaknya masih belum siap menjadi bangsa yang anti gengsi. Tanpa menggunakan produk-produk bermerek dari luar negeri biasanya mereka merasa tidak percaya diri, malu, dan tidak berani tampil di depan umum. Memang tidak semua masyarakat Indonesia seperti ini, tapi Anda bisa buktikan sendiri dari penampilan remaja-remaja di kota besar, atau setidaknya yang bisa dilihat di layar TV pada artis-artis ibukota. Bahkan tidak hanya remaja, tapi para pejabat tinggi negara pun gaya hidupnya sangat hedonis. Mereka lebih cenderung membeli barang daripada membuatnya sendiri. Alih-alih membeli produk dalam negeri, mereka bahkan lebih memilih memborong barang-barang impor.

Banyak barang impor yang beredar di Indonesia. Hal tersebut rupanya turut membangkitkan semangat para pengusaha muda. Mereka yang kreatif dan inovatif mulai menciptakan lapangan kerja sendiri dan menghasilkan produk-produk dalam negeri. Indonesia negara yang kaya dengan hasil alam. Banyak produk yang bisa diolah dari hasil alam tersebut. Mulai dari makanan, pakaian, aksesoris, furniture, obat-obatan, kosmetik, dan masih banyak lagi. Namun persaingan dengan produk luar negeri memang tidak mudah. Pemerintah harusnya dapat memebatasi masuknya barang-barang impor ke Indonesia. Setidaknya untuk mengurangi tingkat konsumtif mastarakat terhadap barang-barang impor yang kian menenggelamkan produk-produk asli Indonesia.

Budaya konsumtif seharusnya dapat dibasmi. Bila negara-negara lain saja bisa, mengapa Indonesia tidak bisa? Namun apa mau dikata, alih-alih membasmi budaya konsumtif, justru pejabat pemerintahlah yang sebagian besar memiliki budaya konsumtif tersebut. Kekayaannya terekspos oleh media, atau bahkan justru malah sengaja dipamerkan. Kekayaan ini yang menjadi tontonan masyarakat. Pemerintah tidak lagi dapat memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya. Walau sebenarnya pemerintahlah salah satu pihak yang dapat menekan budaya konsumtif ini.

Hingga kini efek dari kinerja pemerintah dalam menurunkan tingkat konsumtif masyarakat belum dirasa membuahkan hasil nyata. Walau demikian, setidaknya pemerintah bisa memberikan dukungan pada masyarakat Indonesia yang bersungguh-sungguh ingin maju. Terutama bagi yang ingin mengharumkan nama bangsa. Mencoba menanggalkan kebiasaan membeli produk luar negeri dan beralih pada produk dalam negeri. Pemerintah seharusnya memberikan dukungan, baik bantuan dana untuk biaya penelitian dan produksi. Seperti memberikan dukungan pada yang belakangan dilakukan oleh gabungan siswa SMK Otomotif (SMK Negeri 2 Surakarta).

Menciptakan mobil buatan dalam negeri. Ini tentunya merupakan suatu hal yang baru dan membanggakan bagi generasi muda Indonesia. Walau memang masih belum lulus uji emisi pada 27 Februari lalu dan masih perlu banyak perbaikan lagi, para generasi muda pembuat dua tipe mobil ESEMKA ini pantang menyerah dan akan meneruskan uji coba mereka untuk mendapatkan sertifikat dan lulus uji emisi. Niat baik semacam ini harusnya didukung oleh pemerintah. Tidak hanya dukungan di awal berupa sorak sorai kebanggaan, tapi dukungan secara total mulai dari dukungan moral, dana, hingga nantinya produk dalam negeri ini memperoleh hak paten dan diakui secara nasional maupun internasional.

Untuk mencetak generasi terdidik, lembaga pendidikan memiliki andil yang penting untuk turut merealisasikan tujuan bangsa ini. Negara Indonesia yang menekankan pada pendidikan formal 12 tahun sebaiknya serius dalam memberikan fasilitas penunjangnya. Tidak setengah-setengah bila menginginkan hasil yang optimal. Misalnya dengan memberikan fasilitas pendidikan yang layak, tentunya dengan bantuan dari negara dan tidak membebankan pada orangtua siswa. Selain itu tim pendidik juga harus berkualitas. Setidaknya pendidik pada lembaga pengembangan siswa ini harus memiliki motivasi yang tinggi untuk dapat membangun motivasi yang tinggi pula pada siswa-siswanya. Tentu ilmu pengetahuan dan pengalaman tidak kalah penting dalam menunjang tujuan utama mencerdaskan kehidupan bangsa. Jadi hal ini harus menjadi pertimbangan yang matang bagi negara.

Selain peran pemerintah dan lembaga pendidikan, masyarakat juga harus turut mendukung berkembangnya Indonesia menjadi negara yang mapan dan mampu bersaing secara nasional maupun internasional. Oleh karena itu berikan generasi muda kebebasan untuk berkarya. Ini merupakan hak dari setiap anak bangsa. Mereka memiliki kewajiban mengharumkan nama bangsa, maka mereka juga memiliki hak untuk berkreasi dan berimajinasi untuk terus dapat berkembang. Berikan kebebasan namun tetap dalam kontrol. Tunjukkan contoh yang baik dan tanamkan motivasi dalam ingatan mereka, sehingga akan terus berbekas dalam benak mereka hingga dewasa nanti. Sampai mereka dapat menunjukkan karya-karyanya pada negeri, bahkan menyaingi produk luar negeri.

Suatu karya atau produk biasanya diminati karena tampilan dan manfaatnya. Produk asal produk bisa diciptakan oleh siapa saja. Namun produk dengan tampilan menarik dan memiliki manfaat hanya bisa diciptakan oleh orang-orang yang cerdas dan inovatif. Banyak masyarakat Indonesia mulai mencoba menciptakan produk buatannya sendiri, mulai dari sabun cuci, makanan, pakaian, dan masih banyak lagi. Namun berapa banyak yang diminati? Bisa Anda buktikan sendiri dengan mengamati produk-produk lokal di kota masing-masing.

Cara menarik pembeli adalah dengan menunjukkan kemanfaatan yang ditimbulkan dari suatu produk. Harus menimbulkan rasa percaya dari konsumen agar mereka yakin pada produk tersebut. Caranya adalah dengan memberikan bukti, tidak harus dimulai secara besar-besaran. Banyak wirausahawan yang memberikan bukti dengan menjadikan dirinya atau keluarganya sebagai model dari produknya. Entah itu untuk produk makan, pakaian, furniture, atau yang lainnya. Menjadi model di sini maksudnya adalah orang-orang pertama yang membuktikan dan dapat menunjukkan bahwa produk tersebut baik dan aman bila dipakai atau dikonsumsi.

Selain produknya yang baik, pengemasannya juga harus baik. Bagaimana orang lain bisa tertarik pada suatu produk bila tampilannya tidak menarik. Rata-rata ketertarikan seseorang yang mempengaruhi daya belinya adalah dari sudut eye-catching. Jadi pengemasan itu juga merupakan hal yang penting. Kesesuaian dengan  tampilan, warna, fungsi dan manfaatnya harus benar-benar diperhitungkan bila ingin dapat bersaing dengan produk-produk lainnya, terutama dengan produk-produk luar negeri. Produk Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Namun dukungan pemerintah, lembaga pendidikan, serta kreativitas dan mental bangsa menjadi ujung tombak dalam merealisasikan tujuan ini.

Mobil ESEMKA, Masih Adakah Harapan?

26 Mar
Dwi Khairiyah Daud (09321034)
 

Kreativitas anak bangsa patut diacungi jempol, bukan hanya laptop, handphone, televisi yang berhasil dibuat oleh tangan anak bangsa. Baru-baru ini santer terdengar munculnya mobil ESEMKA, mobil buatan tangan anak negeri sebuah SMK di kota Solo. Mobil yang dirakit oleh siswa SMK ini menjadi perbincangan hangat di berbagai media. Hal ini turut memancing perhatian masyarakat Indonesia.

Pemerintah kota Solo pun memberikan apresiasi, sebagai wujudnya Walikota Solo menjadikan mobil ESEMKA menjadi mobil dinasnya. Namun dengan yang dilakukan Joko Wi, sebutan bagi walikota Solo, pemerintah pusat cenderung menutup sebelah mata dalam melihat mobil ESEMKA ini. Cenderung pesimis melihat suatu karya dari dalam negeri ataukah mereka sudah terbiasa menggunakan produk luar negeri? Sehingga merasa janggal jika membandingkan dengan mobil ESEMKA.

Pesimistis pemerintah pusat semakin terlihat saat mobil ESEMKA gagal dalam uji kelayakan di Jakarta, tanpa membeberkan hal-hal apa saja yang harus dibenahi. Padahal dilihat dari peluang ekonomi dan bisnis, produk-produk buatan tangan sendiri dapat menaikkan perekonomian masyarakat Indonesia. Tidak lain yaitu, produk-produk yang dibuat anak bangsa adalah dari Indonesia untuk Indonesia. Semua akan kembali ke kantong Indonesia.

Apabila pemerintah menyediakan fasilitas yang memadai, maka pembuatan mobil ESEMKA dapat mengurangi pengangguran dengan mempekerjakan anak negeri, yang dapat mengurangi jumlah pengangguran yang semakin hari semakin meningkat. Dan juga dapat menambah pendapatan negara.

Membayangkan mobil ESEMKA dapat dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, maka perekonomian Indonesia dapat melaju naik. Selain itu dengan mendapatkan dukungan dari semua pihak, tidak mustahil mobil ESEMKA dapat diekspor ke luar negeri dengan bermain di pasar bebas. Hal ini dapat terjadi jika percaya pada tanah air sendiri, bentuk perwujudan bahwa kita mencintai dan membela bangsa sendiri, serta menaikan harga diri bangsa di mata dunia, bahwa Indonesia bisa dan meneriakan Impossible is Nothing.

Sesungguhnya Indonesia dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri jika semua pihak termasuk masyarakat dan pemerintah mampu mendukung dan memberi fasilitas serta peluang untuk maju dan berproduksi. Sayangnya, dukungan pemerintah hanya bersifat retorika, padahal dari terbuatnya mobil ESEMKA merupakan pembuktian bahwa kualitas sumber daya manusia Indonesia mumpuni untuk bersaing dengan mobil-mobil asing yang banyak di pasaran, sebut saja Honda, Toyota, Hyundai.

Dengan membudidayakan SDM Indonesia yaitu diberi kesempatan berkarya, maka Indonesia dapat bersaing di kelas internasional. Mengikuti jejak India dan Cina yang sudah membuktikan diri ke persaingan internasional dengan produk-produk negaranya yang sudah membanjiri pasar dunia. Indonesia pun mampu jika pemerintah dan seluruh masyarakat sanggup menaikkan rasa cintanya dan percaya diri terhadap bangsa sendiri. Tidak melulu pesimistis terhadap prestasi Indonesia dan tidak terus-menerus melihat sisi kelam dan gagal Indonesia. Tetapi bangkit, berdiri dan memulai menggunakan produk dalam negeri.

Adapun kunci utamanya yaitu, pemerintah sanggup percaya, beraksi, dan memfasilitasi para pengusaha dalam negeri agar terus produktif. Jangan terus-menerus berpikir hal-hal teknis, bagaimana ini? Bagaimana jika seperti ini? Berpikir semacam ini akan menunda-nunda pekerjaan. Akan lebih baik jika mental baja dipupuk dari sekarang, agar sambil berpikir sambil berbuat, dan teori mengikuti aksi, sehingga pembenahan terus dilakukan untuk mencapai kata sempurna.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,545 other followers