Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme

25 May

Tommy Satriadi Nur Arifin Erawan

Judul : Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme

Penulis : Ahmad Arif

Ukuran : 13.3 cm x 20 cm

Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun : 2010

Bagi saya, yang menarik justru ketika ia bercerita dari apa yang dilihatnya di lapangan.”

-Goenawan Mohammad-

Setidaknya ada dua dosen pengajar kajian ilmu jurnalistik saya yang menekankan pentingnya metode observasi dalam setiap pencarian berita. Observasi disini adalah menggunakan kemampuan panca indera wartawan sebagai referensi utama dalam bahan berita. Sedangkan wawancara dan sumber eksternal lainnya hanyalah pendukung semata.

Luwi Ishwara dalam bukunya “Catatan-catatan Jurnalisme Dasar” mengatakan bahwa fakta yang paling meyakinkan adalah fakta yang dihimpun oleh wartawan sendiri. Dengan mengamati langsung sebuah peristiwa, menjadikan wartawan sebagai saksi mata. Wartawan dan saksi mata yang menjadi satu adalah kondisi ideal serta mampu menyajikan berita dengan akurat.

Ahmad Arif berhasil menyajikan sebuah pelaporan mendalam salah satu bencana tanah air yang terjadi 6 tahun yang lalu. Pelaporan yang dibalut dengan khas sebuah feature (berita kisah) menjadikan isi laporannya tidak lekang oleh waktu. Namun dibalik cerita-cerita yang disampaikan, penulis tetap menyajikan data-data yang memenuhi hampir setiap halamannya.

Apa yang ia lihat, apa yang ia rasa, dan apa yang ia dengar menjadi sebuah cerita utuh yang menarik. Ahmad Arif mampu menggambarkan apa yang terjadi di balik laporan-laporan berita yang selama ini hanya mampu dikonsumsi oleh masyarakat. Bahkan hingga peristiwa yang tidak terberitakan karena adanya bahaya yang harus ditanggung oleh wartawan.

Seorang Ahmad Arif tetap berkonsisten dengan cara ia bercerita. Menjadikan dirinya sebagai tokoh utama serta mengajak para pembacanya merasakan apa yang ia rasakan. Bersenjatakan kata-kata, theatre of image yang terbangun menjadi nilai lebih.

Menurut saya sendiri, Ahmad Arif juga berusaha memberikan sentuhan genre jurnalisme sastrawi (literary journalism) dalam ceritanya. Dalam usaha yang sama ia berikan juga pada tulisannya sendiri yang berjudul ‘Meno Kaya Tidur di Selokan’ yang juga menjadi pemenang dalam Mochtar Lubis Award 2008, penghargaan bergengsi dunia jurnalistik Indonesia.

Karena itu tidak salah jika Goenawan Mohammad juga tertarik pada cerita pengamatan Ahmad Arif ketika di lapangan. Dan juga menjadi pelajaran bagi semua wartawan, mahasiswa jurnalistik, dan peminat jurnalistik untuk terus mengasah kemampuan observasi dan hati mereka yang diperlukan sebagai landasan dasar wartawan dan manusia.

Memang tidak bisa dipungkiri adanya kelemahan dalam buku ini yaitu tidak adanya informasi aceh dalam masa sekarang. Media-media lainnya di Indonesia pun disibukkan dengan informasi yang lebih baru. Padahal fungsi media sebagai kontrol sosial adalah untuk dapat terus memantau sebuah peristiwa dari masa terjadi hingga masa sesudahnya. Setidaknya informasi dalam buku ini ada yang sudah mengarah kesana.

Ahmad Arif menampilkan kelebihan buku ini dengan bahasa ilmiah popular yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Setidaknya kemampuannya dalam menuliskan sebuah laporan yang menarik teruji secara nyata hingga mampu menciptakan sebuah karya yang universal. Penyampaian data yang akurat dan terpercaya dalam berbagai bentuk –gambar, foto, dan kliping Koran, dan sebagainya- menjadikan karya ini tidak beredar sebagai laporan fiksi. Bagaimanapun juga buku ini layak diapresiasi, selamat membaca!

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,544 other followers

%d bloggers like this: