Tag Archives: Kemerdekaan Indonesia

KH. A. Wahid Hasyim: Pejuang Islam yang Nasionalis

25 May

R.A. Hadwitia Dewi Pertiwi

08321105


Judul: KH. A. Wahid Hasyim. Sejarah, Pemikiran, dan Baktinya bagi Agama dan Bangsa

Penulis: KH. Salahuddin Wahid, dkk

Penerbit: Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur

Cetakan: Pertama, April 2011

Tebal: 418 halaman

Nama KH. A. Wahid Hasyim mungkin kurang begitu populer di telinga orang awam. Bandingkan dengan putranya Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur. Sosoknya telah dikenal luas di kalangan masyarakat. Namun peran seorang  KH. A. Wahid Hasyim dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia tak bisa dianggap remeh. Ia adalah salah satu anggota Panitia Sembilan yang ikut merumuskan Pancasila. Bersama para tokoh nasional lain ia turut serta mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Terobosan yang ia buat tersebar dalam berbagai bidang mulai dari politik sampai soal pendidikan.

KH. A. Wahid Hasyim merupakan seorang intelektual. Ia adalah putra dari KH. Hasyim Asy’ari, pendiri dan pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang. Walaupun dibesarkan di lingkungan pesantren, namun pemikirannya sangat revolusioner. Ia tidak terkukung dalam keterbatasan pemahaman tentang Islam. Dirinya tetap menjunjung tinggi asas-asas demokrasi kebangsaan Indonesia.

Biografi ini memaparkan representasi hidup dari KH. A. Wahid Hasyim yang ditulis oleh 22 kontributor. Mereka di antaranya Prof. Dr. Phil. Muhammad Nur Kholis Setiawan, M.A, Syaifudin Zuhri, S.Sos, M.A., dan KH. Salahuddin Wahid. Sebagian besar dari mereka adalah sejarawan, dosen, dan guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN), di Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta. Buku ini sendiri dibuat dalam rangka peringatan satu abad KH. A. Wahid Hasyim (6 Rajab 1332 Hijriah – 6 Rajab 1432 Hijriah).

Pembahasan dalam buku ini terbagi dalam tiga bagian ditambah satu bagian penutup. Bagian satu mengulas tentang potret keluarga dan pemikiran KH. A. Wahid Hasyim. Dijelaskan tentang masa kecilnya yang sudah menunjukkan kecerdasan istimewa. Ada pula mengenai istri dan anak-anaknya yang kesemuanya memiliki keunggulan dan keunikan masing-masing. Sampai akhir hidupnya saat ia meninggal dalam kecelakaan ketika usianya belum genap 40 tahun. Bagian dua mengkaji tentang karya dan bakti dalam bidang politik, hukum, dan kebangsaan. Bagaimana besarnya peran beliau dalam pembentukan Pancasila, yang awalnya bernama piagam Jakarta. Ia memiliki andil besar dalam penghapusan 7 kata di belakang sila pertama: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Padahal ia sendiri adalah tokoh Islam berlatar belakang pesantren yang amat kuat.

Berikutnya pada bagian ketiga pembaca akan diajak melihat karya dan bakti KH. A. Wahid Hasyim dalam bidang pendidikan. Sumbangsihnya dalam memajukan dunia edukasi di Indonesia tampak nyata. Keterbukaan Wahid Hasyim terhadap segala hal baru dan pemikirannya yang cukup maju dapat dilihat ketika ia mengusulkan perubahan kurikulum di pondok pesantren (hal.341). Meskipun hal tersebut sempat mendapat tentangan dari sang ayah. Ia juga mendirikan PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) pada 26 Desember 1951 di Jogjakarta, yang kemudian berkembang menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), bahkan sekarang ini berkembang menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dan Universitas Islam Negeri (UIN) (hal. 352).

Terakhir dalam penutup kita akan menemukan tulisan dari Dr. Ema Marhumah, M.Pd mengenai pemikiran KH. A. Wahid Hasyim dan implikasinya terhadap keseteraan gender. Bagaimana apresiasinya terhadap perempuan dalam kehidupan. Selanjutnya ada pemaparan berbahasa Inggris dari Prof. Drs. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. berjudul “Was Wahid Hasyim Really Just A Traditionalist?” Menarik karena ia sendiri sangat menentang fanatisme berlebihan akan Islam. Ia lebih menekankan pada proporsionalitas dan tetap menghormati perbedaan yang ada.

Kelebihan buku ini terletak pada kelengkapan cerita. Semua fase kehidupan KH. A. Wahid Hasyim tercantum dalam biografi ini. Mulai dari masa kecilnya, soal keluarga hingga kiprahnya dalam memajukan Islam dan baktinya pada bangsa Indonesia. Ditambah lagi kata pengantar serta tulisan dari KH. Salahuddin Wahid, yang merupakan salah satu putra dari KH. A. Wahid Hasyim sendiri.

Sedangkan kekurangannya ada banyak bagian dari kisah KH. A. Wahid Hasyim yang diulang-ulang. Ini karena banyaknya penulis yang berpartisipasi dalam buku ini, sehingga cerita yang dituturkan kurang lebih sama. Tentang latar belakang keluarganya, perjuangannya melawan penjajahan Belanda dan Jepang, tentang Pancasila, dan seterusnya. Selain itu ada beberapa penulis yang menyisipkan teori ilmiah terlalu banyak, sehingga kesannya menjadi bertele-tele. Seharusnya to the point saja menceritakan tentang perjalanan KH. A. Wahid Hasyim tanpa disuguhi teori-teori yang kelihatannya kurang penting. Fokus utama yang dibahas di sini adalah sosok beliau. Dengan membaca sepak terjang kehidupannya, kita pun sudah bisa meneladani beliau, tanpa adanya berbagai macam teori yang terlalu menggurui.

Di samping itu dalam buku ini cukup banyak terdapat kesalahan pengetikan huruf dan spasi. Makin ke belakang, menuju halaman akhir kesalahan makin bertambah banyak. Mungkin karena waktu pembuatan buku ini relatif singkat sehingga koreksi terhadap tulisan menjadi kurang maksimal. Ini dapat menjadi perhatian bagi para editor dan penerbit yang bersangkutan.

Buku ini layak dibaca bagi mereka yang tertarik dengan sejarah dan perjuangan penuh dedikasi bagi agama juga bangsa. Figur Pahlawan Kemerdekaan Indonesia ini memang pantas dijadikan panutan. Pemikirannya jauh ke depan, mendobrak kebiasaan serta kewajaran yang lumrah terjadi di lingkungannya. Ia merupakan tokoh Islam dari kalangan pesantren, namun tidak bersikap fanatik dan ikut mendukung demokrasi Indonesia. KH. A. Wahid Hasyim adalah seorang pembaharu yang memiliki keberanian serta visi misi yang jelas. Keteguhannya tercermin dalam tiap langkah dan keputusan yang diambilnya. Maka buku ini patut diapresiasi karena berisi perjalanan hidup seseorang yang mampu mengabdikan hidupnya pada dua hal, religiusitas dan demokrasi, sekaligus berjasa besar mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Sungguh luar biasa.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,543 other followers