Emile Durkheim, Riwayat, Pemikiran, dan Warisan Bapak Sosiologi Modern

25 May

Noveri Faikar Urfan

Judul Buku : Emile Durkheim, Riwayat, Pemikiran, dan Warisan Bapak Sosiologi Modern

Penulis : Hanneman Samuel

Penerbit : Kepik Ungu

Tahun : 2010

Emile Durkheim, dikenal luas sebagai bapak sosiologi modern, terlepas dari berbagai kritik yang dialamatkan pada pemikirannya, Emile Durkheim tetap harus dihargai karena kegigihannya untuk melepaskan sosiologi dari pengaruh filsafat dan psikologi, serta mendorongnya menjadi ilmu yang mandiri.

Durkheim lahir di Epinal, Prancis, 15 April 1858, dari keluarga Yahudi yang taat. Dia tergolong orang yang cukup pintar, kepandaiannya itu dibuktikan setelah dia mampu masuk di Ecole Normale de Superieure, sebuah sekolah tinggi terkemuka di Prancis yang terkenal mencetak para ilmuwan besar di Prancis. Di sana Durkheim bertemu dengan para pemikir besar diberbagai disiplin ilmu, seperti Pierre Janet, Jean Jaures, dan Henry Bergson.

Di masanya, Durkheim hidup dalam lingkungan di mana ilmu-ilmu sosial belum mendapat kedudukan yang pantas. Saat itu, filsafat, psikologi dan biologi masih sangat dominan dan menjadi primadona. Sosiologi di masa itu masih berada dalam bayang-bayang filsafat positf Auguste Comte dan Herbert Spencer, sementara Durkheim berusaha untuk melepaskan sosiologi dari pengaruh filsafat dan meletakkannya dalam dunia empiris.

Menurut Durkheim, sosiologi sudah tak bisa lagi dipahami dalam keadaan mental murni, seperti yang diperagakan oleh Comte dan Spencer yang menempatkan dunia ide sebagai pokok persoalan. Sebab itu, Durkheim kemudian membangun sebuah konsep dalam sosiologi yang disebutnya fakta sosial (social facts). Fakta sosial harus menjadi pokok persoalan bagi sosiologi, dia harus diteliti dengan riset empiris. Inilah yang kemudian membedakan sosiologi sebagai kegiatan empiris, yang berbeda dengan filsafat sebagai kegiatan mental.

Karya besar Durkheim seperti Le Suicide (1987) dan The Rule of Sociological Method (1985), adalah karya yang berusaha meletakkan sosiologi di atas dunia empiris. Le Suicide adalah karya Durkheim yang didasarkan atas hasil penelitian empiris terhadap pengaruh agama dan gejala bunuh diri, sedangkan The Rule Of Sociological Method berisi konsep dasar tentang metode penelitian empiris dalalam sosiologi (Ritzer, 2007).

Dalam khazanah soiologi, pemikiran Emile Durkheim sering dikategorikan dalam paradigma ‘fakta sosial’, fakta sosial adalah sesuatu yang berada di luar individu, dia lebih bersifat makro dan memberi penekanan pada aspek tatanan masyarakat secara luas. Durkheim sendiri membagi fakta sosial menjadi dua tipe, yakni fakta sosial material dan non material. Fakta sosial material lebih tertuju pada kajian seputar masalah hukum dan birokrasi, sementara fakta sosial non material adalah kebudayaan dan pranata sosial.

Perhatian Durkheim pada fakta sosial, membuatnya sering dikritik karena tidak memberi penekanan pada aspek individu sebagai aktor sosial, hal ini memang kontras jika dibandingkan dengan sosiologi yang dikembangkan oleh Weber dalam paradigma ‘definisi sosial’ yakni penekanannya pada ‘tindakan penuh makna’ oleh individu.

Jika kita sibuk membandingkan keduanya, maka kita tak akan memperoleh pemahaman yang utuh terhadap pemikiran para punggwa sosiologi itu, sebab pemikiran seorang tokoh tidak bisa dilepaskan dari konteks historis dan intelktual sang tokoh. Weber mungkin berhasil menghantam asumsi dasar fakta sosial, namun kita tidak boleh lupa bahwa Durkheim sangat berjasa untuk mendirikan sosiologi sebagai Ilmu yang mandiri.

Buku yang ditulis oleh Hanneman Samuel ini, mengingatkan kita bahwa pemikiran seorang tokoh mesti dipahami secara utuh, lengkap dengan konteks bagaimana dia membangun pemikirannya. Usaha penulisan buku ini patut untuk dihargai, sebab sosiologi tidak boleh tercerabut dari akar -founding father-nya, salah satunya Emile Durkheim.

Dalam buku ini, penulisnya telah berusaha menghadirkan pada pembaca tentang sosok Emile Durkheim secara utuh, mulai konteks sosial dan intelektual, buah pemikirannnya, serta bahasan menarik seputar jasa-jasa Durkheim terhadap pembanguanan sosiologi modern. Dari itu kita seolah diberi petunjuk, bahwa Durkheim patut kita hargai sebagai bapak sosiologi dengan pemikiran yang tak kalah brilian, dengan para punggawa besar sosiologi seperti B.F. Skinner, Max Weber, dan Karl Marx.

Meskipun buku ini cukup tipis, yakni setebal 120 halaman, namun kedalamannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Penulisnya mampu menampilkan Durkheim sebagai tokoh penting yang tidak boleh dilupakan dalam khazanah sosiologi. Ia adalah guru besar ilmu sosial pertama di Prancis, analisa emirisnya pada gejala pembagian kerja, agama dan pergeseran solidaritas, serta bunuh diri sebagai fakta sosial, makin meneguhkan sosiologi sebagai ilmu yang mampu bersaing dengan ilmu-ilmu lain yang sudah mapan saa itu.

Bagi para dosen atau mahasiswa yang berminat mendalami sosiologi dari pemikiran tokohnya, maka buku berjudul Emile Durkheim, Riwayat, Pemikiran dan Warisan Bapak Sosiologi Modern, karya Hanneman Samuel (2010) ini, layak dijadikan rujukan yang akan mengantarkan pembaca pada sosok Durkheim dan sumbangsihnya atas sosiologi.

Di samping itu, buku ini juga cukup memudahkan pembaca, ukurannya yang kecil dan ringan sangat mudah untuk dibawa, sehingga pembaca tak perlu repot menaruh dan membacanya sewaktu-waktu. Namun buku ini juga tak lepas dari beberapa kekurangan, isinya masih terlalu dangkal untuk menarik benang merah atas pemikiran Durkheim, terhadap kajian sosiologi yang berkembang semakin kompleks dewasa ini.

Kekurangan ini, mungkin bisa cukup ditutupi oleh pembahasan penulisnya yang cukup komprehensif atas beberapa karya monumental Durkheim, hal ini bisa menggiring pembaca untuk mempertimbangkan kembali analisa tentang historisitas realitas sosial, dan perhatian pada analisis makro struktur fungsional yang layak menjadi perhatian penting bagi para sosiolog.

Akhirnya, buku ini memang layak untuk dibaca sebagai titik tolak pemahaman kita atas sosiologi secara lebih komprehensif, dengan mengenali Durkheim berarti kita akan berusaha untuk menemukan kembali urgensi pemikiran bapak sosiologi ini dalam jajaran para tokoh sosiologi lainnya, selamat membaca.

About these ads

2 Responses to “Emile Durkheim, Riwayat, Pemikiran, dan Warisan Bapak Sosiologi Modern”

  1. sitti hadijah 28/06/2010 at 10:23 #

    sangat membantu saya untuk meningkatkan minat baca pada buku sosiologi.

  2. zef 14/06/2012 at 19:32 #

    trimksh sudh menruh krya emile dhurkeim yg brmanfaat tuk sya bc. Sbg pngmbngn n kreatifts sya d sni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,544 other followers

%d bloggers like this: